Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 117 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Novardha Handiantyo
"Pandemi Covid-19 mendorong bisnis untuk berjalan dengan cara baru tentang kemampuan organisasi dalam bertahan dalam situasi apapun. Penelitian ini mengkaji bagaimana jaringan bisnis dan kapabilitas platform digital menjadi faktor yang berpengaruh terhadap kapasitas ketahanan organisasi dan di saat yang sama tetap menjaga kinerjanya. Menggunakan data yang dikumpulkan dari 241 perusahaan properti di Indonesia yang diolah menggunakan analisis Structural Equation Modelling (SEM), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jaringan bisnis memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap ketahanan dan kinerja organisasi. Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa peran kapabilitas platform digital tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja organisasi dalam konteks sektor properti di Indonesia. Penelitian ini memberikan kontribusi empiris yang menunjukkan bahwa jaringan bisnis dapat berpengaruh secara langsung terhadap kinerja organisasi dan memberikan wawasan baru tentang bagaimana jaringan bisnis perusahaan dan kapabilitas platform digital, dalam konteks sektor properti, dapat mempengaruhi pengembangan kapasitas ketahanan organisasinya, yang membantu untuk bertahan dari krisis dan berkinerja baik secara berkelanjutan.

Covid-19 pandemic is driving businesses to grow and run in new ways about an organization's ability to survive in any situation. This study examines how business networks and digital platform capabilities are factors that affect the resilience capacity of organizations and at the same time maintain their performance. Using data collected from 241 property companies in Indonesia processed using Structural Equation Modelling (SEM) analysis, the results of this study show that business networks have a positive and significant influence on the resilience and performance of organization. This study also reveals that role of digital platform capabilities has no significant effect on organizational performance in the context of the property sector in Indonesia. This research provides empirical contributions that business networks can have a direct effect on organizational performance and provides new insights into how a company's business networks and digital platform capabilities, in the context of the property sector, can influence the development of its organizational resilience capacity, which helps it to survive crises and perform well sustainably."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lydia Tiara
"Abstrak ini menggambarkan analisis komprehensif mengenai risiko operasional yang terkait dengan pelaksanaan proyek Engineering, Procurement, dan Construction (EPC) dengan menggunakan metode Loss Distribution Approach (LDA). Penelitian ini menggunakan data historikal kerugian operasional pelaksanaan proyek EPC sejak Januari 2019 hingga Desember 2022. Penelitian ini menunjukkan nilai Operational Value At Risk sebesar Rp17,68 miliar dengan percentile 95% dan Rp41,44 miliar dengan percentile 99% yang telah dinyatakan valid setelah dilakukan Back Testing. Dengan dilakukannya analisis kerugian berbasiskan data historikal, diharapkan perusahaan EPC yang mengalami kerugian dapat memahami dan menjadikan penelitian ini sebagai lesson learned dan memitigasi risiko operasional yang mungkin terjadi pada proyek yang sedang berjalan sehingga potensi kerugian dapat diminimalisir.

This abstract describes a comprehensive analysis of operational risks in engineering, procurement, and construction (EPC) business by using calculation of loss distribution approach methods. This research uses the historical of operational losses from January 2019 to December 2022. This research shows the Operational Value At Risk is Rp17,68 billion with percentile 95% and Rp41,44 billion with a percentile of 99% and declared valid after Back Testing. By carrying out analysis losses based on historical data, the EPC companies are expected to be able to understand and make this research a lesson learned and mitigate operational risks that may occur in ongoing projects in order to minimize the potential loss."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Benito Sabastian
"Industri penerbangan secara luas dianggap sebagai industri yang padat peraturan, berteknologi maju, dan memiliki profit margin yang rendah. Oleh karena itu, maskapai penerbangan perlu melakukan manajemen biaya sebaik mungkin, terutama dalam menghadapi krisis seperti pandemi Covid-19. Kegagalan untuk memahami perilaku biaya dapat menyebabkan strategi manajemen biaya yang tidak tepat dan menyebabkan kerugian yang besar. Studi kali ini bertujuan untuk menganalisis perilaku biaya dari salah satu maskapai penerbangan terbesar di Indonesia. Penelitian ini menggunakan analisis perilaku biaya dan analisis proyeksi dari strategi maskapai berdasarkan pengumpulan data dari laporan keuangan, observasi data, dan wawancara mendalam dengan penanggung jawab terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen biaya menjadi salah satu fokus terutama pada struktur biaya yang dominan dalam kondisi krisis. Penelitian ini menggambarkan tentang strategi mempertahankan keunggulan kompetitif dalam industri penerbangan, terutama mengenai strategi manajemen biaya.

The airline industry is widely regarded as a regulatory-intensive, advanced technology, and low-profit margins industry. Therefore, airlines need to conduct the best possible cost management, especially in facing a crisis like Covid-19 pandemic. Failure to understand cost behavior might lead to improper cost management strategies and cause substantial losses. The current study aims to analyze the cost behavior of one of the largest airlines in Indonesia. This research employs cost behavior analysis and scenario analysis of the airline's strategy based on data collection from financial statements, data observations, and in-depth interviews with related persons in charge. The results show that cost management should focus on a more expensive cost structure under crisis conditions. This research sheds light on maintaining a competitive advantage in the airline industry, especially regarding cost management strategies."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aninda Putri Miranti
"Pandemi Covid-19 telah menimbulkan reaksi panik irasional yang berdampak material yang memicu volatilitas di pasar saham akibat kekhawatiran atas risiko dan ketidakpastian di masa depan. Perilaku kawanan sering dikaitkan dengan kondisi pasar yang tidak stabil, di mana investor tidak melakukan analisis melainkan mengikuti euforia pasar dan merasa lebih aman mengikuti orang lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi perilaku herding sebelum dan pada saat terjadi pandemi Covid-19 dan melihat perbedaannya, serta menganalisa perilaku herding jika dikaitkan dengan tingkat volatilitas idiosinkratik. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional absolute deviation untuk mengukur perilaku herding dan single factor model untuk menghitung volatilitas idiosinkratik. Hasil empiris menunjukkan bahwa perilaku herding ditemukan sebelum pandemi Covid-19, namun tidak ditemukan pada periode saat terdapat pandemi Covid-19. Dalam lingkup sektoral, perilaku herding ditemukan pada subsektor industri telekomunikasi pada periode sebelum pandemi Covid-19 dan subsektor industri transportasi pada periode saat terjadi pandemi Covid-19. Selain itu, perilaku herding ditemukan pada portofolio dengan tingkat volatilitas idiosinkratik yang rendah dan tinggi pada periode sebelumpandemi Covid-19, namun tidak ditemukan pada seluruh portofolio dengan berbagai tingkat volatilitas idiosinkratik pada periode pandemi Covid-19.

The Covid-19 pandemic has caused an irrational panic reaction with a material impact that triggers volatility in the stock market due to concerns over risks and uncertainties in the future. Herd behavior is often associated with unstable market conditions, where investors do not do analysis but follow the market euphoria and feel safer following others. This study aims to detect herding behavior before and during the Covid-19 pandemic, the difference, and analyze herding behavior whether it is associated with the level of idiosyncratic volatility. This study uses a cross-sectional absolute deviation method to measure herding behavior and a single factor model to calculate idiosyncratic volatility. Empirical results show that herding behavior was found before the Covid-19 pandemic, but not during the period when there was a Covid-19 pandemic. In the sectoral scope, herding behavior was found in the telecommunications industry sub-sector before the Covid-19 pandemic and the transportation industry sub-sector during the Covid-19 pandemic. In addition, herding behavior was found in portfolios with low and high levels of idiosyncratic volatility in the period before the Covid-19 pandemic, but not in all portfolios with various levels of idiosyncratic volatility during the COVID-19 pandemic."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dianita Fitriani Pogram
"PLTS merupakan pembangkit jenis EBT dengan peringkat kapasitas kedua terbesar yang akan dibangun hingga tahun 2030. Tingginya nilai investasi pembangunan pembangkit EBT perlu diimbangi dengan optimalisasi operasi pembangkit sehingga memberikan manfaat yang maksimal. Faktor penentu optimalisasi operasi PLTS diantaranya yaitu masa operasi dan Capacity Factor (CF) dari sebuah PLTS. Perhitungan investasi PLTS didesain untuk dapat beroperasi hingga 25 Tahun dengan CF minimal 17%. Data histori menunjukkan, adanya kerusakan permanen pada PLTS yang terjadi pada masa operasi 0 sampai dengan 18 tahun dan nilai CF dibawah 17% sebesar 94%. Metode failure mode and effect analysis (FMEA) yang diintegrasikan dengan regresi logistik digunakan untuk menghasilkan peringkat penanganan risiko yang perlu diprioritaskan oleh manajemen. Dari hasil penelitian didapatkan 10 risiko potensial yang teridentifikasi dalam hal optimalisasi operasi PLTS untuk menghindari kegagalan/kerusakan PLTS dari 5 tahapan proses operasi, perencanaan dan pengadaan, instalasi/pemasangan, operasi dan maintenance. Dihasilkan peringkat risiko serta rekomendasi mitigasi agar dapat menjadi rekomendasi prioritas penanganan dalam meminimalkan terjadinya kegagalan/kerusakan serta rendahnya capacity factor pada PLTS bagi manajemen.

Photovoltaic power system is a renewable energy type generator with the second largest capacity which will be built by 2030. The high investment value in building an renewable energy generator needs to be balanced with optimizing plant operations so that it provides maximum benefits. The determining factors for optimizing PV power system operations include the operating period and Capacity Factor (CF) of a solar panel. The PV power system investment calculation is designed to operate for up to 25 years with a minimum CF of 17%. Historical data shows that there is permanent damage to PV power system that occurs during the operating period of 0 to 18 years and the CF value is below 17% by 94%. The failure mode and effect analysis (FMEA) method integrated with logistic regression is used to produce risk mitigation that need to be prioritized by management. Based on the research findings, a total of 10 potential hazards were discovered in relation to optimising the operations of a photovoltaic (PV) power system to prevent any failures or damages. These risks are associated with the five stages of the operation process, including planning and procurement, installation, operation, and maintenance. Risk ratings and mitigation recommendations are generated to prioritise the mitigation of failures and minimise damage and low capacity factors in PV power system management."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Auliyah Rizky Suhasmoro
"Penelitian ini meneliti dampak akuisisi mengurangi kendala keuangan perusahaan target dan juga meneliti bagaimana perbedaan kendala keuangan perusahaan target dan acquirer dapat menciptakan keuntungan sinergi. Peneliti menggunakan sampel perusahaan yang mengakuisisi dan diakuisisi di ASEAN selama periode 1988-2016. Dilihat dari kepemilikan tunai, sensitivitas arus kas terhadap kepemilikan tunai dan sensitivitas arus kas terhadap investasi, hasilnya menunjukan bahwa kendala keuangan perusahaan target berkurang setelah diakuisisi. Dengan membangun perbedaan kendala keuangan perusahaan target dan pengakuisisi, peneliti menemukan keuntungan sinergi operasi dihasilkan dari akuisisi.

This research examines whether acquisitions lessen financial constraints of target firms and examines mergers and acquisition motivated by financial constraints based on sample of acquirer firms and target firms in ASEAN over the period of 1988-2016. Using cash holdings of target firms, cash flow sensitivity to cash holdings and cash flow sensitivity to investment, the author found that the target company's financial constraints are reduced after being acquired. By constructing a financial constraint difference between the target and the acquirer, the author found a positive relationship between the financial constraints difference and synergy gains generated from the acquisition."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Harapan Rachman
"Teori keuangan belum mencapai kata sepakat mengenai hubungan antara utang dan sewa. Satu argumen mengatakan hubungannya adalah substitusi (bila sewa bertambah, maka utang harus berkurang dan sebaliknya). Argumen lain mengatakan hubungannya adalah komplemen (penambahan sewa diikuti dengan penambahan utang). Tesis ini meneliti hubungan antara keduanya dengan menggabungkan Schallheim (2013) untuk penggunaan transaksi sale and leaseback (SLB) sebagai proksi tingkat sewa serta Yan (2006) untuk pemodelan menggunakan persamaan multivariat. Penelitian ini menemukan hubungan substitusi yang robust. Faktor eksogenos EBITD, marginal tax rate (MTR), suku bunga acuan, dan pertumbuhan ekonomi signifikan menjelaskan dinamika utang dan/atau SLB pada sampel tertentu. Semakin tinggi MTR, maka tingkat substitusi semakin tinggi, yang mengindikasikan cost of debt yang lebih besar untuk setiap penambahan sewa ekstra.

Financial theory has not reached an agreement on the relationship between debt and lease. One argument says the relationship is a substitution (if lease increase, the debt must be reduced and vice versa). Another argument says the relationship is complementary (additional lease is followed by the addition of debt). This research examines relationship between the two by combining Schallheim (2013) for the use of sale and leaseback transactions (SLB) as a proxy for the level of lease and Yan (2006) multivariate equation modelling. This study found a robust relationship of substitution. Exogenous factors EBITD, marginal tax rate (MTR), policy interest rate, and economic growth significantly explain the dynamics of debt and/or SLB at some sample. The higher the MTR, the higher the substitution rate, which indicates the cost of debt are greater for an additional extra rent."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2016
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jeremy Lee
"Pandemik Covid-19 telah menyebabkan salah satu krisis ekonomi terparah dalam sejarah Indonesia. Krisis ekonomi berdampak negatif terhadap kondisi keuangan sebagian besar perusahaan yang beroperasi di Indonesia. PT. X sebagai perusahaan kontraktor pertambangan Indonesia saat ini sedang menghadapi kesulitan keuangan karena tidak dapat mempertahankan posisi keuangan yang sehat. Restrukturisasi utang merupakan salah satu cara bagi PT. X untuk menyelamatkan diri dan memulihkan posisi keuangannya selama pandemik. Makalah ini menawarkan rekomendasi manajerial untuk pilihan restrukturisasi utang dengan memproyeksikan Net Present Value menggunakan simulasi Monte Carlo dengan volatilitas arus kas sebagai dasar analisa. Tiga alternatif, seperti pertukaran utang menjadi ekuitas, likuidasi aset, dan penjadwalan ulang utang, dianggap sebagai opsi yang paling layak untuk PT. X. Hasil simulasi menunjukkan bahwa pertukaran utang menjadi ekuitas menghasilkan Net Present Value tertinggi yaitu Rp 23 miliar, sedangkan penjadwalan ulang dan likuidasi aset hanya menghasilkan masing-masing Rp 22 miliar dan Rp 21 miliar. Selain itu, untuk mencari hasil terbaik di masa depan, metode restrukturisasi lainnya juga harus dipertimbangkan sesuai dengan kapabilitas perusahaan.

The Covid-19 pandemic has led to the worst economic crisis in Indonesian history. The economic crisis has negatively influenced the financial condition of the majority of the companies operating in Indonesia. PT. X as an Indonesian mining contractor is currently facing financial distress due to its incapability to sustain its healthy cash flow. Debt restructuring is one method for PT. X to escape and restore its financial position during the pandemic. This paper offers managerial recommendations for debt restructuring alternatives by forecasting the Net Present Values using Monte Carlo Simulation with cash flow volatility as the basis of analysis. Three alternatives, such as debt to equity swap, asset liquidation, and debt rescheduling, are considered as the most viable options for PT. X. The results of the simulation showed that Debt to Equity Swap generates the highest Net Present Value of Rp 23 billion, whereas rescheduling and asset liquidation only yields Rp 22 billion and Rp 21 billion respectively. Furthermore, to look for the best outcome in the future, other restructuring methods should be taken into consideration according to the capabilities of the company."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Haniva Oktarini
"ABSTRAK
Reverse split dilakukan oleh manajemen perusahaan dengan berbagai tujuan, antara lain untuk mempertahankan harga saham pada kisaran yang optimal, memberikan sinyal mengenai pmspek saham di mesa yang akan datang serta untuk meningkatkan likuiditas dan marketability saham.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan likuiditas setelah terjadi reverse split di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan ataupun tanpa mempertimbangkan variabel kontrol seperti harga, volatilitas dan volume. Penelitian ini juga ditujukan untuk mengetahui perbedaan pengaruh dari variabel-variabel kontrol tersebut terhadap variabel likuiditas. Likuiditas diukur dengan menggunakan dua proxi, yaitu: relative spread untuk mengukur likuiditas dua dimensi (immediacy dan width); dan depth to relative spread untuk mengukur likuiditas tiga dimensi (immediacy, width dan depth).
Sampel dari penelitian ini adalah saham-saham yang melakukan reverse split di Bursa Efek Jakarta dari Januari 2001 sampai dengan Juli 2006. Untuk melakukan analisa terhadap perbedaan likuiditas setelah reverse split tanpa mempertimbangkan variabel kontrol dilakukan uji beds rerata baik terhadap sampel secara keseluruhan maupun terhadap kelompok sampel yang mengalami perubahan fraksi harga dan yang tidak mengalami perubahan fraksi harga setelah reverse split. Sementara itu untuk dua tujuan penelitian lainnya dilakukan analisa data dengan melakukan regresi model yang menggunakan data panel.
Hasil penelitian ini mendapatkan bahwa reverse split secara signifikan meningkatkan likuiditas dua dimensi saham untuk keseluruhan sampel perushaan dan untuk kedua kelompok sampel yang dibagi berdasarkan perubahan fraksi harga. Akan tetapi reverse split tidak memperbaiki likuiditas tiga dimensi saham sampel, bahkan cenderung menurunkan likuiditas tiga dimensi. Sementara itu, peristiwa reverse split memilild pengaruh positif terhadap likuiditas dua dimensi saham setelah dikontrol oleh variabel harga, volatilitas dan volume transaksi.
Peristiwa reverse split meningkatkan likuiditas dua dimensi saham, namun hat yang sama tidak berlaku untuk likuiditas tiga dimensi. Berdasarkan koefisien interaksi antara variabel kontrol dengan variabel dummy waktu, diketahui bahwa adanya reverse split mempengaruhi dampak dari variabel kontrol tersebut terhadap variabel likuiditas.

ABSTRAK
Corporate management makes a decision to reverse split company's stock for many purposes, i.e.: optimal price trading range; signaling future's prospects; and to improve the stock's liquidity and marketability. The purpose of this study is to find differences in liquidity after reverse split in Jakarta Stock Exchange. This purpose is narrowed down into three specific purposes: (i) to study differences in liquidity without considering control variables; (ii) to study differences in liquidity with considering control variables (price, volatility and volume); and (iii) investigates the difference of the control variables' effect on the liquidity variables. In this study, liquidity is measured with two proxies: relative spread to measure two-dimension liquidity (immediacy and width); and depth to relative spread to measure three-dimension liquidity (immediacy, width and depth)
The samples of this study are companies which have done reverse split in Jakarta Stock Exchange during the period of January 2001 to July 2001. Compared mean test are used in analyzing difference in liquidity after reverse split without considering control variables. The test is done for the whole sample, samples with the same tick size after reverse split and samples with different tick size. Regression model with panel data is used to analyze the data for the other purposes.
The result of this study found that reverse split significantly increases the stock's two-dimension liquidity for the whole sample, samples with the same tick size after reverse split and samples with different tick size.. Meanwhile, reverse split does not improve the three-dimension liquidity and most likely decreases the three-dimension liquidity. This study also discovers that after controlled by price, volatility and transaction volume, reverse split has positive effect on two-dimension liquidity but it has not been improving the three-dimension liquidity. Based on coefficient of the interaction between control variables and time, as a dummy variable, the reverse split event influences the effect of control variables on liquidity variables.
"
2007
T 17850
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kusbiantono
"Risiko investasi saham terdiri dari risiko sistematis (risiko pasar) dan risiko tidak sistematis (risiko perusahaan). Penjumlahan kedua risiko tersebut adalah risiko total yang merupakan variabilitas return dari suatu saham. Risiko sistematis merupakan bagian dari risiko total yang tidak dapat dihilangkan dengan diversifikasi. Sedangkan risiko tidak sistematis adalah bagian dari risiko total yang dapat diperkecil atau dihilangkan dengan diversifikasi.
Didalam model pasar (market model), beta digunakan sebagai pengukur risiko sistematis dan varian kesalahan residual sebagai pengukur risiko tidak sistematis. Salah satu asumsi model ini adalah bahwa beta dan varian kesalahan residual masing-masing merupakan variabel acak, karenanya secara teoritis kedua variabel tersebut tidak berkorelasi. Dan ini berimplikasi bahwa dalam pembentukan portofolio, besar kecilnya nilai beta saham pembentuk portofolio tidak mempengaruhi tingkat diversifikasi portofolio.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris hubungan antara risiko sitematis dan risiko tidak sitematis, baik pada saham individual maupun portofolio saham, serta pengaruhnya terhadap diversifikasi saham di Bursa Efek Jakarta.
Penelitian ini dilakukan dengan periode pengamatan 1994-1996, dimana pada periode tersebut terdapat dua kondisi pasar yaitu bearish dan bullish. Dari bulan Januari 1994 sampai dengan Mei 1995 dianggap sebagai bear market (IHSG cenderung bergerak turun, yaitu dari 589,646 pada tanggal 3 Januari 1994 menjadi 415,322 pada tanggal 1 Mei 1995), sedangkan dari Juni 1995 sampai dengan Desember 1996 dianggap sebagai bull market (IHSG cenderung bergerak naik, yaitu dari 485,781 pada tanggal I juni 1995 menjadi 637,432 pada tanggal 27 Desember 1996).
Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 99 perusahaan yang ditetapkan dengan teknik purposive sampling. Perusahaan yang terpilih sebagai sampel penelitian adalah perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta selama periode penelitian dan sahamnya termasuk dalam kriteria sebagai saham yang aktif. Perhitungan korelasi antara risiko sistematis dan risiko tidak sistematis dilakukan dengan metoda Pearson Product Moment dan Spearman Rank Correlation.
Dan hasil penelitian terlihat bahwa terdapat korelasi negatip antara risiko sistematis dan risiko tidak sistematis pada saham individual, sedangkan pada portofolio saham terdapat korelasi positip antara risiko sistematis dan risiko tidak sistematis. Portofolio saham yang dibentuk dari saham-saham dengan nilai beta rendah mempunyai risiko tidak sistematis lebih kecil bila dibandingkan dengan risiko tidak sistematis portofolio saham yang dibentuk dari saham-saham dengan nilai beta tinggi. Ukuran portofolio saham mempengaruhi tingkat diversifikasi portofolio saham yang bersangkutan. Semakin besar jumlah saham didalam suatu portofolio, semakin baik tingkat diversifikasi portofolio tersebut yang ditunjukkan oleh semakin besarnya prosentase penurunan risiko tidak sistematis dibandingkan dengan rata-rata risiko tidak sistematis saham individual penyusun portofolio. Untuk mencapai tingkat diversifikasi yang sama, portofolio saham yang dibentuk dari saham¬saham dengan beta tinggi memerlukan jumlah saham yang lebih banyak dibandingkan dengan portofolio saham yang dibentuk dari saham-saham dengan beta rendah."
Depok: Universitas Indonesia, 2001
T18851
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   5 6 7 8 9 10 11 12   >>