Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 164 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Agus Isnaini
"ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian tentang penilaian Kualitas Air Situ Salam di
Kampus Universitas Indonesia, Depok. Penelitian ini bertujuan untuk mengeta
kualitas perairan di situ salam berdasarkan pada Nation Sanitation Foundation Water Quality Index (NSF-WQI). Penelitian ini menggunakan metode deskrip yaitu tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu, tetapi hanya menggambarkan obyek yang diteliti dengan data suatu variabel, gejala atau keadaan. Hasil yang diperoleh adalah kualitas air situ Salam berdasarkan Wate Quality Index (WQI) menunjukkan hasil normal (medium). Hasil normal mengindikasikan bahwa air situ Salam masih dalam kisaran tidak membahayak tingkat pencemarannya, sehingga air situ Salam masih dapat dipergunakan unt berbagai aktivitas. Hal ini berarti bahwa parameter standar penilaian kualitas masih di bawah standar baku mutu air.

Abstract
Research on water quality assessment of water quality in Situ Salam
Universitas Indonesia, Depok. This study aims to determine the quality of wat in situ Salam based on the Nation Sanitation Foundation Water Quality Index (NSF-WQI). This research uses descriptive method that is not intended to test specific hypothesis, but only describes the object under study with the data of
a variable, symptom or condition. The results obtained are based on water quality of situ Salam in Water Quality Index (WQI) were normal (medium). Normal was indicate that the water is still within the range, where situ Salam i not dangerous levels of pollution, thus there can still be used for various activities. This means that the parameters of water quality assessment standard are still below the quality standard"
2011
T31012
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Apri Utami Parta Santi
"Research of freshwater Mollusca in Wonogiri was conducted in November 2010 in six rivers which estuary in Gajah Mungkur Dam. The Mollusca specimens was collected from Keduang river, Tirtomoyo river, Temon river, Solo Hulu river, Ngunggahan river and Wuryantoro river. A kuadrat transect method was used from area which have 1 kilometer in distance from estuary. The kuadrat transect was systematically located every 1 kilometer in 3 sampling sites. The specimens categorized in 13 spesies and there are one spesies have dominated in each river. The distribution of Mollusca in Solo Hulu and Ngunggahan river were random, whereas in Keduang, Tirtomoyo, Temon and Wuryantoro river were clumped. Mollusca commonly found in river which have mud substrate. The highest diversity index found in Ngunggahan river and the lowest was found in Wuryantoro river."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2011
T29596
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Adhitia Pratama
"ABSTRAK
Kawasan Kampus Univesitas Indonesia merupakan habitat alami bagi tumbuhan Amorphophallus variabilis Bl. Pengamatan dilakukan di 6 (enam) lokasi di Kawasan Universitas Indonesia untuk mengetahui pola penyerbukan (polinasi) dan populasi A.
variabilis Bl. Berdasarkan hasil penelitian, penyerbukan A. variabilis terjadi 3 hari setelah mekarnya spatha pada perbungaan. Polinasi kemudian diikuti dengan fase pematangan buah yang terjadi selama 15 hari. Serangga yang berperan sebagai penyerbuk antara lain dari suku Nitidulidae, Endomychidae, Anthomyiidae, dan Tachinidae. Terdapat hubungan antara morfologi perbungaan dengan jumlah individu
serangga yang berkunjung. Pola sebaran populasi A. variabilis di 6 (enam) lokasi penelitian menunjukkan pola yang mengelompok. Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara lokasi dengan karakter morfologi A. variabilis. Dominansi berkisar antara 0.01--0.06 frekuensi antara 0.2--0.4, dan jumlah individu / m2 berkisar antara 0.13--0.2 . Tinggi tumbuhan berkisar antara 5.2--160 cm dengan diameter 0.05--2.3 cm dengan berbagai variasi morfologi pada bagian perbungaan seperti osmofor, spatha, dan petiolus.

ABSTRACT
University of Indonesia Campus area is a natural habitat for Amorphophallus variabilis Bl. Observations were carried out in 6 locations in the Area, University of Indonesia to find out the pattern of pollination (pollination) and population of A. variabilis Bl. Based on the results of research, pollination A. variabilis occurred 3 days after blooming spatha on the inflorescence. Pollination followed by fruit
ripening phase that occurred during the 15 days. Insects that act as pollinators, such as from the tribe of Nitidulidae, Endomychidae, Anthomyiidae, and Tachinidae. There is a relationship between the morphology of the inflorescence with the number of individuals visiting insects. A. variabilis population distribution pattern in 6 (six)
locations showed a clumped pattern. There was no significant effect between site and morphological characteristics of A. variabilis. Dominance ranged from 0,01 to 0.06, frequencies between 0.2 - 0.4, and the number of individuals / m2 ranged between 0.13--0.12. Plants high ranged from 5.2 - 160 cm with a diameter of 0.05 - 2.3 cm
with a variety of inflorescence morphology in sections like osmophores, spathes, and petioles."
Universitas Indonesia, 2011
S1458
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Imam Musthofa Zainudin
"ABSTRAK
Hiu adalah predator tingkat atas di ekosistem laut, sehingga hiu mempunyai peranan penting sebagai hewan pengontrol populasi di ekosistem laut. Status sumberdaya hiu di dunia terancam punah akibat kelebihan tangkap (overfishing). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa status, peluang dan tantangan pengelolaan hiu di Indonesia berbasis ekosistem. Penelitian menggunakan metode kualitatif, pembahasan secara deskriptif dan didukung dengan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indonesia adalah Negara terbesar penghasil hiu di dunia. Sebagian besar produk perikanan hiu di Indonesia di hasilkan dari hasil tangkapan sampingan (72 %), dan hanya 28 % perikanan dihasilkan sebagai target tangkapan Utama. Saat ini sumberdaya perikanan hiu di Indonesia mengalami penurunan, dengan penurunan CPUE hingga 26-50% dibanding dengan hasil tangkapan 10 tahun yang lalu. Dari hasil penilaian performa indikator EBFM, hasil performa per domain perikanan hiu Indonesia adalah sebagai berikut : domain sumber daya ikan adalah buruk; domain habitat dan ekosistem adalah sedang; domain aspek teknis dan alat tangkap ikan adalah buruk; domain sosial adalah sedang; domain ekonomi adalah sedang; dan domain kelembagaan adalah sedang. Hingga saat ini belum ada peraturan perundangan yang mengatur spesifik perikanan hiu di Indonesia. Namun, instrument kebijakan yang dimiliki Indonesia saat ini sudah cukup untuk membuat pengelolaan hiu. Pengelolaan hiu berbasis ekosistem dapat menjadi landasan terbaik saat ini di Indonesia.

ABSTRACT
As high-trophic level predators, sharks play important role in marine ecosystem, especially in controlling fish population. In recent years, the status of worldwide shark stock is overfished and nearly extinct. In that regard, this research aims to analyse status, opportunities and threats of ecosystem-based fisheries management for sharks in Indonesia. The method used is qualitative one; the data and finding are provided in descriptions supported by purposive sampling. The result shows that Indonesia is one of the biggest global shark producers. In Indonesia sharks are mostly captured as bycatch (72%), only 28% considered as target species. Nowadays, Indonesian shark stock decreases, it is indicated through downward CPUE from 26% to 50% if compared catch in the last 10 years. Through outcomes of EBFM performance indicator assessment, the performance of Indonesian shark fisheries classified per domain can be concluded as follows: fish stock domain is low, habitat and ecosystem domains are medium, technical aspects and fishing gears domain are low, social domain is medium, economical domain is medium and institutional domain is medium. Up to now, Indonesia doesn?t have laws in place which specifically regulate shark fisheries. Yet, the existing policy instruments are quite sufficient to manage shark fishing in Indonesia. In summary, ecosystem-based fisheries management is the best current method, tool and arrangement that can be directly incorporated into the policy instruments to develop proper management system for shark fisheries in Indonesia.
"
2011
T30219
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Niarsi Merry Hemelda
"Penelitian mengenai pengaruh gradien ketinggian terhadap variasi morfologi rotan Calamus javensis Blume (Arecaceae) telah dilakukan di Gunung Kendeng, Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Jawa Barat. Penelitian tersebut bertujuan mengetahui variasi morfologi, sebaran variasi morfologi populasi C. javensis terhadap ketinggian, serta mengidentifikasi karakter morfologi tertentu yang dipengaruhi ketinggian. Sebanyak 16 karakter morfologi C. javensis yang meliputi organ batang dan daun dianalisis menggunakan Cluster Analysis (CA) dan Principal Component Analysis (PCA). Penelitian dilakukan pada kisaran ketinggian 1000--1300 mdpl, namun populasi C. javensis di Gunung Kendeng sudah tidak dijumpai pada ketinggian 1200--1300 mdpl. Hasil CA menunjukkan adanya 3 kelompok C. javensis berdasarkan variasi morfologi di Gunung Kendeng, TNGHS. Kelompok 3 yang memiliki karakter jumlah duri jarang serta leaflet basal spreading merupakan C. javensis var. inermis. Hasil PCA menunjukkan bahwa karakter yang berperan dalam variasi morfologi populasi C. javensis meliputi leaflet basal, jumlah duri upih, panjang petiolus, bentuk leaflet basal, diameter batang, dan panjang duri upih. Sebaran variasi morfologi berdasarkan ketinggian masih tumpang tindih. Hasil analisis regresi linier sederhana menunjukkan bahwa gradien ketinggian tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada ke-16 karakter morfologi populasi C. javensis pada ketinggian 1000--1200 mdpl. Dapat disimpulkan bahwa karakter morfologi dari C. javensis pada ketinggian 1000--1200 mdpl di gunung Kendeng belum menunjukkan clinal variation.

Altitudinal gradient effect on morphological characters of Calamus javensis Blume (Arecaceae) has been studied in Mountain Kendeng, Mountain Halimun Salak National Park (MHSNP), West Java. The goals of this study were to analyze morphological variation and variation distribution of C. javensis population, also to identify certain characters that affected by altitudinal gradient. 16 morphological characters from stem and leaf were analyzed using Cluster Analysis (CA) and Principal Component Analysis (PCA). The range of altitude that used in this study was 1000--1300 mdpl, but C. javensis population was absent in 1200--1300 mdpl. CA classified C. javensis specimens into 3 groups. The third group, characterized by few spines on its leaf sheath and spreading basal leaflet, was identified as C. javensis var. inermis. Characters that were analyzed using PCA showed that basal leaflet, spine abundance of leaf sheath, petiole length, basal leaflet shape, stem diameter, and leaf sheath spine length were important characters in morphological variation of C. javensis. Morphological variation of C. javensis showed overlapped distribution. Simple linear regression analysis showed there was no character of C. javensis that significantly affected by altitudinal gradient. In conclusion, morphological characters of C. javensis population in Mountain Kendeng, MHSNP, from 1000 to 1200 m.a.s.l. had not showed the clinal variation yet."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2012
S1591
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yustrida Maisa
"Telah dilakukan studi habitat konservasi ex-situ berupa penangkaran rusa timor di Universitas Indonesia (UI). Tujuan dari studi ini adalah untuk meneliti habitat rusa timor di UI berupa aspek fisik dan biologi rusa berdasarkan PP. No 7 Tahun 1999 dan PP No. 8 Tahun 1999. Metode yang digunakan adalah metode observasi, kuesioner dan membandingkannya dengan kawasan penangkaran Ranca Upas, Ciwidey. Hasil yang didapatkan adalah kondisi kawasan penangkaran rusa timor di UI belum memenuhi standar kawasan penangkaran. Jumlah populasi seharusnya 1 ha hanya untuk 10 ekor saat ini hidup 36 ekor. Rasio jantan : betina 1:4 di UI terdapat 11:16. Standar kesehatan kawasan belum memadai, tidak aman, tidak nyaman, serta tidak ada tenaga ahli dalam administrasi dan kesehatan. Universitas Indonesia harus memperbaiki fisik habitat dan sistem administrasi pengelolaan dan perlu menunjuk ahli pada bidang konservasi dan kesehatan. Pelaksanaan konservasi ex-situ berupa penangkaran harus memperhatikan ekosistem berupa daya dukung lingkungan, kontrol populasi, asupan makanan, naungan dan tempat kawin.

Habitat study has been conducted at ex-situ conservation (captive breeding) of timor deer (Cervus timorensis) in Campus Universitas Indonesia (UI). The purpose of this study is to investigate whether timor deer habitat in UI based on physical and biological aspects of standardized deer habitat in captive breeding according to government rules PP. No 7 /1999 and PP No. 8 /1999. The methods used are habitat observation, and questionnaire, then the result is compared to the other timor deer captive breeding area, Ranca Upas, Ciwidey. Based on observations of deer habitat in UI, the physical conditions and maintenance are not qualified as a captive breeding area. The home range area for 1 ha is only for 10 heads, but at UI there are 36 heads; the sex ratio male:female 1:4 but in the UI field 11:16. The UI field is unsafe and uncomfortable, and the animal health standard is low and it has no expert hired for administrative and medical care. Universitas Indonesia should improve the habitat, need experts for administrative work such as labeling, certification, and listing on the book of pedigree (studbook) and tagging, and for genetic diversity preservation. The implementation of the ex-situ conservation must consider the ecosystem, carrying capacity, population control, food supply, shelter, and breeding."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
T31333
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dwi Yuliati
"Ekspor ikan tuna mengalami peningkatan pada periode lima tahun terakhir, sehingga proses penanganan ikan perlu mendapat perhatian serius. Dalam hal ini perlu dilakukan penelitian mengenai penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan tangkap Tuna (Thunnus spp.) di atas kapal dan tempat pendaratan ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan tangkap tuna, menganalisis mutu tuna di atas kapal sampai tempat pendaratan ikan, dan menentukan alternatif pelaksanaan jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan tangkap tuna di atas kapal dan tempat pendaratan ikan di PPN Palabuhanratu. Data diperoleh dari 19 kapal tonda dan dianalisis secara deskriptif dan dengan proses hierarki analisis (PHA).
Dari penelitian ini diketahui bahwa penerapan sistem jaminan mutu dan keamanan hasil perikanan tangkap tuna di atas kapal dan tempat pendaratan ikan sudah cukup baik. Hal ini diketahui dari kondisi kelayakan dasar kapal tonda yang sudah cukup dekat dari standar namun masih perlu penyempurnaan (4≤ Y < 8) dan kelayakan dasar pada tempat pendaratan ikan menunjukkan kondisi yang cukup layak dengan nilai C (cukup). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa ikan tuna hasil tangkapan menunjukkan mutu yang baik, dengan suhu rata-rata sebesar 1,52oC (dibawah 4,4oC) dan nilai organoleptik 8,67 (di atas 7). Process (AHP) from 19 Trolling Lines.

Based on this research, it is known that the application of quality assurance and safety of tuna fisheries on the boat and the landing sites has been good enough. It is known from the basic eligibility requirements of the trolling line have been fairly close to the standard but still need improvement (4 ≤ Y < 8) and the basic eligibility requirements of the landing sites indicate a fairly decent condition with a value of C (enough). The status of tuna caught indicated that good quality with average temperature of 1.52°C (4.4°C below) and the organoleptic value of 8.67 (above 7).
From the results of AHP, it is known that the priority to perform quality assurance and safety on tuna fisheries in the trolling line is availability of ice in the boat (20,1%), deck (15,7%), fish handling equipment in the boat (13,3%), availability of fuel (11%) and availability of fresh water in the boat (7,9%). The priority to perform quality assurance and safety on tuna fisheries in the port is fish handling equipment (32,4%), availability of ice (12,9%), floor (12,4), toilet (9,4%) and fishing port (8,1%).
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
T32752
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Jaka Ramadhan
"Kelelawar buah famili Pteropodidae telah dikenal sebagai agen penyerbuk bunga dan penyebar biji berbagai spesies tumbuhan di kawasan tropis. Peran kelelawar buah sebagai penyerbuk bunga dan penyebar biji termasuk sebagai jasa layanan ekosistem yang berfungsi menjaga keseimbangan dan kelestarian ekosistem. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui asosiasi antara kehadiran kelelawar buah dengan tumbuhan di tepi kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung selama bulan Juni--September 2012. Lokasi penelitian terdiri atas lahan perkebunan warga dan hutan. Kelelawar buah diperangkap menggunakan jala kabut (mist-net) pada pukul 18.00--22.00 WIB. Analisis vegetasi dilaksanakan menggunakan metode Point-centered Quarter (PCQ). Asosiasi kehadiran kelelawar buah dengan tumbuhan diuji dengan chi-square (2). Berdasarkan hasil penelitian telah didapat total 11 spesies kelelawar buah selama 195 jam pemerangkapan dan 79 spesies tumbuhan di hutan dan kebun. Hasil uji 2 menunjukkan adanya asosiasi antara spesies kelelawar buah dengan tumbuhan di hutan maupun kebun. Hasil tersebut dapat menunjukkan bahwa jasa layanan ekosistem oleh kelelawar buah terhadap tumbuhan tetap berlangsung baik di hutan maupun kebun.

Fruit bats of the Pteropodidae family were known as pollinator and seed disperser to some plant species in tropical region. The roles of fruit bats in the ecosystem service are as pollinator and seed disperser that preserve ecosystem balance and conservation. This research was carried out to determine the association between the presence of fruit bats and plants on edge of Bukit Barisan Selatan National Park, Lampung during June to September 2012. Study sites consisted of cultivated area and forest site. Fruit bats were caught using mist net from 18.00 to 22.00 WIB. Vegetation analysis was done using Point-centered Quarter (PCQ) method. Association between the fruit bats presence and plants was tested using the chisquare (2) method. The results showed that there were 11 species of fruit bats recorded during 195 hours of capture and 79 plant species recorded from cultivated area and forest. The 2 test show an existing association between the presence of fruit bats and the plants form the forest and cultivated area. The result showed that the ecosystem service provided by the fruit bats for the plants suggested a positive influence for the forest and the cultivated area."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
S52557
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Indartono Sosro W.
"Telah dilakukan penelitian mengenai keragaman burung penyedia layanan ekosistem (frugivor dan nektarivor) dan hubungannya dengan vegetasi di tepi kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Lampung, Sumatera pada pertengahan Juni 2012 sampai September 2012. Sensus burung dilakukan dengan menggunakan metode Point Count (titik), sedangkan pengambilan data vegetasi dilakukuan dengan metode Point Center Quarter (PCQ) di habitat hutan dan kebun.
Hasil Penelitian menunjukkan jumlah jenis burung penyedia layanan ekosistem yang ditemukan sebanyak 50 jenis burung. Perkebunan (n=38) memiliki jumlah jenis yang lebih tinggi dibandingkan hutan (n= 36). Nilai indeks keragaman burung penyedia layanan ekosistem di habitat kebun (H’= 2,89) lebih tinggi dibandingkan hutan (H’= 2,70).
Namun demikian, hasil analisis uji t indeks keanekaragaman jenis burung penyedia layanan ekosistem menunjukkan tidak ada perbedaan secara nyata keragaman antara habitat hutan dan kebun (0,562 pada P<0,05). Terdapat 11 jenis tumbuhan berbuah dan berbunga yang berasosiasi positif dengan kehadiran burung penyedia layanan ekosistem di dua habitat tersebut.

A study of bird diversity as provider of ecosystem service (frugivor and nektarivor) and the relationship with vegetation at the forest edge of Bukit Barisan Selatan National Park, Lampung, Sumatra, was conducted during mid-June to September 2012. Bird survey was carried out using Point Count method, whereas vegetation data was collected using Point Center Quartered (PCQ) method in forest and garden habitat.
The results showed that, there were 50 bird species as provider of ecosystem service. The total bird species recorded in the garden (n=38) was higher than in the forest (n=36). Bird diversity index value of provider of ecosystem services in the garden (H’= 2,89) was higher than in the forest (H' = 2,70).
However, the bird diversity between forest and garden habitats was not significantly different (0,562 at P <0,05). There were 11 species plants which associated with bird species in the forest and garden habitat.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
S52558
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rahmah
"Analisis komposisi, struktur, dan regenerasi pohon hutan pamah di zona inti bagian timur Taman Nasional Bukit Duabelas, Jambi dilakukan pada bulan Oktober hingga November 2012. Pengambilan data dilakukan pada plot seluas satu hektar yang diletakkan di daerah berbukit. Sebanyak 100 petak masingmasing berukuran 10 m x 10 m digunakan untuk memperoleh data tingkat pohon, dan menyarang di dalamnya plot berukuran 5 m x 5 m dan 1 m x 1 m untuk pengamatan data tingkat belta dan semai. Tercatat 414 pohon dengan diameter setinggi dada (DSD) ≥ 10 cm, yang mewakili 113 spesies dari 38 keluarga, dengan Luas area dasar (LAD) keseluruhan 25,71 m2 dan indeks keanekaragaman Shannon - Wiener sebesar 4,29. Sebanyak 282 individu tercatat mewakili 88 spesies dari 34 keluarga pada tingkat belta dan 222 individu yang mewakili 67 spesies dari 32 keluarga pada tingkat semai. Spesies yang paling dominan berdasarkan Nilai Kepentingan (NK) pada tingkat pohon adalah Prunus arborea dengan NK sebesar 19,19%. Ficus fistulosa merupakan spesies pohon dengan kerapatan tertinggi (24 pohon/ha). Kerapatan tertinggi tingkat semai ditempati oleh Rinorea anguifera (24 pohon/ha) dan kerapatan tertinggi tingkat belta ditempati oleh Ficus fistulosa (15 pohon/ha). Moraceae dengan NK sebesar 34,05% merupakan famili terpenting dalam plot penelitian pada tingkat pohon, sementara Violaceae dan Burseraceae dengan masing-masing NK sebesar 28,31% dan 25,67% menjadi famili terpenting pada tingkat semai dan belta. Sebanyak 71 spesies atau 62,8% dari total spesies pohon beregenerasi di dalam plot penelitian. Berdasarkan kerapatan pada tingkat semai, belta, dan pohon, spesies-spesies dari famili Euphorbiaceae menunjukkan kemampuan regenerasi yang baik dan diharapkan menjadi famili yang dominan di masa depan pada plot penelitian. Sebanyak 61 spesies terdaftar dalam checklist Sumatra dan salah satunya endemik, yaitu Baccaurea dulcis. Berdasarkan Redlist IUCN, Shorea leprosula memiliki status konservasi Endangered, Aquilaria malaccensis memiliki status konservasi Vulnerable, dan 12 spesies lain memiliki status konservasi Low Risk.

Analysis of the composition, structure, and tree regeneration of the lowland forest in the eastern part of the core zone of the Bukit Duabelas National Park, Jambi was conducted in October and November 2012. The study was carried out on a one-hectare plot laid out on a slope of a lowland hill forest. A total of 100 quadrats of 10 m x 10 m each was used to obtain data trees, and plots measuring 5 m x 5 m and 1 m x 1 m each were nestled in sapling quadrates to secure data of saplings and seedlings. We recorded 414 trees with diameter at breast height (DBH) ≥ 10 cm, representing 113 species of 38 families, with the total basal area (BA) of 25.71 m2 and Shannon--Wiener diversity index of 4,29. A total of 282 individuals were recorded representing 88 species of 34 families at the sapling stage and 222 individuals of seedlings representing 67 species of 32 families. The prevalent species of tree was Prunus arborea with Importance Value (IV) of 19.2%. Ficus fistulosa was the tree species with the highest density (24 trees/ha). The highest density of seedlings was Rinorea anguifera (24 trees/ha) and the highest density of saplings was Ficus fistulosa (15 trees/ha). Moraceae with IV 34,05% was dominant in the study site at tree stage, while Violaceae and Burseraceae with each IV 28.31% and 25.67% were dominant at seedlings and saplings stage. A total of 71 species or 62.8% of all tree species were regenerating in the plot. Based on the density of seedlings, saplings and trees, the species of Euphorbiaceae showed a good regenerating capability and expected to be the dominant family in the future in the area. A total of 61 species are registered in the Sumatra checklist and one of them is endemic, which was Baccaurea dulcis. Following the IUCN redlist we categorized Shorea leprosula as an endangered species, Aquilaria malaccensis as a vulnerable species, and 12 others as species with low risk.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2013
T34982
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   4 5 6 7 8 9 10 11 12 13   >>