Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 119 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Muhammad Daffa
"Makam-makam pada halaman Masjid Hidayatullah, Setiabudi, Jakarta. Dibangun pada tahun 1747. Dibangun di atas lahan seluas 3.000 meter persegi yang merupakan wakaf dari warga Betawi blasteran Cina dan Bugis, Muhammad Yusuf. Perpaduan budaya pada masjid Hidayatullah menarik untuk dikaji lebih lanjut khususnya yang berkaitan dengan makam-makam yang berada pada halaman masjid tersebut. Melalui makam-makam pada masjid tersebut, diyakini dapat memberikan informasi penting tentang demografi dan komposisi populasi pada masa lampau.
Metode penelitian yang digunakan adalah analisis morfologi dan kontekstual. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa Orang-orang yang dimakamkan di lingkungan masjid Hidayatullah adalah orang-orang penting serta orang-orang yang memang memiliki keterkaitan dengan masjid Hidayatullah itu sendiri. 

The tombs in the courtyard of the Hidayatullah Mosque, Setiabudi, Jakarta. It was built in 1747. It was built on an area of ​​3,000 square meters which was a waqf from a Betawi citizen of mixed Chinese and Bugis descent, Muhammad Yusuf. The cultural combination at the Hidayatullah mosque is interesting to study further, especially in relation to the tombs in the mosque's courtyard. The tombs in the mosque, it is believed to provide important information about demographics and population composition in the past.
The research method used in this study is morphological analysis and contextual analysis. The results of the research show that the people buried in the Hidayatullah mosque are important people and people who are related to the Hidayatullah mosque itself.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Galih Andy Prasetya
"Masjid Kuncen Madiun merupakan masjid yang dibangun beriringan dengan berdirinya Madiun sebagai pusat pemerintahan tahun 1575 oleh Pangeran Timur, selain berfungsi sebagai tempat ibadah, juga sebagai artefak budaya yang merefleksikan proses islamisasi di Madiun. Penelitian ini mengkaji gaya bangunan Masjid Kuncen sebagai representasi akulturasi antara budaya lokal Jawa dan ajaran Islam dalam konteks arsitektur masjid kuno. Metode penelitian yang digunakan mengacu pada pendekatan arkeologi menurut Robert J. Sharer dan Wendy Ashmore (2003) yang meliputi tujuh tahapan. Gaya bangunan Masjid Kuncen menampilkan ciri khas masjid kuno Jawa sebagaimana dikemukakan oleh G.F. Pijper dan Sumijati Atmosudiro, seperti atap tumpang, tidak memiliki menara, soko guru sebagai penopang utama, serta pawestren sebagai ruang ibadah perempuan. Elemen-elemen bangunan seperti, teras, serambi, ragam hias, dan sistem tata ruang mengadopsi rumah tradisional Jawa sekaligus mengintegrasikan arsitektur Islam. Hasil analisis mengungkapkan adanya adopsi bentuk, teknologi, dan ornamen dari budaya lokal Jawa yang kemudian diselaraskan dengan Islam.

Kuncen Mosque in Madiun was established in 1575 alongside the founding of Madiun as a governmental center by Prince Timur. Besides serving as a place of worship, the mosque functions as a cultural artifact that reflects the Islamization process in the region. This study examines the architectural style of Kuncen Mosque as a representation of the acculturation between Javanese local culture and Islamic teachings within the context of ancient mosque architecture. The research method follows an archaeological approach as proposed by Robert J. Sharer and Wendy Ashmore (2003), consisting of seven stages. The architectural features of Kuncen Mosque reflect traditional Javanese mosque characteristics as described by G.F. Pijper and Sumijati Atmosudiro, such as tiered roofs (atap tumpang), the absence of a minaret, soko guru (main pillars), and pawestren (a dedicated prayer space for women). Architectural elements such as terraces, porches, ornamentation, and spatial layout adopt forms from traditional Javanese houses while also integrating Islamic architectural principles. The analysis reveals an adaptation of form, technology, and ornamentation from Javanese local culture that has been harmonized with Islamic values. "
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2025
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yus Rusmiyati
"Topik skripsi ini mengenal pemanfaatan buku Islam oleh mahasiswa di Perpustakaan Masjid Kampus UI (Perpustakaan Iqra') dan Perpustakaan Masjid Kampus ITB (Perpustakaan Salman). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui buku Islam dalam subiek apa yang paling disukai oleh mahasiswa, unsur-unsur apa yang diperhatikan oleh mahasiswa dalam memillh buku Islam, penerbit buku Islam mania yang paling disukai oleh mereka dan alasan mereka menyukai penerbit tersebut. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui apakah koleksi buku Islam di kedua perpustakaan yang diteliti telah dimanfaatkan oleh mahasiswa dalam mengisi waktu luangnya, serta mengetahui apakah kedua per_pustakaan tersebut dapat memenuhi kebutuhan mahasiswa tehadap buku Islam. Dari hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar mahasiswa, baik di Perpustakaan Iqra' maupun di Perpustakaan Salman paling menyukai buku Islam dalam subjek Karya-karya Umum tentang Islam. Pada umumnya mahasiswa di Perpustakaan Iqra' menyukai buku Islam terbitan Gema Insani Press dengan alasan penulisnya berbobot, isinya berbobot, topiknya aktual, sampulnya/covernya bagus, terbitannya lengkap dan bahasanya mudah dipahami. Sedangkan di Perpustakaan Salman, pada umumnya buku Islam yang disukai adalah buku Islam terbitan Mizan, dengan alasan penulisnya berbobot, pembahasannya mendalam, topiknya aktual, sampul/covernya bagus dan terbitannya lengkap. Selain itu, jika mereka ingin memiliki buku sendiri, buku tersebut mudah didapat dan harganya murah. Dalam memilih buku Islam, mahasiswa pada umumnya lebih memperhatikan unsur subiek daripada unsur lainnya. Pada umumnya mahasiswa telah memanfaatkan perpustakaan masjid kampus untuk mendapatkan buku Islam. Namun sayangnya kedua belum dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan mereka."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1994
S15650
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Supriyadi
"Data arkeologi atau benda cagar budaya pada hakekatnya, baik secara kuantitatif maupun kualitatatif, selalu dihadapkan kepada masalah, yaitu ancaman terhadap kelestariannya. Ancaman kelestariannya berasal dari pengaruh dua hal, yaitu pengaruh aktivitas alam dan pengaruh perilaku manusia itu sendiri. Suatu benda cagar budaya memiliki peranan bagi kepentingan sejarah, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Qleh karena itu, diperlukan adanya suatu upaya pelestarian dan pemeliharaan benda cagar budaya utnuk melestarikan dan menyelamatkan data arkeologi yang masih tersisa itu dari ancaman kelestariannya. Upaya-upaya pelestarian itu mencakup atas upaya perlindungan, penetapan situs pemeliharaan dan pemanfaatan. Bangunan Masjid As-Shalafiyah adalah salah satu bangunan bersejarah yang ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya di Jakarta. Salah satu upaya, yang kaitannya dengan upaya pelestarian suatu bangunan adalah pemugaran. Kegiatan pemugaran merupakan upaya melestarikan dan memelihara bangunan bersejarah, yaitu dengan memperbaiki dan membangun kembali secara utuh seperti keadaan aslinya, tidak membuat bangunan menjadi baru. Dalam setiap kegiatan pemugaran yang harus diperhatikan, yaitu menghindari pemalsuan dan menghindari cap pribadi serta keaslian data. Tujuan penelitiannya adalah mendeskripsikan dan menjabarkan perubahan-_perubahan apa saja yang terjadi setelah dilakukannya suatu upaya pemugaran (renovasi). Di mana, upaya pemugaran terhadap bangunan Masjid As-Shalafiyah telah dilakukan cukup banyak dan sebagian besar dilakukan oleh masyarakat setempat dan sisanya oleh Pemerintah DKI Jakarta. Selain itu, tujuan lainnya adalah memberikan gambaran mengenai komponen-komponen bangunan Masjid As-Shalafiyah yang masih asli (lama) dan yang telah mengalami perubahan (baru). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian arkeologi pada umumnya, yaitu tahap observasi, tahap deskripsi dan tahap eksplanasi. Sumber-_sumber data berasal dari literatur-literatur, gambar, foto-foto, dan hasil wawancara. Dan juga buku-buku mengenai peraturan Perundang-undangan mengenai BCB. Hasil penelitiannnya adalah bahwa salah satu upaya untuk melestarikan dan melindungi bangunan Masjid As-Shalafiyah, sebagai bangunan bersejarah, yakni salah satunya adalah dengan ditetapkannya sebagai salah satu bangunan cagar budaya, yang dilindungi secara hukum. Dan kaitannya dengan upaya pelestarian dan perlindungannya, dilakukan suatu upaya pemugaran. Dan dapat dilihat bahwa sebenarnya berlangsungnya pemugaran (renovasi) telah mengalami perubahan. Baik secara bentuk, bahan, teknik pengerjaan dan tata letaknya. Sehingga, sangat disayangkan bahwa apa yang diharapkan dari suatu pemugaran bangunan cagar budaya tidak tercapai. Di mana, pemugarannya telah merubah bahkan telah menghilangkan komponen-komponen bangunan yang memiliki nilai arkeologis. Dilihat dari prinsip-_prinsip pemugaran dalam ilmu arkeologi, hal ini telah menyimpang atau tidak sesuai lagi dengan tata nilai dan kaidah-kaidah pemugaran dalam ilmu arkeologi, yaitu memperhatikan keaslian data. Dengan kata lain, pemugaran-pemugaran terhadap bangunan Masjid As-Shalafiyah telah terjadi pelanggaran-pelanggaran terhadap Undang-Undang tentang Pelestarian dan Perlindungan BCB."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2004
S11990
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Ratih Baiduri
"Masjid Raya Al Ma'shun Medan merupakan salah satu peninggalan dari Kesultanan Deli yang terdapat di kota Medan dan belum pernah diteliti secara khusus. Penelitian yang dilakukan sebelumnya hanya membahas secara singkat dan tidak mendalam. Masjid ini pernah disebutkan oleh peneliti Belanda bernama Van Ronkel dalam majalah NION (1916-1934) yang mengatakan bahwa Medan (Kota Raja) terkenal dengan kekayaannya dan keindahan masjidnya. la juga menyebutkan bahwa masjid ini dibangun di tanah kerajaan atas perintah pemerintahannya (Sultan). Masjid ini didirikan pada tahun 1906 M yaitu pada masa pemerintahan Sultan Ma'mun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah dengan bantuan seorang arsitek berasal dari tentara KNIL yang bernama TH. Van Erp. Penelitian terhadap Masjid Raya Al Ma'shun Medan bertujuan untuk memaparkan bentuk arsitektur dan ragam hias arsitektural maupun ornamental yang terdapat pada masjid, mengidentifikasi komponen-komponen asing yang ada pada masjid dan komponen-komponen yang mendominasi rnasjid dengan tujuan untuk mengetahui sejauhmana kehadiran komponen-komponen asing tersebut diterapkan pada masjid. Berdasarkan tujuan penelitian tersebut, maka tinjauan yang dilakukan adalah tinjauan arsitektural dan ornamental. Untuk mencapai tujuan penelitian ini dilakukan metode yang dilaksanakan secara bertahap. Tahap pertama yaitu pengumpulan data dilakukan studi kepustakaan dan studi lapangan. Tahap selanjutnya adalah pengolahan data (analisis) dilakukan kiassifikasi, tabulasi dan perbandingan dengan komponen-komponen arsitektural dan ornamental yang mempunyai persamaan dengan komponen-komponen yang terdapat pada masjid. Tahap akhir dan penelitian ini (penafsiran data) dilakukan dengan menggunakan data analogi sejarah. Sumber sejarah yang digunakan berupa sumber-_sumber sejarah yang memberikan gambaran mengenai Kesultanan Deli, data-data mengenai perkembangan arsitektur (kesenian) Islam dan arsitektur Eropa. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh beberapa kesimpulan. Komponen-komponen budaya yang mendominasi arsitektur dan ragam hias Masjid Raya Al Ma'shun Medan pada umumnya berasal dari Arsitektur Islam khususnya Mesir (periode Mamluk yang berlanjut sedikit pada periode Ottoman); Spanyol (Andalusia) dan Maghribi; India (periode Mughal Architecture); serta Arab (Timur Tengah) sedangkan komponen-komponen yang berasal dari Eropa (Kolonial) merupakan komponen pelengkap. Komponen-komponen budaya yang mendominasi masjid merupakan komponen-komponen yang pada umumnya berasal dari arsitektur Islam yaitu arsitektur yang berkembang pada masa puncak kejayaan kerajaan-kerajaan

"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1996
S11898
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Novita Ikasari
"ABSTRAK
Mesjid Agung Banyumas merupakan salah satu mesjid tua yang ada di Banyumas Jawa Tengah yang belum pernah diteliti secara khusus. Mesjid ini pernah disebutkan keberadaannya oleh Suwedi Montana dalam Laporan Penelitian Arkeologi di Jawa Tengah bagian Selatan no.35, PuslitArkenas, Jakarta.
Penelitian terhadap Mesjid Agung Banyumas bertujuan untuk melihat adanya pemakaian budaya Pra-Islam yang berkesinambungan pada Benda-benda peninggalan budaya masa Islam yang berupa mesjid sebagaimana tercermin pada bentuk arsitektur dan ragam hias Mesjid Agung Banyumas. Untuk melihat adanya masalah kesinambungan budaya tersebut, maka pada penelitian ini digunakan teori Akulturasi.
Dalam penelitian ini digunakan metode secara bertahap. Pada tahap observasi dilakukan studi kepustakaan yang dilakukan analisis terhadap data yang telah terhimpun yaitu dengan membuat pemeriaan yang terinci terhadap unsur-unsur bangunan Mesjid Agung Banyumas. La1u setelah itu dilakukan studi komparasi terhadap data-data pembanding yang berupa bentuk dasar Arsitektur Candi di Jawa dan Ragam hiasnya, Arsitektur Tradisional Jawa serta Ragam hiasnya, Mesjid-mesjid Kuno di Jawa dan mesjid Kuno di Banyumas. Penggunaan data ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang adanya Kesinambungan Budaya yang tercermin pada Mesjid Agung Banyumas.
Dari Penelitian ini dapat diketahui bahwa bentuk arsitektur dan ragam hias Mesjid Agung Banyumas sangat jelas memperlihatkan pengaruh baik dari arsitektur sandi maupun arsitektur tradisional Jawa, selain adanya unsur-unsur asing yaitu unsur arsitektur Belanda.

"
1995
S11939
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Somad
"Perkataan nisan berasal atau maesan jika dilihat dari segi-segi etimologi telah diuraikan oleh beberapa ahli. L.Ch. Damais berpendapat bahwa nisan/ maesan berasal dari kata mahisa yang artinya Kerbau, pada jaman pra Hindu terdapat tradisi untuk memasak atau menegakkan batu semacam menhir dengan disertai upacara pemotongan Kerbau. Bentuk nisan beraneka ragam demikian pula dengan ragam hiasnya mulai dari yang sederhana hingga nisan yang memiliki hiasan yang raya. Penelitian tentang nisan telah banyak dilakukan diantaranya oleh Hasan Muarif Ambary (1984) meneliti tipologi nisan di Indonesia, dan Halina Budi Santosa (1976) yang meneliti nisan Banten. Penelitian ini didasari anggapan bahwa artefak merupakan refleksi dari ide dan gagasan manusia dalam bentuk materi dan juga merupakan refleksi dari tingkah laku yang berpola yang diterima dan disepakati oleh masyarakat. Permasalahan yang ingin diketahui adalah mengenai bentuk dan perkembangan dan persebaran nisan di sekitar masjid tua di Jakarta abad XVII-XVIII M. Hasil yang diperoleh adalah bentuk -bentuk pilar dan papan persegi, bentuk - bentuk nisan ini tidak terlepas dari unsur-unsur yang terdapat dalam nisan seperti bentuk dasar (A), bentuk badan (B), bentuk kepala (C), bentuk puncak kepala (D), bentuk kaki (E), sayap (F), dan ragam bias (F) diperoleh tipe sebanyak 20 tipe nisan utama, dan 31 tipe dengan variannya. Sedangkan hasil metode seriasi tipe III, IV, VI,VII, dan XIII, merupakan nisan yang menunjukan perkembangan popularitas , ini terlihat pada penggunaan, dan persebaran antar situs di Jakarta berdasar kronologisnya. Sedang untuk popularitas suatu tipe pada suatu situs, tertinggi ada pada tipe III pada masjid Kebon Jeruk (1786 M) dan tipe XIII (1761 M) yang mencapai tingkat 100%"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2003
S11998
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yudi Suhartono
"Mesjid Keramat merupakan salah satu mesjid tua yang ada di Kerinci (Jambi) yang belum pernah diteliti secara khusus. Masjid ini pernah disebutkan oleh peneliti Belanda bernama E.A Klerks dalam laporan perjalanannya yang terbit tahun 129 sebagai mesjid terbagus di seluruh daerah Kerinci. Penelitian terhadap mesjid Keramat bertujuan untuk melihat percampuran antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan Kerinci sebagaimana tercermin dari keberadaan mesjid Keramat. Untuk melihat masalah percampuran kebudayaan maka pada penelitian ini digunakan teori Akulturasi. Dalam penelitian ini digunakan metode secara bertahap. Pada tahap Observasi dilakukan studi kepustakaan yang bertujuan untuk mengumpulkan sumber kepustakaan yang diperlukan. Selain itu juga digunakan studi lapangan (pengamatan langsung) dengan cara melakukan pengamatan dan perekaman yang terinci pada unsur-unsur bangunan mesjid Keramat. Selanjutnya pada tahap pengolahan data dilakukan analisis terhadap data yang telah terhimpun yakni dengan membuat pemerian yang terinci terhadap unsur-unsur bangunan mesjid Keramat. Tahap akhir penelitian ini (Penafsiran data) dilakukan dengan menggunakan data analogi. Sumber analogi yang digunakan berupa naskah-naskah yang memberi gambaran tentang masyarakat Kerinci sebelum Islam masuk. Selain itu juga digunakan sumber etnografi berupa arsitektur tradisional Kerinci sebagai komponen budaya lokal sebelum proses akulturasi berlangsung. Di samping itu juga digunakan data arsitektur tradisional Minangkabau. Penggunaan data ini didasarkan atas pertimbangan bahwa Islam di Kerinci mendapat pengaruh dari Minangkabau. Pada kenyataannya meskipun agama Islam dapat diterima oleh masyarakat Kerinci, tetapi tidak semua unsur dalam kebudayaan Kerinci berubah, salah satu contohnya adalah arsitektur. Dari penelitian yang dilakukan di mesjid Keramat, diketahui bahwa bentuk bangunan mesjid Keramat sangat jelas memperlihatkan pengaruh arsitektur tradisional Kerinci. Sedangkan pengaruh arsitektur tradisional Minangkabau hampir tidak ditemukan pada mesjid Keramat."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1994
S11921
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mardika Eko Trinisat
"Hiasan pada Masdjid Agung Banyumas didominasi bentuk floral dan geometris. Berdasarkan kemiripannya dengan hiasan-hiasan lain juga dapat disimpulkan bahwa ada banyak hiasan pada Mesdjid ini yang tidak jauh berbeda dengan motif pada kain batik yang berkembang di Jawa termasuk Banyumas. Selain itu juga terdapat kemiripan-kemiripan yang ada pada benda-benda atau bangunan lain dari kebudayaan yang berbeda. Selain itu dapat pula dikemukan bahwa Mesdjid Agung Banyumas juga menggunakan hiasa-hiasan bersifat simbolis yang berkembang pada masa Hindu Buddha seperti adanya motif Hiranyagarbba yang tampak di atas pintu Mihrab Masdjid Agung Banyumas, kemungkinan adanya terkaitan antara hiasan di Mesdjid Agung Banyumas dengan hiasa-hiasan lain dari kebudayaan yang berbeda."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2000
S11947
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>