Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 80 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Trilokita Tunjung Sari
"ABSTRAK
Penyakit Hepatitis C yang disebabkan oleh virus Hepatitis C HCV telah menjadi masalah kesehatan serius di banyak Negara. Beberapa studi menunjukkan bahwa komponen utama reaksi imun protektif terhadap HCV adalah respon yang tinggi dari sel T CD 8 dan CD 4 terhadap bagian target dari HCV yang berikatan dengan MHC kelas I dan II yang dipresentasikan kepada sel T. Untuk reaksi imun protektif dibutuhkan respon sel T yang menghasilkan sitokin yang tepat dan memperbanyak diri dengan baik. Untuk mengatasi problem keberagaman dari HCV, maka dirancanglah konstruk yang relatif conserve. Protein core hingga saat ini merupakan bagian paling conserve dari HCV yang dapat menimbulkan reaksi sel T CD 8 bila dapat berikatan dengan MHC kelas I. Dalam penelitian ini dirancang gen pengkode protein CoreE1E2 menggunakan DNA sintetik untuk dikonstruk sebagai kandidat vaksin DNA menggunakan plasmid ekspresi mamalia pCI. Ekspresi protein tersebut dilakukan pada cell line manusia Hep2. Konstruksi pCI-Core-E1-E2 mampu mengekspresikan protein Core-E1-E2 pada sel Hep2 dengan tingkat ekspresi tertinggi pada 48 jam.

ABSTRACT
Hepatitis C is a contagious liver disease that results from infection with hepatitis C virus HCV which now have became serious health problem in many countries. There was evidence that the main component of protective immunity against HCV are the high response from both CD 8 T cells and CD 4 T cells against part HCV target which binds with MHC class I and II that will be presented to T cells. T cells have to face HCV diversity problems, but they also could target the internal part of the virus which relatively more conserve. For a protective immune response, T cell response to produce cytokines and could proliferate was needed. With this reason, a construct was made which has a conserve region of HCV that could trigger CD 8 T cell reaction with DNA Vaccine technique. Until now, Core Protein is the most conserve part from HCV which could trigger the CD 8 T cell reaction when it bound with MHC I. HCV protein CoreE1E2 coding gene was designed in this research using synthetic DNA to be constructed into mammalian expression plasmid pCI as a DNA vaccine candidate. pCI Core E1 E2 construct can express Core E1 E2 protein in Hep2 cell line with the highest expression rate in 48th hour."
2012
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Lilis Hermawati
"ABSTRAK
Praktek kerja profesi di Apotek Hidup Baru Periode Bulan Oktober 2017 bertujuan agar mahasiswa memahami tugas, dan tanggung jawab Apoteker dalam pengelolaan Apotek, serta melakukan praktek pelayanan kefarmasian sesuai dengan ketentuan dan etika yang berlaku. Memiliki wawasan, pengetahuan, ketrampilan, dan pengalaman praktis untuk melakukan praktek kefarmasian di Apotek serta memiliki gambaran nyata tentang permasalahan praktek kefarmasian serta mempelajari strategi dan kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka pengembangan praktek kefarmasian. Praktek kerja profesi ini ditunjang dengan tugas khusus yaitu Pembuatan Standar Prosedur Operasional SPO Penyimpanan Vaksin di Lemari Pendingin dan Pemantauan Suhu Vaksin di Apotek Hidup Baru . Tujuan dari tugas khusus ini adalah untuk menstandarisasi penyimpanan vaksin di Apotek sehingga dapat menjamin stabilitas dan kualitas vaksin dan mengevaluasi suhu penyimpanan vaksin sesuai dengan ketentuan penyimpanan vaksin.

ABSTRACT
The aims of internship at Hidup Baru Pharmacy Month Period October 2017 are to understand the duties, and responsibilities clinical pharmacist in pharmacy management, to practice pharmaceutical care in according to regulations and ethics. Having insight, knowledge, skill, and practical experience for doing pharmaceutical care in pharmacy and having an example about pharmaceutical care problem and learning strategies and activities that can implemented in pharmaceutical care development. In this internship also have a special assignment to making an Standard Operating Procedure SPO Vaccine Storage in Refrigerators and Monitoring Temperature Vaccine at Hidup Baru Pharmacy. The aims of special assignment are to standardize storage of vaccine in pharmacy so as to ensure the stability and quality of the vaccine and evaluate the vaccine storage temperature."
2017
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ginting, Sri Karina Br
"Vaksinasi COVID-19 di Indonesia telah dilaksanakan sejak 13 Januari 2021 dan masih dilaksanakan hingga saat ini. Data capaian vaksinasi ditemukan terdapat perbedaan jumlah penerima vaksin dosis pertama dan dosis kedua. Hal ini menunjukkan terdapat masyarakat yang belum mendapatkan dosis primer lengkap. Padahal vaksin COVID-19 dapat membentuk antibodi secara optimal jika individu menerima dosis primer lengkap. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kelengkapan vaksinasi COVID-19 pada masyarakat di wilayah DKI Jakarta tahun 2022. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan melibatkan sebanyak 261 responden. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner online yang selanjutnya dianalisis secara univariat dan bivariate menggunakan uji chi square dengan level kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan kelengkapan vaksinasi COVID-19 pada masyarakat DKI Jakarta sudah divaksinasi secara lengkap (95,4%). Terdapat hubungan yang signifikan pada pengetahuan vaksinasi (POR: 8,59), persepsi manfaat vaksinasi COVID-19 (POR: 4,47), dan self efficacy dalam melakukan vaksinasi COVID-19 (POR: 4,78) dengan kelengkapan mendapatkan vaksinasi COVID-19 pada masyarakat. Selain itu, mayoritas masyarakat tetap bersedia untuk menerapkan protokol kesehatan setelah divaksinasi COVID-19 (98,9%). Pemerintah disarankan untuk melakukan reminder kembali kampanye vaksinasi COVID-19. Dinas Kesehatan disarankan untuk membuat perencanaan konten tentang COVID-19 dan vaksinasi COVID-19 yang terbaru serta fokus menyebarkan informasi melalui media sosial dan memperbaharui data capapain vaksinasi. Masyarakat disarankan untuk tetap waspada dan melaksanakan protokol kesehatan serta melakukan vaksinasi booster bagi yang belum melakukan

The COVID-19 vaccination in Indonesia has been carried out since 13 January 2021 and is still being out today. Vaccination achievement data found that were differences in the number of recipients of the first dose of vaccine and the second dose. This data shows that there are people who have not received the primary doses completely. Even though the COVID-19 vaccine can optimally form antibodies if individuals receive the completeness of primary doses. This study aims to find out what factors are related to the completeness of COVID-19 vaccination in the community in the DKI Jakarta area in 2022. This study used a cross-sectional study design and involved 261 respondents. Data were collected through online questionnaires and then analyzed univariate and bivariate using the chi-square test. The results showed that the completeness of the COVID-19 vaccination in the people of DKI Jakarta had been completely vaccinated (95.4%). There is a significant relationship between vaccination knowledge (POR: 8,59), perceived benefits of COVID-19 vaccination (POR: 4,47), and self-efficacy in carrying out COVID-19 vaccinations (POR: 4,78). In addition, the majority of people are still willing to implement health protocols after being vaccinated against COVID-19 (98.9%). The government can carry out a reminder for the COVID-19 vaccination campaign. The Health Office can plan content about COVID-19 and the latest COVID-19 vaccinations and focus on spreading information through social media and updating data on vaccination achievements. The community is advised to remain vigilant and implement health protocols and carry out booster vaccinations for those who have not yet done it."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ronaa Fadhila Emelda
"COVID-19 merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-CoV-2 yang mengakibatkan pandemi global. Jakarta adalah salah satu kota di Indonesia dengan angka kasus dan kematian tertinggi akibat COVID-19. Salah satu cara paling efektif untuk mengurangi keparahan dan resiko penularan COVID-19 adalah dengan vaksinasi. Vaksin dapat merangsang respons imunitas humoral tubuh yang menghasilkan antibodi netralisasi. Selain vaksin, antibodi netralisasi dapat diinduksi secara natural oleh imunitas tubuh. Hybrid immunity merupakan gabungan antara antibodi netralisasi yang diinduksi secara natural dan yang diinduksi oleh vaksin. SARS-CoV-2 terus bermutasi memunculkan berbagai varian yang menyebabkan peningkatan jumlah kasus dan munculnya gelombang COVID-19 baru di Indonesia, yaitu gelombang Delta pada Juni 2021 dan gelombang Omicron pada Januari 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perubahan antibodi netralisasi 3 bulan setelah vaksinasi dosis lengkap dari beberapa jenis vaksin, yaitu vaksin virus inaktivasi (CoronaVac), vaksin viral vektor (ChAdOx1 nCoV-19), dan vaksin mRNA (BNT162b2) serta pengaruh riwayat infeksi SARS-CoV-2 pada penerima vaksin terhadap berbagai varian SARS-CoV-2 (Wuhan, Delta, Omicron B.1.1.529 dan BA.2). Penelitian dilakukan dengan menggunakan uji Surrogate Virus Neutralization Test (sVNT) yang memiliki prinsip kerja seperti enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan meniru interaksi antara receptor binding domain (RBD) dan angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) dalam pelat ELISA dengan RBD dan ACE2 yang telah mengalami pemurnian dengan sampel serum partisipan populasi umum (n = 76). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara antibodi netralisasi sebelum dan 3 bulan setelah vaksinasi dosis lengkap, tetapi tidak terdapat perbedaan signifikan pada antibodi netralisasi yang dihasilkan dari masing-masing jenis vaksin. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh waktu pengambilan sampel setelah terjadi gelombang Omicron COVID-19 sehingga terjadi hybrid immunity yang menyebabkan tingginya kadar antibodi netralisasi yang merata pada setiap jenis vaksin. Partisipan dengan riwayat infeksi SARS-CoV-2 memiliki kadar antibodi netralisasi yang lebih tinggi. Terdapat perbedaan antibodi netralisasi yang signifikan terhadap berbagai varian SARS-CoV-2 dengan penurunan kadar antibodi netralisasi yang signifikan terhadap varian Omicron B.1.1.529 dan BA.2. Kesimpulan dari penelitian ini adalah vaksinasi dosis lengkap berhasil meningkatkan kadar antibodi netralisasi hingga 3 bulan pascavaksinasi yang dipengaruhi oleh riwayat infeksi SARS-CoV-2.

COVID-19 is a disease caused by the SARS-CoV-2 virus which has resulted in a global pandemic. Jakarta is one of the cities in Indonesia with the highest number of COVID-19 cases and deaths. One of the most effective ways to reduce the severity and transmission risk of COVID-19 is by getting vaccinated. Vaccines can stimulate the body's humoral immune response to produce neutralizing antibodies. Apart from vaccines, neutralizing antibodies can be induced naturally by the body's immunity. Hybrid immunity is a combination of naturally induced neutralizing antibodies and those induced by vaccines. The continuously mutating SARS-CoV-2 has led to the emergence of various variants which have resulted in an increase in the number of cases and the emergence of new COVID-19 waves in Indonesia, namely the Delta variant which appeared in June 2021 and the Omicron variant in January 2022. This study aims to evaluate changes in neutralizing antibodies 3 months after complete doses of several types of vaccines, namely inactivated virus vaccine (CoronaVac), viral vector vaccine (ChAdOx1 nCoV-19), and mRNA vaccine (BNT162b2) and the effect of a history of SARS-CoV-2 infection in vaccine recipients against various variants SARS-CoV-2 (Wuhan, Delta, Omicron B.1.1.529 and BA.2). The study was conducted using the Surrogate Virus Neutralization Test (sVNT) test which has a working principle like the enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) and mimics the interaction between the receptor binding domain (RBD) and angiotensin-converting enzyme 2 (ACE2) in ELISA plates using RBD and ACE2 that had undergone purification with sera samples of general population participants (n = 76). The results showed that there were significant differences between the neutralizing antibodies before and 3 months after the full dose of vaccination, but there were no significant differences in the neutralizing antibodies produced from each type of vaccine. This was probably caused by the sampling time after the Omicron COVID-19 wave occurred, resulting in hybrid immunity which resulted in high levels of neutralizing antibodies that were evenly distributed in each type of vaccine. Participants with a history of SARS-CoV-2 infection had higher levels of neutralizing antibodies. There were significant differences in neutralizing antibodies against various variants of SARS-CoV-2 with a significant decrease in levels of neutralizing antibodies against Omicron B.1.1.529 and BA.2 variants. The conclusion of this study is that full dose vaccination has succeeded in increasing neutralizing antibody levels for up to 3 months after vaccination which are affected by a history of SARS-CoV-2 infection."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Retno Anggrina Khalistha Dewi
"Latar belakang: Protein VP6 rotavirus adalah protrein struktural utama yang berperan penting selama replikasi, dan merupakan bagian yang paling lestari dan memiliki potensi dalam menstimulasi respon imun, yaitu sebagai protein target yang dapat menstimulasi sel T, dan memiliki epitop yang cross-reactive di antara genotipe rotavirus lainnya, sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai vaksin.
Tujuan: Untuk mengetahui karakterisasi molekular protein VP6 rotavirus strain Indonesia, serta pengklonaan gen dan ekspresi protein VP6 pada Escherichia coli BL21 untuk pengembangan vaksin rotavirus.
Metode: RNA rotavirus R55 dan R10 diperoleh dari ekstraksi sampel klinis. RNA tersebut kemudian diamplifikasi dengan reaksi RT-PCR dan menghasilkan amplikon 1194 bp yang selanjutnya disekuensing untuk konfirmasi dan mengetahui karakterisasi molekular protein VP6 secara bioinformatika. Gen VP6 sebagai sisipan dan plasmid pQE-80L sebagai vektor direstriksi ganda dengan enzim restriksi dan diligasi menggunakan enzim ligasi. Produk ligasi ditransformasikan pada sel kompeten E.coli Top 10 dan diseleksi klon pembawa plasmid rekombinan. Plasmid rekombinan yang mengandung gen VP6 ditransformasikan ke sel kompeten E.coli BL21. Ekspresi protein dilakukan dengan induksi IPTG. Hasil ekspresi dianalisis dengan SDS-PAGE dan dikonfirmasi dengan Uji Western Blot.
Hasil: Sekuen asam amino gen VP6 rotavirus strain Indonesia R55 dan R10 memiliki tingkat homologi yang tinggi dengan epitop yang lestari bila dibandingkan dengan strain vaksin dan kandidat vaksin rotavirus; strain R55 lebih dekat kekerabatannya dengan rotavirus genotipe I, strain R10 lebih dekat kekerabatannya dengan rotavirus genotipe II. Sekuen VP6 rotavirus strain R55 dan R10 menunjukkan tingkat hidrofobisitas yang sama, hal ini mengindikasikan sejenis protein permukaan atau protein yang bersifat hidrofilik. Hasil analisa struktur sekunder pada strain R55 dan R10 menunjukkan adanya perbedaan pada posisi asam amino 149-152 dan 341-349. Telah didapatkan klon pQE-80L yang mengandung gen VP6 dari strain R55 dan R10. Ekspresi protein VP6 pada SDS-PAGE menunjukkan adanya perbedaan intensitas pita protein antara sel E. coli yang diinduksi IPTG dengan yang tidak diinduksi, mengindikasikan protein VP6 diduga berhasil diekspresikan. Konfirmasi ekspresi protein menggunakan Western-Blot menunjukkan hasil yang sama antara sel yang diinduksi dengan yang tidak diinduksi, namun hasil ini perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Kesimpulan: Hasil karakterisasi molekular protein VP6 rekombinan dan pengklonaan gen VP6 dari rotavirus strain Indonesia R55 dan R10 dapat dikembangkan sebagai studi awal pada pengembangan vaksin subunit berbasis protein VP6 rekombinan. Namun untuk tahap ekspresi protein rekombinan VP6 perlu optimasi lebih lanjut.
Latar belakang: Protein VP6 rotavirus adalah protrein struktural utama yang berperan penting selama replikasi, dan merupakan bagian yang paling lestari dan memiliki potensi dalam menstimulasi respon imun, yaitu sebagai protein target yang dapat menstimulasi sel T, dan memiliki epitop yang cross-reactive di antara genotipe rotavirus lainnya, sehingga memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai vaksin.
Tujuan: Untuk mengetahui karakterisasi molekular protein VP6 rotavirus strain Indonesia, serta pengklonaan gen dan ekspresi protein VP6 pada Escherichia coli BL21 untuk pengembangan vaksin rotavirus.
Metode: RNA rotavirus R55 dan R10 diperoleh dari ekstraksi sampel klinis. RNA tersebut kemudian diamplifikasi dengan reaksi RT-PCR dan menghasilkan amplikon 1194 bp yang selanjutnya disekuensing untuk konfirmasi dan mengetahui karakterisasi molekular protein VP6 secara bioinformatika. Gen VP6 sebagai sisipan dan plasmid pQE-80L sebagai vektor direstriksi ganda dengan enzim restriksi dan diligasi menggunakan enzim ligasi. Produk ligasi ditransformasikan pada sel kompeten E.coli Top 10 dan diseleksi klon pembawa plasmid rekombinan. Plasmid rekombinan yang mengandung gen VP6 ditransformasikan ke sel kompeten E.coli BL21. Ekspresi protein dilakukan dengan induksi IPTG. Hasil ekspresi dianalisis dengan SDS-PAGE dan dikonfirmasi dengan Uji Western Blot.
Hasil: Sekuen asam amino gen VP6 rotavirus strain Indonesia R55 dan R10 memiliki tingkat homologi yang tinggi dengan epitop yang lestari bila dibandingkan dengan strain vaksin dan kandidat vaksin rotavirus; strain R55 lebih dekat kekerabatannya dengan rotavirus genotipe I, strain R10 lebih dekat kekerabatannya dengan rotavirus genotipe II. Sekuen VP6 rotavirus strain R55 dan R10 menunjukkan tingkat hidrofobisitas yang sama, hal ini mengindikasikan sejenis protein permukaan atau protein yang bersifat hidrofilik. Hasil analisa struktur sekunder pada strain R55 dan R10 menunjukkan adanya perbedaan pada posisi asam amino 149-152 dan 341-349. Telah didapatkan klon pQE-80L yang mengandung gen VP6 dari strain R55 dan R10. Ekspresi protein VP6 pada SDS-PAGE menunjukkan adanya perbedaan intensitas pita protein antara sel E. coli yang diinduksi IPTG dengan yang tidak diinduksi, mengindikasikan protein VP6 diduga berhasil diekspresikan. Konfirmasi ekspresi protein menggunakan Western-Blot menunjukkan hasil yang sama antara sel yang diinduksi dengan yang tidak diinduksi, namun hasil ini perlu dikonfirmasi lebih lanjut.
Kesimpulan: Hasil karakterisasi molekular protein VP6 rekombinan dan pengklonaan gen VP6 dari rotavirus strain Indonesia R55 dan R10 dapat dikembangkan sebagai studi awal pada pengembangan vaksin subunit berbasis protein VP6 rekombinan. Namun untuk tahap ekspresi protein rekombinan VP6 perlu optimasi lebih lanjut.

Background: VP6 protein is an intermediate layer on rotavirus outer capsid shell which is the major structural protein and play an important role in replication cycle. VP6 protein is a conserved region that can induce immune response as target protein of T cell with cross-reactive epitopes within another genotypes.
Objectives: This research conducted to determine the molecular characterization of rotavirus VP6 recombinant protein of Indonesia strain, and to determine the clone and expression of VP6 protein in Escherichia coli BL21 for development of rotavirus vaccine.
Methods: Rotavirus RNA was extracted from clinical sample of R55 and R10 strains that having correlation with genotipes I and II rotavirus. RNA samples were amplified with RT-PCR reaction and produced 1194 bp amplicon, and sequencing reaction were conducted to confirm and analyze the molecular characterization of VP6 protein in bioinformatics. VP6 gene as insert and pQE-80L plasmids as vector were double restricted and then ligated by ligation enzyme. Product of ligation were transformed to E.coli Top 10 competent cells and the clones were selected to get the recombinant plasmids which bearing VP6 gene. The recombinant plasmid than subcloned to E.coli BL21 competent cells and induced by IPTG and its pellets were loaded directly onto SDS-PAGE, approximately 45 kDa protein was observed on the SDS-PAGE. The protein was analyzed using Western-blotting.
Results: Level of amino acids homology from R55 and R10 rotavirus strain compared with vaccine strains and vaccine candidate strains showed high level of homology, with the conserved regions of T-cell epitopes. R55 strain having close relativity with genotype I while R10 strain having close relativity with genotype II. there are the same level of hydrophobicity between R55 and R10 which indicated as surface proteins or as a hydrophilic protein. The differences of secondary structure between R55 and R10 in amino acids position of 149-152 and 341-349. The VP6 cloned obtained from E.coli Top 10 with pQE-80L plasmid. The profile of expressed VP6 recombinant protein from R55 and R10 strains in SDS-PAGE showed the different intensity of protein between induced condition with IPTG and non-induced condition, indicated that VP6 protein might be successfully expressed. The Western-Blot assay showed the same result between the cell that induced and non-induced, but it still need another confirmation.
Conclusion: The result of molecular characterization from VP6 recombinant protein and the cloned of VP6 gene that obtained from R55 and R10 rotavirus strains of Indonesia could be applied as a preliminary study to develop rotavirus candidate vaccine based on subunit vaccine.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2014
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hery Setiawan
"UMKM menjadi salah satu yang terkena dampak kesehatan akibat adanya pandemi COVID-19. Melindungi para pekerja UMKM dari ancaman virus COVID-19 penting dilakukan dengan melakukan vaksinasi booster. Meningkatkan penerimaan vaksin booster COVID-19 pada pekerja perlu dilakukan dengan menggunakan intervensi promosi kesehatan dengan pendekatan pendidikan kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis intervensi promosi kesehatan dengan pendekatan pendidikan kesehatan pada pekerja UMKM dalam penerimaan vaksin booster COVID-19. Penelitian ini merupakan penelitian mixed-method menggabungkan kuantitatif dan kualitatif yang dilaksanakan bulan Mei-Juni 2022 di UMKM X Bintan dengan 13 responden, 3 informan utama, dan 3 informan kunci. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan sikap secara kuantitatif setelah diberikan intervensi promosi kesehatan. Peningkatan dapat dilihat dari persentase sebelum intervensi (pengetahuan 76,1% dan sikap 61%) dan setelah intervensi (pengetahuan 85% dan sikap 67%). secara kualitatif, pekerja UMKM X mampu menjelaskan COVID-19, Dampak, Vaksinasi Booster dan efek samping. Persepsi kerentanan, para pekerja belum melakukan vaksin booster karena takut efek samping yang diterimanya. Namun, vaksin booster bukan sebuah ancaman yang berbahaya bagi mereka dan vaksin ini memiliki manfaat yang baik dalam menjaga diri dari ancaman penyebaran virus COVID-19. Persepsi hambatan dalam penerimaan vaksin booster, pekerja mengatakan hambatan yang dihadapi diantaranya ketersediaan vaksin, jadwal pelayanan yang tidak sesuai dan rasa takut akan efek samping. Pada efikasi diri, mereka yakin akan melakukan vaksinasi setelah melihat teman, lingkungan dan adanya aturan yang berlaku. Munculnya keinginan untuk melakukan vaksinasi karena adanya dorongan dari diri sendiri dan ada pengaruh sedikit dari media sosial dan para pekerja UMKM tidak ada yang menolak program vaksinasi booster pemerintah.

MSMEs were one of the health impacts due to the COVID-19 pandemic. It was important to protect MSME workers from the threat of the COVID-19 virus by carrying out booster vaccinations. Increasing the acceptance of COVID-19 booster vaccines in workers needed to be done by using health promotion interventions. The purpose of this research was to analyze health promotion interventions for MSME workers by receiving the COVID-19 booster vaccine. This research used mixed-method research combining quantitative and qualitative conducted in May-June 2022 at MSME X Bintan with 13 respondents, 3 main informants, and 3 key informants. The results of this research indicated an increase in knowledge and attitudes quantitatively after being given health promotion interventions. The improvement can be seen from the mean value before the intervention (knowledge 76,1% and attitude 61%) and after the intervention (knowledge 85% and attitude 67%). Qualitatively, MSME X workers were able to elaborate COVID-19, its Impact, Booster Vaccinations, and side effects. Perception of susceptibility, workers had not done booster vaccines due to fear of the side effects they will receive. Nevertheless, the booster vaccine was not a dangerous threat for them and this vaccine has good benefits in protecting them from the threat of the spread of the COVID-19 virus. Perceptions of obstacles in receiving booster vaccines, workers said the obstacles they faced were the availability of vaccines, inappropriate service schedules, and fear of side effects. On self-efficacy, they believed they would vaccinate after seeing friends, the environment, and the existing rules. The emergence of the desire to vaccinate was due to self-indulgence and there was a little influence from social media and none of the MSME workers refused the government's booster vaccination program."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadhifa Annisa Rosalinda
"Studi terdahulu menemukan bahwa analytical thinking dan conspiracy belief merupakan faktor yang memengaruhi vaccine acceptance. Namun terdapat inkonsistensi di mana analytical thinking yang dianggap dapat meningkatkan dan conspiracy belief yang dapat menurunkan vaccine acceptance tidak selalu seperti itu pada realitanya. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan dengan tujuan melihat hubungan analytical thinking dalam memprediksi vaccine acceptance dengan conspiracy belief sebagai moderator. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode non-eksperimental dengan menyebarkan empat alat ukur melalui tautan google form. Penelitian ini melibatkan 115 partisipan WNI berusia 18-60 tahun (M = 37.79, SD =11.079) dengan 53,04% partisipan perempuan dan 46,09% partisipan laki-laki. Hasil dari penelitian ini menemukan bahwa analytical thinking memiliki hubungan signifikan dengan vaccine acceptance, namun hanya kemampuan analytical thinking yang dapat memprediksi vaccine acceptance secara signifikan (b = .2, SE = .8, t = 2.494, p = .14 [95% confidence interval (lower = .41, upper = .358)]). Sementara hubungan analytical thinking dan vaccine acceptance dengan adanya conspiracy belief sebagai moderator tidak signifikan namun memiliki pola hubungan. Meski begitu, conspiracy belief itu sendiri memprediksi vaccine acceptance secara signifikan yang artinya orang yang memiliki conspiracy belief dapat muncul dari kelompok analytical thinking tinggi maupun rendah.

Prior studies found that analytical thinking and conspiracy beliefs are factors that influence vaccine acceptance. However, there are inconsistencies where analytical thinking which is considered to be able to increase and conspiracy beliefs that can reduce vaccine acceptance are not always like that in reality. Therefore, this study aims to look at analytical thinking in predicting vaccine acceptance with conspiracy beliefs as a moderator. This study is a nonexperimental study that involves four measuring instrument administered through google form link. This study involves 115 Indonesian citizen as participants between the age of 18 and 60 (M = 37.79, SD =11.079) with 53,04% women and 46,09% men. This study found that analytical thinking has a significant correlation with vaccine acceptance but analytical ability can predict vaccine acceptance significantly (b = .2, SE = .8, t = 2.494, p = .14 [95% confidence interval (lower = .41, upper = .358)]) while the relationship between the three variables together is not significant but has a constant pattern. However, the conspiracy belief itself predicts vaccine acceptance significantly, which means that people who have a conspiracy belief can emerge from either high or low analytical thinking groups."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Paramita Nadia Putri
"Pandemi COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus corona atau yang lebih dikenal sebagai SARS-CoV-2. Menurut data Kemenkes RI pada 17 Januari 2022, jumlah kasus meninggal di Indonesia hingga 144.174 dan jumlah yang diketahui sudah terinfeksi 8.775 per hari. Fenomena ini dikarenakan mutasi SARS-CoV-2 secara terus menerus hingga menyulitkan pembuatan vaksin yang efektif. Proses pembuatan dan penelitian untuk menemukan vaksin yang efektif masih terus dilakukan hingga saat ini. Karena hal tersebut penelitian dan penemuan vaksin yang efektif untuk menanggapi adanya potensi mutasi dari virus SARS-CoV-2 yang lebih berbahaya di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kandidat vaksin virus SARS-CoV-2 berdasarkan urutan epitop dengan menganalisis spike protein virus SARS-CoV-2 dan Major Histocompatibility Complex I dan II (MHC I dan II ) sebagai alel-alel yang terkait ke satu set peptida yang untuk menjadi target respon imun tubuh melalui pendekatan imunoinformatika. Analisis pada studi ini dilakukan di berbagai perangkat lunak. Sequence S-protein SARS-CoV-2 diunduh melalui GISAID lalu diprediksi antigenisitasnya melalui VaxiJen v2.0 kemudian setelah itu dilakukan molecular docking. Hasil penelitan ini didapatkan 14 urutan epitop yang dapat digunakan sebagai kandidat vaksin SARS-CoV-2 yaitu ATAATTTTA, TTAACTTTA, TTAAGTTGA, TTAAGTTTA; TTAATTTTA, TTATGTTCA, TGGTTATGCACAC, TCTTTAAGTTTAGAA, TCGATAATTTTAAGT, TAGTTAACTTTAATC, CTTTTAAGTTGACAT, ACTTTAATTTTAGCC. Dengan nilai afinitas ikatan vaksin eptip yang telah didesain sebesar -7,8 dan -6,3

The COVID-19 pandemic is a disease caused by infection with the corona virus or better known as SARS-CoV-2. According to data from the Ministry of Health of the Republic of Indonesia on January 17, 2022, the number of cases died in Indonesia was up to 144,174 and the number known to have been infected was 8,775 per day. This phenomenon is due to the continuous mutation of SARS-CoV-2 which makes it difficult to make an effective vaccine. The process of making and research to find an effective vaccine is still being carried out until now. Because of this research and the discovery of an effective vaccine to respond to the potential mutation of the SARS-CoV-2 virus that is more dangerous in the future. This study aims to obtain a SARS-CoV-2 virus vaccine candidate based on epitope sequence by analyzing the SARS-CoV-2 viral spike protein and Major Histocompatibility Complex I and II (MHC I and II) as alleles associated with a set of peptides. to become the target of the body's immune response through an immunoinformatics approach. The analysis in this study was carried out in various software. The SARS-CoV-2 S-protein sequence was downloaded via GISAID and then its antigenicity was predicted through VaxiJen v2.0 and then molecular docking was performed. The results of this study obtained 14 epitope sequences that can be used as candidates for the SARS-CoV-2 vaccine, namely ATAATTTTA, TTAACTTTA, TTAAGTTGA, TTAAGTTTA; TTAATTTTA, TTATGTTCA, TGGTTATGCACAC, TCTTTAAGTTTAGAA, TCGATAATTTTAAGT, TAGTTAACTTTAATC, CTTTTAAGTTGACAT, ACTTTAATTTTAGCC. With the value of binding affinity for the designed epitope vaccine of -7.8 and -6.3."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Nuha Hafizh
"Latar belakang: Hingga saat ini, pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian balita di dunia. Banyak faktor yang bisa berpengaruh terhadap peningkatan kejadian pneumonia pada balita, baik aspek individu dari anak itu sendiri, perilaku orang tua, dan lingkungan. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya pneumonia adalah vaksinasi Pneumococcal Conjugate Vaccine atau PCV
Tujuan: Mengetahui hubungan antara faktor pengetahuan, sosiodemografi, sikap, dan perilaku orangtua mengenai pneumonia, serta sikap orangtua terhadap vaksinasi dengan penerimaan orangtua terhadap Pneumococcal Conjugate Vaccine pada anak usia di bawah 5 tahun di Indonesia
Metode: Penelitian dilakukan di poliklinik departemen anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dan TPA Makara UI pada November 2020. pengambilan sampel dilakukan secara consecutive sampling. Perhitungan jumlah sampel menggunakan rumus sampel tunggal. Kriteria inklusi adalah orangtua yang memiliki anak berusia di bawah 5 tahun serta mengisi kuesioner dengan lengkap. Data dianalisis berdasarkan usia, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap pneumonia, serta sikap terhadap vaksinasi. Uji yang digunakan adalah metode uji Chi-square untuk mengetahui hubungan dari faktor tersebut dengan penerimaan terhadap vaksinasi pneumonia.
Hasil: Sebanyak 97 (84,1%) dari 107 responden dalam penelitian ini menerima pemberian pneumococcal conjugate vaccine.Sikap orangtua terhadap vaksinasi memiliki hubungan yang signifikan dengan penerimaan orangtua terhadap vaksinasi pneumonia (p=0,000). sementara untuk usia orangtua (p=0,172), pendidikan orangtua (1,000), pekerjaan orangtua (p=0,119), penghasilan orangtua (p=0,617), serta pengetahuan (p=0,253), sikap (p=0,597) dan perilaku (p=1,000) terhadap penyakit pneumonia tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan penerimaan orangtua terhadap vaksinasi pneumonia
Simpulan: Sikap orangtua terhadap vaksinasi dapat mempengaruhi penerimaan orang tua terhadap vaksinasi pneumonia

Background: Until now, pneumonia is one of the main causes of children under five mortality in the world, even in Indonesia. Many factors can influence the increase in the incidence of pneumonia in children under five, both in individual aspects of the child, the behavior of parents, and the environment. One way that can be used to prevent pneumonia is the Pneumococcal Conjugate Vaccine or PCV vaccination
Aim: To evaluate the relationship between knowledge, sociodemography, attitudes and behavior of parents regarding pneumonia, as well as parental attitudes towards vaccination and parental acceptance of Pneumococcal Conjugate Vaccine in children under 5 years of age in Indonesia.
Methods: The research was conducted at the Pediatric Department Polyclinic dr. Cipto Mangunkusumo Hospital, and Makara UI Children Day Care in November 2020. Sampling was carried out by consecutive sampling. The sample size calculation useds a single sample formula. The inclusion criteria were parents who had children under 5 years old and filled out a complete questionnaire. Data were analyzed based on age, education, occupation, income, knowledge, attitudes, and behavior towards pneumonia, as well as attitudes towards vaccination. The study used the Chi-square test method to determine the relationship between these factors and the acceptance of pneumonia vaccination.
Results: A total of 97 (84.1%) of the 107 respondents in this study accept pneumococcal conjugate vaccine. attitude towards vaccination had a significant correlation with parental acceptance of pneumonia vaccination (p = 0.000050). while for the parents age (p = 0.172), parental education (1,000), parent's job (p = 0.119), parental income (p = 0.625), as well as knowledge (p = 0.253), attitudes (p = 0.597) and behavior (p = 1,000) toward pneumonia did not have a significant correlation with parental acceptance of pneumonia vaccination
Conclusion : Parents attitudes towards vaccination showed signifigantly correlation to acceptance of pneumonia vaccination
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Agarwal, Raksheeth
"Aim: to assess the immunogenicity and safety of CYD-tetravalent dengue vaccine (CYD-TDV) in children.
Methods: comprehensive literature searches were conducted on various databases. Randomized-controlled trials on children with CYD-TDV as intervention were selected based on inclusion and exclusion criteria. Data extracted from selected trials included safety of vaccine and immunogenicity in terms of Geometric Mean Titres (GMT) of antibodies. Results: A six clinical trials were selected based on preset criteria. GMT values were obtained using 50% Plaque Reduction Neutralization Test (PRNT) and safety was semi-quantitatively assessed based on adverse effects. Additional data processing was done to obtain a better understanding on the trends among the studies. The results showed that the groups vaccinated with CYD-TDV showed higher immunogenicity against dengue virus antigens than the control groups. Safety results were satisfactory in all trials, and most severe side effects were unrelated to the vaccine. Conclusion: CYD-TDV is both effective and safe for patients in endemic regions. This gives promise for further development and large-scale research on this vaccine to assess its efficacy in decreasing dengue prevalence, and its pervasive implementation in endemic countries, such as Indonesia.

Tujuan: menilai imunogenisitas dan keamanan CYD-tetravalent dengue vaccine (CYD-TDV) pada anak.
Metode: pencarian literatur dilakukan pada beberapa database. Studi randomized controlled trials pada anak yang divaksinasi dengan CYD-TDV dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Data yang diperoleh dari studi tersebut mencakup keamanan, serta imunogenisitas, dalam kaitanya dengan Geometric Mean Titres (GMT) dari antibodi.
Hasil: enam percobaan klinis dipilih berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Angka GMT diperoleh menggunakan 50% Plaque Reduction Neutralization Test (PRNT), sedangkan keamanan diuji secara semi-kuantitatif berdasarkan penilaian efek samping. Pengolahan data lebih lanjut dilakukan untuk membandingkan hasil dari berbagai studi. Imunogenisitas pada kelompok yang divaksinasi dengan CYD-TDV lebih tinggi dibanding kelompok kontrol. Hasil dari semua studi menunjukkan bahwa vaksin cukup aman, efek samping yang berat tidak terkait dengan vaksin yang diberikan.
Kesimpulan: vaksin CYD-TDV efektif dan aman untuk pasien pada daerah endemik. Kesimpulan ini merupakan dasar untuk pengembangan vaksin lebih lanjut, serta penelitian skala besar untuk menguji kemampuan vaksin ini dalam mengurangi prevalensi dengue, serta implementasinya pada negara-negara endemik, seperti Indonesia.
"
Jakarta: University of Indonesia. Faculty of Medicine, 2017
610 UI-IJIM 49:1 (2017)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8   >>