Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 82 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sidabutar, Tumpak
"ABSTRACT
The algal blooms or red tide that resulting mass mortality of fish and other biota are frequently occurred in coastal water: where human activities and population increase in significant. The impacts not only to marine life and environmental quality, but also impact on the fishery economic, food security and health consumer; and also psychology of the surrounding community. In some countries the impact of aquatic disaster has resulted in human fatalities after consuming fishery products. The incidence of red tide phenomenon is characterized by the appearance of other colors in the surface water such as red, red-brown or greenish depending on the causative speciean fact, the incidence of algal bloom has a connection with the amount of nutrients concentration in the waters, which sourced from human activities in the upland, domestic waste, agricultural, industrial waste, etc, which run into the water via rivers or run off 0n the other hand, the increasing eutrophication may lead to alteration of nutrients composition in the waters and can trigger the bloom of toxic species in the waters (toxic algal bloom)."
Jakarta: Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI, 2016
575 OSEANA 41:1 (2016)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Ferdy Gustian Utama
"ABSTRACT
Satellite Image Utilization for Tsunami Detection Tools and Impact Analysis :The Study of Indonesia Impact. Tsunami is one of hazards that is not easily predicted, however, its propagation can be modeled and the damage caused by tsunami can be analyzed. The use of high-resolution satellite data and altimetry satellite data provide an alternative to develop the technology towards disaster management as well as to analyze the vulnerability of coastal areas which are potentially impacted by the tsunami. In the analysis process of potential tsunami prone areas, several types of indices such as ND VI(Normalized Difference Vegetation Index), NDSI(Normalized Difference Snow Index), and ND WI(Normalized Difference Water Index) can be used. Classification of damage on constructions structure is also measured in order to estimate the victim and the extent of damage caused by the disaster."
Jakarta: Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI, 2016
575 OSEANA 41:1 (2016)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Dewi Surinati
"ABSTRACT
Buoy system could be used to obtain time series data on various meteorological and oceanographic parameters that are useful for developmental project in coastal and oceans, and climate prediction. Buoy development is to build a telemetry system to obtain valid data and can be reproduced so it can be used any time and have a high accuracy. Good data is data that has continuity as time series data. The need of real time data is not only for the climate monitoring and forecasts but also knowledge of climate phenomenon like El Nino and La Nina. The sensors mounted on surface buoys: wind sensors, humidity, pressure, shortwave radiation, and rain gauges."
Jakarta: Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI, 2016
575 OSEANA 41:1 (2016)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Mulyanto
"ABSTRACT
There is a long history of marine research in Indonesia, starting from mid December 1905 when Dr. J. C. Koningsbergena terrestrial zoologist,established the Visscherii Laboratorium te Batavia (Jakarta F ishery Laboratory) at Jalan Akuarium Pasar Ikan, Jakarta. During its development this institution, which was the forerunner of the Research Center for Oceanography LIPI, underwent a series of name changes, the development of its tasks and fimctions, and improvements in its institutional status font branch to national level. There were also changes in how the institution was administered, and it finally came under the auspices of the Indonesian Institute of Sciences, which was established under the Decree of the President of Republic of Indonesia Number 128/1967, 23 August 1967. To support research activities, this marine research institution has had several research vessels since it first began and, to cover Indonesian waters more widely, it also established Marine Research Stations or Technical Implementation Units in several other parts of Indonesia. Historical events happen only once and are never repeated exactly the same again, yet they can determine people Is lives, and still be remembered for all time. As the oldest institution for marine research in Indonesia, at 110 years (mid December 1905 mid December 2015), it is valuable to have an archive of facts and information about significant historical milestones, about its founder; its development, and the history of marine research in Indonesia. In addition, this is essential information for leaders and employees of the Research Center for Oceanography LIPI, both now and in the future, and may also benefit the academic community in general."
Jakarta: Pusat Penelitian Oseanografi - LIPI, 2016
575 OSEANA 41:1 (2016)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Wiji Mutia Hardianti
"Sebagai Negara kepulauan dengan luas area perairan sebesar 5.8 juta km, sektor kelautan dan perikanan Indonesia menyimpan potensi sumber daya alam yang sangat besar. Oleh karenanya sektor kelautan dan perikanan kini telah menjadi salah satu sektor yang menjadi prioritas nasional. Salah satu upaya dalam mendorong pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang dilakukan pemerintah adalah dengan menerbitkan kebijakan fasilitas pengurangan pajak penghasilan untuk penanaman modal (tax allowance) dalam rangka menarik investor.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi dari kebijakan tax allowance dan menganalisis faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan kebijakan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literature dan wawancara mendalam. Data menyatakan bahwa fasilitas tax allowance ini belum dimanfaatkan secara optimal pada sector kelautan dan perikanan. Implementasi dapat dipengaruhi oleh konten dari kebijakan dan konteks dari implementasi itu sendiri.
Hasil dari penelitian menunjukkan Implementasi kebijakan tax allowance di sektor kelautan dan perikanan belum maksimal dikarenakan beberapa faktor seperti pembina sektor yang belum tepat dalam memetakan kelompok sasaran, kurangnya sosialisasi, dan terdapat kepentingan yang berbeda diantara aktor yang terlibat.
Adapun faktor pendukung dalam pelaksanaan kebijakan ini yaitu evaluasi yang dilakukan secara berkala, akan diterapkannya sistem OSS. Sementara faktor penghambat implementasi yaitu belum tuntasnya permasalahan IUU Fishing, adanya kebijakan PNBP yang bersifat disinsentif serta regulasi yang terlalu berat. Kementerian Kelautan dan Perikanan harus meriviu bidang usaha yang tepat untuk diberikan fasilitas tax allowance dan melaksanakan sosialisasi secara intensif.

As an archipelagic country with 5.8 million km of water area, marine and fisheries sector hold enormous potential of natural resources. Thus, marine and Fisheries sector has become one of the national priority. In order to boost the development of these sectors, the government has launched a policy in reducing income tax facility for investment (tax allowance) which is targeting domestic and foreign investment.
This study aims to analyze the implementation of tax allowance facility in the certain business fields and certain areas of fishery sectors. This study uses a qualitative method with data collection through literature studies and in depth interview. Data shows that the tax facility is not well-utilized by the investors in fishery sectors. The policy contents and context of implementation can affect the policy implementation.
The results of the study show that the implementation of the tax allowance policy in the maritime and fisheries sector has not been maximized considering several factors such as sector coaches that have not been precise in mapping the target groups, involving socialization, and in accordance with different interests involving the actors involved.
Related to supporting factors in implementing this policy is an evaluation that is carried out regularly, an OSS system will be applied. While the inhibiting factor for implementation is that the IUU Fishing problem has not yet been resolved, there is a non-tax revenue policy that opposes disincentives and too heavy provisions. The Ministry of Marine Affairs and Fisheries must review the appropriate business fields to be given the tax allowance facility and conduct the socialization intensively.
"
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2020
T54943
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Moch. Ichsan Effendie
Yogjakarta: Yayasan Pustaka Nusantama, 1997
639.2 MOC b
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
Sulaiman Mamar
"ABSTRAk
Pembangunan masyarakat desa sudah lama menjadi bahan perbincangan para perencana pembangunan dan obyek penelitian para ilmuan, terutama di negara-negara sedang berkembang seperti Indonesia. Obyek pembahasannya biasa difokuskan pada bidang-bidang tertentu seperti: masalah kependudukan dan lingkungan hidup, masalah kesehatan, masalah pendidikan, masalah pertanian, masalah perikanan dan lain-lain yang pada dasarnya mencari jalan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Masalah perikanan yang tersebut terakhir termasuk salah satu diantaranya yang mendapat prioritas dan telah digalakkan pembangunannya oleh pemerintah Indonesia sejak beberapa tahun belakangan ini sesuai dengan arah pembangunan melalui Pelita demi Pelita. Pada Pelita kelima (GBHN 1988: 67-68) antara lain disebutkan :
?? Perhatian khusus perlu diberikan kepada usaha perlindungan dan pengembangan perikanan rakyat dalam rangka meningkatkan pendapatan dan taraf hidup nelayan serta memajukan desa-desa pantai. Dalam usaha pengembangan tersebut perlu ditingkatkan peranan koperasi serta keikutsertaan usaha swasta".
Berdasarkan arah dan tujuan pembangunan perikanan rakyat dan desa-desa pantai tersebut, maka pemerintah melalui para ilmuan dan perencana pembangunan telah menggalakkan aktivitas pembangunan perikanan dengan cara mengintroduksi teknologi perikanan berupa perahu motor tempel beserta alat penangkap ikan yang canggih. Menurut hasil survey sosial ekonomi perikanan laut (Dirjen Perikanan, 1978: 10), pembangunan perikanan laut melalui introduksi perahu motor tempel telah dilakukan sejak tahun 1955 sampai tahun 1980-an. Akan tetapi hasilnya belum banyak memperlihatkan peningkatan pendapatan dan taraf hidup para nelayan didesa-desa pantai Indonesia. Ada beberapa alasan yang dapat dikemukakan sebagai faktor penyebabnya, antara lain:
1. Masalah kemiskinan yang sampai kini masih mendominasi sebagian besar rumah tangga nelayan. Pada tahun 1982/1983 tercatat sekitar 60% rumah tangga nelayan masih berada di bawah garis kemiskinan (lihat Buletin Nelayan, 1982: 1).
Karena para nelayan tergolong miskin, maka mereka tidak memiliki modal, kurang memiliki skill dan jaringan sosial yang memungkinkan mereka memiliki serta mengoperasikan peralatan modern. Dengan demikian, para nelayan tetap mempergunakan peralatan dan cara-cara tradisional dalam menangkap ikan. Menurut Soegiarto (dalam Pieris, 1998: 47), sampai sekarang ini 95% produksi ikan di Indonesia berasal dari rakyat dengan cara penangkapan tradisional.
2. Masalah mekanisasi yang bukan sekedar memperkenalkan teknologi, tetapi membawa dampak sosial budaya dan lingkungan yang tidak kecil. Misalnya terjadi ketegangan dan kerawanan sosial dikalangan para nelayan, menurunnya jumlah rumah tangga nelayan, dan terjadinya pengurusan sumber hayati ikan pada wilayah-wilayah perairan terentu (Lubin dalam Buletin Nelayan, 1982: 4), yang tidak diikuti dengan meningkatkannya kesejateraan mereka. Akibatnya dapat diperkirakan semakin meningkatnya kesenjangan antara pemilik modal dan nelayan kecil. Hal itu tercermin dalam kasus-kasus ketegangan yang teriadi dikalangan para nelayan.
Ketegangan dan kerawanan sosial yang telah terjadi sebagai konsenkuensi penerapan teknologi yang tidak dimaksudkan (Unitended concenquences) antara lain seperti kerusuhan dan pembakaran rumah serta perahu motor di Muncar Bayuwangi (lihat Emerson, 1977), Kasus kemacetan kredit perahu motor dan dikenakannya PHK buruh nelayan di Jawa Tengah (Buletin Nelayan, 1983: 9), Kasus bentrokan antara nelayan tradisonal dan nelayan pukat teri di Sumatra Utara (Wudianto dalam Buletin Nelayan, 1983: 21), dan masih banyak kasus lain yang tidak sempat dikemukan dalam bagian ini.
Sementara itu, menurunnya sumberdaya ikan di wilayah perairan tertentu terutama disebabkan oleh adanya pemusatan pengoperasian alat penangkap ikan yang canggih yang dilakukan oleh dilakukan oleh investor asing. Misalnya, di perairan Selat Malaka, selat Sulawesi, pantai utara Jawa, perairan Riau dan lain telah terjadi overfishing (Lubis dalam Buletin Nelayan, 1984, Mubyarto, 1988). Bahkan di perairan Jepara pada tahun 1973 sampai dengan 1977, setiap, nelayan mengalami penurunan hasil tangkapan sebesar 58% (Plubyarto, 1984: 1B). Peta tingkat pemanfaatan ikan di?.
"
1999
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anny Wantania
"Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai laut yang luas sehingga merupakan produsen ikan laut yang potensial. Salah satu wilayah produsen ikan laut yang potensial di Indonesia adalah Sulawesi Utara. Kotamadya Bitung merupakan wilayah penghasil ikan laut terbanyak dari aspek jumlah dan nilai produksi se-Sulut. Salah satu potensi perikanan yang dijadikan komoditi perdagangan di Kotamadya Bitung adalah ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) sehingga dikenal sebagai Kota Cakalang. Penelitian tentang perdagangan ikan cakalang di Bitung relatif belum terjamah. Di sisi lain, penelitian tentang sejarah perekonomian Indonesia didominasi hasil perkebunan.
Masalah penelitian ini adalah perkembangan perdagangan ikan cakalang di Bitung, Sulawesi Utara periode tahun 1975 sampai dengan 2001. Secara lebih khusus, penelitian ini difokuskan pada dampak perubahan kebijakan pemerintah terhadap perdagangan ikan cakalang. Penentuan periodesasi itu adalah pada tahun 1975 dibentuknya Kotamadya Bitung dan 2001 adalah dua tahun pelaksanaan otonomi daerah yang menekankan pada desentralisasi pengelolaan potensi kelautan berdasarkan Undang-Undang No.22/1999. Dalam periode itu, kebijakan pemerintah dibagi dalam tiga karakteristik, yaitu kebijakan ekonomi sentralistik (1975-1982), liberalisasi ekonomi (1983-1999) dan otonomi daerah yang menekankan pada desentralisasi kelautan (1999- saat ini) Pertanyaan penelitiaan dalam disertasi ini adalah bagaimana dampak kebijakan pemerintah pada periode ekonomi sentralistik, liberalisasi ekonomi dan otonomi daerah terhadap dinamika perdagangan ikan cakalang di Kotamadya Bitung?
Kebijakan perdagangan perikanan menimbulkan dampak terhadap dinamika perdagangan ikan cakalang pada pada periode ekonomi sentralistik (1975-1982). Kebijakan merupakan intrumen pelestarian kekuasaan. Konteks periode ekonomi sentralistik yang meraup keuntungan adalah pedagang Cina, militer, dan pejabat biokrasi. PT. Perikani, sebagai contoh dikendalikan oleh aparat militer yang relevan sehingga sektor perikanan berada di bawah kontrol negara baik secara politik maupun ekonomi. Temuan itu semakin mendapatkan pembenaran dengan hadirnya perusahaan perikanan yang dikelola oleh Puskopal Armatim. Keterlibatan menimbulkan dampak yang positif dan negatif. Dampak yang ditimbulkan cenderung menguat kepada negatif, yaitu bisnis militer menjadi semakin monopolistik dan otoritarian.
Kemudian, kenyataan itu menimbulkan kesadaran baru untuk menetapkan kebijakan pembangunan yang lebih berorientasi pasar internasional. Keuntungan yang lebih besar akan diperoleh dan bisa menciptakan pemerataan hasil pembangunan. Kebijakan liberalisasi menimbulkan dampak negatif dan positif. Liberalisasi yang diterapkan dijadikan instrumen pelestarian kekuasaan politik oleh penguasa. Kondisi itu saya nyatakan liberalisasi yang berbasis pada pemerintahan pusat. Temuan penelitian saya berbeda dengan Mallarangeng (2002). Pendapatan regional yang tinggi tidak berbanding lurus dengan dana pembangunan yang diterima. Kondisi itu sering menimbulkan kekecewaan dan diekspresikan dalam bentuk kritik-kritik, resistensi simbolik, terselubung maupun yang fisik. Kenyataan itu membutuhkan perubahan orientasi perekonomian dari pemerintah pusat ke pemerintahan daerah. Temuan penelitian saya, liberalisasi yang berdampak positif dipertahankan sedangkan orientasinya berbasis di pemerintahan daerah.
Periode otonomi daerah berlangsung mulai 1999- 2001. Periode ini diawali dengan penetapan Undang-Undang No.22 Tabun 1999 tentang otonomi daerah. Esensi dari otonomi daerah itu sebenarnya penetapan kebijakan liberalisme yang dikendalikan oleh pemerintah daerah. Kebijakan itu berbeda dengan periode sebelumnya yang menerapkan kebijakan liberalisme ekonomi yang dikendalikan oleh pemerintah pusat.
PT. Perikani mengalami kebangkrutan di era otonomi daerah, karena perusahaan itu besar karena dukungan penguasa melalui kebijakan-kebijakan BUMN. Periode otonomi daerah menimbulkan konflik horisontal antarnelayan yang dipicu oleh konstruksi mereka tentang batas teritorial mencari ikan yang dimantapkan dengan mitos Toar dan Limumuut, belum jelasnya undang-undang yang mengatur pembagian hasil kekayaan sumber daya alam, dan ketidakjelasan aturan antara kewenangan pemerintah pusat dan daerah tentang otonomi. Pada periode ini perdagangan perikanan meningkat karena didukung penetapan Bitung sebagai KAPET dan pelabuhan internasional. Perdagangan ikan cakalang memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi regional, tenaga kerja, dan pemenuhan kebutuhan protein."
Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2004
D482
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anny Wantania
"ABSTRAK
"Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai laut yang luas sehingga merupakan produsen ikan laut yang potensial. Salah satu wilayah produsen ikan laut yang potensial di Indonesia adalah Sulawesi Utara. Kotamadya Bitung merupakan wilayah penghasil ikan laut terbanyak dari aspek jumlah dan nilai produksi se Sulut. Salah satu potensi perikanan yang dijadikan komoditi perdagangan di Kotamadya Bitung adalah ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) sehingga dikenal sebagai Kota Cakalang. Penelitian tentang perdagangan ikan cakalang di Bitung relatif belum terjamah. Di sisi lain, penelitian tentang sejarah perekonomian Indonesia didominasi hasil perkebunan Masalah penelitian ini adalah perkembangan perdagangan ikan cakalang di Bitung, Sulawesi Mara periode tahun 1975 sampai dengan 2001. Secara lebih khusus, penelitian ini difokuskan pada dampak perubahan kebijakan pemerintah terhadap perdagangan ikan cakalang. Penentuan periodesasi itu adalah pada tahun 1975 dibentuknya Kotamadya Bitung dan 2001 adalah dua tahun epelaksanaan otonomi daerah yang menekankan pada desentralisasi pengelolaan potensLkelautan berdasarkan Undang-Undang No.22/1999. Dal= periode itu, kebijakan pemerintah dibagi dalam tiga karakteristik, yaitu kebijakan ekonomi sentralistik (1975-1982), liberalisasi ekonomi (1983-1999) dan otonomi daerah yang menekankan pada desentralisasi kelautan (1999- saat ini) Pertanyaan penelitiaan dalam disertasi ini adalah bagaimana dampak kebijakan pemerintah pada periode ekonomi sentralistik, liberalisasi ekonomi dan otonomi daerah terhadap dinamika perdagangan ikan cakalang di Kotamadya Bitung? Kebijakan perdagangan perikanan menimbulkan dampak terhadap dinamika perdagangan ikan cakalang, pada pada periode ekonomi sentralistik (1975-1982). Kebijakan merupakan intrumen pelestarian kekuasaan. Konteks periode ekonomi sentralistik yang meraup keuntungan adalah pedagang Cina, militer, dan pejabat biokrasi. PN. Perikani, sebagai contoh dikendalikan oleh aparat militer yang relevan sehingga sektor perikanan berada di bawah kontrol negara bail: secara politik maupun ekonomi. ""Ferman itu semakin mendapatkan pembenaran dengan hadirn_ya perusahaan perikanan yang dikelola oleh Puskopal Armatirn. Keterlibatan menimbulkan dampak yang positif dan negatif. Dampak yang ditimbulkan cenderung menguat kepada negatif, yaitu hisnis militer menjadi semakin monopolistik dan otoritarian. Kernudian, kenyataan itu menimbulkan kesadaran baru untuk menetapkan kebijakan pembangunan yang lehih berorientasi pasar internasional. Keuntungan yang lehih besar akan diperoleh dan bisa menciptakan pemerataan hasil peinbangunan. Kebijakan liberalisasi menimbulkan dampak negatif dan positif. Liberalisasi yang diterapkan dijadikan instrumen pelestarian kekuasaan politik oleh penguasa. Kondisi itu saya nyatakan liberalisasi yang herbasis pada""
2004
D1567
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Timothy Arif Aditya Chow
"ABSTRAK
Sebagai produsen produk perikanan kedua terbesar di dunia, Indonesia belum mengoptimalkan kapasitasnya. Skripsi ini menganalisis rezim investasi perikanan dan dampak peraturan pelaksanaan Perikanan terhadap perusahaan dalam negeri dan nelayan setempat. Dengan melakukan metode penelitian hukum normatif, tesis ini menyimpulkan bahwa, pertama, investasi terhadap sektor perikanan diatur melalui Undang-Undang Investasi dan Undang-Undang Perikanan; ini terlihat dengan izin yang dibutuhkan untuk bisa berusaha dalam bidang perikanan seperti SIUP, SIPI dan SIKPI; kondisi Terbuka/Terbuka dengan persyaratan untuk penanaman modal dalam negeri terkait dengan perikanan yang diatur dalam Daftar Investasi Negatif, dan pengadilan perikanan untuk penyelesaian perkara pidana perikanan. Peraturan pelaksanaan yang telah diterbitkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan memiliki beberapa implikasi hukum terhadap investor perikanan dan nelayan lokal, yakni penghentian usaha investor yang telah menyebabkan penurunan drastis dalam produksi skala nasional walaupun kondisi produksi pasar internasional yang sedang meningkat, kenaikan biaya operasional dan perununan produktivitas yang disebabkan oleh pembatasan transhipment, ribuan kapal yang tidak aktif karena pelarangan penggunaan alat tangkap trawls dan seine nets, kenaikan biaya operasional atas pembatasan terhadap penangkutan ikan hidup, dan penurunan produktivitas yang disebabkan oleh pembatasan produksi kepiting, lobster dan rajungan, dan penghalang terhadap tujuan hukum. Tesis ini merekomendasikan agar untuk mengembangkan sektor perikanan bagi investor domestik dan nelayan lokal, dan untuk menegakkan Inpres tahun 2016, ada hal yang harus diterapkan, yakni untuk melakukan evaluasi peraturan yang ada, memudahkan dan meringankan pembatasan yang menghambat usaha nelayan, penerbitan sistem pengawasan baru dan memperbolehkan penangkapan benih krustasea yang akan dikelola untuk pembudidayaan.

ABSTRACT
As the second biggest producer of fishery products in the world, Indonesia has not optimized its capacity. This thesis analyzes the fisheries investment regime and the impacts of the implementing regulations of the Fisheries Minister towards domestic enterprises and local fishermen. By conducting a normative legal research method, this thesis concludes that, first, the fishery investments sector are regulated through Investment Law, and Fishery Laws in which these are seen through the existing legal structures, such as the necessity to acquire permits of SIUP, SIPI and SIKPI the open open with requirements status for domestic investors pursuant to the Negative Investment List and a fisheries court purposed for criminal fisheries adjudication. The implementing regulations of the Fisheries Minister have six legal implications on fishery investors and local fishermen, namely ceased operations which has caused a drastic decrease in national production in light of increased production trends of the international market, high inflated costs and lessened productivity caused by transhipment restrictions, thousands of dormant vessels due to the trawls and seine nets restriction, increased costs due to the restrictions on live fish transport, and lessened productivity caused by the restriction on the production of crabs, lobsters and blue swimming crabs, and the impairment of the law rsquo s purpose. This thesis recommends that in order to develop the fishery sector for domestic investors and local fishermen, to uphold the Presidential Instruction of 2016, there are recommendations that should be instigated. This includes an evaluation of existing regulations, the easing of existing restrictions, the issuance of new supervision systems and to allow the capture of crustacean seedlings for cultivation purposes.
"
2017
S67616
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9   >>