Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 88 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ade Bachtiar
"Tesis ini bertujuan untuk menghasilkan business plan pendirian sebuah microfinance syariah dengan nama KJKS Mitra Maju Sejahtera. Pendirian microfinance syariah ini merupakan solusi atas kurangnya peran letnbaga keuangan dala.n n1endukung pennodalan usaha mikro yang sesungguhnya merupakan kontributor utama perekonomian nasional. Business plan ini dibuat secara berkelompok dan pembahasan pada tesis ini akan lebih difokuskan pada penyusunan bisnis model, strategi dan perencanaan pemasaran. Sedangkan pada tim lainnya akan membahas dari aspek keuangan, strategi bisnis, dan operasional. KJKS Mitra Maju Sejahtera diharapkan dapat berkontribusi terhadap perkembangan ekonomi syariah nasional dan menjadi lembaga keuangan sektor mikro terkemuka di Indonesia.

The objective of this thesis is to create a business plan for the establishment of an Islamic microjinance named Islamic Financial Services Cooperative Mitra Maju Sejahtera. Establishment of this Islamic microfinance is expected to be the solution to the lack of role of financial institutions in supporting micro sector which is really a major contributor to the national economy. Business plan is made in groups, and in this thesis will focus on discussion of business model, strategies and marketing plans. While on the other team will discuss the financial aspects, business strategies, and operations. Islamic Financial Services Cooperative Mitra Maju Sejahtera is expected to be part of the development of economic sharia in Indonesia and also to be one of the best micrqfinance institution in Indonesia."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2012
T44131
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Oscar Bona Vena Tahi
"PT Tusaro adalah perusahaan didirikan setelah melihat peluang pasar dan trend masyarakat yang sedang beralih ke arah pengobatan yang bersifat natural. Salah satu yang juga mendorong pendirian bisnis ini adalah kayanya ramuan tradisional Indonesia yang sangat bermanfaat bagi masyarakat tetapi pasar Indonesia malah dibanjiri oleh makanan suplemen dari luar negeri, yang bahan bakunya sebenarnya berasal dari Indonesia juga.
Sebagai bisnis yang bam akan didirikan maka dibuat perencanaan bisnis yang terlebih dahulu membuat bisnis model perusahaan. Bisnis model ini sebagai kerangka pikir dan kerangka ketja selanjutnya dalam kegiatan keseharian perusahaan. Sedangkan bahan acuan untuk target konsumen dan analisa pemasaran adalah riset penelitian persepsi konsumen terhadap jamu yang merupakan karya akhir salah satu mahasiswa MMID 2001.
Perusahaan ini didirikan secara bersama oleh Oscar Bona V.T, Gatot Subagyo, Liston Manurung dan Edward Gultom. Kepemilikan modal dimiliki bersama dengan pembagian yang sama. Pernilihan badan hukum perusahaan adalah Perusahaan Terbatas (PT). Perusahaan termasuk dalam industri skala menengah. Lokasi pabrik di daerah Bogor dengan tujuan agar biaya pengiriman baik untuk bahan baku maupun bahan jadi lebih efisien. Ini dikarenakan letak pasar penjualan produk yang dituju ialah daerah Jakarta dan sekitamya. Tata letak pabrik juga dirancang sedernikian rupa agar penanganan aliran material dapat selancar mungkin.
Berdasarkan bisnis model yang dibentuk target pasar yang hendak dicapai ialah kalangan menengah ke atas. Bentukan produk dibuat yang dapat memenuhi kehidupan modem yang serba praktis yaitu bentuk sachet serbuk dan bentuk sachet yang berupa seduhan seperti teh sebagai tahap bentukan awal. Pemilihan tanaman sebagai sumber ramuan untuk tahap awal ialah tanaman yang sudah banyak dikenal kegunaanya yaitu tempuyung dan meniran. Perusahaan akan melanjutkan pengembangan dan penelitian baik difersikasi bentuk produk maupun jenisnya. Kegiatan pemasaran lainnya juga dibentuk berdasarkan bisnis model.
Kinerja harian perusahaan berlangsung selama enam hari. Hari Senin- Jumat berlangsung penuh selama 9 jam yang dimulai dati. pukul 08.00-17.00 dengan 1 jam istirahat. Sedangkan pada hari Sabtu berlangsung setengah hari dari jam 08.00-13.00 tanpa istirahat. Jumlah operator yang dipeketjakan sebanyak lima orang. Sedangkan untuk tenaga penjualan (sales person) sebanyak dua orang. Tujuan utama saluran distribusi adalah supermarket/hypermarket dan toko obat dan jamu yang ada di Jakarta.
Perencanaan perusahaan untuk tahap T berlangsung dalam 5 tahun. Perusahaan direncanakan berdiri pada bulan July 2004. Modal awal pendirian sebesar Rp.100.000.000,-. Jumlah ini termasuk di dalamnya biaya operasional perusahaan selama enam bulan di muka. Peningkatan penjualan diperkirakan sekitar 10 % per tahun. Perusahaan diperkirakan mulai mencapai keuntungan pada tallUn kedua. Dari analisis keuangan atas kelayakan perusahaan menunjukkan hasil yang cuk:up memuaskan dengan kesimpulan akhir bahwa investasi di PT. Tusaro layak dilakukan."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2003
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Edi Setiawan
"ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk menyusun suatu model bisnis yang baru bagi toko online Suara Muhammadiyah Store untuk melakukan pengembangan bisnis, dengan menggunakan pendekatan business model canvas. Penelitian ini dilakukan den-gan menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu dengan melakukan wawancara pada narasumber. Penelitian ini membahas sembilan elemen business model canvas pada toko online Muhammadiyah dan melakukan analisis SWOT pada masing-masing elemen tersebut. Hasil dari penelitian ini ialah susunan business model canvas baru yang dapat dijalankan toko Suara Muhammadiyah Store melakukan pengembangan usaha."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, 2019
330 AJSFI 13:1 (2019)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Alya Aulivia Rohali
"Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) adalah kegiatan usaha yang dapat menciptakan dan memperluas kesempatan kerja, memberikan pelayanan ekonomi kepada masyarakat, serta mampu berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat di Indonesia. dalam mewujudkan stabilitas nasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh PT. Bersih Seperti Baru dalam menjalankan usahanya dan memberikan solusi yang tepat secara efektif dan efisien. Analisis dilakukan melalui model bisnis saat ini dan membuat model bisnis terbaru sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik penentuan informan dilakukan dengan cara mewawancarai karyawan dan pihak-pihak yang berkepentingan di perusahaan. Proses analisis data dilakukan dengan cara mereduksi data dan menyajikan data yang telah diperoleh untuk kemudian ditarik kesimpulan. Penelitian ini diharapkan dapat membantu perusahaan PT. Bersih Seperti Baru untuk meningkatkan daya saing UMKM dalam hal produktivitas pegawai agar mampu meningkatkan produktivitas dalam melakukan pekerjaannya. Pembentukan sistem penilaian kinerja karyawan dan penerapan reward and punishment bertujuan untuk meningkatkan kinerja karyawan perusahaan.

Micro, Small, and Medium Enterprises (MSMEs) are business activities that can create and expand job opportunities, provide economic services to the community, and can play a role in the process of equity and increasing people's income in Indonesia. in realizing national stability. The purpose of this study was to determine the problems faced by PT. Bersih Seperti Baru in carrying out its business and providing the right solutions effectively and efficiently. The analysis is carried out through the current business model and creates the latest business model according to the company's needs. The method used in this study is a qualitative method with a descriptive method. The technique of determining informants is done by interviewing employees and interested parties in the company. The process of data analysis is carried out by reducing data and presenting the data that has been obtained for the later conclusion. This research is expected to help the company PT. Bersih Seperti Baru to improve the competitiveness of MSMEs in terms of employee productivity to be able to increase productivity in doing their jobs. The establishment of an employee performance appraisal system and the application of rewards and punishments are aimed at improving the performance of the company's employees."
Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2023
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Sitompul, Samuel Jonathan Ezra
"Biji kopi adalah tanaman yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi, hal ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dari kalangan pemuda maupun orang tua. Industri kopi juga menjadi bagian dari pemasukan devisa negara dan mata pencaharian masyarakat. Tahun 2016 total penjualan biji kopi yang dihasilkan oleh Indonesia sebesar 632,00 ribu ton, dan mengalami peningkatan yang cukup besar yaitu 685,79 ribu ton biji kopi dengan persentase sebesar 8,49 persen. (Badan Pusat Statistik,2018). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik lokasi coffee shop sesuai dengan klasifikasi berdasarkan faktor aksesibilitas yang mudah dijangkau, fasilitas yang dimiliki, dan lokasi yang strategis di pusat kegiatan bisnis akan mempengaruhi pola perilaku spasial masyarakat dalam memutuskan untuk membeli suatu produk di coffee shop selama Pandemi COVID-19 dan mengetahui bagaimana tingkat penjualan antar coffee shop yang diteliti. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dengan cara pengumpulan data yaitu melakukan pengamatan di lapangan, wawancara pelaku usaha serta melakukan validasi data. Setiap coffee shop yang diteliti memiliki karakteristik yang berbeda. Starbucks dan Djournal Coffee sebagai coffee shop dengan klasifikasi Internasional, dikarenakan lokasi yang strategis di pusat kegiatan bisnis dan memiliki banyak Point of Interest yang menjadi potensi pasar. Anomali Coffee dan Coffee Vespa yang berfokus terhadap produk biji lokal dapat diklasifikasikan sebagai Coffee Shop Local. Tingkat penjualan Djournal Coffee dan Starbucks Coffee walaupun dengan adanya pandemi covid tidak mengurangi intensitas penjualan, Sedangkan intensitas penjualan yang diperoleh Coffee Vespa turun secara signifikan.

Coffee beans are plants that have a fairly high economic value, this has become a part of people's lives, both young and old. The coffee industry is also part of the country's foreign exchange income and people's livelihoods. In 2016 the total sales of coffee beans produced by Indonesia amounted to 632.00 thousand tons, and experienced a fairly large increase of 685.79 thousand tons of coffee beans with a percentage of 8.49 percent. (Central Bureau of Statistics, 2018). This study aims to determine the characteristics of the coffee shop location according to the classification based on accessibility factors that are easily accessible, the facilities owned, and the strategic location in the center of business activities will affect the spatial behavior pattern of the community in deciding to buy a product at the coffee shop during the COVID-19 pandemic. 19 and find out how the level of sales between the coffee shops under study. This study uses descriptive analysis method by collecting data by conducting field observations, interviewing business actors and validating data. Each coffee shop studied has different characteristics. Starbucks and Djournal Coffee as coffee shops with an international classification, due to their strategic location in the center of business activities and having many Points of Interest that become market potential. Anomali Coffee and Coffee Vespa which focus on local bean products can be classified as Coffee Shop Local. The level of sales of Djournal Coffee and Starbucks Coffee, even though the Covid pandemic did not reduce the intensity of sales, while the intensity of sales obtained by Coffee Vespa fell significantly."
Depok: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia, 2021
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rendy Yuliansyah
"Indonesia sebagai negara kepulauan perlu memiliki strategi sendiri dalam memaksimalkan penetrasi terhadap energi terbarukan. Tidak perlu selalu berkaca kepada eropa sebagai salah satu rujukan energi terbarukan saat ini karena dataran eropa yang kontinental dan tidak selalu cocok untuk diimplementasikan di Indonesia dengan karakteristik kepulauannya. Konsep Island Charging menjadi salah satu penawaran solusi untuk Indonesia dalam memaksimalkan penetrasi energi terbarukan, oleh karenanya perlu dibuat model bisnis yang dapat dijadikan acuan dalam membentuk bisnis Island Charging dengan mengambil tempat studi di provinsi NTT. Konsep bisnis dibuat dengan menggunakan metode konsep bisnis kanvas dengan metode yang dibawa Osterwalder pada tahun 2010, beserta tools penunjang untuk memperkuat konsep bisnis Island Charging. Di provinsi NTT sendiri masih terdapat 37 sistem isolated yang dikelola oleh PLN, dari 37 sistem isolated ini diambil 2 sistem yang mewakili yaitu terdekat serta untuk menjangkaunya menggunakan transport darat dan laut untuk dihitung berapa Cost of Energy pada 2 pusat beban tersebut dan dibandingkan secara langsung dengan BPP setempat. Konsep model bisnis Island Charging tersaji dengan 9 Pillar bisnis yang dikemas dalam satu bentuk bisnis model kanvas beserta penjelasan singkat, serta penjabaran oleh tools penunjang untuk memperdalam pemahaman terhadap model bisnis serta ditutup dengan evaluasi terhadap model bisnis Island Charging. Hasil perhitungan CoE dari 2 sistem isolated yang akan diakusisi oleh model bisnis Island Charging menunjukkan hasil yang kompetitif dibandingkan BPP setempat.

Indonesia as an archipelagic country needs to have its strategy in maximizing the penetration of renewable energy. There is no need to look to Europe as one of the current renewable energy role models because Europe with its continental characteristics not always suitable to be implemented in Indonesia with its archipelagic characteristics. The concept of Island Charging is one of the solutions offered for Indonesia in maximizing the penetration of renewable energy, therefore it is necessary to create a business model that can be used as a reference in establishing the Island Charging business by taking a study site in the province of NTT. The business concept was created using the canvas business concept method with the method introduced by Osterwalder in 2010, along with supporting tools to strengthen the Island Charging business concept. In the province of NTT itself, there are still 37 isolated systems managed by PLN, of these 37 isolated systems, 2 representative systems are taken, namely the closest and to reach them using land and sea transport to calculate the Cost of Energy at the 2 load centers and compare directly with local Basic Cost. The concept of the Island Charging business model is presented with 9 business pillars packaged in a canvas business model along with a brief explanation, as well as explanations by supporting tools to deepen understanding of the business model and close with an evaluation of the Island Charging business model. The results of the CoE calculation from 2 isolated systems that will be acquired by the Island Charging business model show competitive results compared to local Basic Cost."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Apryanti Sosilowati
"Dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks dan cepat berubah, organisasi harus memikirkan kembali model bisnisnya. Pada penelitian ini dianalisis business model suatu perusahaan jasa konstruksi pada sektor migas dengan menggunakan sembilan elemen yaitu customer segments, value proposition, channels, customer relationship, revenue stream, key resource, key activities, key partnership, dan cost structure. Sejalan dengan ini, terhadap model bisnis yang telah dianalisis diharapkan dapat dilakukan business model extension dan integrated four elements sehingga menghasilkan model bisnis yang bersinergi dan terintegrasi dengan aktivitas proses bisnis perusahaan.

In an increasingly complex and fast-changing business environment, organizations have to rethink and revisit their business model. In this study analyzed the business model of a construction company in the oil and gas sector, using the nine elements; they are customer segments, value propositions, channels, customer relationships, revenue streams, key resources, key activities, key partnerships and cost structure. In line with this, with respect to the analyzed business model is expected to be came the business model extension and integrated four elements which will result in a business model that synergized and integrated with the activities of the business processes of the company."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2013
T34761
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tommy Suhendra
"Tesis ini membahas kajian model bisnis jual beli listrik on-grid yang sejalan dengan regulasi dan kondisi di Indonesia untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang diharapkan bisa membangkitkan minat masyarakat atau swasta untuk
membangun dan meringankan beban PLN yang memiliki keterbatasan dalam
penyediaan listrik untuk seluruh rakyat Indonesia.
Tesis ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan berbagai batasan untuk
memberikan kejelasan atas cakupannya.
Beberapa kajian dilakukan atas model bisnis PLTS dan perubahannya yang mungkin
dilakukan untuk model bisnis yang lebih prospek. Dengan memakai Perangkat
Evaluasi Model Bisnis (PEMB) dan menerapkan Strategi Samudera Biru, diajukan
perubahan model bisnis yang bisa dikembangkan di Indonesia, meliputi penghapusan
power wheeling, regulasi atas TKDN dalam tahap rantai suplai, infrastruktur menjadi
tanggung jawab PLN, tingkat inflasi (inflation rate) perlu dihitung dalam model
finansial, asuransi untuk menggantikan extra account yang harus disetor pengembang,
FiT yang perlu berlaku untuk semua kementerian dengan acuan tarif plafon, atribut
pasar seperti kredit energi terbarukan surya (S-REC/solar renewable energy credits)
yang perlu diregulasikan dan pembebasan lahan yang diharapkan menjadi
tanggungjawab pemerintah daerah.
Perubahan model bisnis harus terus dilakukan sejalan dengan perubahan kondisi, baik
itu kondisi ekonomi, teknis dan infrastruktur maupun regulasi.

This tesis is discussing about the power purchase business model review on which in
line with regulations and conditions in Indonesia for distributed PV Solar Power
Generation and is expected to generate public or private interest to build and ease the
burden of PLN that have limitations in providing electricity to the entire people in
Indonesia.
This tesis is a qualitative descriptive study with a variety of constraints to provide
clarity on the scope.
Some review is conducted on the solar PV model business and its changes that may
be applied for more prospective business model. Using the Business Model
Evaluation Tools (BMET) and applying Blue Ocean Strategy, it is proposed that
business model change can be thrived in Indonesia include the elimination of power
wheeling, regulation of local content in the stage of the supply chain, infrastucture
become the responsibility of PLN, inflation rate should be calculated in financial
model, insurance to replace the extra accounts that must be paid by the developer,
feed-in tariff need for all ministries with ceiling tariff as reference, regulations for
market atributes like solar renewable energy credits (SREC) and land acquisition
become the responsibility of local government.
Business model change shall be done in line with the conditions change, by the
economic condition, technical concerns, infrastructure and regulation.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2014
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Arif Budiman
"Kondisi lingkungan makro saat ini menyebabkan industri pelayaran nusantara semakin terpuruk. PT. PELNI sebagai badan usaha milik negara yang bergerak pada industri pelayaran Indonesia dan sebagai market leader dalam industri ini terus mengalami penurunan jumlah penumpang. Merosotnya jumlah penumpang ini diawali sejak tahun 2000 pada scat pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan pasar bebas dalam industri penerbangan. Kebijakan ini mengizinkan investor swasta untuk mendirikan perusahaan penerbangan dengan hanya menetapkan tarif batas atas sebagai pengendali sehingga tiap maskapai penerbangan baru tersebut Baling bersaing untuk menurunkan harga (price war). Perang harga ini berhasil menyedot penumpang kapal taut dan kereta api karena tipisnya disparitas tarif antara pesawat dan kapal Taut. Di sisi lain waktu tempuh pesawat jauh lebih singkat. Akibatnya sejak tahun itu jumlah penumpang yang diangkut terus menurun rata-rata satu juta penumpang pertahun.
Di scat PT.PELN1 sedang berusaha untuk mengatasi kesulitan keuangan akibat menurunkya volume penumpang, pemerintah mengeluarkan kebijakan kenaikkan harga badan bakar minyak (BBM) hingga 29% pada tanggal I Maret 2005 dan kemudian disusul kenaikan hingga 100% tujuh buian kemudian tepatnya di tanggal i Oktober. Harga solar sebeiumnya sebesar Rp.2.200 perliter melonjak menjadi Rp.4.300 perliter. Hal ini sangat memberatkan PT. PELNI sebab kontribusi BBM terhadap total biaya operasional mencapai 59%.
Akibatnya, biaya operasional kapal penumpang PT.PELNI per mile-nya mencapai Rp 738 Rp.315 perorang. Tarif penumpang ini masih terus berlaku dan tidak dapat dinaikkan oleh PT.PELN1 tanpa memperoleh persetujuan dari pemerintah.
Untuk mengatasi biaya operasi yang besar dan terus menurunnya volume penumpang, PT.PELNI berencana untuk menerapkan strategi altematif dengan mengubah bisnis model yang sudah ada. Adapun strategi altematif itu berupa perubahan modifikasi armada kapal dari sebelumnya hanya mampu untuk mengangkut penumpang, nantinya akan mampu untuk mengangkut angkutan barang dan kendaraan. Konsep perubahan bisnis model ini dinamakan dengan modifikasi "Three in One". Namun dengan dilakukannya perubahan strategi yang berakibat pada perubahan bisnis model, akan menimbulkan dampak yang luas pada kelangsungan hidup suatu merek.
Dengan berubahnya bisnis model, tentunya akan mengakibatkan perubahan brand equity dari suatu merek yang akan berimbas pada Brand Layaliiy, Brand Awareness, Perceived Quality dan Brand Association dan faktor lainnya yang berpengaruh terhadap brand assets. Untuk itulah dibutuhkan suatu pengukuran terhadap konsumen potensial agar dapat diketahui seberapa jauh perubahan ini akan berpengaruh terhadap merek PT.PELNI dan juga untuk mengukur perlu atau tidaknya perubahan ini dilakukan dengan berpedoman pada perubahan Brand equity. Pengaruh yang dirasakan akibat perubahan ini akan berdampak pada brand karena dengan adanya suatu perubahan akan menimbulkan reaksi balk positif maupun negatif dari berbagai kalangan baik( internal maupun eksternal.
Pengukuran ini dilakukan pada 100 orang responden yang merupakan penumpang dari kapal PELNI saat kapal akan diberangkatkan. Pengambilan sampel ini diambil berdasarkan dari jumlah populasi kapasitas kapal terbesar yaitu 4000 penumpang dengan diproses menggunakan metode Slovin. Pada penarikan sampel ini dilakukan dengan menggunakan metode penarikan non probabilitas yaitu convenience sampling terhadap responden yang berada di lokasi penarikan sampel dengan mempertimbangkan pemilihan secara acak.
Dari hasil penelitian ini didapatkan beberapa kesimpulan, antara lain Merck PT.PELNI saat ini masih sebagai "Top of Mind' dari jasa layanan transportasi terhadap penumpang yang pertama kali dapat langsung mengingat merek PT.PELNI dalam benak pikirannya. PT.PELNI menempati posisi kedua dalam "Brand recall" terhadap responden yang memiliki kesadaran terhadap merek PT.PELNI tanpa bantuan tertentu. Dalam penelitian ini PT.PELNI masih belum dapat menggungguli Garuda Indonesia yang menempati posisi tertinggi.
Dalam pengukuran Brand Recognition diperoleh persentase sebesar 32% responden yang dapat mengingat PT.PELNI setelah memperoleh alat bantu untuk mengingatnya. Merck PT.PELNI memiliki 5 buah elemen "Brand association" yang sangat kuat terhadap mereknya karena PT.PELN1 diasosiasikan secara kuat sebagai perusahaan BUMN, perusahaan pelayaran tua dan kuno, perusahaan pelayaran dengan fasilitas yang aman dan terjamin. memiliki tarif yang murah serta rute pelayaran yang Was.
PT.PELNI memperoleh perceived quality dengan persepsi yang hampir mendekati bail( di dalam benak konsumennya terhadap keseluruhan kualitas yang diberikan oleh perusahaan jasa pelayaran ini. Hasil pengukuran "Brand Switching' PT.PELNI menunjukkan sebagian besar responden memilih untuk tidak berpindah jasa pelayaran dan disimpulkan juga brand switching di PT.PELNI jarang terjadi.
Dari pengukuran "Habitual buyer`. terhadap PT.PELNI menunjukkan sebagian besar responden cenderung lebih memilih untuk menggunakan jasa pelayaran PT.PELNI dengan melihat dari situasi dan kebutuhannya. Dalam kategori "Satisfied buyer", PT_PELN1 mernperoleh rata-rata responden merasakan hampir puns dengan pelayanan yang diberikan. Dari basil pengukuran "Liking the Brand" menunjukkan bahwa sebagian besar responden cenderung menyukai merek PT_PELNI.
Berdasarkan basil pengukuran "Commited buyer" menunjukkan responden hanya kadangkadang saja memberikan rekomendasi kepada saudara maupun kerabat sehingga commited buyer di PT.PELNI juga disimpulkan masih biasa-biasa saja.
Berdasarkan basil pengukuran "Perceived Quality" setelah PT.PELNI mengubah bisnis modelnya, dapat diketahui bahwa sebagian besar responden beranggapan bahwa dengan adanya perubahan bisnis model dari PT.PELNI, akan menyebabkan terjadinya penurunan kualitas secara keseluruhan.
Dari pengukuran "Brand Switching" PT.PELNI menunjukkan 33% responden nnenginginkan untuk berpindah jasa transportasi lainnya, khususnya transportasi udara setelah dilakukannya perubahan bisnis model.
Berdasarkan basil pengukuran "Camitted buyer" dapat disimpulkan terjadinya kecenderungan penurunan jumlah responden yang akan merekomendasikan PT.PELNI kepada saudara maupun kerabat dibandingkan dengan jumlah responden sebelum perubahan bisnis model dengan persentase penurunan dari 33% turun menjadi 24%.

The current macro condition is putting the national shipping industry in a bad shape PT PELNI, a state owned enterprise that operates and has become the market leader in the shipping industry, suffers a persistent decline in number of passengers. The decline had taken place since 2000 at a time when the government first adopted a free-market policy in the airline industry. The policy allows private investors to set up airlines with the government controlling the tariffs only by determining their ceiling prices, which has forced the newly established companies to engage in a fierce price-war. The price war eventually pushed up air travelers but all the while pushed down passengers for sea and land transportations as the price margin between the three services narrower. Moreover, air travel is much faster than sea travel. Consequently, the number of ship passengers had been declining since 2000 by an average of one million a year.
While PT PELNI was struggling financially as a result of the declining passengers, the government in March 1, 2005 hiked the prices of domestic fuels by 29% and again seven month later by over 100%. As a result, the price of gasoline diesel jumped from Rp 2,200 a liter to Rp 4,300 a liter. This put PT PELNI under a lot of pressure as fuel cost contributes around 59% to the company's total operational costs.
The operational cost of PT PELNI per mile reaches Rp 738 per person, while the economic class fare determined by the government stands at Rp 316 per person. The fare has not been changed until now and cannot be raised by PT PELNI without the approval from the government.
To overcome the high operational costs and declining passengers, PT PELN1 plans to introduce an alternative strategy by revising the existing business model. The alternative strategy in question is by changing the ship modification from ships that are originally designed for passengers to the ones that could also transfer goods and vehicles. This business model transition is called the "Three in One" modification. However, the new strategy which leads to a business model change will cause significant impact to the life of a brand.
A change in business model will no doubt cause a change in brand equity which leads to a shift in Brand Loyalty, Brand Awareness, Perceived Quality and Brand Association and other factors that will all influence the brand assets. That is why a measurement toward potential customers is needed in order to find out how far this change of strategy affects the PT PELNI brand and whether it is necessary, or not, to measure this change of strategy based on a change in Brand equity. The impact of this change will affect the brand as a change draws reactions, be it positive or negative, from various parties, both internal and external.
The measurement is conducted on 100 respondents who are all the passengers of PT PELNI just before departure. This sample is taken based on the ship's capacity of 4000 passengers using the Slovin method. The process of identifying the sample uses the non-probability method of convenience sampling on random respondents on the spot.
Several conclusions from the study, among others:
The PT PELNI brand at present remains as the "Tap of the Mind" in the transportation service on passengers who can identify directly the PT PELNI brand on their minds.
PT.PELNI occupies the second place in "Brand recall" on respondents who have the awareness to the PT PELNI brand without any help. This study finds that PT PELNI still lags behind Garuda Indonesia which occupies the top spot.
In the Brand Recognition category, 32% of respondents can indentify PT PELNI after receiving a helping hand to remember it.
The PT PELNI brand has 5 strong "Brand association" elements. It is strongly associated with a state-owned company, an old and conservative shipping company, a shipping company with safe and guaranteed facilities, low fare and wide-range of route networks.
PT PELNI gets a perceived quality with a perception that is close to `good' in the customers' minds when it comes to the overall quality that the company provides.
From the "Brand Switching" catagory, the majority of PT PELNI customers choose not to switch company, the conclusion is that brand switching in the case of PT PELNI is rare.
From the measurement of "Habitual buyer" on PT.PELNI, it shows that the majority of respondents tend to choose to use PT PELNI service judging from the situation and needs.
In the "Satisfied buyer" category, most respondents feel almost satisfied with the services that PT PELNI provides.
In the "Liking the Brand" category, the majority of respondents tend to like PT PELNI brand.
In the "Commited buyer" category, respondents only once in a while recomment PT PELNI service to their families or close relatives, leading to a conclusion that commited buyer toward the company os just avarage.
On the measurement of "Perceived Quality" after PT.PELNI changes its business model, it shows that the majority of respondents think that with this change, there will be a decline in the overall quality of services given by the company.
In the "Brand Switching" category, it shows that 33 percent of respondents want to move to other transportation service providers, especially the air transportation after PT.PELNI changes its business model.
On the "Committed buyer" category, it can be concluded that there is a declining tendency in number of respondents that will recomment PT PELNI to their families or close relatives as compared to the number of respondents before the change in business model takes place, from 33% to 24%."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2007
T19777
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9   >>