Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 31 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ridha Alviny Syakirah
"Kerusakan pada tulang atau cacat tulang merupakan masalah kesehatan masyarakat di seluruh dunia yang perlu diperhatikan, karena dapat mengganggu aktivitas kehidupan. Metode yang cukup menjanjikan untuk penyembuhan cacat tulang adalah fabrikasi perancah dari bahan biomaterial. Perancah adalah biomaterial padat berbentuk 3 dimensi dengan struktur berpori yang dapat mendukung interaksi sel biomaterial, proliferasi, diferensiasi sel, dan dapat terurai dengan tingkat toksisitas minimal. Penelitian ini bertujuan untuk memfabrikasi perancah dengan komposit berupa hidroksiapatit (HAp)/kolagen/kitosan, hidroksiapatit/kolagen/kitosan/functionalized-multi walled carbon nanotube (f-MWCNT) dengan hidroksiapatit serta kolagen hasil ekstraksi tulang ikan tuna, hidroksiapatit/kolagen/kitosan/titanium dioksida (TiO2), dan hidroksiapatit/kolagen/kitosan/functionalized-multi walled carbon nanotube (f-MWCNT). Fabrikasi dilakukan dengan menggunakan metode freeze drying. Perancah hasil fabrikasi dikarakterisasi sifat biologisnya melalui uji biokompatibilitas dengan MTS assay dan uji diferensiasi sel dengan pewarnaan alizarin merah. Uji viabilitas menunjukkan sel umumnya bermigrasi dan menempel dekat perancah. Penambahan bahan mekanik f-MWCNT dan titanium dioksida pada perancah dapat mengurangi viabilitas sel. Namun, pada kadar yang tepat, perancah dengan kandungan f-MWCNT atau titanium dioksida dapat memiliki sifat viabilitas yang baik. Uji diferensiasi menunjukkan penambahan bahan mekanik f-MWCNT dan titanium dioksida dapat menginduksi diferensiasi osteogenik namun hasilnya masih tidak optimal.

Damage to bones or bone defects is a public health problem around the world that needs attention because it can interfere many life activities. A promising method for healing bone defects is the fabrication of scaffolds from biomaterials. Scaffolds are solid biomaterials in 3-dimensional sHApe with a porous structure that can support biomaterial cell interactions, proliferation, cell differentiation, and can be decomposed with minimal toxicity. This study aims to fabricate scaffolds with composites in the form of hydroxyapatite/collagen/chitosan, hydroxyapatite/collagen/chitosan/functionalized MWCNT (f-MWCNT) where the hydroxyapatite and collgen used were obtained from tuna fish bone extraction, hydroxyapatite/collagen/chitosan/titanium dioxide, and hydroxyapatite/collagen/chitosan/functionalized MWCNT (f-MWCNT). Fabrication was carried out using freeze drying method. The fabricated scaffolds were characterized for their biological properties through biocompatibility test with MTS assay and cell differentiation test with alizarin red staining. Viability tests showed cells generally migrated and adhered near the scaffold. The addition of mechanical material f-MWCNT and titanium dioxide to the scaffold can reduce cell viability. However, at the right levels, scaffolds containing f-MWCNT or titanium dioxide can have good viability. The differentiation test showed that the addition of mechanical material f-MWCNT and titanium dioxide could induce osteogenic differentiation but the results were still not optimal."
Depok: FaKultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tampubolon, Joshua Yoshihiko
"Non-union biasanya terjadi sebanyak 1.9–10% dari total kasus fraktur tulang. Rekayasa jaringan tulang berpotensi menjadi pilihan terapi yang efektif dan personal untuk pengobatan fraktur non-union. Penelitian ini menggunakan komposit osteobiologis berbasis HAp/HA/CS ditambahkan dengan pilihan material f-MWCNT, f-Gr, dan GO  serta difabrikasi secara liofilisasi untuk membentuk struktur mikropori dengan sifat osteoinduktif dan osteokonduktif. UCMSC akan ditanam di dalam perancah yang telah difabrikasi in vitro dan setelah berkembang, perancah akan dikarakterisasi untuk kapasitas proliferasi dan diferensiasi dengan pewarnaan MTS dan alizarin merah. Perancah HAp/HA/CS/f-MWCNT merupakan pilihan komposit terbaik dengan kemampuan mendukung viabilitas (54.52 OD) dan diferensiasi (0.27 OD) pada UCMSC secara signifikan tetapi memerlukan perbaikan untuk integritas perancah.

Non-union occurs around 1.9-10% from the total case of fractures. Bone tissue engineering is a potential choice for Non-union that is effective, personal for treating the abnormality. This research used HAp/HA/CS as base added with optional materials of f-MWCNT, f-Gr, and GO as the osteobiology composite and further fabricated by freeze drying to create a microporous structure with osteoinductive and osteoconductive properties. UCMSC is planted with the fabricated scaffold in vitro and after development, scaffold is characterized for proliferation and differentiation capacity using MTS and red alizarin staining. HAp/HA/CS/f-MWCNT scaffold proves to be the best composite option in this research that significantly promotes viability (54.52 OD) and differentiation (0.27 OD) to UCMSC but needs further refinement for scaffold integrity."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sofia Alissandra Sitchon Winarno
"Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit yang sering terjadi dan menimbulkan masalah kesehatan gigi dan mulut. Penyakit periodontal menduduki peringkat kedua di Indonesia. Penyakit periodontal terdiri atas 2 jenis yaitu gingivitis dan periodontitis. P. gingivalis dan S. sanguinis merupakan bakteri yang sering dikaitkan dengan kerusakan pada jaringan peridontal terutama gingivitis dan periodontitis, dan memiliki sifat resisten terhadap antibiotik. Nisin termasuk dalam bakteriosin kelas I lantibiotik dan merupkan peptida antimikroba yang diproduksi oleh bakteri Gram-positif tertentu yang mencakup spesies Lactococcus dan Streptococcus. Nisin A dan nisin Z merupakan varian nisin alami yang diproduksi oleh L. lactis dimana keduanya memiliki aktivitas bakterisidal. Bakteriosin merupakan solusi potensial untuk masalah ini karena aktivitas spektrumnya yang luas terhadap bakteri resisten terhadap antibiotik. Untuk melihat efektivitas bakteriosin nisin Z dan nisin A terhadap bakteri patogen P. gingivalis dan S. sanguinis dilakukan studi in-silicodengan menggunakan metode molecular docking dengan menggunakan software PatchDock dan FireDock. Visualisasi dilakukan menggunakan PyMol untuk melihat situs interaksi antara ligan dan reseptor. Protein target yang digunakan dari bakteri P. gingivalis dan S. sanguinis adalah LPS dan bakteriosin nisin A serta nisin Z dipilih sebagai ligan uji. Hasil metode molecular docking dan visualisasi menunjukan bahwa nilai global energy terbaik dari docking bakteriosin nisin Z dan protein LPS bakteri P. gingivalis adalah -45.40 kcal/mol dan antara bakteriosin nisin A dan protein LPS bakteri S. sanguinis adalah -42.59 kcal/mol. Selain itu, terdapat interaksi antara asam amino ASP-74, ASP-76, dan ARG-66 pada bakteriosin nisin A dengan reseptor LPS pada bakteri S. sanguinis dan interaksi antara asam amino Lys-1C pada bakteriosin nisin Z dengan reseptor LPS pada bakteri P. gingivalis. Dapat disimpulkan bahwa bakteriosin nisin A dapat menghambat aksi bakteri S. sanguinis dan bakteriosin nisin Z dapat menghambat aksi bakteri P. gingivalis sebagai bakteri patogen di mulut.

Periodontal is a disease that often occurs and causes dental and oral health problems. Periodontal disease is ranked second in Indonesia. There are two types of periodontal disease: gingivitis and periodontitis. P. gingivalis and S. sanguinis are bacteria that are often affected by periodontal tissue damage, especially gingivitis and periodontitis, and are resistant to antibiotics. Nisin belongs to the class I lantibiotic bacteriocins and is an antimicrobial peptide produced by certain Gram-positive bacteria including Lactococcus and Streptococcusspecies. Nisin A and nisin Z are natural variants of nisin produced by L. lactis which both have bactericidal activity. Bacteriocins are a potential solution to this problem because of their broad-spectrum activity against bacterial resistance to antibiotics. To see the effectiveness of bacteriocin nisin Z and nisin A against pathogenic bacteria P. gingivalis and S. sanguinis, an in-silico study was conducted using the molecular docking method using PatchDock and FireDock softwares. Visualization was carried out using PyMol to see the interaction site between the ligand and the receptor. The target protein used from bacteria P. gingivalis and S. sanguinis was LPS and bacteriocin nisin A and nisin Z were selected as test ligands. The results of the molecular docking method and visualization showed that the best global energy value of docking between bacteriocin nisin Z and bacterial LPS protein P. gingivalis was -45.40 kcal/mol and between bacteriocin nisin A and bacterial LPS protein S. sanguinis was -42.59 kcal/mol. In addition, there is an interaction between the amino acids ASP-74, ASP-76, ASP-78 and ARG-66 on the bacteriocin nisin A with the LPS receptor on S. sanguinis and the interaction between the amino acids Lys-1C on the bacteriocin nisin Z with the LPS receptor. on P. gingivalis bacteria. It can be concluded that bacteriocin nisin A can inhibit the action of bacteria S. sanguinis and bacteriocin nisin Z can inhibit the action of bacteria P. gingivalis as pathogenic bacteria present in the mouth."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sitinjak, Defrianto H.
"Mikroorganisme terdapat di tanah, debu, udara, air, makanan ataupun permukaan jaringan tubuh kita. Keberadaan mikroorganisme tersebut ada yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, tetapi banyak pula yang merugikan manusia misalnya dapat menimbulkan berbagai penyakit atau bahkan dapat menimbulkan kerusakan akibat kontaminasi. Pengendalian mikroorganisme dapat dilakukan dengan sterilisasi. Proses sterilisasi dapat menggunakan gas ozon (O3) atau sinar ultraviolet C (UV-C). Tesis ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan chamber sterilisasi yang telah di desain dan membandingkan proses sterilisasi menggunakan gas ozon dan sinar UV-C. Pada penelitian sampel yang digunakan untuk sterilisasi adalah sepasang sepatu yang sehari-hari di gunakan di luar ruangan. Proses sterilisasi dilakukan di dalam chamber yang di sisi dalam ditempel dengan alumunium foil serta di beri dudukan sampel berupa jaring besi. Sterilisasi di lakukan dengan durasi selama 3, 5 dan 10 menit menggunakan gas ozon dan sinar UV-C secara terpisah. Sampel yang telah disterilisasi kemudian di hitung jumlah mikroorganisme menggunakan Adenosine Tri-Phosphate (ATP) meter. Pada penelitian ini telah berhasil melakukan sterilisasi sebesar 99% dan 97% menggunakan gas ozon dan sinar UV-C pada durasi 10 menit. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa persentase penurunan jumlah mikroorganisme berbanding lurus dengan durasi sterilisasi dan secara signifikan terdapat perubahan antara sebelum sterilisasi dengan setelah sterilisasi yang di tunjukkan dalam uji statistic one way Anova menggunakan aplikasi GraphPad Prism 9.

Microorganisms are found in soil, dust, air, water, food or the surface of our body tissues. The existence of these microorganisms is beneficial for human life, but many are harmful to humans, for example, can cause various diseases or can even cause damage due to contamination. Microorganism kontrol can be done by sterilization. The sterilization process can use ozone (O3) gas or ultraviolet C (UV-C) light. This thesis aims to determine the effectiveness of the sterilization box that has been designed and compare the sterilization process using ozone gas and UV-C light. In this study, the sample used for sterilization was a pair of shoes that were used outdoors everyday. The sterilization process is occurred in a box which is attached with aluminium foil and given a wire mesh as sample holder. Sterilization is carried out for 3, 5 and 10 minutes using ozone gas and UV-C rays separately. The samples that have been sterilized are counted the number of microorganisms using an Adenosine Tri-Phosphate (ATP) meter. In this study, 99% and 97% of sterilization have been carried out using ozone gas and UV-C light for a duration of 10 minutes. This study can be concluded that the percentage reduction in the number of microorganisms is directly proportional to the duration of sterilization and significantly differences between before and after sterilization which is shown in the one way Anova statistical test using the GraphPad Prism 9 application."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sakinah Dwiyanti
"Mikroorganisme di udara bebas dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit pada manusia sehingga harus diperhatikan untuk meminimalisir terjadinya penyebaran infeksi. Ozon dapat digunakan untuk sterilisasi dengan kelebihan dapat menjangkau seluruh area dan tidak menyisakan zat beracun yang berbahaya. Ozon merupakan salah satu gas penyusun atmosfer yang terdiri dari molekul triatom oksigen (O3). Kemampuan ozon sebagai oksidator kuat dapat memusnahkan bakteri melalui proses oksidasi langsung. Berdasarkan hal tersebut maka penelitian ini bertujuan membuat prototipe untuk mensterilisasi ruangan dengan ozon menggunakan sistem kontrol jarak jauh. Rancangan prototipe menggunakan mikrokontroler Arduino Mega, Bluetooth, dan generator ozon sebagai penghasil ozon. Metode pengujian prototipe dilakukan menggunakan sampel Agar BBL Blood yang diletakkan di ruangan untuk disterilisasi dengan sterilisator ozon, kemudian diinkubasi selama 24 jam. Rata-rata bakteri Staphylococcus epidermidis yang tumbuh di ruang A tanpa sterilisasi sebanyak 21 CFU/m3 dan menjadi 11,2 CFU/m3 setelah sterilisasi, sedangkan pada ruang B tanpa sterilisasi sebanyak 193,4 CFU/m3 dan setelah sterilisasi 97,6 CFU/m3 . Hasil dari pengujian menunjukkan bahwa prototipe sterilisator ozon dapat mengurangi atau membunuh bakteri di udara.

Microorganisms in the air can cause various human diseases, hence it must be controlled to minimize infectious transmissions. Ozone can be used for sterilization with its advantages to reach the entire area and not produce toxic and harmful substances. Ozone is one of the atmospheric gases consisting of triatome oxygen (O3) molecules. The property of ozone as a strong oxidizing agent can destroy bacteria through a direct oxidation reaction. This research aims to create a prototype to sterilize rooms with ozone using a remote control system. The prototype uses an Arduino Mega microcontroller, Bluetooth, and an ozone generator to produce ozone. The testing method was carried out using BBL Blood Agar samples placed in a room to be sterilized by the prototype and incubated for 24 hours. Average growth of Staphylococcus epidermidis in room A was 21 CFU/m3 without sterilization and 11.2 CFU/m3 after sterilization, whereas and in room B was 193,4 CFU/m3 without sterilization and 97.6 CFU/m3 after sterilization. The result of the study indicated that the ozone sterilizer prototype can reduce or exterminated bacteria in the air."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gabriellius Chandra
"Patch transdermal (transdermal patch) adalah plester berperekat khusus yang mengandung obat, yang dirancang untuk ditempelkan pada kulit. Tujuannya adalah untuk memberikan dosis obat yang tepat melalui kulit dan masuk ke dalam aliran darah. Dalam penelitian ini, patch transdermal yang berbasis polimer alami diformulasikan menggunakan campuran pati sagu (Metroxylon sagu) dan HPMC (Hidroksipropil Metilselulosa) dengan teknik solvent casting. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasi dan mengevaluasi patch transdermal dari polimer pati sagu. Carvedilol digunakan sebagai obat yang diantarkan melalui patch transdermal berbasis pati sagu/HPMC. Penambahan Polietilen Glikol dilakukan sebagai plastisizer untuk meningkatkan sifat fisikokimia polimer. Patch transdermal yang dihasilkan menunjukkan permukaan yang homogen berdasarkan citra SEM dengan massa yang konsisten berkisar 20,9 - 21,07 mg/cm2 dan ketebalan 0,22 - 0,24 mm. Formulasi dengan komposisi pati sagu yang tinggi juga menunjukkan kadar kelembapan yang lebih rendah (< 4%). Uji pelepasan Carvedilol secara in-vitro menunjukkan percepatan pelepasan obat pada formulasi dengan komposisi HPMC yang tinggi yaitu hingga 62,47%. Hasil penelitian ini berhasil menunjukkan karakteristik polimer pati sagu/HPMC dengan penambahan Polietilen Glikol sebagai plastisizer pada aplikasi patch transdermal.

A transdermal patch is a special adhesive plaster containing medication, which is designed to be attached to the skin. The goal is to deliver the correct dose of medication through the skin and into the bloodstream. In this research, a natural polymer-based transdermal patch was formulated using a mixture of sago starch (Metroxylon sago) and HPMC (Hydroxypropyl Methylcellulose) using the solvent casting technique. This study aims to formulate and evaluate a transdermal patch from sago starch polymer. Carvedilol is used as a drug delivered via a sago starch/HPMC based transdermal patch. The addition of Polyethylene Glycol is carried out as a plasticizer to improve the physicochemical properties of the polymer. The resulting transdermal patch showed a homogeneous surface based on SEM images with a consistent mass ranging from 20.9 - 21.07 mg/cm2 and a thickness of 0.22 - 0.24 mm. Formulations with a high sago starch composition also show lower moisture content (< 4%). The in-vitro Carvedilol release test showed accelerated drug release in formulations with a high HPMC composition, namely up to 62.47%. The results of this research succeeded in showing the characteristics of sago starch/HPMC polymer with the addition of Polyethylene Glycol as a plasticizer in transdermal patch applications."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rusyda Fajarani
"Kerusakan tulang adalah salah satu penyebab utama kecacatan manusia yang secara keseluruhan menyebabkan penurunan kualitas hidup. Teknologi rekayasa jaringan telah dikembangkan untuk solusi kerusakan tulang dengan menerapkan perancah berbasis biomaterial. Berbagai material polimer alami dan sintesis dapat digunakan sebagai material perancah tulang untuk membantu adhesi dan proliferasi sel. Material konduktif berbasis karbon juga dapat dikombinasikan dalam perancah tulang dan telah diteliti dapat meningkatkan kekuatan mekanis perancah serta membantu proses pertumbuhan sel. Pada penelitian ini, dilakukan pengembangan perancah tulang menggunakan material kolagen, hydroxypropyl methylcellulose (HPMC), dan poly(vinyl alcohol) (PVA), dengan penambahan material multiwalled carbon nanotube (MWCNT) dan reduced graphene oxide (rGO). Material kolagen diekstraksi secara mandiri menggunakan metode deep eutectic solvent dari sumber ikan king kobia. Kolagen hasil ekstraksi dikarakterisasi secara fisika kimia dengan SEM, FTIR, XRD, dan DSC, dengan hasil karakterisasi menunjukkan kolagen mengandung gugus amida dan memiliki struktur triple helix khas kolagen. Dengan demikian kolagen king kobia hasil ekstraksi cocok untuk dilanjutkan sebagai material perancah. Fabrikasi perancah dilakukan menggunakan freeze-drying, kemudian dikarakterisasi secara fisika kimia dengan mengamati morfologi melalui SEM, identifikasi gugus fungsi melalui FTIR, sifat mekanik tekan, porositas, wettability, swelling, dan laju degradasi. Hasilnya menunjukkan perancah berpori dan struktur saling terhubung dengan kekuatan mekanik sekitar 9 MPa yang telah sesuai dengan tulang trabekular, porositas tinggi mencapai 90%, swelling tinggi mencapai 300% tetapi dapat tetap mempertahankan integritas perancah, laju degradasi yang sesuai dengan kehilangan massa perancah yang kurang dari 20% dalam 28 hari, serta sifat hidrofilik dengan sudut kontak air kurang dari 90o. Hasil ini menunjukkan perancah yang difabrikasi dapat menjadi kandidat yang potensial dalam aplikasi rekayasa jaringan tulang. Selain itu, karakteristik konduktivitas perancah dievaluasi melalui pengukuran elektrokimia menggunakan cyclic voltammetry (CV), menghasilkan perancah konduktif yang ditandai dengan pembentukan puncak redoks.

Bone damage is one of the leading causes of human disability which leads to an overall decrease in quality of life. Tissue engineering technology has been developed for bone damage solutions by applying biomaterial-based scaffolds. Various natural and synthetic polymeric materials can be used as bone scaffold materials to facilitate cell adhesion and proliferation. Carbon-based conductive materials can also be combined in bone scaffolds and have been investigated to increase the mechanical strength of the scaffold and assist the cell growth process. In this research, bone scaffolds were developed using collagen, hydroxypropyl methylcellulose (HPMC), and poly(vinyl alcohol) (PVA), with the addition of multiwalled carbon nanotube (MWCNT) and reduced graphene oxide (rGO) materials. Collagen material was extracted independently using deep eutectic solvent method from king cobia fish source. The extracted collagen was characterized physically and chemically by SEM, FTIR, XRD, and DSC, with the characterization results showing that collagen contains amide groups and has a typical triple helix structure of collagen. Thus, the extracted king cobia collagen is suitable to be continued as a scaffold material. The scaffolds were fabricated using freeze-drying and characterized physically and chemically by observing morphology through SEM, functional group identification through FTIR, compressive mechanical properties, porosity, wettability, swelling, and degradation rate. The results showed porous scaffolds and interconnected structures with mechanical strength of about 9 MPa which is compatible with trabecular bone, high porosity of up to 90%, high swelling of up to 300% but still maintaining the integrity of the scaffold, suitable degradation rate with mass loss of less than 20% in 28 days, and hydrophilic properties with water contact angle of less than 90o. These results suggest the fabricated scaffold could be a potential candidate in bone tissue engineering applications. In addition, the conductivity characteristics of the scaffolds were evaluated through electrochemical measurements using cyclic voltammetry (CV), resulting in conductive scaffolds characterized by the formation of redox peaks."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizka Yulvina
"Tuberkulosis (TB), yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, terus menjadi salah satu penyebab utama kematian di dunia. Deteksi TB dapat dilakukan melalui analisis citra X-Ray dada (CXR), dan berbagai penelitian telah memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mengotomasi serta meningkatkan proses diagnostik. Namun, pendekatan yang ada sering kali hanya berfokus pada deteksi lesi secara parsial atau tidak lengkap, tanpa menyediakan solusi komprehensif untuk klasifikasi multi-label dan multi-kelas dari seluruh spektrum anomali yang terkait TB. Penelitian ini mengembangkan model Artificial Intelligence (AI) dengan arsitektur SwinTransformer Tiny untuk klasifikasi multi-kelas dan multi-label 14 anomali terkait TB secara lebih efisien. Data yang digunakan terdiri dari 133 citra CXR dari RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan 360 citra dari dataset National Institutes of Health (NIH). Ketidakseimbangan data diatasi dengan teknik augmentasi data dan penggunaan customized focal loss. Model ini berhasil mencapai AUC sebesar 0.57, Binary Accuracy 0.869, nilai Loss 0.068, dan nilai Hamming Score 0.514. Dibandingkan dengan beberapa arsitektur lainnya seperti Hybrid CNN & ViT, ConvNeXt Tiny, dan EfficientNetB0, model ini menunjukkan performa AUC terbaik. Dalam kasus klasifikasi multi-label dan multi-kelas seperti ini, AUC menjadi metrik utama yang lebih relevan untuk mengevaluasi keberhasilan model. Mengingat kompleksitas dalam menangani data multi-label dan multi-kelas dengan sampel yang terbatas serta ketidakseimbangan data, skor AUC ini mencerminkan tantangan yang ada dalam tugas ini, bukan kekurangan dari model itu sendiri. Dengan mengklasifikasikan label-label TB yang paling spesifik dalam satu studi AI, penelitian ini menyoroti potensi AI untuk meningkatkan akurasi dan efisiensi dalam mendeteksi anomali terkait TB. Selain itu, model ini dilengkapi dengan penerapan Saliency Map sebagai metode Explainable AI (XAI), yang memberikan interpretasi medis yang lebih jelas terhadap prediksi model.

Tuberculosis (TB), caused by Mycobacterium tuberculosis, remains one of the leading causes of death worldwide. TB detection can be performed through Chest X-Ray (CXR) analysis, and various studies have leveraged artificial intelligence (AI) to automate and enhance the diagnostic process. However, existing approaches often focus only on partial or incomplete lesion detection, lacking a comprehensive solution for multi-label and multi-class classification of the full spectrum of TB-related anomalies. This study developed an AI model using the SwinTransformer Tiny architecture for efficient multi-class and multi-label classification of 14 TB-related anomalies. The dataset consisted of 133 CXR images from RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo and 360 images from the NIH dataset. Data imbalance was addressed using data augmentation techniques and customized focal loss. The model achieved an AUC of 0.57, an accuracy of 0.869, a Loss value of 0.068, and Hamming Score value 0.514. Compared to other architectures such as Hybrid CNN & ViT, ConvNeXt Tiny, and EfficientNetB0, this model demonstrated the best AUC performance. In multi-label and multi-class classification tasks like this, AUC is the primary metric for evaluating model performance. Given the complexity of handling multi-label and multi-class data with limited and imbalanced samples, the AUC score reflects the challenging nature of this task rather than any shortcomings of the model itself. By classifying the most specific TB-related labels in a single AI study, this research highlights the potential of AI to improve the accuracy and efficiency of detecting TB-related anomalies. Furthermore, the model is equipped with the implementation of Saliency map as an Explainable AI (XAI) method, providing clearer medical interpretations of the model's predictions."
Jakarta: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Simbolon, Angela Sondang Theresa
"Hidrogel merupakan polimer yang dapat menyerap air 10 sampai 20 kali lipat ukurannya. Hidrogel juga tidak terlarut dalam air maka dari itu sangat cocok untuk pengaplikasian perancah. Perancah merupakan material yang sangat membantu dalam berbagai bidan termasuk dalam medis. Perancah sudah banyak digunakan untuk rekayasa jaringan, dental dan bone block. Material yang digunakan dalam perancah beragam, material hidrogel alami dan sintesis dan juga dapat dicampur dengan logam. Dalam penelitian ini digunakan bahan dasar alginat yang diekstrak dari jenis makroalga yaitu Sargassum yang dicampur dengan PVA, Hal ini dilakukan untuk memberikan perancah yang memiliki pori yang baik yaitu dapat mencapai 300 µm, sementara untuk aplikasi cedera saraf tepi hanya membutuhkan 10-40 biodegradasi dan kekuatan mekanik yang lebih tinggi. Dan juga untuk pengobatan saraf tepi dibutuhkan konduktivitas yang akan membantu regenerasi dari saraf tepi. Sehingga dilakukan penambahan material Carbon nanotubes (CNTs). Dengan begitu perancah yang dihasilkan diharapkan dapat diaplikasikan dalam bidang medis untuk pengobatan cedera saraf tepi.

Hydrogels are polymers capable of absorbing water up to 10 to 20 times their original volume. They are also insoluble in water, making them highly suitable for scaffold applications. Scaffolds are materials that contribute a significant role across various fields such as tissue engineering, dental implants, and bone regeneration. Both natural and synthetic hydrogels are commonly used, which may also be combined with metals to enhance their properties. In this study, the base material used was alginate, extracted from a type of macroalgae known as Sargassum, and mixed with polyvinyl alcohol (PVA). This combination is intended to to fabricate scaffolds with optimized pore structures However, for peripheral nerve injury (PNI) applications, a smaller pore size (10–40 µm), higher biodegradability, and improved mechanical strength are required. To support nerve regeneration in PNI treatment, electrical conductivity is also crucial. Therefore, carbon nanotubes (CNTs) are incorporated into the scaffold formulation to enhance its conductive properties. With these modifications, the resulting scaffold is expected to be applicable in the medical field, particularly for the treatment of peripheral nerve injuries."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Surya Sasmita Vranken
"Resin komposit merupakan bahan restorasi yang banyak digunakan dalam kedokteran gigi. Ini adalah bahan sewarna gigi yang digunakan untuk memulihkan gigi berlubang, retak, dan terkelupas. Resin komposit terdiri dari matriks resin berbasis metakrilat dan komponen pengisi seperti partikel kaca atau keramik yang berfungsi meningkatkan kekuatan dan daya tahan. Keunggulan resin komposit meliputi estetika yang baik, konservasi struktur gigi, dan keserbagunaan aplikasi. Namun, terdapat pula kelemahan seperti sensitivitas teknik, biaya tinggi, dan potensi terkelupas.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik fisik dan kimia dari resin komposit gigi berbasis kombinasi Silika (SiO2) dan Hidroksiapatit (Ca10(PO4)6(OH)2) sebagai filler. Karakterisasi dilakukan melalui pengamatan struktur permukaan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM), identifikasi gugus fungsi menggunakan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), uji penyusutan polimerisasi (polymerization shrinkage), dan kedalaman curing (depth of cure).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan hidroksiapatit dapat mengurangi penyusutan polimerisasi dari 39% menjadi 33,5%. SEM menunjukkan distribusi partikel filler yang merata dan permukaan lebih homogen pada campuran Silika–Hidroksiapatit. Spektrum FTIR memperlihatkan perbedaan gugus fungsi antara resin yang telah dikeringkan (cured) dan belum dikeringkan (uncured), dengan identifikasi gugus PO43− dan Si–O–Si yang khas. Uji depth of cure menunjukkan bahwa resin dengan silika memiliki kedalaman curing yang lebih tinggi (0.730 cm) dibandingkan hidroksiapatit (0.396 cm), namun HAp memberikan hasil yang lebih konsisten.
Kesimpulannya, kombinasi filler Silika dan Hidroksiapatit dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia resin komposit gigi, terutama dalam mengurangi shrinkage dan mempertahankan kestabilan struktur. Penelitian ini mendukung potensi penggunaan kombinasi filler tersebut untuk aplikasi restorasi gigi yang lebih optimal.

Dental resin composite is a widely used restorative material in dentistry. It is a tooth- colored substance used to restore cavities, cracks, and fractures. Resin composites consist of a methacrylate-based resin matrix and filler components such as glass or ceramic particles that serve to improve mechanical strength and durability. Advantages of resin composites include good aesthetics, tooth-conserving procedures, and versatile applications. However, they also have drawbacks, such as technique sensitivity, relatively high cost, and risk of chipping or marginal failure.
This study aimed to evaluate the physical and chemical characteristics of a dental resin composite formulated with a combination of silica (SiO2) and hydroxyapatite (Ca10(PO4)6(OH)2) as fillers. The characterization was conducted using Scanning Electron Microscopy (SEM) to observe surface morphology, Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) to identify functional groups, polymerization shrinkage testing, and depth of cure analysis.
The results showed that the addition of hydroxyapatite reduced polymerization shrinkage from 39% to 33.5%. SEM observations revealed well-distributed filler particles and a more homogeneous surface in the silica–hydroxyapatite composite. FTIR spectra demonstrated distinct differences between cured and uncured samples, identifying key functional groups such as PO43− and Si–O–Si. The depth of cure test indicated that the silica group had a higher curing depth (0.730 cm) compared to hydroxyapatite (0.396 cm), although the HAp group exhibited more consistent results.
In conclusion, the combination of silica and hydroxyapatite fillers can improve the physical and chemical properties of dental resin composites, particularly in reducing shrinkage and enhancing structural stability. This study supports the potential application of this filler combination for more optimal dental restorations.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>