Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 379 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Istiati Dyah Annastriana Sitorukmi
"Gedung Pewayangan Kautaman merupakan salah satu gedung pertemuan umum yang hingga kini masih menerapkan pemasaran secara konvensional dan belum menerapkan pemasaran secara digital. Hal itu membuat gedung cukup kesulitan untuk bertahan ditengah persaingan yang ada dengan pelaku bisnis serupa. Untuk mengatasinya pihak pengelola gedung menerapkan dua strategi yaitu word of mouth dan co-marketing agar dapat memperkuat citra mereknya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan strategi word of mouth dan co-marketing, untuk mengetahui tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan co-marketing, dan untuk mengetahui citra gedung. Penelitian ini menggunakan paradigma post-positivisme, dengan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian deskriptif. Terdapat 6 informan meliputi kepala bagian pemasaran sebagai informan kunci, satu informan staf pemasaran, dua informan mitra vendor, dan dua informan lainnya merupakan konsumen penyewa gedung. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi langsung, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi word of mouth diterapkan melalui beberapa event, memberikan penjualan khusus atau diskon kepada pelanggan spesial, membentuk jaringan kerjasama dengan vendor, dan melakukan pemberdayaan karyawan terutama dalam mengatasi keluhan pelanggan. Pihak pengelola gedung juga berusaha membangun hubungan yang baik dengan konsumen agar dapat direkomendasikan secara positif dengan senantiasa memberikan pelayanan yang memuaskan, merawat gedung, meningkatkan fasilitas, menjalin hubungan jangka panjang dengan konsumen, dan mempelajari minat konsumen. Strategi co-marketing diterapkan melalui tiga aspek yaitu koordinasi aliansi, komunikasi antar organisasi, dan manajemen pengetahuan. Koordinasi aliansi dilakukan dengan pembagian tugas dan tanggung jawab secara detail sejak awal kerjasama. Proses berbagi informasi antar organisasi dilakukan melalui beberapa hal seperti diskusi mengenai strategi, rapat bersama, membentuk grup komunikasi, bertukar database pelanggan, dan memperkuat hubungan interpersonal. Kemudian, proses manajemen pengetahuan dilakukan dengan bantuan brosur, katalog, dokumentasi pribadi, dan melaksanakan pameran bersama. Gedung Pewayangan Kautaman pada dasarnya memiliki kesempatan yang baik untuk membangun citra merek yang positif di benak konsumennya. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumen merasa puas atas fasilitas dan layanan yang disediakan oleh pengelola gedung sehingga terdorong untuk memberikan rekomendasi positif kepada orang lain, adapun konsumen juga merasa puas atas kerja sama dari berbagai vendor yang melakukan mekanisme co-marketing karena memberikan kemudahan bagi konsumen.

Gedung Pewayangan Kautaman is a public meeting building that, until now, still applies conventional marketing and has not implemented digital marketing. This makes it quite difficult for buildings to survive in the midst of existing competition with similar business actors. To overcome this, the building management applies two strategies, namely word of mouth and co-marketing, in order to strengthen its brand image. The purpose of this study is to determine the application of word-of-mouth and co-marketing strategies, the challenges faced in implementing co-marketing, and the image of the building. This study uses a post-positivism paradigm with a qualitative approach and is a descriptive research type. There were six informants, including the head of the marketing department as a key informant, one marketing staff informant, two vendor partner informants, and two other informants who were building tenant clients. Data collection techniques were carried out through in-depth interviews, direct observation, and documentation. Data analysis techniques were carried out in three stages: data reduction, data presentation, and data verification. The results showed that the word-of-mouth strategy was implemented through several events, including providing special sales or discounts to special customers, forming partnership networks with vendors, and empowering employees, especially in dealing with customer complaints. The building management also tries to build good relationships with consumers so that they can be positively recommended by always providing satisfactory service, maintaining the building, improving facilities, establishing long-term relationships with consumers, and studying consumer interests. The co-marketing strategy is implemented through three aspects: alliance coordination, inter-organizational communication, and knowledge management. Alliance coordination is carried out by dividing tasks and responsibilities in detail from the start of the collaboration. The process of sharing information between organizations is carried out through several things, such as discussing strategies, meeting together, forming communication groups, exchanging customer databases, and strengthening interpersonal relationships. Then, the knowledge management process is carried out with the help of brochures, catalogs, personal documentation, and joint exhibitions. Gedung Pewayangan Kautaman basically has a good opportunity to build a positive brand image in the minds of its consumers. The results of the analysis show that consumers are satisfied with the facilities and services provided by building managers so that they are encouraged to provide positive recommendations to others, while consumers are also satisfied with the cooperation of various vendors who carry out co-marketing mechanisms because they provide convenience for consumers."
Jakarta: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Alda Laura Jire
"Salah satu bentuk promosi di dalam dunia waralaba yang memiliki tingkat efektivitas yang cukup tinggi adalah Word of Mouth atau promosi dari mulut ke mulut. Untuk menciptakan Word of Mouth dikalangan konsumen, maka perusahaan harus mampu membuat para konsumennya mencintai merek terlebih dahulu. Konstruk tersebut dinamakan sebagai Brand Love. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh Brand Love terhadap Word of Mouth pada konsumen McDonald’s. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan metode survey dengan kuesioner sebagai instrumen penelitian. Populasi penelitian adalah konsumen yang sering mengkonsumsi McDonald dalam kurun waktu 3 bulan terakhir, menganggap dirinya sebagai pecinta McDonald dan berusia dari 18-30 tahun. Teknik pengambilan sampel adalah non-probability sampling dengan teknik purposive sampling. Pengolahan data menggunakan analisis regresi sederhana dan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Brand Love memiliki pengaruh positif terhadap Word of Mouth.

One form of promotion in the world of franchising that has a high enough level of effectiveness is Word of Mouth. To create a Word of Mouth among consumers, the company must be able to make its consumers love the brand first. This construct is called as Brand Love. The purpose of this study was to analyze the infuence of Brand Love on Word of Mouth on McDonald's consumers. The approach used in this research is quantitative. Technique of collecting data by using survey method with questioner as research instrument. The study population is consumers who frequently consume McDonalds within the last 3 months, thinking of themselves as a McDonald lover and aged from 18-30 years. Sampling technique is non-probability sampling with purposive sampling technique. Data processing using simple and descriptive regression analysis. The results show that Brand Love has a positive influence on Word of Mouth."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2018
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Muhamad Vadly Rahmatullah
"Word of mouth memiliki peranan penting dalam proses pembuatan keputusan ketika konsumen memilih sebuah jasa daripada sebuah produk. Kualitas pelayanan yang baik dinilai mampu untuk memicu timbulnya word of mouth. Hubungan tersebut dinilai dimediasi oleh variabel customer satisfaction. Museum sebagai salah satu industri pariwisata di Indonesia tentunya harus memperhatikan hal tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh service quality terhadap word of mouth melalui customer satisfaction pada pengunjung Museum Seni Rupa dan Keramik. Penelitian ini dilakukan pada 100 orang responden yang telah mengunjungi Museum Seni Rupa dan Keramik. Penelitian ini dianalisis menggunakan uji sobel dan path analysis untuk menguji hubungan antara service quality terhadap word of mouth melalui customer satisfaction. Adapun pengaruh masing-masing variabel akan dibahas lebih lanjut dalam penelitian ini.

Word of mouth has an important role in the decision making process when consumers choose a service rather than a product. Excellent service quality is considered as a factor triggering the emergence of word of mouth. Those relationship are mediated by customer satisfaction as a mediating variable. Museum as one of Tourism Industry in Indonesia must pay attention to service quality and word of mouth. This research was conducted to analyze the effect of service quality to word of mouth on Museum Seni Rupa dan Keramik’s visitor. This research was conducted on 100 respondents who have visited Museum Seni Rupa dan Keramik. This research use a Sobel test and path analysis to examine the relationship between service quality to word of mouth. The influence of each variables will be discussed further in this research."
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Endivia Rizki Maghfiroh
"Latar belakang. Jumlah Rujukan FKTP ke RSIA Kenari Graha Medika pasien BPJS Kesehatan masih mendapat proporsi kecil dibandingkan dengan rujukan ke FKRTL lain di wilayahnya. Kunjungan poli rawat jalan RSIA Kenari Graha Medika juga belum mencapai target kunjungan pertahun yaitu sebesar 46.080 kunjungan pasien poli rawat jalan dalam satu tahun. Guna meningkatkan kinerja rawat jalan, RSIA Kenari Graha Medika telah menjalin jejaring kerjasama dengan 84 FKTP di wilayah Kabupaten Bogor, namun belum diketahui ada tidaknya hubungan kepuasan kemitraan dengan WOMI. Metode. Desain penelitian cross sectional dengan jumlah sampel 70 sampel dari popuasi semua FKTP yang menjalin kemitraan dengan RSIA Kenari Graha Medika. Enam variabel yang diteliti adalah 5 variabel framework Lui & Ngo, 2005 (yaitu asset specificity dan partner reputation, actions acquiescence, actions simplicity, dan actions reciprocity) dan 1 variabel Komitmen Pelayanan Rujuk Balik (PRB) kemudian dihubungkan dengan keminatan FKTP dalam memberikan rekomendasi (WOMI (Word of Mouth Intentions)) pada pasien. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat (deskriptif) dan multivariat dengan SEM PLS. Hasil. Dari analisais data didapatkan seluruh konstruk dinyatakan valid dan reliabel berdasarkan hasil perhitungan loading factor, AVE dan cornbach alpha. Uji hipotesis menunjukkan 3 variabel diterima yakni Action Acquiescence, Action Reciprocity, serta Action Simplicity, sedangkan 3 variabel lainnya ditolak yaitu, asset specificity, partner reputation, dan Komitmen PRB RS. Kesimpulan. Dengan adanya ketidakpuasan pada beberapa indikator, maka sebaiknya RSIA Kenari Graha Medika melakukan engagement kepada FKTP dengan pemenuhan kebutuhan FKTP demi pelayanan terbaik pada pasien, membentuk Tim PRB, dan membangun sisten Rujuk Balik yang sesuai regulasi.

Background. The number of First Level Health Facilities’s referrals to RSIA Kenari Graha Medika for BPJS Health patients still receives a small proportion compared to referrals to other First Level Health Facilities in the region. RSIA Kenari Graha Medika outpatient clinic visits have also not reached the annual visit target of 46,080 outpatient clinic patient visits in one year. In order to improve outpatient performance, RSIA Kenari Graha Medika has established a collaborative network with 84 First Level Health Facilities in the Bogor Regency area, but it is not yet known whether there is a relationship of satisfaction with WOMI. Method. Cross sectional research design with a sample size of 70 samples from the population of all First Level Health Facilities that have a partnership with RSIA Kenari Graha Medika. The six variables studied were 5 Lui & Ngo, 2005 framework variables (namely asset specificity and partner reputation, actions acquiescence, actions simplicity, and actions reciprocity) and 1 variable Reciprocity Service Commitment (PRB commitment) which was then linked to First Level Health Facilities’s interest in providing recommendations (WOMI (Word of Mouth Intentions)) in patients. Data analysis was carried out using univariate (descriptive) and multivariate analysis with SEM PLS. Results. From data analysis, it was found that all constructs were declared valid and reliable based on the results of loading factor, AVE and Cornbach alpha calculations. Hypothesis testing showed that 3 variables were accepted, namely Action Acquiescence, Action Reciprocity, and Action Simplicity, while 3 other variables were rejected. Conclusion. Due to dissatisfaction in several indicators, it would be best for RSIA Kenari Graha Medika to engage with FKTP by fulfilling FKTP needs for the best service to patients, forming a PRB Team, and building a Refer-Back system that complies with regulations."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anggraina Widiyanti
"Latar Belakang: Pencapaian kinerja Rawat Jalan, Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan Bed Occupancy Rate (BOR) di Rumah Sakit (RS) Hermina Tangerang mengalami fluktuatif, belum mencapai target yang ditentukan dan trendlinenya cenderung mengalami penurunan pada periode tahun 2018-2023. Penilaian google review RS Hermina Tangerang adalah 4,1 dari 5, dimana masih didapatkan banyak  keluhan mengenai kualitas pelayanan rawat inap di RS Hermina Tangerang. Hal ini mungkin menjadi penyebab rendahnya kunjungan ulang pasien ke RS Hermina Tangerang, Sehingga pencapaian Rawat Jalan, IGD dan BOR di RS Hermina Tangerang tidak mencapai target yang telah ditentukan. Apabila pencapaian tersebut dibiarkan terjadi terus menerus, akan berdampak signifikan pada pendapatan Rumah Sakit. Metode penelitian yang digunakan adalah mix methode, dengan tahap pertama survey, dan tahap kedua dengan action research. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada pasien rawat inap di RS Hermina Tangerang dan wawancara dengan informan kunci. Analisis data kuantitatif dilakukan menggunakan model persamaan struktural (SEM) dengan pendekatan partial least square (PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pelayanan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Word Of Mouth (WOM) dan minat kunjungan ulang pasien. Dimensi kualitas pelayanan yang meliputi tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy, semuanya berkontribusi secara signifikan terhadap peningkatan WOM dan minat kunjungan ulang. Selain itu, WOM juga terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat kunjungan ulang pasien. Kesimpulan: Kualitas pelayanan  rawat inap di Rumah Sakit Hermina Tangerang sudah baik. Namun masih ada nilai dalam dimensi kualitas pelayanan yang kecil, menjadi ruang untuk RS Hermina Tangerang melakukan perbaikan dan meningkatkan kualitas pelayanan. Saran bagi manajemen rumah sakit adalah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan guna meningkatkan loyalitas pasien dan keberhasilan bisnis rumah sakit.

Background: The performance achievements in Outpatient Services, Emergency Department (ED), and Bed Occupancy Rate (BOR) at Hermina Hospital Tangerang have been fluctuating, not reaching the set targets, and the trendline has tended to decline during the period 2018-2023. The Google review rating for Hermina Hospital Tangerang is 4.1 out of 5, where there are still many complaints regarding the quality of inpatient services at Hermina Hospital Tangerang. This may be the cause of the low rate of revisit intention patient to Hermina Hospital Tangerang. As a result, the achievements in Outpatient Services, ED, and BOR at Hermina Hospital Tangerang do not meet the predetermined targets. If this situation is allowed to continue, it will have a significant impact on the hospital's revenue. Methode: The research method used is a mixed method, with the first stage being a survey, and the second stage involving CDMG (Consensus Decision Making Group). Data were collected through questionnaires distributed to inpatients at Hermina Hospital Tangerang and interviews with key informants. Quantitative data analysis was conducted using structural equation modeling (SEM) with a partial least square (PLS) approach. Result: The research results show that service quality has a positive and significant influence on Word Of Mouth (WOM) and revisit intention. The dimensions of service quality, including tangibles, reliability, responsiveness, assurance, and empathy, all contribute significantly to the increase in WOM and revisit intention. Moreover, WOM also has a proven positive and significant influence on revisit intention. Conclusion: The quality of inpatient services at Hermina Hospital Tangerang is already good. However, there are still low scores in certain service quality dimensions, providing an opportunity for Hermina Hospital Tangerang to make improvements and enhance service quality. The recommendation for hospital management is to continuously improve service quality to increase patient loyalty and business success of the hospital."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2024
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Daniel Clarence Marthin
"Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar perusahaan mencoba memberi nilai tambah kepada pelanggan yang disebut seamless experience yang telah memainkan peran penting dalam strategi omnichannel, dimana omnichannel merupakan evolusi dari strategi multichannel. Penelitian sebelumnya menunjukkan seamless experience dapat memengaruhi perjalanan omnichannel pada pelanggan. Selain itu, adanya hubungan kuat antara perjalanan omnichannel pelanggan dan perilaku pelanggan. Penelitian lain menunjukkan bahwa kualitas integrasi omnichannel dan nilai persepsi omnichannel dapat memberikan pengaruh positif terhadap kepuasan pelanggan. Namun, kurangnya penelitian omnichannel tentang karakteristik pelanggan untuk menghadapi omnichannel di era digitalisasi masih belum banyak dipublikasikan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk mengetahui apakah karakteristik pelanggan yang disebut kesiapan teknologi sebagai variabel moderasi apakah dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap word-of-mouth di bidang kesehatan. Penelitian ini menggunakan Partial Least Square untuk menganalisis data dari sampel 268 responden yang telah menggunakan platform omnichannel dari beberapa rumah sakit di Indonesia baik online (misalnya website, aplikasi pihak ketiga, aplikasi mobile rumah sakit) maupun offline (mengunjungi rumah sakit secara langsung). Responden diberikan kuesioner yang terdiri dari 32 item pertanyaan. Hasil yang diharapkan adalah keragaman karakteristik pelanggan dapat memberikan berbagai dampak terhadap perjalanan pelanggan dan perilaku pelanggan. Dengan demikian, organisasi dapat menerapkan strategi omnichannel berdasarkan karakteristik pelanggan.

In recent years, most companies try to customers added value calling seamless experience and alla had played important role in omnichannel strategy which is omnichannel is an evolution of strategy. Previous research has been showed seamless experience could affect customer omnichannel journey. Furthermore, it builds strong relations between customer omnichannel journey and customer behavior. Another research has been shown that omnichannel integration quality and omni-channel perceived value coud give positive effect to customer satisfaction.  However, there is still a back of research about omnichannel studies, special regarding the characteristic of omnichannel customers in digitalization’s era. Therefore, this paper aims to find out whether the characteristic of customers so called technology readiness as moderator construct probable affably affection customer satisfaction toward word-of-mouth in healthcare sector. This study uses Partial Least Square to analyze the data from sample of 268 respondents which has used omnichannel platform of certain hospital in Indonesia whether it’s online (e.g. website, third party app, hospital mobile app) or offline (visiting hospital directly). The respondents have Given the questionnaire consist of 32 items and 5-point Likert to examine each items. The expected result is that variety of customer characteristic coupon give various impact to customer journey and customer behavior. Thus, organization coop implementation omnichannel strategic based on customer characteristics."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bemby Prafita
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh electronic word of mouth positif terhadap citra merek TransjakartaTM yang reputasinya sedang menurun. Penelitian ini adalah penelitian field experiment dengan desain non equivalent control group design (dengan dan tanpa electronic word of mouth) prestestpostest. Partisipan adalah orang yang pernah menggunakan TransjakartaTM dan memiliki akun LINETM, berjumlah 77 orang yang dikelompokkan menjadi KE (45 orang) dan KK (32 orang). Penelitian dilakukan dengan memberikan screen capture electronic word of mouth positif sebanyak 8 buah kepada KE selama 7 hari melalui LINETM.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa electronic word of mouth positif memiliki pengaruh secara signifikan terhadap citra merek (t -2.106 = 0.039 (p < 0.05)), yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara peningkatan selisih mean antar kelompok. Hal ini juga berarti bahwa electronic word of mouth positif memiliki pengaruh terhadap citra merek. Dengan demikian pengelola TransjakartaTM dapat memberikan electronic word of mouth positif kepada masyarakat untuk meningkatkan citra merek sehingga lebih banyak masyarakat yang menggunakan transportasi publik di Jakarta.

This study aimed to understand the effect of positive electronic word of mouth toward TransjakartaTM?s brand image where their reputation has been falling .This research was a field experimental research with a non-equivalent control group design (with and without electronic word of mouth) prestest-posttest. Participants are people who have used TransjakartaTM and had LINETM account , a total of 77 people grouped into KE ( 45 people) and KK (32 people). Research done by giving a screen capture of positive electronic word of mouth as many as 8 in total for seven days through LINETM.
The results of the research shows that the positive electronic word of mouth having significant effect on brand image (t -2.106 = 0.039 ( p < 0.05 )), which means there are significant differences between the increase in mean between two group. This means that the positive electronic word of mouth had the effect toward brand image. Thus, TransjakartaTM Management can improve the brand image of TransjakartaTM by giving positive electronic word of mouth to the community in order to increase the use of public transportation in Jakarta.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2015
S61066
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anthony, Marco
"Electronic word of mouth telah menjadi salah satu fenomena yang timbul akibat perkembangan teknologi internet dan menjadi salah satu topik yang dipelajari pada era pemasaran digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis motif apa yang mendorong niat seseorang mau menyebarkan electronic word of mouth pada media consumer-opinion platform Forum Jual Beli Kaskus. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data dari 60 responden yang kemudian dianalisis menggunakan metode Partial Least Square - Structural Equation Model (PLS - SEM). Hasil penelitian mendukung dua dari enam hipotesis yang diajukan, yaitu Kepuasan Menolong dan Kewajiban Moral berpengaruh positif terhadap niat seseorang untuk menyebarkan electronic word of mouth pada consumer-opinion platform Forum Jual Beli Kaskus.

Electronic word of mouth has become a phenomenon that arise because of internet advancement and a subject of study in this digital marketing era. The purpose of this study is to anaylze what motives that drive consumer's intention to spread electronic word of mouth in consumer-opinion platform media Forum Jual Beli Kaskus. This study is conducted using the data from 60 respondent and analyzed using Partial Least Square - Structural Equation Model (PLS-SEM) method. The result support two of six hypotheses that have been proposed which are Enjoyment of Helping and Moral Obligation positively related to Consumer's Intention in spreading the electronic word of mouth in consumer-opinion platform Forum Jual Beli Kaskus.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2015
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
"This well-organized, descriptive, and detailed textbook includes recent advances, genetic and molecular aspects are given in coloured boxes for quick reference. A large number of descriptive photomicrographs, diagrams and flowcharts have been added, as well as comparison tables and a glossary for easy reference. "
New Delhi: Jaypee Brothers Medical Publishers, 2019
611.31 TEX
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sophia Hermawan
"Penyakit karies gigi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup serius. Hal ini terlihat dari angka prevalensi karies gigi pada murid sekolah usia 14 tahun di seluruh propinsi Indonesia pada akhir Pelita III, IV dan tahun 1995 sebesar 72,76 %, 73,41 % dan 74,41 %. DKI Jakarta merupakan daerah yang mempunyai prevalensi karies gigi yang cukup tinggi, yaitu sebesar 93,38 % dan rata-rata angka pengalaman karies gigi (DMF-T) =2,82 gigi per anak dan angka PTI (jumlah gigi yang ditambal dibanding dengan pengalaman karies) sebesar 9,06 %. Angka ini masih jauh dibawah standar indikator target derajat kesehatan gigi dan mulut tahun 2000 yaitu minimal 50% pada usia 12 tahun. Hal ini menunjukkan kurangnya motivasi untuk berobat. Dengan demikian di DKI penyakit karies gigi masih merupakan masalah yang perlu diprioritaskan untuk dilakukan upaya penanggulangan. Namun upaya kuratif termasuk relatif mahal, sehingga dipilih altematif pencegahan karies yang antara lain dengan kumur Fluor. Berdasarkan altematif tersebut maka dapat digambarkan masalah penelitian yaitu belum adanya evaluasi tentang hubungan antara pemberian kumur Fluor dengan angka DMF-T, serta faktor lain yang diduga turut berperan dalam hubungan tersebut.
Adapun tujuan penelitian adalah diketahuinya rata-rata angka pengalaman karies gigi murid SD di DKI Jakarta dan diketahuinya hubungan pemberian kumur Fluor dengan angka DMF-T pada murid SD di DKI Jakarta, setelah dikontrol dengan variabel kebiasaan sikat gigi, konsumsi gula, pekerjaan orang tua, pendidikan orang tua dan pengetahuan pemeliharan kesehatan gigi.
Pada penelitian ini digunakan disain Cross Sectional , dengan populasi adalah seluruh murid SD di 5 wilayah DKI Jakarta, baik yang mendapat kumur Fluor maupun tidak. Sedangkan sampel adalah murid SD kelas 5 dan 6 yang berusia 12 tahun pada SD tertentu yang dipilih secara acak bertingkat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata angka DMF-T pada murid SD di DKI Jakarta adalah 3,020 gigi per anak, berarti sedikit melampaui Batas maksimal indikator derajat kesehatan gigi tahun 2000 ( lebih kecil dari 3 ). Namun rata-rata angka DMF-T pada kelompok kumur Fluor lebih kecil /lebih baik (2,74) gigi per anak, dibandingkan kelompok non kumur Fluor yaitu 3,30 gigi per anak. Dilihat dari segi hubungan, maka terdapat hubungan yang bermakna antara variabel kumur Fluor, kebiasaan sikat gigi dan pengetahuan pemeliharaan kesehatan gigi, sehingga cocok dimasukkan dalam permodelan. Dari faktor kekuatan hubungan dan peluang meningkatnya kekuatan hubungannya dengan angka DMF-T , faktor kebiasaan sikat gigi adalah yang paling kuat hubungannya, diikuti kumur Fluor dan pengetahuan kesehatan gigi. Ditinjau dari segi efektivitas kegiatan sikat gigi masal dalam program UKGS disertai penyuluhan tentang kebiasaan sikat gigi merupakan Cara yang paling efektif, efisien dan serta alternatif yang paling tepat.
Pada penelitian ini penulis menyarankan agar kegiatan sikat gigi masal dan penyuluhan tentang kebiasaan sikat gigi terus dilakukan secara intensif dan berkesinambungan di seluruh Indonesia. Sedangkan kumur Fluor khusus pada daerah dengan konsentrasi Fluor dalam air minum rendah. Khusus DKI Jakarta dan kota besar lainnya dengan sosial ekonomi cukup baik, dianjurkan kegiatan sikat gigi masal disertai penyuluhan tentang kebiasaan sikat gigi dengan menggunakan pasta mengandung Fluor.

The Association between fluorides mouth rinsing and Caries Experience (DMF-T) score in primary school students at DKI Jakarta in 1995-1996.Caries dentist is still a serious health problem. It was shown by dental caries prevalence in 14 years students in Pelita III, IV and 1995, is 72,76 %, 73,74 °/o and 74,41 %. DKI Jakarta has a high caries prevalence, that is 93,38 % and DMF-T = 2,82 teeth for each student and PTI (Performance Treatment index or the amount of teeth have been filled compared by DMF-T score) = 9,06 %. This percentage is much lower than the standard of dental health indicator in the year of 2000, which will be achieved as 50% at 12 years students. It was proved that there is lack of motivation to treat dental caries. That's why dental caries is still a main priority problem to solve. But as we know, curative effort is relative more expensive, so it was chosen alternative for preventing caries by fluorides mouth rinsing. Due to this alternative, there are several research problems : there are no evaluation about association between fluorides mouth rinsing and DMF-T score after controlling by another factor had relationship.
The purpose of the research is getting the mean of DMF-T score at primary school students at DKI Jakarta and knowing the association between fluorides mouth rinsing and DMF-T score after controlling by several factors such as tooth brushing habitual, sugar consumption, level of education of the parents, job of the parents and knowledge about dental health care. In this Cross Sectional research, we use population of all primary school students in 5 area in DKI Jakarta. The sample are the 5 and 6 years primary school students who are 12 years old, and chosen by multistage random sampling method.
This research shows that the mean of DMF-T score is 3.020 teeth for each student, or little bit higher than the standard of dental health target in the year of 2000. (< 3). But if we compare in 2 groups, the mean DMF-T score in fluoridation group (2.74) is smaller or better than in non fluoridation group (3.30). Concerning about the association, there is a association between flour mouth rinsing, tooth 'brushing habitual and knowledge of dental health care, so it was fit to be a best model. If we note about the strength of the association and the probability estimate of the association to DMF-T score, tooth brushing habitual has a strongest association and followed by fluorides mouth rinsing and knowledge of dental health care. Mass tooth brushing in School Dental Programmed (UKGS) and promotion about tooth brushing habitual is the most effective and the best alternative.
In this research the writer suggests that mass tooth brushing and promotion about tooth brushing habitual would be done intensively and continuously in the whole area of Indonesia. Fluorides mouth rinsing is recommended for certain area, which are fluorides concentration in water supplies is low. Especially for DKI Jakarta and other big cities, which are the sicio-economic condition is relative good , it was suggested mass tooth brushing and promotion about tooth brushing habitual with fluorides paste.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 1997
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library