Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 1668 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nyoman Gde Suryadhana
"ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang hubungan antara tingkat kecemasan (stres) dengan perubahan tingkat migrasi sel-sel neutrofil ke dalam mulut. Subyek penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UI semester I dan III, 12 laki-laki dan 97 perempuan yang dinilai dalam keadaan sehat lahir dan batin. Pemeriksaan dilakukan 3 kali yaitu sekitar 2 bulan sebelum ujian, 1/2 - 1 jam sebelum ujian dan 1/2 jam sesudah ujian.
Evaluasi migrasi neutrofil dilakukan sama sesuai dengan teknik Klinkhamer yaitu kumuran dengan 5 cc NaCl 1,2%, dikumpulkan tiap rentan waktu 30 detik sampai 9 tabung.
Hasilnya, jumlah sel yang bermigrasi per 30 detik menurun drastis secara, amat bermakna pada saat menjelang ujian, dan pulih kembali setelah ujian (P 00.1). Masing-masing dengan indeks OMR 0.43 sebelum ujian, 0.23 menjelang ujian dan 0.42 setelah ujian selesai. Agaknya saat-saat menjelang ujian, merupakan saat-saat yang amat mencekam yang menyebabkan terhambatnya/tertahannya migrasi sel neutrofil dan bersifat temporer.
Perubahan psikologik ini, diolah dan dikendalikan oleh sistem syaraf autonom yanag bersifat amat responsif terhadap stres dan bekerja melalui mekanisme imunologik. Dengan demikian, terbukti bahwa unsur kecemasan mempengaruhi beberapa faset respons imun.
Hasil ini diharapkan dapat dijadikan bahan masukan bagi perkembangan sifat mental mahasiswa dalam menanggapi stres dan pemahaman yang lebih baik tentang adanya hubungan stres dengan defisiensi Imunologik."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 1995
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Riemawati A. Lesmana
"ABSTRAK
Untuk mengetahui keadaan lnfektivitas saliva pengidap virus hepatitis B (VHB) telah dilakukan penelitian dengan cara pemeriksaan serologis menggunakan metoda ELISA untuk mendeteksi adanya HBsAg dan HBeAg dalam saliva 97 pengidap VHB yang sebagian besar (73,2%) adalah laki-laki, selama kurun waktu 10 bulan (Agustus 1994 - Mei 1995).
Dari 97 pengidap VHB didapatkan 56 dengan HBsAg dan HBeAg positip (kelompok I) serta HBsAg positip dan HBeAg negatip pada 41 lainnya (Kelompok II).
Pemeriksaan saliva pada kelompok I memperlihatkan adanya HBsAg dan HBeAg positip pada 48 pengidap (85,75), HBsAg positip dan HBeAg negatlp pada 6 pengidap (10,7%), serta HBsAg dan HBeAg negatip pada 2 pengidap lainnya (3,6%).
Pemeriksaan saliva pada kelompok II memperlihatkan tidak ditemukannya HBsAg dan HBeAg positip (0%), HBsAg positip dan HBeAg negatip pada 31 pengidap (75,6%) serta HBsAg dan HBeAg negatip pada 10 lainnya (24.4%). Sebagai kesimpulan, sebagian besar pengidap VHB dengar daya tular tinggi (infekslus), juga mempunyai saliva yang Infeksius sehingga dapat merupakan sumber penularan dan penyebaran virus dalam perawatan di bidang Kedokteran Gigi.
Manfaat dari penelitian ini untuk memberikan Informasi kapada para dokter gigi tentang kecenderungan penularan virus hepatitis B melalui perawatan Kedokteran Gigi, sehingga seyogyanya dilakukan tindakan pencegahan secara optimum.

ABSTRACT
In order to know the Infectivity of saliva of hepatitis B virus (HBV) carriers, detection of HBsAg and HBeAg was carried out by serologic test using ELISA method in saliva of 97 VHB carriers who were 73,2% men, in ten-month period (August 1994 - May 1995).
Of 97 HBV carriers positive for both HBsAg and HBeAg in serum were found in 56 (Group I) and positive HBsAg and negative HBeAg In the other 41 (Group II). Examination of saliva of HBV carriers in group I showed positive HBsAg as well as HBeAg In 48 (85,7%), only positive for HBsAg in 6 (10,7%) and negative for both HBsAg and HBeAg in other 2 (3,6%) where as In group II positive for both HBsAg and HBeAg were not detected (0%), positive for HBsAg only in 31 (75,6%) and negative for both HBsAg and HBeAg In the remaining 10 (24,4%).
In conclusion, the majority of highly infectious hepatitis B carriers do also have infectious saliva which could be an Important source of Infection and transmission of the virus in the field of Dentistry.
The benefit of this study is giving information to Dentists about the possibility of the transmission of hepatitis B virus via the treatment of Dentistry, therefore the prevention of the transmission must be optimally taken."
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 1995
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Titi S. Soebekti
"ABSTRAK
Memilih ukuran gigi anterior atas dalam pembuatan Gigi Tiruan Penuh, memerlukan ketrampilan tersendiri.
Pada penelitian ini dicari tanda-tanda anatomik di wajah yang mungkin dapat digunakan sebagai pedoman dalam menentukan ukuran gigi anterior atas. Tanda-tanda anatomik yang digunakan adalah ukuran lebar sayap hidung dan ukuran lebar Sudut mulut.
Sampel yang digunakan adalah mahasiswa FKG UI keturunan Deutero Melayu, serta memenuhi kriteria yang telah ditentukan.
Hasil yang didapat menunjukkan adanya hubungan antara ukuran lebar gigi anterior atas dengan ukuran lebar sayap hidung, dan ukuran lebar sudut mulut.
Selain itu hasil pengamatan menunjukkan bahwa ukuran lebar sayap hidung mahasiswa FKG UI keturunan Deutero Melayu lebih lebar dari ukuran lebar sayap hidung mahasiswa FKG di Inggris dan populasi di Colorado. Sedang ukuran gigi anterior atas tidak menunjukkan adanya perbedaan. Sehingga pedoman yang umumnya digunakan dalam pembuatan gigi tiruan, khususnya Gigi Tiruan Penuh, bahwa garis yang ditarik dari tepi sayap hidung sejajar dengan garis tengah muka, akan melalui puncak tonjol kaninus atas, belum sepenuhnya dapat diterapkan."
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 1990
LP-pdf
UI - Laporan Penelitian  Universitas Indonesia Library
cover
Maria Lina Rosilawati, supervisor
"Ruang Lingkup dan Cara Penelitian : Salah satu alasan utama gagalnya pengendalian tuberkulosis di negara berkembang termasuk Indonesia, adalah karena kelemahan dalam diagnostik untuk mendeteksi kasus infeksi pada saat dini, di samping kegagalan terapi kasus tuberkulosis yang resisten terhadap beberapa obat anti tuberkulosis. Teknik PCR yang didasarkan pada amplifikasi DNA, merupakan salah satu cara diagnosis yang telah banyak diteliti dan dikembangkan untuk mendeteksi bakteri M. tuberculosis, penyebab penyakit TBC. Pada penelitian ini telah dilakukan uji PCR untuk mendeteksi M tuberculosis H 7Rv, isolat klinis M. tuberculosis dan mikobakteria atipik. Bakteri dibiakkan dalam medium Lowenstein-Jensen kemudian dilakukan ekstraksi DNA menggunakan metode fenol-kloroform. Untuk mengetahui senstivitas uji PCR, DNA basil ekstraksi diencerkan dalam beberapa pengenceran. Pada percobaan awal DNA M. tuberculosis H37Rv diamplifikasi menggunakan primer YNP5 & YNP6 yang disintesis dari sekwens DNA yang menyandi antigen b protein 38kDa. Amplifikasi DNA M. tuberculosis H37Rv, isolat klinis M. tuberculosis, dan mikobakteria atipik dilakukan dengan menggunakan primer Pt8 & Pt9 yang dirancang darn sekwens sisipan IS6110. Hasil amplifikasi dianalisis dengan elektroforesis gel agarosa. Gel kemudian diwarnai dengan larutan etidium bromida dan divisualisasi dengan `ultraviolet transilluminator". Pengambilan gambar gel agarosa dilakukan dengan menggunakan kamera Polaroid.
Hasil dan KesimpuIan : Batas deteksi DNA M. tuberculosis H37Rv hasil amplifikasi dengan primer YNP5 & YNP6 adalah 5 pg setara dengan 1000 sel bakteri, sedangkan dengan primer Pt8 & Pt9 kemampuan uji PCR lebih tinggi dengan batas deteksi 10 fg setara dengan 2 sel bakteri. Uji PCR pada isolat klinis M tuberculosis yang mempunyai batas deteksi tertinggi adalah amplifikasi DNA basil ekstraksi isolat 9727. Batas deteksi uji tersebut adalah 100 fg setara dengan 20 sel bakteri. Primer Pt 8 & Pt9 spesifik untuk M. tuberculosis karena tidak terjadi amplifikasi DNA basil ekstraksi dari mikobakteria atipik."
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Silvy Daniel
"ABSTRAK
Bibir atas dan bibir bawah membentuk bagian bawah dari profil jaringan lunak wajah yang sangat erat hubungannya dengan gigi geligi. Untuk melakukan koreksi ortodonti pada pasien dengan profil cembung, perlu dipertimbangkan kemungkinan terjadinya perubahan jaringan lunak sebagai akibat perubahan posisi anteroposterior gigi insisif atas. Retraksi insisif atas, tidak diikuti perubahan kontur bibir secara proposional. Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai banyaknya pengaruh retraksi gigi insisif atas terhadap perubahan posisi bibir atas dan bibir bawah. Selain itu juga diteliti hubungan antara tebal bibir, over jet dan perubahan inklinasi insisif atas dengan perubahan posisi bibir tersebut. Penelitian ini merupakan suatu studi klinis retrospektif. Sampel terdiri dari 30 foto sefalometri pasien dengan maloklusi kelas I protrusi dental maksiler dan kelas II divisi 1, usia > 16 tahun yang diukur sebelum dan setelah selesai perawatan. Dan hasil penelitian didapat persamaan regresi, yaitu: perubahan bibir atas = 0,319 x banyaknya retraksi insisif atas (dalam milimeter) + 0,182, perubahan posisi bibir bawah = 0,526 x banyaknya retraksi insisif atas (dalam milimeter) + 0,448, perubahan posisi bibir bawah = 0,826 x perubahan posisi bibir atas (dalam milimeter) + 1,176. Tebal bibir, over jet dan perubahan inklinasi insisif atas tidak berhubungan dengan perubahan posisi bibir atas dan bibir bawah."
1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Mardewi Soerono Akbar
"

Sebelum berbicara tentang endodontologi, saya ingin mengajak saudara-saudara untuk mengetahui lingkup ilmu kedokteran gigi yang berkembang saat ini. Lingkup tersebut meliputi kesatuan organ yang mendukung fungsi pengunyahan, yang dikenal sebagai sistem stomatognatik. Definisi sistem stomatognatik tersebut adalah (Marzouk dan Simonton, 1985): The stomatognatic system is a conglomerate of organs which are functionally related to each other. These organs include the mandible, the maxilla, the temporo-mandibular joint, the teeth and their supporting structures, muscles of mastication, muscles of the face, muscles of the neck, muscles of the head, and to some extent muscles of the back. Meskipun sebagian besar organ tersebut tidak secara langsung terkait dalam kegiatan di sekitar mulut dan di dalam mulut, akan tetapi secara timbal balik mendukung dan memperkuat partisipasi kegiatan sistem pengunyahan, yang dikendalikan oleh sistem persarafannya (Boucher,1974).

Fungsi utama sistem stomatognatik adalah oklusi (Shillingburg, 1981). Arti oklusi yang dirnaksud adalah berkontaknya permukaan dataran kunyah gigi-gigi rahang atas dan rahang bawah (Boucher,1974). Oklusi akan berjalan normal apabila didukung oleh gigi-gigi yang berfungsi normal. Oklusi menjadi tidak normal apabila gigi-gigi tersebut dalam keadaan tidak sehat, atau disebabkan posisi dan relasi antar gigi dan rahang yang tidak normal. Penyebab sakit gigi yang paling banyak dan klasik adalah radang pulpa gigi. Hal ini mengakibatkan nyeri gigi, pembengkaan pada daerah gusi atau pipi dan sering diikuti dengan nyeri kepala.

Lingkup kedokteran gigi yang mempelajari tentang etiologi, diagnosis, pencegahan dan perawatan penyakit pulpa gigi dan periapikal disebut Endodontologi. Kecenderungan mempertahankan gigi agar dapat selama mungkin berfungsi, sudah mulai dirasakan sebagai kebutuhan dasar dalam mendukung kesehatan seutuhnya.

Sebelum ini tindakan pencabutan gigi masih merupakan tindakan utama dalam menanggulangi penyakit pulpa dan jaringan periapikal. Kemajuan endodontologi yang makin meningkat dapat dilihat melalui berbagai perkembangan yang terjadi, antara lain :

  1. Perkembangan etiologi penyakit pulpa dan periapikal yang memacu berbagai penelitian tentang struktur dan fungsi jaringan email, dentin, pulpa, cementum, periodontal, dan tulang alveol.
  2. Perkembangan Cara mendiagnosis penyakit endodontik secara klinis, roentgenologisdan mikroskopis yang dapat menentukan diagnosis akurat penyakit pulpa dan periapikal.
  3. Perkembangan metoda pencegahan, sistem perawatan dan evaluasi perawatan endodontik dengan teknologi maju.
  4. Perkembangan biomaterial dental ditinjau dari segibiologis, fisis dan kemis, yang disesuaikan dengan estetika restorasi gigi.
  5. Perkembangan pendidikan endodontologi di lingkungan lembaga pendidikan kedokteran gigi dalam mengantisipasi perkembangan llmu Pengetahuan dan Teknologi.
  6. Perkembangan masalah pelayanan endodontik di pusat pelayanan kesehatan di Indonesia baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

Perawatan endodontik ialah perawatan bagian dalam gigi. Nama yang sehari-hari dikenal adalah perawatan syaraf gigi atau perawatan pulpa gigi atau perawatan saluran altar gigi atau 'zenuw behandeling'. Istilah endodontik diambil dari bahasa Yunani : 'endon' yang berarti dalam dan 'ho dontas' yang berarti gigi (Milas,198O; Bellizzi dan Cruse, 1980). Atau dari kata 'endodontium' yang sama artinya dengan 'pulpo dentinal organ, yaitu lapisan dalam gigi yang terdiri dari sel-sel odontoblast dan dentin (Baum, 1980).

Penyakit endodontik meliputi penyakit jaringan pulpa dan jaringan periapikal gigi. Penyakit ini banyak diakibatkan oleh karies gigi. Data yang terbaru dari Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa penyakit tersebut menempati 37% dari semua jenis penyakit gigi dan mulut. Namun penanggulangan yang dilakukan baru mencapai 11% (Wibowo, 1984). Penyakit klasik tersebut dapat menyerang gigi pada semua lapisan masyarakat, dari zaman dahulu sampai sekarang, baikpada masyarakat yang tergolong daya emban rendah maupun daya emban tinggi.

Berbagai laporan menunjukan bahwa jumlah penyakit tersebut makin meningkat terutama di kota-kota besar. Hal ini karena pengaruh modernisasi mengubah gaya hidup masyrakat, yang mengakibatkan pergeseran pola makan serta pola penyiapan makanan. Sistem kehidupan modern yang serba praktus menuntut cara makan yang mudah, dan cepat, yaitu dengan mengunyah jenis makanan yang lunak. Akibatnya penggunaan komponen sistem stomatognatik menurun, sehingga produksi sekresi ludah berkurang. Dengan demikian daya kerja sistem kebersihan mulut ikut menurun. Rangkaian proses tersebut merupakan salah satu penyebab terjadinya kerusakan email dan dentin, di samping berbagai penyebab lain seperti trauma, zat kimia, dan radiasi.

Gigi karies merupakan salah satu penyebab terjadinya radang pulpa dan periapikal yang paling banyak. Biasanya saseorang baru menyadari adanya kerusakan gigi apabila sudah timbul rasa nyeri. Nyeri akan timbul bila rangsang dapat mencapai ujung sel odontoblast yang ada di batas dentin dengan email (Sigal dick., 1984). Lapisan selsel odontoblast yang paling tepi menjorok masuk ke jaringan dentin, daerah tersebut disebut 'komplex pulpa dentin'.Daerah ini merupakan daerah pertahanan pulpa gigi yang paling depan.

Berbagai teori terjadinya nyeri dentin yang masih dikenal sampai saat ini adalah 'teori direct inervation', 'teori odontoblastic receptor' dan 'teori hydrodinamic' (Torabinejad, 1989). Apabila rangsangan sudah mencapai pulpa, nyeri dentin dapat berlanjut menjadi nyeri pulpa. Kemudian terjadi reaksi pada sistem aliran darah mikro, sistem persarafan mikro dan sistem seluler jaringan pulpa. Proses ini menyebabkan udema pada pulpa karena terganggunya keseimbangan antara aliran darah yang masuk dengan yang keluar. Faktor penyebabnya adalah dinding pulpa yang keras dan kaku. Peristiwa ini mengakibatkan sistem persarafan pulpa terjepit, dan menimbulkan rasa nyeri hebat, yang dapat mengganggu aktifitas seseorang. Meskipun pusat gangguan tersebut sangat kecil dan bila diukur hanya mempunyai berat kira-kira 0.006 gram (Avery,1981).

"
Jakarta: UI-Press, 1991
PGB 0449
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Soemarijah Samhadi
"Rongga mulut merupakan salah satu bagian tubuh yang cukup unik sehubungan dengan kesehatan penderita, oleh karena rongga mulut merupakan pintu pertama masuknya bahan-bahan kebutuhan untuk pertumbuhan,individu yang sempurna serta kesehatan yang optimal.
Sebagaimana kita ketahui rongga mulut dapat mengalami bermacammacam kelainan yang merupakan problema yang belum dapat diatasi sepenuhnya. Sebagai contoh misalnya karies gigi, penyakit jaringan penyangga gigi / periodontal dan penyakit mukosa mulut sampai saat ini belum diketahui etiologinya secara tepat. Kondisi lingkungan rongga mulut sangat kompleks, dimana kemungkinan iritasi mekanik, fisik dan kimiawi serta banyaknya macam mikroorganisme dan susunan saliva dapat mempengaruhi terjadinya perubahan kondisi lingkungan rongga mulut dan memungkinkan terjadinya suatu penyakit.
Penyakit yang terjadi didalam mulut khususnya mukosa mulut dapat memberikan keluhan atau tanpa keluhan bisa berupa kelainan jinak dan keganasan. Bilamana penyakit jaringan lunak rongga mulut tidak memberikan gejala rasa sakit umumnya pasien tidak datang berobat, padahal kemungkinan besar lesi yang tidak memberikan keluhan itu merupakan tanda awal dari suatu keganasan atau tanda awal dari penyakit sistemik yang berbahaya, sehingga seringkali pasien dengan lesi-lesi semacam itu barn datang ke klinik Oral Medicine sudah dalam keadaan sakit berat atau stadium terminal. Keadaan ini akan memperburuk prognosa penyakitnya karena mulut yang sakit akan terganggu fungsinya sehingga pemasukan makanan akan menurun dengan akibat defisiensi nutrisi.
Sebelum uraian lebih lanjut tentang penyakit mulut akan saya utarakan terlebih dulu pengertian tentang Oral Medicine, ruang lingkup serta sejarah perkembangannya.
Oral Medicine adalah cabang ilmu Kedokteran Gigi yang berkompeten khusus dalam mengelola kesehatan pasien secara menyeluruh meliputi diagnosa dan perawatan yang bersifat non bedah pada kelainan primer maupun sekunder di rongga mulut dan sekitarnya (Mazzeo & Chasens 1975). Secara luas Oral Medicine dapat diartikan sebagai salah satu aspek Kedokteran Gigi untuk mengetahui hubungan antara mulut dengan bagian tubuh yang lain, baik dalam keadaan sehat maupun sakit atau diformulasikan sebagai suatu kemampuan khusus dalam praktek Dokter Gigi serta kaitannya dengan pengelolaan kesehatan pasien secara menyeluruh.
Ruang lingkup Oral Medicine tidak terbatas pada penyakit mulut yang primer atau lokal saja melainkan juga mengelola pasien-pasien dengan manifestasi oral penyakit sistemik. Oleh karenanya Dokter Gigi berkewajiban mengetahui latar belakang penyakit setiap pasien sebelum memulai perawatan gigi. Perawatan gigi mulut bisa gagal bila klinisi tidak tanggap akan keadaan pasien yang sedang dalam status pengawasan medik untuk penyakit sistemiknya. Atau bahkan terjadi resiko yang fatal atau timbul penyakit lain sebagai akibat tindakan perawatan Dokter Gigi.
Oral Medicine sampai saat ini masih merupakan salah satu bidang ilmu Kedokteran Gigi yang belum banyak dikenal baik oleh tenaga kesehatan maupun masyarakat umumnya karena cabang ilmu tersebut relatif masih muda dibandingkan dengan cabang ilmu Kedokteran Gigi lainnya. Masih banyak pendapat yang beranggapan bahwa tugas dan tanggung jawab Dokter Gigi terbatas pada penanganan penyakit yang berhubungan dengan gigi saja sehingga pasien dengan lesi pada mukosa mulut tidak datang ke Dokter Gigi tetapi meminta pertolongan dokter Umum."
Jakarta: UI-Press, 1991
PGB Pdf
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Daroewati Mardjono
"Seperti telah digariskan oleh WHO, sehat harus diartikan sebagai perasaan sejahtera, bebas dari segala macam penderitaan. Jadi bukan hanya bebas dad penyakit, melainkan juga sejahtera secara psikis dan sosial. Untuk dapat mencapai kesejahteraan hidup yang optimal harus ada keseimbangan antara kesehatan fisik dan kesehatan mental, sehingga antara individu dan lingkungannya dapat dijalin hubungan yang serasi dan selaras.
Gigi dan mulut mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia, karena merupakan alat komunikasi dan membantu estetika. Seseorang yang mempunyai kesehatan gigi kurang baik akan merasa malu/rendah diri untuk bergaul secara wajar dengan lingkungannya. Di samping itu, gigi dan mulut juga merupakan alat pengunyah makanan. Dengan demikian kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu unsur penunjang.kesehatan urnum individu. Pengunyahan dan pencernaan makanan yang mengalami gangguan akan mengakibatkan timbulnya gangguan kesehatan umum. Gangguan dalam fungsi mulut bahkan dapat mengubah pola hidup sehari-hari. (Mongini 1984).
Sebenarnya kesadaran akan pentingnya fungsi gigi dan mulut telah sejak lama ada di kalangan kedokteran gigi. Hal ini terbukti dari timbulnya perubahan yang sangat mendasar dalam konsepsi perawatan kedokteran gigi sejak kurang lebih 40 tahun yang lalu. Dari bentuk pelayanan yang mengutamakan kedaruratan, profesi kedokteran gigi telah berkembang menjadi bagian dari sistem pelayanan kesehatan. Hal ini terlihatdari kenyataan bahwa sampai pertengahan abad ini, di seluruh dunia, perawatan kedokteran gigi ditujukan terutama untuk menghilangkan rasa sakit pada gigi dan jaringan periodontal di sekitarnya. Sedangkan pemasangan gigi tiruan hanya ditujukan untuk keperluan. kosmetika, bukan untuk perbaikan fungsi mulut. Karena itu tidak mengherankan bila banyak orang menganggap pencabutan gigi sebagai tindakan yang tepat untuk menghilangkan sakit gigi.
Dilihat dari segi kebutuhan pasien pada saat adanya keluhan, memang pencabutan gigi merupakan tindakan yang sangat membantu, karena dengan hilangnya gigi yang sakit pasien terlepas dari siksaan penderitaannya. Tetapi jika dipandang dari segi kebutuhan fungsional, pencabutan gigi jelas merupakan awal dari rangkaian masalah baru yang akan timbul. Hilangnya gigi jelas akan mengurangi kenyamanan dan efisiensi mengunyah. Karena itu sekarang tiap perawatan lebih diarahkan kepada perbaikan dan/atau pemeliharaan kestabilan fungsi seluruh sistem pengunyahan, baik melalui tindakan perawatan, pencegahan, ataupun pemulihan. Ini berarti bahwa dokter gigi masa sekarang bukanlah sekadar tenaga yang mengurusi keadaan 32 buah gigi saja, melainkan bertanggungjawab dalam pemeliharaan kesehatan seluruh sistem stomatognatik agar fungsinya dapat tetap stabil. Untuk dapat mencapai tujuan ini, pemahaman Gnatologi sebagai ilmu dasar yang menjembatani ilmu kedokteran dasar dan ilmu kedokteran gigi klinik perlu ditingkatkan."
Jakarta: UI-Press, 1991
PGB 0442
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Nurul Mustaqimah
"

Berdasarkan sejumlah hasil penelitian di luar negeri ditemukan bahwa beberapa orang dewasa muda menderita penyakit periodontitis agresif. Saya memilih judul ini karena ternyata di Indonesia pun ditemukan adanya individu dewasa muda, baik dari kalangan sosial ekonomi rendah maupun sosial ekonomi menengah ke atas, yang menderita penyakit periodontitis agresif ini, yaitu geligi menjadi goyang hingga tanggal pada usia dini, remaja, atau dewasa muda. Prayitno (1990) meneliti pada 592 petani pemetik teh di Puncak dan Bandung serta pada 747 mahasiswa UI dari 10 fakultas yang semuanya berumur 18-30 tahun. Meskipun higiene mulut kelompok petani lebih buruk daripada kelompok mahasiswa, namun ditemukan tidak adanya perbedaan prevalensi kejadian penyakit periodontitis agresif pada kedua kelompok tersebut, yaitu 4,2% pada petani dan 3,9% pada mahasiswa. Untuk kejelasannya, saya akan membahas secara singkat mengenai jaringan periodonsium, macam penyakit, prevalensi, faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan atau memodifikasi penyakit periodontal, kecepatan progresi, serta patogenesis proses pengrusakannya.

Jaringan Periodonsium dan Macam Penyakit Periodontal

Jaringan periodonsium terdiri dari jaringan gingiva, ligamen perio. dontal, scmentum, dan tulang alveolar yang menyangga gigi di tempatnya. Penyakit periodontal mencakup gingivitis dan periodontitis. Gingivitis merupakan keadaan keradangan pada jaringan lunak di sekitar gigi sebagai respons imun langsung terhadap plak bakteri yang terbentuk di dekatnya. Periodontitis akan menyertai gingivitis, tergantung pada respon imun dan keadaan keradangan individu bersangkutan. Keadaan tersebut diawali oleh keberadaan plak bakteri. Namun, pada periodontitis terjadi keradangan kerusakan jaringan penyangga gigi, dan setelah jangka waktu tertentu dapat menyebabkan gigi terlepas. Gingivitis terjadi tanpa kerusakan epithelial attachment (perlekatan jaringan) yang merupakan bagian dasar dari sulkus gingiva (saku gusi), sedangkan periodontitis diawali oleh kerusakan perlekatan jaringan.

"
Jakarta: UI-Press, 2005
PGB 0450
UI - Pidato  Universitas Indonesia Library
cover
Yon Achmad Santosa
"ABSTRAK
Pada perawatan ortodonsi penggunaan perekat braket langsung merupakan salah satu tujuan untuk melakukan perawatan ortodonti dengan estetika yang baik. Dewasa ini banyak tersedia macam-macam bahan dasar dari pelekat braket langsung.
Pemilihan dari bahan perekat braket langsung perlu mempertimbangkan kuat rekat geser dari bahan tersebut, agar waktu perawatan sesuai dengan rencana yang telah diperkirakan.
Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan perbandingan nilai rata-rata kuat rekat geser perekat braket langsung yang berbahan dasar komposit (Unite) dan glas ionomer (Fuji Ortho LC) menggunakan alat "mechanical testing machine" Shimadzu AG-5000 dengan "cross head speed" 5 mm/menit.
Hasil penelitian dianalisis dengan u j i t menunjukkan bahwa kuat rekat geser braket logam yang direkatkan dengan bahan dasar komposit (Unite) berbeda bermakna dengan kuat rekat geser braket logam yang direkatkan dengan bahan dasar glas ionomer (Fuji Ortho LC) (t=7,909 p < 0,05). "
1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>