Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 131 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Andiasti Nada Alifah
"Komposisi sampah terbesar di Indonesia adalah sampah organik yang dapat dikonversi menjadi sumber energi melalui metode insinerasi. Namun, pembakaran limbah organik secara langsung tidak stabil dan tidak efisien karena kadar airnya yang tinggi. Biodrying adalah teknik penghilangan kadar air dari limbah biomassa dengan bio-heat mikroba dan menghasilkan luaran berupa solid recovered fuel. Permasalahan utama biodrying adalah terbatasnya tingkat penurunan kadar air pada feedstock yang dipengaruhi oleh panas bio-heat dari degradasi senyawa organik oleh mikroba, seperti karbon kompleks, selulosa, hemiselulosa, dan protein di dalam materi biodrying. Penghilangan kadar air pada biodrying dapat ditingkatkan dengan penambahan katalis berupa enzim selulase untuk membantu laju degradasi feedstock organik dan meningkatkan suhu feedstock.
Pada penelitian ini, enzim selulase ditambahkan dengan dosis yang berbeda-beda pada reaktor 1, 2, dan 3 sejumlah 0; 0,30; dan 0,45 gram. Feedstock pada reaktor terbuat dari sampah organik dengan kadar air awal sebesar 62 dan C/N rasio 29,50. Biodrying dilakukan dengan reaktor skala laboratorium selama 21 hari dan 5 hari tambahan sebagai usaha untuk menstabilkan feedstock. Parameter fisik, kimia, dan biologis feedstock diamati selama proses biodrying berlangsung, yang menunjukan bahwa kadar enzim selulase pada feedstock memiliki korelasi negatif dengan kadar volatile soild dan rasio C/N feedstock. Pada reaktor yang ditambahkan enzim selulase, terjadi peningkatan profil suhu yang signifikan dan pada reaktor 3 terjadi fase termofilik yang stabil selama 11 hari. Reaktor 2 dan 3 juga menghasilkan penurunan kadar air yang lebih tinggi, yaitu sebesar 26 dibandingkan dengan reaktor 1 sebesar 20 . Penambahan enzim selulase pada biodrying sampah organik juga menunjukan hasil yang positif pada solid recovered fuel yang dihasilkan ditinjau dari nilai kalor SRF reaktor 3 sebesar 3320 kkal/kg dibandingkan dengan reaktor 1 dan 2 sebesar 3174 dan 2838 kkal/kg.

The largest waste composition in Indonesia is organic waste, which can be converted into alternative energy sources with various method, including incineration. However, direct combustion of organic waste is not efficient in terms of cost and energy due to the high moisture content in organic waste. Biodrying is a technique that optimizes moisture content removal of biomass waste with bio heat produced by microbes rsquo metabolism in feedstock. It also produces solid recovered fuel as an output. One of the main problems on biodrying is the limitation of moisture content removal on feedstock. The moisture content removal process is affected by bio heat that is produced from the degradation of organic compounds such as carbon complex, cellulose, hemi cellulose, and protein by microbes in biodrying material. Moisture content removal on biodrying could be enhanced by adding catalyst, such as cellulase enzyme, to help degrade the feedstock, thus simultaneously enhance the temperature of the feedstock.
On this research, cellulase enzyme added with various dosages as much as 0 0,3 and 0,45 gram to the first, second, and third reactor. The feedstock was made from organic waste with moisture content and C N ratio adjsusted to 62 and 29,50. Biodrying was done in laboratory scaled reactors in 21 days and 5 days addition to stabilize the feedstock. Physical, chemical, and biological parameters were examined during biodrying process. The result showed that cellulase enzyme level during the process has negative correlation with volatile solid and C N ratio on the feedstock. Temperature profile increase was obtained in reactors with enzyme addition. Moreover, the third reactor exhibits more stable and longer thermophilic phase that lasted for 11 days. Enzyme addition also positively influenced moisture content removal, in which the reactors with enzyme addition successfully reached 26 moisture content removal while reactor without enzyme addition only reached 20. Additionally, cellulase enzyme addition also resulted in higher calorific value of SRF produced from biodrying as shown in SRF produced from the third reactor that reached 3320 kkal kg. Meanwhile, calorific values of SRF from the first and second reactor are 3174 kkal kg and 2838 kkal kg.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Aprilia Inggri Astuti
"ABSTRAK
Gelatin merupakan salah satu jenis protein yang diperoleh dari kolagen alami yang terdapat dalam kulit dan tulang hewan. Gelatin yang paling banyak digunakan ialah gelatin babi. Penggunaan gelatin dengan bahan baku hewan babi pada produk makanan dan farmasi seringkali menyebabkan alergi, selain juga tidak diperbolehkan dalam agama islam, sehingga perlu dilakukan analisis kandungan didalam makanan olahan agar aman untuk dikonsumsi. Salah satu analisis yang dapat digunakan ialah metode imunosensor, salah satunya Enzyme-Linked Immunosorbent Assay ELISA yang memiliki tingkat sensitifias yang tinggi, mampu menguji sampel yang tidak murni, dan mampu mengikat secara selektif antigen yang dikehendaki. Metode ini memerlukan antibodi anti-gelatin babi untuk mendeteksi gelatin babi sehingga dilakukan produksi antibodi poliklonal antigen gelatin babi menggunakan hewan uji kelinci. Pada penelitian ini produksi antibodi poliklonal gelatin babi dilakukan dari antigen gelatin babi dengan mengekstraksi gelatin dari kulit babi. Rendemen yang dihasilkan sebesar 20,52 dan dikarakterisasi dengan spektrofotometer UV-Vis dan FTIR serta dianalisis dengan SDS PAGE dihasilkan bahwa gelatin babi memiliki 5 pita pemisahan dan gelatin dapat dijadikan sebagai antigen. Antibodi poliklonal antigen gelatin babi dapat diproduksi dengan hewan uji kelinci dan antibodi yang diperoleh pada hari ke 65 dilakukan pemurnian IgG. Antibodi yang dipurifikasi tersebut dapat dijadikan sebagai konjugat sensor pada imunosensor berbasis ELISA dengan konsentrasi IgG sebesar 0,289 mg/mL.

ABSTRACT
Gelatin is one type of protein derived from natural collagen found in the skin and animal bones. The most widely used gelatin is pork gelatin. The use of gelatin with raw materials of pigs on food and pharmaceutical products often causes allergies, as well as not allowed in Islam, so it is necessary to analyze the content in processed foods to be safe for consumption. One of the analysis that can be used is immunosensor method, one of them is Enzyme Linked Immunosorbent Assay ELISA which has high sensitivity level, able to test impure samples, and able to selectively bind antigen desired. This method requires a pig anti gelatin antibody to detect pig gelatin so that the production of polyclonal antibody of pig gelatin antigen using rabbit test animals. In this study the production of polyclonal antigen pig gelatin carried out from pig gelatin antigen by extracting gelatin from pig skin. The yield of gelatin 20.52 and characterized by UV Vis and FTIR spectrophotometers and analyzed by SDS PAGE was found that pig gelatin has 5 separation bands and gelatin can be used as antigen. Polyclonal antibodies of antigen porcine gelatin can be produced with rabbit test animals and antibodies obtained on the 65th day of IgG purification. The purified antibodies can be used as conjugate sensors on immunosensors based ELISA with a concentration of IgG of 0.289 mg mL."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2018
T50459
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ayleen Huang
"Minyak esensi dari tanaman telah terbukti dapat membunuh larva nyamuk. Penelitian ini mengevaluasi aktivitas larvisida dari minyak esensi eugenol dan piperin terhadap larva Aedes aegypti serta mekanismenya meliputi detoksifikasi enzim dan perubahan histopatologi. Bioassay larva Ae. aegypti instar III-IV terhadap eugenol dan piperin konsentrasi 1, 5, 10, dan 30 ppm dilakukan mengikuti protokol WHO selama 72 jam dengan ulangan 5 kali. Larva yang mati diperiksa dengan pemeriksaan histopatologi HE rutin. Evaluasi aktivitas enzim detoksifikasi: AChE, GST, dan oksidase dilakukan mengikuti protokol CDC. Piperin memperlihatkan toksisitas yang lebih baik dibandingkan eugenol dengan persentase mortalitas lebih tinggi serta nilai LC50 dan LC90 lebih rendah. Piperin dan eugenol terbukti menghambat aktivitas AChE dan oksidase (p < 0.05), sedangkan pengaruhnya terhadap GST tidak bermakna. Piperin dan eugenol mengakibatkan kerusakan masif pada midgut larva meliputi kerusakan food bolus dan membran peritrofik, terputusnya lapisan epitel, serta perubahan sel epitel dan mikrovili.

Essential oils from plants were proven to kill mosquito larvae. This research evaluates larvicidal properties of essential oils piperine and eugenol against Aedes aegypti larvae with its mechanism in detoxification enzymes and histopathological changes. Bioassay of III-IV instar Ae. aegypti larvaes exposed to eugenol and piperine with concentration of 1, 5, 10, and 30 ppm was conducted according to WHO protocol for 72 hours with 5 replications. The dead larvae went through routine histopathology H&E examination. Evaluation for detoxification enzymes activity: AChE, GST, and oxidase was conducted according to CDC protocol. Piperine exhibited better toxicity compared to eugenol with higher mortality percentage and smaller LC50, LC90 values. Piperine and eugenol were proven to inhibit AChE and oxidase activity (p < 0.05), but not GST activity. Both substances caused massive destruction to larvae midgut including degradation of food bolus and peritrophic membrane, discontinuity of the epithelium layer, irregular epithelium cell and microvilli shape."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mimien Harianti
"Enzyme activity can be used as a peat decomposition indicator in the oil palm rhizosphere of peatlands. Oil palm plantation management requires fertilization in the rhizosphere to provide nutrients for oil palm growth. The state of total nutrient in the rhizosphere can influence enzyme activity. This research aimed to study enzyme activity in relationship to nutrients in the oil palm rhizosphere of peatlands. Using the explorative method in Riau’s tropical peatlands, an oil palm plantation was chosen as a location for the main sites, and a degraded forest as well as a shrubland were chosen as comparison sites. In the oil palm plantation, peat samples were taken from peats adhering to oil palm roots at the peat depths of 0‒25 and 25‒50 cm and at distances of 0‒1, 1‒2, 2‒3, and 3‒4 m from the trees. In the degraded forest and shrub, t samples were taken from selected plant roots at the depths of 0-25 and 25-50 cm. The triplicate peat samples were then composited for an analysis of enzyme activity and total nutrient content. Results showed that enzyme (urease, phosphatase, β-glucosidase, and laccase) activity in the oil palm rhizosphere decreased as the distance from trees and the depth of rhizosphere increased. The decline in enzyme activity was caused by a low peat pH and an increased water content as well as organic carbon content. Enzyme activity increased with increasing oil palm age and ash content. Total K and Zn contents showed no correlation with enzyme activities. However, total Ca and Mg contents showed positive correlation only with β-glucosidase activity. Total Fe and Cu contents showed significantly negative correlation with enzyme activities (urease, phosphatase, β-glucosidase, and laccase). Enzyme activity in the rhizosphere of the degraded forest and shrubs were mostly lower than in the oil palm rhizosphere."
Bogor: Seameo Biotrop, 2018
634.6 BIO 25:3 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Lisa Amelia
"Polimorfisme gen penyandi Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) diketahui berasosiasi dengan penyakit hipertensi yang merupakan salah satu masalah global penyebab utama kematian di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Salah satu cara mengidentifikasi polimorfisme gen adalah dengan Polymerase Chain Reaction (PCR). Pada penelitian ini bertujuan melakukan perancangan protokol identifikasi polimorfisme dengan PCR dari berbagai literatur, kemudian melakukan identifikasi polimorfisme I/D pada sejumlah sampel relawan, dan menganalisis hasil identifikasi polimorfisme gen ACE terhadap alel insersi (I) maupun delesi (D). Prosedur yang dilakukan pada penelitian ini yaitu melakukan ekstraksi DNA, mengamplifikasi fragmen gen ACE menggunakan PCR, dan memvisualisasi hasil PCR berupa fragmen amplikon menggunakan elektroforesis gel agarosa. Hasil menunjukkan bahwa protokol untuk identifikasi polimorfisme dengan PCR sudah terancang dengan baik. Selain itu, hasil identifikasi polimorfisme gen ACE dari sejumlah sampel menunjukkan bahwa kedua alel I dan D terkonfirmasi alel polimorfisme. Hasil analisis statistik dari jumlah sampel yang diterapkan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara genotipe dengan hipertensi dan non-hipertensi, serta pada alel dengan hipertensi dan non-hipertensi.

Polymorphism of the gene encoding Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) is known to be associated with hypertension, which is one of the main global problems causing death worldwide, including Indonesia. One way to identify gene polymorphisms is using Polymerase Chain Reaction (PCR). This study aims to design a protocol for identifying I/D polymorphism with PCR from various literatures, then identify I/D polymorphisms in a number of volunteer samples, and analyze the results of the identification of ACE gene polymorphisms for both the insertion (I) and deletion (D) alleles. The procedures carried out in this study were DNA extraction, amplification of the ACE gene fragment using PCR, and visualizing the PCR results in the form of amplicon fragments using agarose gel electrophoresis. The results showed that the protocol for identifying polymorphisms by PCR was well designed. In addition, the identification of ACE gene polymorphisms from several samples showed that both I and D alleles were confirmed as polymorphism alleles. The statistical analysis results from the number of samples applied in this study showed no significant difference between the genotypes with hypertension and non-hypertension, as well as in the alleles with hypertension and non-hypertension."
Depok: Fakultas Farmasi Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ira Raya Fani
"Ruang Lingkup dan Cara Penelitian:
Karies merupakan penyakit yang paling banyak ditemukan dalam rongga mulut Proses karies diawali dengan pembentukan plak pada permukaan gigi. Plak merupakan lapisan yang mengandung sel-sel kuman dan bahan-bahan organik yang melekat pada gigi. S. mutans serotipe c merupakan kuman asidogenik yang paling dominan dalam plak dan tahan terhadap lingkungan asam. Kuman ini mensintesis polisakarida (glukan) ekstraseluler yang tidak larut dalam air dan bersifat lengket sehingga dapat membentuk agregrat antar kuman. Pembentukan glukan dikatalisis oleh enzim glukosiltransferase (GTF) yang menggunakan sukrosa sebagai substrat. Selanjutnya kuman-kuman dalam plak menghasilkan asam dari metabolisme karbohidrat makanan yang menyebabkan terjadinya demineralisasi jaringan keras gigi. GTF diisolasi dari S. mutans serotipe c INA99 untuk menghambat terjadinya karies gigi pada tikus coba. Namun sifat-sifat biokimia GTF dari kuman ini belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mempelajari sifat-sifat GTF dari S. mutans serotipe c 1NA99. GTF diisolasi dari biakan cair S. mutans dalam Brain Heart Infusion Yeast (BHIY). Tahap isolasi selanjutnya menggunakan teknik salting out dan kromatografi afinitas sefarosadekstran T10. Karakterisasi dilakukan dengan menguji aktivitas GTF pada berbagai pH lingkungan, suhu inkubasi, waktu dan suhu penyimpanan.
Hasil dan Kesimpulan:
Pemisahan GTF dari protein lain dengan teknik kromatografi afinitas menghasilkan 1 puncak. Pada pengujian aktivitas GTF diketahui bahwa pH 7 merupakan pH inkubasi optimum dan suhu 37°C merupakan suhu inkubasi optimum. Pengujian aktivitas GTF setelah penyimpanan selama 3 minggu pada suhu -20°C memperlihatkan aktivitas paling tinggi dibandingkan penyimpanan pada suhu 0-4°C dan 25°C. Dari elektroforesis SDSPAGE 10% diperkirakan berat molekul GTF yang berasal dari kuman S. mutans serotipe c INA 99 adalah 98,71kD."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2003
T11298
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Amalia Putri Wardani
"Eco-Enzyme merupakan hasil fermentasi limbah organik buah yang mengandung mikroorganisme alami, salah satunya bakteri asam laktat (BAL) yang berpotensi sebagai probiotik dalam pakan ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi BAL dari Eco-Enzyme, menyeleksi isolat dengan aktivitas antagonis terhadap bakteri patogen, serta mengevaluasi karakteristik probiotiknya. Isolasi pada medium MRSA + CaCO₃ menghasilkan empat isolat BAL yang mampu membentuk zona bening sebagai indikator produksi asam laktat. Uji antagonis menggunakan metode agar plug diffusion menunjukkan seluruh isolat dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen, dan dua isolat terbaik (A12.1 dan A22.2) dipilih untuk pengujian lanjutan menggunakan metode cylinder diffusion. Hasil menunjukkan kedua isolat mampu menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif dan Gram negatif. Evaluasi karakter probiotik menunjukkan bahwa isolat A12.1 dan A22.2 bersifat Gram positif, berbentuk batang, non-hemolitik, oksidatif-fermentatif, katalase dan oksidase negatif, mampu mengkoagulasi susu, serta tahan terhadap kondisi asam (pH 3–5), garam empedu (hingga 2%), salinitas NaCl (hingga 6%), dan suhu inkubasi tinggi (hingga 40 °C). Berdasarkan hasil tersebut, kedua isolat memiliki potensi sebagai kandidat probiotik untuk aplikasi dalam pakan hewan.

Eco-enzyme is a fermentation product derived from fruit based organic waste that contains natural microorganisms, including lactic acid bacteria (LAB) which have potential as probiotics in animal feed. This study aimed to isolate LAB from eco-enzyme, select isolates with antagonistic activity against pathogenic bacteria, and evaluate their probiotic characteristics. Isolation on MRSA medium supplemented with CaCO₃ resulted in four LAB isolates capable of forming clear zones, indicating lactic acid production. Antagonistic testing using the agar plug diffusion method showed that all isolates inhibited pathogenic bacteria, and two isolates (A12.1 and A22.2) with the highest inhibitory activity were selected for further testing using the cylinder diffusion method. The results demonstrated that both isolates were effective in inhibiting the growth of both Gram positive and Gram negative bacteria. Probiotic characterization revealed that isolates A12.1 and A22.2 are Gram positive, rod-shaped, non-hemolytic, oxidative-fermentative, catalase and oxidase negative, able to coagulate milk, and tolerant to acidic conditions (pH 3–5), bile salts (up to 2%), NaCl concentrations (up to 6%), and elevated incubation temperatures (up to 40 °C). Based on these findings, both isolates show promising potential as probiotic candidates for application in animal feed."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nadila Susilowati
"Acne vulgaris atau jerawat merupakan masalah kulit umum yang terbentuk akibat infeksi dan peradangan pada kelenjar minyak oleh bakteri Cutibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, dan Staphylococcus aureus. Pengobatan jerawat dapat dilakukan secara alami maupun sintetik, namun obat jerawat sintetik yang beredar di pasaran diketahui mengandung antibiotik yang menyebabkan efek samping. Alternatif agen antibakteri yang dapat digunakan sebagai pengobatan jerawat dapat diperoleh melalui pemanfaatan fermentasi limbah organik menjadi Eco-Enzyme. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas antagonis isolat laktobasili yang diisolasi dari Eco-Enzyme terhadap pertumbuhan bakteri jerawat C. acnes, S. epidermidis, dan S. aureus. Sebanyak empat isolat laktobasili (A12.1, A13.1, A22.1, dan A22.2) dilakukan uji aktivitas antagonis dengan metode agar plug diffusion. Hasil uji antagonis menunjukkan keempat isolat memiliki aktivitas antagonis terhadap pertumbuhan bakteri jerawat dengan nilai Indeks Aktivitas (IA) lebih tinggi terhadap C. acnes dibandingkan dengan S. epidermidis dan S. aureus. Berdasarkan nilai IA, dipilih dua isolat terbaik (A12.1 dan A22.2) untuk dilakukan uji antibiosis dengan metode cylinder diffusion dan perhitungan populasi bakteri dengan metode Total Plate Count. Hasil uji antibiosis menggunakan filtrat isolat terpilih menunjukkan isolat A22.2 memiliki aktivitas antibakteri lebih besar dibandingkan isolat A12.1. Hasil uji kemampuan memproduksi enzim ekstraseluler menunjukkan isolat A12.1 dan A22.2 tidak mampu memproduksi enzim ekstraseluler.

Acne vulgaris, or acne, is a common skin problem caused by infection and inflammation of the sebaceous glands by the bacteria Cutibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis, and Staphylococcus aureus. Acne treatment can be done naturally or synthetically, however, synthetic acne medications available on the market are known to contain antibiotics that cause side effects. Alternative antibacterial agent that can be used for acne treatment can be obtained through the utilization of fermentation of organic waste into Eco-Enzyme. This study aims to test the antagonistic activity of lactobacilli isolates isolated from Eco-Enzyme against the growth of acne-causing bacteria C. acnes, S. epidermidis, and S. aureus. Four lactobacilli isolates (A12.1, A13.1, A22.1, and A22.2) were tested for antagonistic activity using the agar plug diffusion method. The antagonistic test results showed that all four isolates had antagonistic activity against the growth of acne bacteria, with the Activity Index (AI) value being higher against C. acnes compared to S. epidermidis and S. aureus. Based on the AI values, the two best isolates (A12.1 and A22.2) were selected for antibiosis testing using the cylinder diffusion method and bacterial population counting using the Total Plate Count method. The antibiosis test results showed that isolate A22.2 had greater antibacterial activity compared to isolate A12.1. The results of extracellular enzyme production ability showed that isolates A12.1 and A22.2 were not capable to produce extracellular enzymes."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Irene Yuniar
"Defisiensi enzim glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G-6-PD) adalah kelainan metabolisme bawaan pada sel darah merah akibat defisiensi enzim yang paling sering ditemui. Defisiensi enzim ini diperkirakan mengenai kurang Iebih 400 juta orang di dunia dengan prevalensi tertinggi terdapat di daerah tropis Afrika, Timur Tengah, daerah tropis dan subtropis Asia, beberapa daerah di Mediteranea dan Papua Nugini. Insiden defisiensi G-6-PD berdasarkan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan tertinggi pada bangsa Yahudi yaitu 70%, diikuti daerah Afrika 26%, China 1,9-16% dan Italia 0-7%.2.
Manifestasi klinis yang sering dijumpai pada defisiensi enzim G-6-PD berupa anemia hemolitik akut dan ikterus yang menetap pada neonatus. Terdapatnya anemia ringan, morfologi sel darah merah yang abnormal dan peningkatan kadar retikulosit sangat mungkin disebabkan oleh proses hemolitik yang dapat terjadi balk pada bayi prematur atau cukup bulan dengan defisiensi enzim G-6-PD. Antara bulan September 1975 sampai dengan bulan Oktober 1976, Suradi telah memeriksa adanya defisiensi enzim G-6-PD, menggunakan uji tapis dengan metode Bernstein pada 3200 neonatus yang lahir di RSCM. Pada penelitian ini didapatkan 85 neonatus (2,66%) menderita defisiensi enzim tersebut dan 35 neonatus diantaranya menjadi ikterus. Pada beberapa kasus, ikterus neonatorum dapat sangat berat sehingga menyebabkan kerusakan otak permanent bahkan sampai meninggal. Munculnya manifestasi klinik pada anemia hemolitik dapat dicetuskan oleh obat-obatan, infeksi atau favism.
Ikterus neonatorum yang disebabkan oleh defisiensi G-6-PD mempunyai banyak variasi pada berbagai populasi baik mengenai frekuensi maupun beratnya penyakit. Secara biokimia ditemukan kurang lebih 400 varian yang berbeda. Pada daerah Afrika Banat dan Asia Tenggara, defisiensi enzim G-6-PD ditemukan pada 30% ikterus neonatorum. Penyebab variasi ini tidak sepenuhnya diketahui, yang jelas berperan adalah faktor genetik dan lingkungan.
Faktor genetik yang mendasari variasi ini diduga karena terdapat mutasi pada gen G-6-PD. Analisis molekular untuk melihat adanya mutasi ini telah dilakukan dan didapatkan kurang lebih 122 varian. WHO membagi varian-varian ini menjadi 5 kelas dengan manifestasi klinis yang berbeda-beda.
Di Indonesia defisiensi enzim G-6-PD secara biokimia pertama kali diteliti oleh Kirkman dan Lie Injo pada tahun 1969, kemudian diikuti oleh beberapa penelitian lain. Secara analisis molekuler juga telah dilakukan penelitian pada orang dewasa normal dengan hasil mutasi terbanyak terdapat pada ekson 5,6,11 dan 12. Sumantri dkk pada tahun 1995 melakukan penelitian defisiensi enzim G-6-PD dengan subyek orang dewasa normal dan melaporkan bahwa varian G-6-PD Mahidol (ekson 5), Taipe Hakka (ekson 5), Mediteranean (ekson 6), dan Kaiping (ekson 12) terdapat pada suku Jawa. Iwai dkk pada tahun 2001 melakukan skrining pemeriksaan enzim G-6-PD pada berbagai negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia dengan subyek laki-laki dewasa yang dirawat di rumah sakit dengan diagnosis anemia hemolitik akut. Pada penelitian ini ditemukan varian Vanua Lava (ekson 5) terdapat pada suku Ambon, dan varian Coimbran (ekson 6) pada suku Jawa."
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2006
T18026
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dini Asyifa
"Teknologi mikroreaktor telah menjadi teknologi yang paling menjanjikan dan paling banyak digunakan dalam berbagai macam penelitian di seluruh dunia, terutama dalam bidang bioteknolog. Penelitian ini menggunakan konsep membran-mikroreaktor utnuk reaksi transesterifikasi trigliserida menjadi metil ester. Konsep ini mengunakan pori-pori membran sebagai mikroreaktor yang sebelumnya telah dilapisi (tertempel) dengan enzim lipase dari Pseudomonas flourescens dengan menggunakan metode adsorpsi sederhana yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian tekanan. Waktu yang dibutuhkan untuk mengimobilisasi enzim adalah 24 jam. Derajat immobilisasi (DI) yang berhasil didapatkan dengan konsentrasi awal larutan lipase 50 mg/ml adalah 47,98% dan besaran enzyme loading (EL) adalah sebesar 1,028 gr/m2.
Transesterifikasi trigliserida menjadi metil ester dilakukan dengan melewatkan feedstock (trigliserida dari minyak kelapa sawit dan metanol) melalui pori-pori membaran. Produktivitas biokatalitik maksimal adalah sebesar 0,019 mmol/h.mg.lipase. Jika dibandingkan dengan sistem reaktor batch (dengan free lipase enzyme), productivitas biokatalitik sistem membran-mikroreaktor ini lebih besar 2,11 kalinya. Berdasarkan kemampuannya dalam menjadikan reaksi transesterifikasi berjalan lebih cepat, metode ini cukup potensional jika digunakan untuk produksi biodiesel secara komersial.

Microreactor technologies have become the most promising and widely used technology in so many research all over the world, especially in biotechnology field. This study used membrane-microreactor concept for transesterification reaction of triglycerides to methyl esters. This concept was utilizing pores in membrane as a kind of microreactor that had previously coated with lipase from Pseudomonas flourescens by using a simple adsorptoin method and followed with pressure driven ultrafiltration. The adsorption time taken to immobilized lipase in membran area was 24 hours. With the initial concentration of lipase solution of 50 mg/ml, degree of immobilization measured is 47,98% and the amount of enzyme loading measured is 1,028 gr/m2.
Transesterification of triglycerides to methyl esters was carried out by passing the feedstock (triglycerides from crude palm oil and methanol) through membrane pores. The maximum biocatalytic productivity of membrane-microreactor was approximately 0,019 mmol/h.mg.lipase. To be compared with reactor batch system (without immobilizing lipase in any matrix/ free lipase enzyme), the biocatalityc production of this membrane-microreactor system was 2,11 times greater than those of free lipase. As its ability to allow the transesterification reaction carried out much faster, this method is potential enough to be used in transesterification of triglycerides for commercial biodiesel/ methyl ester production.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2012
S43634
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   2 3 4 5 6 7 8 9 10 11   >>