Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 75 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sekar Oktavia Daru
"Pada bulan Juli dan Agustus 2018 terjadi serangkaian 4 gempa bumi dengan magnitude sebesar > 6 Mw. Peristiwa kejadian gempa bumi pertama terjadi pada tanggal 27 Agustus 2018 dengan magnitudo 6.4 Mw, peristiwa kejadian gempa bumi kedua terjadi pada tanggal 5 Agustus 2018 dengan magnitude 6.9 Mw, peristiwa ketiga dan keempat terjadi pada tanggal 19 Agustus 2018 dengan magnitude sebesar 6.3 Mw dan 6.9 Mw. Penelitian ini meneliti tentang kemungkinan munculnya tanah longsor yang terjadi akibat peristiwa gempa bumi dengan menggunakan metode Sistem Informasi Geografis dan PGA (Peak Ground Acceleration). Metode Penginderaan Jauh digunakan untuk mengetahui kejadian tanah longsor dan metode PGA digunakan untuk memperkirakan kemungkinan percepatan gerakan tanah maksimum yang terjadi. Penelitian ini menggunakan sumber data berupa katalog riwayat gempa bumi Pulau Lombok dari tahun 1980 – 2022, informasi karakteristik mengenai zona sesar di sekitar Pulau Lombok, factor-faktor pemicu terjadinya longsor dan nilai percepatan gerakan tanah maksimum yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan daerah terjadinya kejadian longsor cenderung berada di bagian selatan wilayah penelitian yaitu di kecamatan Kayangan, Gangga dan Bayan dengan litologi yang didominasi oleh endapan gunung berapi berumur Pleistosen

In July and August 2018 there were 4 earthquakes with a magnitude of > 6 Mw. The first earthquake occurred on 27 August 2018 with a magnitude of 6.4 Mw, the second earthquake occurred on 5 August 2018 with a magnitude of 6.9 Mw, the third and fourth events occurred on 19 August 2018 with a magnitude of 6.3 Mw and 6.9 Mw. The impact of damage can be minimized, it is necessary to mitigate the earthquake disaster on Lombok Island by conducting research on the possibility of landslides that occur due to earthquake events using the PGA (Peak Ground Acceleration) method. This method is used to estimate the maximum ground motion acceleration that occurs. This study uses data sources in the form of a catalog of the history of the Lombok earthquake, information on the characteristics of the fault zone around the island of Lombok, the triggering factors for landslides and the acceleration of the maximum ground acceleration that occurs. The results show that the area where landslides occur tends to be in the southern part of the study area, namely in Kayangan, Gangga and Bayan sub-districts with lithology dominated by Pleistocene volcanoes."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andini Dwi Khairunnisa Daulay
"Pengembangan Kawasan Mandalika yang berada di Kabupaten Lombok Tengah berkaitan erat dengan penentuan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK Mandalika) dan pengoperasian Sirkuit Internasional Mandalika. Potensi pariwisata yang menjadi ciri khas, tidak terlepas dari berbagai objek wisata pantai yang terletak di KEK dan penyangga, yakni Pantai Kuta yang berada di kawasan inti KEK dan Pantai Selong Belanak yang berada di kawasan penyangga KEK. Pengembangan kawasan dilihat melalui kemunculan kawasan bisnis yang ditandai dengan menjamurnya fasilitas secara spasial sehingga membentuk pola keruangan Kawasan Bisnis Rekreasional atau Recreational Business District (RBD) dengan tiga komponen yaitu Large Shopping Center (LSC), Commercial Pedestrian Street (CPS), dan Urban Leisure Area (ULA). Metode kuantitatif berupa Analisis Tetangga Terdekat/ Nearest Neighbour Analysis (NNA) dan analisis densitas atau kepadatan titik melalui Kernel Density Estimation (KDE), serta besar pengaruh jarak dari pusat kota dan atraksi yang diukur melalui Regresi Linier. Pantai Kuta memiliki RBD lebih signifikan dengan 605 titik fasilitas dan Pantai Selong Belanak 103 titik. Pola keruangan RBD Pantai Kuta dan Selong Belanak memiliki kategori LSC dan CPS yang cenderung memadat pada bentuk medan asal laut (wilayah pesisir) dan penggunaan lahan pertanian yang semula dimanfaatkan sebagai perkebunan. Melalui fungsi jalannya, pola keruangan RBD Pantai Kuta dengan kategori LSC dan CPS cenderung memadat secara linier di jalan kolektor, sedangkan Pantai Selong Belanak di jalan lokal. Pengaruh pengembangan Kawasan Mandalika menunjukkan nilai >75% yang berpengaruh kuat, dimana semakin dekat jarak RBD dengan pusat atraksi dan pusat kota menyebabkan jumlah fasilitas semakin banyak dan membentuk kawasan bisnis padat dan sebaliknya

The development of the Mandalika Area in Central Lombok Regency is closely related to the determination of the Mandalika Special Economic Zone (SEZ) and the operation of the Mandalika International Circuit. The characteristic tourism potential is inseparable from the various beach tourism objects in the SEZ and its buffers, namely Kuta Beach, which is in the core area, and Selong Belanak Beach in the SEZ's supporting area. Regional development is seen through the emergence of business facilities spatially to form a Recreational Business District (RBD) spatial pattern. RBD consists of three components; Large Shopping Center (LSC), Commercial Pedestrian Street (CPS), and Urban Leisure Area (ULA). Quantitative methods include Nearest Neighbor Analysis (NNA) and density analysis or point density through Kernel Density Estimation (KDE), as well as the influence of distance from the city center and attractions measured by Linear Regression. Kuta Beach has a more significant RBD with 605 facility points, and Selong Belanak Beach has 103 points. The spatial pattern of the RBD of Kuta Beach and Selong Belanak has LSC and CPS categories which tend to condense in the shape of the terrain originating from the sea (coastal areas) and the use of agricultural land that was originally used as plantations. Through its road function, the spatial pattern of Kuta Beach RBD with LSC and CPS categories tends to condense linearly on collector roads, while Selong Belanak Beach is on local roads. The effect of the development of the Mandalika area shows a value of >75% means it has a strong influence, where the closer the RBD is to the center of attractions and the city center, the more facilities will form a denser business area"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Chloe Shada Nareswari
"Latar belakang: Resistensi flukonazol pada Candida krusei semakin menjadi perhatian dalam pengobatan kandidiasis superfisial dan kandidemia. Propolis Lombok yang kaya akan flavonoid merupakan alternatif yang memiliki potensi. Penelitian ini mengeksplorasi aktivitas antijamur propolis Lombok terhadap pertumbuhan Candida krusei. Metode: Eksperimen in vitro ini menggunakan metode difusi agar sumuran (untuk pengukuran diameter zona hambat), dan mikrodilusi (untuk perubahan densitas optik) yang dilanjutkan dengan kultur jamur (untuk penentuan nilai KHM). Kelompok perlakuan pada metode difusi agar sumuran terdiri dari ekstrak etanol propolis Lombok pada konsentrasi 500.000 ppm, 700.000 ppm, dan 1.000.000 ppm, flukonazol (kontrol positif), dan DMSO 10% (kontrol negatif), serta penambahan kontrol pertumbuhan dan kontrol media pada metode mikrodilusi. Hasil: Terdapat perbedaan yang signifikan antar kelompok pada metode difusi agar sumuran (p = 0,025) dan mikrodilusi (p = 0,001), dengan rata-rata zona hambat terbesar pada 700.000 ppm (9,67 mm) dan rata-rata penurunan densitas optik terbesar pada 500.000 ppm (0,2308). Tes post hoc untuk metode difusi agar sumuran tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Untuk metode mikrodilusi, perbedaan densitas optik secara signifikan lebih rendah untuk 500.000 ppm dibandingkan dengan kontrol negatif dan kontrol medium, serta untuk 700.000 ppm dibandingkan dengan kontrol positif, kontrol pertumbuhan, dan kontrol medium. Kultur jamur menunjukkan pertumbuhan Candida krusei pada semua konsentrasi propolis. Kesimpulan: Propolis Lombok yang didapatkan dari Trigona clypearis berpotensi menghambat pertumbuhan Candida krusei. Namun, untuk dapat dijadikan sebagai pengobatan alternatif, efeknya harus dioptimalkan. Nilai KHM tidak dapat ditentukan.

Introduction: Candida krusei’s fluconazole resistance is a growing concern in superficial candidiasis and candidemia treatment. Lombok propolis, rich in flavonoids, is a potential alternative. This research explores the antifungal activity of Lombok propolis against Candida krusei growth. Method: In vitro experiments used Agar well diffusion (for inhibition zone diameter measurement), and Broth microdilution (for optical density changes) followed by fungal culture (for MIC determination). Groups in Agar well diffusion included Lombok propolis ethanol extracts at concentrations of 500.000 ppm, 700.000 ppm, and 1.000.000 ppm, fluconazole (positive control), and 10% DMSO (negative control), with the addition of growth control and medium control in Broth microdilution. Result: This study found significant between-group differences in Agar well diffusion (p = 0,025) and Broth microdilution (p = 0,001), with the largest average inhibition zone at 700.000 ppm (9,67 mm) and the greatest average optical density decrease at 500.000 ppm (0.2308). Post hoc tests for Agar well diffusion revealed no significant difference and for Broth microdilution the optical density difference was significantly lower for 500.000 ppm compared to negative control and medium control, as well as for 700.000 ppm compared to positive control, growth control, and medium control. Fungal culture showed Candida krusei growth at all propolis concentrations. Conclusion: Lombok propolis collected from Trigona clypearis has the potential to inhibit the growth of Candida krusei. However, to be established as an alternative treatment, its effect has to be optimized. MIC value determination was inconclusive."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Rizky Reynda
"Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat merupakan pulau yang kaya akan ragam pada sektor geologis. Pegunungan vulkanik seperti Gunung Rinjani yang aktif hingga saat ini mengeluarkan berbagai macam mineral yang akhirnya terendapkan. Pulau Lombok juga memiliki berbagi macam warna pasir yang tersebar diseluruh penjuru pulau, mulai dari yang berwarna gelap pada bagian utara, berwarna putih pada bagian selatan dan berwarna merah muda pada tenggara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi komposisi mineral pasir pantai Pulau Lombok. Penelitian dimulai dengan pengambilan dua belas sampel pasir pantai dari seluruh Pulau Lombok, yang kemudian diolah menjadi sayatan tipis untuk dianalisis menggunakan metode petrografi. Berdasarkan kandungan mineral, ukuran butir dan bentuk butir, pasir pantai Pulau Lombok dapat dibedakan menjadi 4 Jenis; Kelompok 1 yang didominasi oleh mineral mafik dan fragmen litik, memiliki ukuran butir pasir halus hingga sangat kasar, serta memiliki derajat kebundaran anguler hingga subanguler. Kelompok 2 yang didominasi oleh mineral intermediat hingga felsik dan fragmen litik. Memiliki ukuran butir pasir sangat halus hingga sangat kasar, serta memiliki derajat kebundaran subanguler hingga subrounded. Kelompok 3 yang didominasi oleh mineral kalsit. Memiliki ukuran butir pasir sangat halus hingga sangat kasar, serta memiliki derajat kebundaran subanguler hingga subrounded, dan Kelompok 4 yang didominasi oleh mineral kalsit dan litik, memiliki ukuran butir pasir sangat halus hingga sangat kasar, serta memiliki derajat kebundaran subanguler hingga subrounded.

Lombok Island, West Nusa Tenggara is an island that is rich in diversity in the geological sector. Volcanic mountains such as Mount Rinjani, which are active until now, release various kinds of minerals which are eventually deposited. Lombok Island also has various kinds of sand colors scattered throughout the island, ranging from dark in the north, white in the south and pink in the southeast. This study aims to determine the variation of the mineral composition of beach sand on the Island of Lombok. The study began by taking twelve samples of beach sand from all over Lombok Island, which were then processed into thin section for analysis using the petrographic method. Based on mineral content, grain size and grain shape, Lombok Island beach sand can be divided into 4 group; Group 1 is dominated by mafic minerals and lithic framents, has fine to very coarse sand grain sizes, and has a degree of roundness from anguler to subanguler. Group 2 is dominated by intermediate to felsic minerals and lithic fragments. It has a very fine to very coarse sand grain size, and has a degree of roundness from subanguler to subrounded. Group 3 is dominated by the mineral calcite. It has a very fine to very coarse sand grain size, and has a degree of roundness from subangular to subrounded, and Group 4 which is dominated by calcite and lithic minerals, has a very fine to very coarse sand grain size, and has a degree of roundness from subanguler to subrounded."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Agusni Rohmayanti
"Stunting merupakan perawakan pendek pada balita yang mencerminkan suatu proses kegagalan dalam mencapai potensi pertumbuhan linier yang masih menjadi permasalahan status gizi tingkat berat di Indonesia. Angka stunting di Kabupaten Lombok Timur (43,52%) pada tahun 2018 lebih tinggi dibandingkan dengan angka stunting Provinsi NTB (33,5%) dan Nasional (30,8%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan Kejadian Stunting pada Balita (0 – 59 Bulan) di Kabupaten Lombok Timur. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross-sectional dan memanfaatkan data sekunder dari Riskesdas 2018 dengan jumlah sampel sebesar 283 balita usia 0 – 59 bulan. Data dianalisis menggunakan uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 43.1% balita yang mengalami stunting. Hasil analisis bivariat menyatakan terdapat hubungan yang signifikan antara berat badan lahir balita, tinggi badan dan Pendidikan terakhir Ibu, namun tidak ada korelasi positif antara stunting dengan jenis kelamin, kebiasaan BAB, riwayat diare, riwayat ISPA, imunisasi dasar, konsumsi vitamin A, status pekerjaan ibu, kebiasaan merokok ayah, jumlah anggota rumah tangga, jumlah balita, IMD, kepemilikan buku KIA, ANC, ASI eksklusif, wilayah tempat tinggal, dan waktu tempuh ke Puskesmas. Faktor dominan stunting pada balita (0 – 59 bulan) di Kabupaten Lombok Timur, yaitu berat badan lahir (OR = 3.21). Kesimpulan dari penelitian ini adalah balita yang memiliki berat badan lahir <3000gram memiliki risiko 3.21 kali untuk mengalami stunting.

Stunting is a short stature in toddlers which reflects a process of failure to achieve linear growth potential which is still a severe nutritional status problem in Indonesia. The stunting rate in East Lombok Regency (43.52%) in 2018 was higher than the stunting rate of NTB Province (33.5%) and National (30.8%). This study aims to determine the dominant factor in Stunting Incidence in Toddlers (0 – 59 Months) in East Lombok Regency. This quantitative study used a cross-sectional design and utilized secondary data from Riskesdas 2018 with a total sample of 283 aged 0 – 59 months. Data were analyzed using the chi-square test and multiple logistic regression. The results of this study showed that there were 43.1% of children under five were stunted. The results of the bivariate analysis stated that there was a significant relationship between the birth weight of toddlers, height, and mother's last education, but there was no positive correlation between stunting and gender, bowel habits, history of diarrhea, history of ARI, basic immunization, vitamin A consumption, work status mother, father's smoking habit, number of household members, number of children under five, BMI, ownership of MCH book, ANC, exclusive breastfeeding, area of ​​residence, and travel time to the Puskesmas. The dominant factor for stunting in toddlers (0 – 59 months) in East Lombok Regency, namely birth weight (OR = 3,206). The conclusion of this study is that toddlers who have a birth weight of <3000 grams have a risk of 3,206 times of experiencing stunting."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mutiara Agustin
"Gerakan tanah yang terjadi secara berulang dapat memicu terjadinya tanah longsor. Gempabumi yang kuat juga dapat memicu adanya tanah longsor (Meunier dkk., 2013). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa potensi gerakan tanah dan longsoran akibat gempa di wilayah Lombok Timur. Tingkat kerentanan gerakan tanah diperoleh dari hasil skoring menggunakan pendekatan model Puslittanak (2004), sedangkan sebaran longsor akibat gempa menggunakan nilai PGA (Peak Ground Acceleration) untuk analisis. Kemudian dilakukan overlay dengan peta-peta lainnya seperti stratigrafi, curah hujan, tataguna lahan, jenis tanah, dan kemiringan lereng. Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa Kabupaten Lombok Timur termasuk dalam kawasan berpotensi tinggi terjadinya gerakan tanah. Longsoran yang terjadi akibat gempa tersebar di wilayah nilai PGA 167-379,2 gal.

Continuous land movement can trigger landslides. In addition, landslides can also occur due to a strong earthquake (Meunier et.al, 2013). This study aims to analyse potential of land movement and landslides caused by an earthquake in the East Lombok region. The level of vulnerability to land movement is obtained from the scoring results using the Puslittanak (2004) model approach, while the distribution of coseismic landslides uses the PGA (Peak Ground Acceleration) value for analysis. Then it is overlaid with other maps such as rock type, rainfall, land use, soil type, and slope. From this research East Lombok Regency is included in an area with a high potential for land movement. Landslides that occurred as a result of the earthquake spread across the PGA value area of ​​167-379.2 gal."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hirsanuddin
"Akhir-akhir ini kita tengah menyaksikan suatu proses menuju krisis sosial yang disebabkan oleh sengketa tanah. Tanah sejak lama memang menjadi hal yang sangat rawan dan menjadi potensi pemicu krisis sosial. Gejala krisis sosial akibat dari sengketa tanah telah memanifestasi dalam bentuk pertentangan kepentingan atas tanah, antara rakyat dengan negara maupun antara rakyat dengan industri merupakan sengketa yang telah terjadi di mana-mana, dan pada setiap periode zaman sistem sosial atau formasi sosial.
Pembahasan tentang kasus sengketa tanah di atas mengingatkan kita pada dua hal pokok yaltu: 1. Bahwa persoalan petani sebagai pemilik/penggarap tanah bukan hanya soal persengeketaan masalah tanah. Masalah tanah pada dasarnya erat kaitannya dengan pilihan kebijakan agraria dari suatu era tertentu. 2. Bahwa masalah tanah bagi petani tidak berdiri sendiri, dia merupakan bagian dari persoalan besar yang menyangkut aspek politik, ekonomi, budaya dan hukum. Sementara kasus sengketa tanah juga terjadi melalui mekanisme lain seperti: Melalui Hak Penguasaan Hutan (HPH). Program Hutan Tanaman Industri (HPI) dan penggunaan tanah Pembangunan Kawasan Wisata, waduk dan lain-lain.
Di Pulau Lombok kasus sengketa tanah mulai mengemuka sekitar tahun 1986, ketika pemerintah menetapkan Nusa Tenggara Barat sebagai daerah tujuan wisata. Banyak kasus sengketa tanah terjadi seperti: Kasus Gill Trawangan, Kuta dan yang terakhir yang sempat mendapat perhatian di tingkat nasional adalah kasus pembebasan tanah kawasan pariwisata Rowok yang menjadi kajian dalam tulisan ini, dengan mengajukan permasalahan sebagai berikut: Apakah yang menjadi penyebab terjadinya sengketa dan bagaimana cara penyelesaiannya.
Untuk memecahkan persoalan tersebut metode penelitian yang digunakan adalah dengan mengumpulkan berbagai macam sumber yang ada kaitannya dengan masalah yang dikaji, di samping itu mengadakan wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terlibat dalam sengketa tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menangani sengketa pembebasan tanah kawasan pariwisata Rowok tidak terlepas dari keterlihatan aparat secara langsung baik aparat keamanan maupun aparat pemerintah daerah, sehingga menimbulkan perlawanan yang dilakukan oleh pihak penggarap. Perlawanan yang dilakukan dengan melalui jalur di luar pengadilan formal. Tetapi upaya yang dilakukan oleh pihak penggarap selalu mengalami kegagalan. Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Ujung Pandang maupun Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya yang mengadili perkara sengketa tanah tersebut mengalahkan para penggarap. Dengan putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya tersebut menambah sejarah bahwa sengketa antara petani pemilik/penggarap melawan penguasa maupun pemilik modal, petani pemilik/penggarap senantiasa dalam posisi yang lemah dan selalu dengan mudah dikalahkan oleh penguasa atau pemilik modal."
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 1996
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sudirman Wilian
"ABSTRACT
The goal of this research is to investigate the degree to which the Sumbawa language, one of the minority languages in Lombok, is maintained by its speakers. It is also aimed at finding out if there is a correlation between language shifts, in the event that shift has occurred, and ethnic identity change on the part of the Sumbawa bilinguals. The population of the study is the whole Sumbawa speech community spreading out in several villages on the eastern part of Lombok. The main corpus of the data was extracted from the answers of the respondents by means of a survey questionnaire. Along with the survey questionnaire, the data collection was also triangulated with the ethnographic method, i.e. participant observations and interviews supplemented with the perusal of documentary. The quantified data were then analyzed using several statistical techniques, namely Spearman's correlation, Anova, and T-test in addition to the descriptive statistics.
This study shows several interesting findings. One of the clearest findings to emerge from this reserach is that the Sumbawa language in Lombok is still highly maintained by the Sumbawa speech community although it has been existing right there for approximately three centuries. This is shown by the overall mean score of language choice in the home domain, which yields a figure of 1.66 (the rating scale of language choice being 1-5, with 1= [almost] always bahasa Sumbawa [BSb] and 5 = [almost] always bahasa Sasak [BSs]). When correlated with the language attitude of the Sumbawanese speakers, it shows that there is a correlation between language choice as a whole and language attitude, which implies that the more positive the language attitude of the respondents are the more likely it is for the language to be maintained. This maintainance of the language, however, is not congruent with the maintenance of the ethnic identity of the Sumbawanese. There is a clue that the Sumbawa ethnic identity is now transforming into its new form, namely Sasak.
In response to the questionnaire items on self-identification, 47,5% agree and 14,0% strongly agree on the statements of self-identification proposed, the rest 12,1% neither agree nor disagree, 22,7 disagree and 3,3% strongly disagree (n = 244). This indicates that Sumbawa-Sasak bilinguals (SS) in Lombok tend to be more identified as Sasak rather than Sumbawa. Moreover, based on the overall mean score of self-identification and ethnic identity (scale 1-5) it reveals that the rate being identified as Sasak becomes higher as the age becomes younger (implicational scale being 83,33%). When asked if Sasak and Sumbawa share a common custom and tradition, 68,0% answered different, 17,2% stated the same, 14,2% were indifferent, and 0,4% did not respond. However, in terms of cultural habits or traditional custom practiced when having feast or traditional family ceremonies, 60,7% employed a mixture of Sasak and Sumbawa custom, 27,9% used Sasak and only 11,5% still used Sumbawa.
For the SS in Lombok, it seems that the language preservation is important for several reasons. The first and most dominant of all is that language is a symbol of its distinct intragroup identity as is clearly shown by the patterns of its language use. BSb is used as the main medium of communication in the home domain, neighborhood
domain, religious domain as well as in infra-villager group relations. In the meantime, BSs is used only for communication with inter-villager group relations. For communication in public sphere such as school or government offices and in certain situations, however, BSs is preferable beside bahasa Indonesia. Therefore, these two related languages form a kind of diglossic or poliglossic situation, whereby BSb serves the L function, BSs the M (medium), and bahasa Indonesia (BI) the H function. BI, however, is used only in a very formal situation. What is surprising is that the pattern of language choice and use tends to change along the age parameter, in that at the lower level of age group, when Sumbawan speech community begins to study and acquire BSs for a wider means of communication and socialization, the mean score is low. This score becomes higher and higher as the respondents grow older and get matured and reaches its peak at 31-40 age groups. After that it goes down as the respondents grow older and older. This may suggest that age group has no effect on the language choice, in the sense that the up and down movement of the language use as performed by the mean score shows that the Sumbawan needs BSs not only as lingua franca but also as a means of being accepted as members of the wider community for socialization. When they come back to their village they do not need it anymore and use BSb again.
Secondly, the use of BSb as a primary means of communication in the home domain and neighborhood is made possible because of the isolation of their residential areas from the dominant group, the majority of them live seperately from the Sasak karmpoerrg in Lombok They have their own mosques and sometimes elementary schools with homogenious students. These all may facilitate to use mother tongue as their medium of intra-group communication, which may then brings pride in their language. But this does not mean that they are also proud of their `ancestral ethnic' identity. The fact is that most of them said they are Sasak. However, eventhough inter-marriage rate is relatively high, this does not seem to discourage the use of BSb in the home domain for as long as they live in the Sumbawan community. The t -test statistical analysis shows that thre is no difference in the language choice and use between intra-marital couples and inter-marrital ones (the obtained t value is -.768 critical t value 1.960, and thus the null hypothesis is accepted).
"
2006
D612
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Rahmah
"Dari uraian yang terdapat pada Latar Belakang, tampak adanya dua macam penganut Islam di Pulau Lombok. Hal ini dilihat dari cara mereka melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Kedua macam Islam ini akan ditemui dalam pembahasan skripsi, namun kadar pembahasannya berbeda. Dari uraian latar belakang itu juga timbul pertanyaan: 1- Mengapa di Lombok ada penganut Islam Waktu-Telu? 2- Sejauh mana penganut Islam Waktu-Telu menjalankan ajaran Islam? Setidaknya dua masalah tersebut yang mendorong penulis untuk membuat tulisan jawaban dari pertanyaan pertama dimaksudkan agar memberikan gambaran yang jelas mangapa timbul aliran Islam Waktu-Telu di Lombok, pada umumnya, dan khususnya di Bayan. Untuk menjawab pertanyaan kedua, penulis memilih penganut Islam Waktu-Telu di daerah Bayan, Lombok Barat. Pemilihan ini berdasarkan adanya informasi, bahwa di Bayan sekarang masih ada penganut Islam Waktu-Telu. Dengan demikian, data-data yang berhubungan dengan ini, hanya berlaku untuk daerah Bayan. Dari pembahasan skripsi ini juga, secara tidak langsung, kita dapat melihat bagaimana proses dan berkembangnya Islam di Lombok."
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 1987
S13380
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Siswoyo
"
ABSTRAK
Jika terjadi gempabumi, efek yang ditimbulkan pada suatu tempat diantaranya adalah percepatan tanah maksimum dan cepat rambat maksimum. Harga besaran kedua parameter ini merupakan resiko gempabumi tektonik. Dari beberapa faktor tertentu akan didapatkan nilai percepatan tanah di setiap tempat yang berbeda,dan diambil nilai percepatan tanah yang terbesar (maksimum) di tempat atau titik tersebut.
Dalam penelitian ini didapatkan nilai percepatan maksimum mulai dari 40.0 gal sampai dengan 180.0 gal dengan interval 10.0 gal. Angka ini dapat digunakan dalam perencanaan bangunan tahan gempa.
Berdasarkan pola penyebaran nilai percepatan tanah maksimum yang berbeda di jeberapa titik tertentu dapat dibuat kontur yang merupakan peta hasil, yang dapat dipergunakan sebagai informasi faktor resiko pada perhitungan perencanaan bangunan tahan gempa di wilayah Bali dan Lombok.
"
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 1998
S33748
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8   >>