Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 81 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Fika Afranuha Kasmis
"Kamala Harris merupakan wanita kulit hitam pertama yang menempati posisi tertinggi kedua di pemerintahan Amerika Serikat. Terpilih sebagai Wakil Presiden menjadikan Harris sebagai bentuk dari harapan perempuan dan kulit berwarna di Amerika, meskipun masih terdapat beberapa kasus ketidakadilan berdasarkan ras dan gender. Maka dari itu, Kamala Harris sepanjang karirnya selalu menyoroti isu-isu keadilan sosial dalam pidato-pidato yang disampaikannya. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan strategi Kamala Harris yang berbeda dari para pendahulunya dalam mengangkat isu keadilan sosial berdasarkan latar belakang identitasnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan teknik analisis data yang mengevaluasi kerangka pemikiran dan konteks teori dengan hasil penelitian terhadap isu-isu keadilan sosial yang terdapat dalam kelima pidato Kamala Harris. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa ada beberapa gagasan ide pokok Kamala Harris yang dipengaruhi dan berkembang dari warisan Gerakan Hak-hak Sipil.

Kamala Harris made history as the first woman of color to hold the second highest position in the Unites States of America. Elected as vice president, making Harris as a form of hope for women and people of color in America, although there are still several cases of injustice based on race and gender. Therefore, Kamala Harris always addresses issues of social justice in her speeches. This study aims to reveal Kamala Harris strategy that is different from her former in raising social justice issues based on her identity background. This study uses qualitative research methods, with data analysis techniques that evaluate the framework and theoretical context with the results of research on social justice issues contained in Kamala Harris' five speeches. The results obtained show that there are several main ideas of Kamala Harris which are influenced and developed from the legacies of the Civil Rights Movement."
Jakarta: Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tirta Samudrajiwa Soenarto
"Pinokio merupakan sebuah karakter yang sangat dikenal dari bagaimana dia belajar menjadi anak laki-laki sungguhan. Ceritanya juga sangat terkenal dengan keunikan dari hidung tokoh utamanya yang dapat bertambah panjang ketika dia berbohong. Formula cerita ini secara terus menerus digunakan dan dapat ditemukan dengan mudah di seluruh adaptasi Pinokio. Namun, apakah cerita Pinokio hanya tentang menggambarkan hidung Pinokio? Film tentu menawarkan banyak aspek lain yang dapat dilihat. Guillermo del Toro's Pinocchio (2022) telah menunjukkan hal tersebut dengan membuat alur cerita yang tidak hanya semata-mata menghadirkan tentang bagaimana tokoh utama Pinokio menjadi anak laki-laki sungguhan. Meskipun Pinokio yang banyak dikenal sebagai tokoh terkenal dalam sastra anak, tulisan ini bertujuan untuk melihat penggambaran dari fasisme dan bagaimana hal tersebut dikritik lewat cerita Pinokio. Dengan demikian, penulisan ini membahas fasisme dalam sebuah film Hollywood dan bagaimana film tersebut menggambarkan paham tersebut.

Pinocchio is a well-known character who is majorly recognized by how the wooden puppet learns to be a real boy. The story is also widely famous for the uniqueness of the main character when his nose grows longer as he lies. This same formula has been continuously used and can be easily found in every adaptation of Pinocchio. However, does it mean that the story of Pinocchio is only about depicting Pinocchio’s nose? Motion pictures certainly offer many aspects to be seen. Guillermo del Toro’s Pinocchio (2022) has stepped this notion up by creating storylines that do not simply present how the main character is portrayed to be a real boy. Even though Pinocchio is mostly known as a famous character in children's literature, this paper aims to see the portrayal of fascism and how it is criticized through the story of Pinocchio. Therefore, this paper deals with fascism in a Hollywood film and how it captures elements of fascism."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Agatha Marvella Putri
"Istilah 'penjahat hanyalah pahlawan yang hancur' dapat dilihat dari penggambaran ulang dua tokoh penjahat Disney, Maleficent (Sleeping Beauty) dan Cruella de Vil (101 Dalmatians). Perubahan yang dilakukan Disney sangat drastis dan menyebabkan ledakan popularitas untuk kedua karakter. Perubahan ini awalnya dilihat secara positif, karena Maleficent dan Cruella memperoleh pendalaman karakter dan latar belakang. Namun, analisis lebih lanjut mengungkapkan kesalahan konstruksi dalam penilaian itu. Melalui metode analisis tekstual, dapat ditemukan bahwa perubahan yang terjadi dalam penggambaran ulang kedua karakter melanggengkan stereotip gender tradisional dari dikotomi Wanita Jahat dan Gila.

The term 'a villain is just a broken hero' was highlighted with the recent Disney live-action featuring two of its iconic villains, Maleficent (Sleeping Beauty) and Cruella de Vil (101 Dalmatians). This live-action brings drastic changes, leading to a popularity boom for both characters. These changes were initially viewed in a positive light, as both villains gained more depth in their backstories and characteristics. However, a further analysis presents a misconstruction in that judgment. Through the method of textual analysis, it could be found that the changes happening in the live-action remakes perpetuate the traditional gender stereotype of the Bad and Mad Women dichotomy."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Farrosa Qurrotu Aini
"Penelitian ini secara eksklusif membahas film Hollywood coming-of-age berjudul The Half of It (2020) yang menampilkan seorang lesbian Asia-Amerika sebagai pemeran utama. Film The Half of It (2020) dipilih sebagai korpus penelitian untuk menambah perspektif lain dalam pembahasan narasi coming-of-age di media Barat yang tokoh utamanya termarginalkan di lingkungannya. Topik penelitian ini adalah bagaimana karakter utama dalam film The Half of It (2020) mengatasi kesengsaraan sebagai anggota kelompok minoritas tertentu yang menimbulkan dampak pada perjalanan coming-of-age atau kedewasaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana marginalisasi ganda yang karakter alami dan cara ia mengatasi segala kesulitan yang menyertainya mempengaruhi narasi coming-of-age dalam film ini. Melalui metode analisis tekstual, penelitian ini menyimpulkan bahwa film The Half of It (2020) menawarkan pandangan berbeda atas narasi coming-of-age, yang dipengaruhi oleh status sosial karakter sebagai lesbian Asia-Amerika dan bagaimana dia menegosiasikan posisinya dalam situasi hidupnya, yang mana membedakan kisah ini dari yang ditampilkan dalam narasi coming-of-age di media Barat.

This study exclusively discusses a Hollywood coming-of-age movie titled The Half of It (2020) that features a lesbian Asian American as the lead character. The Half of It (2020) is chosen as the corpus of the study to add another perspective on the discussion of coming-of-age narrative in Western media whose lead character is doubly marginalized in her environment. The topic of this study is how the lead character in The Half of It (2020) overcomes the tribulations of being a member of certain minority groups that impacts her coming-of-age journey. This study aims to determine how the character’s double marginalization and how she overcomes the struggles that come with it affect the coming-of-age narrative in the movie. Using textual analysis as a method, this study concludes that the movie The Half of It (2020) offers a distinguished take on a coming-of-age story that is affected by the character’s social status as a lesbian Asian American and how she negotiates her position in her conditions, which distinguishes this story from what has been shown in coming-of-age narratives in Western media."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hanifa Widyas Sukma Ningrum
"Perkembangan teknologi yang masif dapat membuat kewaspadaan manusia mengendur. Oleh sebab itu, teknologi yang semakin canggih dapat menjadi kondisi yang menyeramkan bagi manusia apabila tidak dipahami secara kritis. Penelitian ini mengkaji teknoutopianisme yang terdapat dalam novel Mereka Bilang Ada Toilet di Hidungku (2019) karya Ruwi Meita. Novel ini menarik karena memiliki dua alur penceritaan. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan kualitatif dengan konsep naratologi dan dehumanisasi sebagai landasan teori utama. Hasil penelitian menemukan bahwa teknoutopianisme adalah keyakinan yang menjerumuskan manusia pada kondisi dehumanisasi sebab adanya kepercayaan berlebih kepada produk teknologi. Dehumanisasi tidak hanya menimpa kelompok marjinal tetapi juga kelompok dominan. Ekses teknologi yang mendehumanisasi kelompok marjinal meliputi hilangnya kepercayaan diri; krisis identitas; dan terdiskriminasi. Sementara itu, ekses teknologi yang mendehumanisasi kelompok dominan meliputi alienasi dengan diri sendiri maupun orang lain. Kondisi dehumanisasi tersebut dipicu oleh beberapa faktor, yakni fungsi tubuh dan kepercayaan antar sesama manusia terdegradasi karena tergantikan oleh mesin yang canggih. Sementara itu, peneliti menemukan ideologi teks yang condong pada nilai-nilai kemanusiaan dibandingkan dengan teknologi sebagai upaya untuk memperoleh kehidupan yang harmonis. Ideologi tersebut disesuaikan dengan keadaan Indonesia yang dikenal dengan keberagaman sehingga keharmonisan hubungan antarmasyarakat diperlukan untuk menjalani kehidupan.

Massive technological developments can lessen human awareness towards its consequences. Therefore, this rapid development of technology could be terrifying for human if it is not understood wisely. This research examines the technoutopianism contained in the novel Mereka Bilang Ada Toilet di Hidungku (2019) by Ruwi Meita. This novel is interesting because it has two storylines. The method used in the research is a qualitative approach with the concepts of narratology and dehumanization as the main theoretical basis. The results found that technoutopianism is a belief that plunges humans into a state of dehumanization due to excessive trust in technological products. Dehumanization not only affects marginalized groups but also dominant groups. Technological excesses that dehumanize marginalized groups include loss of confidence; identity crisis; and discrimination. Meanwhile, technological excesses that dehumanize dominant groups include alienation from oneself and others. The dehumanization condition is triggered by several factors, namely the function of the body and trust between fellow humans is degraded because it is replaced by sophisticated machines. Meanwhile, researchers found the ideology of the text that leans towards human values compared to technology as an effort to obtain a harmonious life. The ideology is adjusted to Indonesian people, who are known for their diversity so the harmonious relations between people are necessary to live their life."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Devi Nurhayati
"Fenomena kehidupan dalam era poshuman menunjukkan adanya keterjedaan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Hal ini disebabkan oleh kemajuan jaman yang dipenuhi oleh teknologi canggih sehingga manusia hidup dalam keterasingan. Terdapat ketidakmampuan manusia untuk menjalin hubungan yang baik terhadap sesama, sehingga dengan kondisi ini manusia berada dalam bentuk keterputusan hubungan atau diskoneksitas. Mengambil film Zoe sebagai korpus utama penelitian, film mengindikasikan terdapatnya kondisi diskoneksitas manusia melalui penciptaan teknologi kecerdasan buatan. Namun terdapat kondisi ironi ketika penggunaan teknologi kecerdasan buatan tidak sejalan dengan tujuan awal penciptaan, sehingga pada akhirnya terdapat kondisi katastropik yang terjadi dalam kehidupan manusia. Menggunakan teori sinema dari Bordwell, Thompson, dan Smith penelitian akan berfokus pada unsur naratif dan sinematografi yang mampu untuk mengungkapkan kondisi diskoneksitas manusia yang terlihat dalam film. Teori poshuman dari Katherine Hayles juga diperlukan untuk dijadikan rujukan dalam melihat kondisi poshuman dalam film. Kesimpulan yang didapat dalam penelitian ini ialah film mengambil posisi sebagai media kritik terhadap eksistensi manusia yang tidak lagi mampu untuk terlibat pada unsur humanitasnya, film juga menggugat kesadaran manusia yang semakin hilang tergerus oleh jaman. Lebih dalam, film menampilkan teknologi sebagai hal yang paradoks, yakni teknologi hadir sebagai penolong manusia, namun juga sebagai penjeda manusia.

The phenomenon of life in the posthuman era shows that there is a gap between one human and another. This is due to the advancement of the era which is filled with advanced technology so that humans live in isolation. There is an inability of humans to establish good relationships with others so that with this condition humans are in the form of disconnection. Taking Zoe film as the main corpus of research, the film indicates that there is a condition of human disconnection through the creation of artificial intelligence technology. However, there is a condition of irony when the use of artificial intelligence technology is not in line with the original purpose of creation so that in the end there are catastrophic conditions that occur in human life. Using the cinema theory of Bordwell, Thompson, and Smith, the research will focus on narrative and cinematographic elements that can reveal the conditions of human discontinuity seen in films. Posthuman theory from Katherine Hayles is also needed to be used as a reference in seeing the posthuman condition in the film. The conclusion obtained in this study is that the film takes a position as a medium of criticism of human existence who is no longer able to engage in the element of humanity, the film also sues human consciousness which is increasingly being eroded by the times. More deeply, the film presents technology as a paradoxical thing, namely technology is present as a human helper, but also technology also gives a disconnect from one human to another."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wanda Rifani Astuti Nst.
"Sastra anak menjadi salah satu wadah untuk merefleksikan rasisme dan diskriminasi yang masih terjadi. Praktik rasisme dan diskriminasi yang dialami oleh kelompok minoritas, khususnya kelompok kulit hitam, masih kerap ditemui hingga saat ini di Amerika. Bentuk diskriminasi yang mereka terima terus berubah seiring perkembangan era dan generasi. Saat ini, banyak ditemui diskriminasi verbal dan perlakuan yang tidak menyenangkan yang secara tidak sadar dilakukan oleh kelompok dominan kulit putih. Selain itu, stereotip juga memperparah sistem rasisme di Amerika. Prasangka terhadap kelompok kulit hitam berkibat pada ketidaksetaraan akses dan kesempatan di lingkungan sosial-budaya. Dalam menantang ketimpangan rasial, sejumlah penulis kulit hitam mengangkat isu tersebut dalam buku anak. Tujuan dari karya sastra ini adalah untuk menggambarkan kehidupan orang-orang kulit hitam dari perspektif kulit hitam dan mengubah stereotip negatif orang kulit hitam yang telah lama ada dalam masyarakat dan sastra Amerika. Peraih penghargaan Piecing Me Together (2017) karya Renee Watson, yang menerima penghargaan Coretta Scott King, adalah salah satu karya sastra anak-anak yang mengungkap diskriminasi rasial yang dialami oleh anak-anak kulit hitam. Novel ini bercerita tentang seorang gadis kulit hitam bernama Jade yang mengalami diskriminasi berlapis. Selain Jade, beberapa tokoh perempuan lain juga mendapatkan diskriminasi seperti; Lee-lee, Natasha Ramsey, dan Maxine. Penelitian ini akan membongkar bentuk-bentuk diskriminasi yang dialami tokoh perempuan kulit hitam dalam teks. Penelitian ini menggunakan konsep intersectionality oleh Kimberlee Crenshaw (1989) sebagai alat untuk menganalisis bentuk diskriminasi berlapis. Selanjutnya, penelitian ini akan meganalisis strategi yang dilakukan tokoh perempuan kulit hitam untuk melawan tindakan diskriminatif yang mereka terima.

Children's literature is a media to reflect on racism and discrimination that still occurs. The practice of racism and discrimination experienced by minority groups, especially black race, is still common today in America. The forms of discrimination they receive continue to change from generastion to generation. Today, there are verbal discrimination and unpleasant treatment that is unconsciously carried out by the dominant white group. In addition, stereotypes also worsen racism system in America. Prejudice against black groups results in inequality of access and opportunities in the socio-cultural environment. In challenging racial inequality, a number of black writers raised the issue in children's books. The aim of this literary work is to depict the lives of black people from a black perspective and change the long-standing negative stereotypes of black people in American society and literature. Award-winning Piece Me Together (2017) by Renee Watson, who received the Coretta Scott King award, is one of the works of children's literature that exposes the racial discrimination experienced by black children. This novel tells the story of a black girl named Jade who experiences multiple discrimination. Besides Jade, several other female characters also received discrimination such as; Lee-lee, Natasha Ramsey, and Maxine. This study will reflects the forms of discrimination experienced by black female characters in the text. By using the concept of intersectionality by Kimberlee Crenshaw (1989) as a tool to analyze layered discrimination. Furthermore, this study will analyze the strategies done by black female character to fight the discriminations they received. Then, it will uses the concept of cultural capital by P. Bourdieu (1986)."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2020
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadia Farah Lutfiputri
"Sebagai sebuah konstruksi sosial, pandangan masyarakat terhadap masa kanak-kanak terus berubah dari waktu ke waktu. Karya-karya sastra seperti film dan novel yang memiliki karakter anak-anak di dalamnya dari era yang berbeda-beda dapat menjadi media untuk melihat perubahan tersebut. Karya tulis ini menganalisa film Wendy (2020) sebagai sebuah adaptasi dari novel anak-anak klasik Peter Pan (1911) karya J.M. Barrie. Sebagai sebuah film adaptasi, terdapat sejumlah perubahan dari karya aslinya yang menjadikan ceritanya lebih relevan dengan konteks saat ini, termasuk bagaimana masa kanak-kanak digambarkan. Dengan melakukan analisis secara tekstual dan komparatif, penelitian ini bertujuan untuk melihat transformasi yang terjadi pada film Wendy (2020) serta bagaimana penggambaran masa kanak-kanak pada film ini memiliki sejumlah perbedaan dari novel aslinya. Merujuk pada teori postmodernisme yang dicetuskan oleh Jean Francis Lyotard, teori adaptasi oleh Linda Hutcheon, dan elemen-elemen analisis film oleh Bordwell dan Thompson, penelitian ini menunjukkan bagaimana film Wendy (2020) menampilkan konsep masa kanak-kanak postmodern melalui penggambaran peran atau tugas anak, agensi anak, dan juga hubungan anak-anak dengan orang dewasa.

The view towards childhood as a social construct remains to change from time to time. Literary works, such as films or novels from different periods of time which feature children's characters as the protagonists can be the right medium to identify those shifts. This article analyzes Wendy (2020) film as the latest adaptation of J.M. Barrie’s classic children novel Peter Pan (1911). This film has made some transformation from the original novel to put the story more relevant in today’s context, including how it showcases childhood that is experienced by the children’s characters. Using the textual and comparative analysis, this study attempts to see the transformations which occur in the film adaptation and how it shows a different childhood construction from the one appearing in the source novel. Referring to the concept of postmodern childhood, Linda Hutcheon’s adaptation theory, and Bordwell and Thompson’s elements of film analysis, this study reveals how Wendy (2020) has exemplified the concept of postmodern childhood through its portrayal of the children’s roles, children’s agency, and the children-adults relationship."
2021: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indoneisa, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tyasyifa Wimahavinda Kardono
"Genre horor terkenal atas penggambaran seksis terhadap tokoh perempuan, yang sangat memberlakukan stereotip gender tradisional. Tulisan ini menganalisis Goosebumps (2015) dan Goosebumps: Haunted Halloween (2018), yang merupakan film adaptasi dari seri buku horor R.L. Stine. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kemungkinan penggambaran para tokoh utama perempuan dan tokoh utama laki-laki yang menentang stereotip gender konvensional dan memastikan agensi tokoh utama perempuan karena film horor cenderung mengobjektifikasi tokoh perempuan. Tugas akhir ini menggunakan teori true cult of womanhood oleh Welter (1966) dan teori male gender role identity oleh Pleck (1981) serta teori representasi oleh Hall (1997) untuk menganalisis percakapan dan interaksi para karakter, serta agensi tokoh utama perempuan dalam dua film ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa penggambaran tokoh utama perempuan dan tokoh utama laki-laki dalam film-film ini masih sesuai dengan stereotip gender tersebut. Selain itu, terdapat ambivalensi karena teks sering bertentangan dengan penggambaran karakter pada bagian awal dan akhir dalam kedua film tersebut, sehingga mereka digambarkan sebagai tokoh utama perempuan dan tokoh utama laki-laki yang konvensional. Para tokoh utama perempuan pada awalnya digambarkan sebagai sosok yang berdaya dan mandiri, namun seiring berjalannya cerita, mereka menjadi karakter yang membutuhkan bantuan dan dukungan dari tokoh utama laki-laki dalam mengatasi masalah.

The horror genre is notorious for sexist depictions of female heroines, which heavily imposes traditional gender stereotypes. This paper analyses Goosebumps (2015) and Goosebumps: Haunted Halloween (2018), which are the movie adaptations of R.L. Stine’s horror book series. It aims to see the possibility of the female heroines and male heroes to defy conventional gender stereotypes and determine the female heroines’ agency as horror movies tend to objectify the female characters. This paper uses the cult of true womanhood theory by Welter (1966) and male gender role identity theory by Pleck (1981) as well as representation theory by Hall (1997) to analyse the conversation and interaction of the characters, as well as the agencies of the female heroines in these two movies. This research shows that the female heroines and male heroes in these movies still conform to these gender stereotypes. Moreover, an ambivalence is apparent as the text often contradicts the portrayals of the characters in the earlier part of the two films and the endings, as a result depicting them as conventional male heroes and female heroines. The female heroines at first are depicted as empowered and independent, but as the story progresses, they become characters that need male heroes’ help and support to overcome problems.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Tashia Tamara
"Feminism is experiencing a rise in popularity these past few years. It also has made its way into the corporate world, where more and more women are being encouraged to pursue the supposedly feminist ideal of the happy work-family balance, the achievement of success in one’s personal and professional lives. This premise becomes the main idea that brings about the creation of Golden Oaks, the fictional luxurious gestational retreat featured in Joanne Ramos’s 2019 dystopian novel, The Farm. Using the method of textual analysis and drawing from Catherine Rottenberg’s theories on the neoliberal feminist subject, this article examines the representation of the neoliberal feminist subject in The Farm and the text’s position on the issue of the neoliberal feminist subject. Analysis shows that the representation of the quintessential neoliberal feminist subject can be found in the depiction of the character Mae Yu. The study also shows that the text takes an ambivalent stance regarding the neoliberal feminist subject issue, simultaneously criticizing the practice of neoliberal feminism while also affirming the power of its oppression. In the end, oppression will always continue as long as economically powerless women remain disempowered.

Feminisme sedang mengalami peningkatan popularitas dalam beberapa tahun terakhir. Popularitas feminisme juga masuk ke dalam dunia bisnis, di mana semakin banyak perempuan dianjurkan untuk mengejar suatu keseimbangan yang dianggap sebagai prinsip hidup yang feminis. Keseimbangan ini adalah keseimbangan antara karier dan keluarga, yaitu pencapaian kesuksesan baik dalam kehidupan personal maupun profesional. Premis ini menjadi ide utama di balik pendirian lembaga Golden Oaks yang digambarkan dalam novel distopia The Farm yang ditulis oleh Joanne Ramos dan diterbitkan tahun 2019. Golden Oaks adalah sebuah lembaga fiktif yang menyediakan suatu tempat retret kehamilan yang mewah. Dengan menggunakan metode analisis tekstual dan teori-teori Catherine Rottenberg mengenai subjek feminis neoliberal, artikel ini mengkaji representasi subjek feminis neoliberal dalam The Farm dan posisi teks terhadap isu subjek feminis neoliberal. Hasil analisis menunjukkan bahwa representasi subjek feminis neoliberal yang sempurna dapat ditemukan dalam penggambaran karakter Mae Yu. Studi ini juga menunjukkan bahwa teks The Farm mengambil posisi yang ambivalen terhadap isu subjek feminis neoliberal. Teks The Farm memang mengkritisi praktik feminisme neoliberal, namun teks tersebut juga meneguhkan kekuatan penindasan feminisme neoliberal. Pada akhirnya, penindasan akan terus berlanjut selama perempuan yang tidak memiliki kekuatan secara ekonomi tetap berada dalam posisi tidak berdaya."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2021
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9   >>