Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 1967 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Syafrida Hanum
"Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi utama bagi bayi baru lahir hingga usia minimal enam bulan. Pemberian ASI di awal kehidupan mampu meningkatkan tumbuh kembang, psikologis, dan imunitas bayi. World Health Organization menyatakan bahwa seluruh bayi, termasuk bayi prematur yang dirawat, harus diberikan ASI. Kondisi fisiologis bayi prematur serta lingkungan seringkali menyebabkan kesulitan dalam pemberian ASI dan ditambah dengan masa pandemi COVID-19. Pandemi menyebabkan layanan BFHI terganggu dan terjadi perubahan regulasi sebagai tindakan pencegahan dan perlindungan bagi bayi sakit. Proses pencapaian peran sebagai seorang ibu dikhawatirkan dipengaruhi oleh hal ini. Penting bagi ibu untuk tetap merasa dihargai dan diakui sebagai pengasuh utama dalam kehidupan bayinya. Penelitian ini dilakukan untuk menggali makna yang dalam terhadap pengalaman ibu dalam menyusui bayi prematur saat dirawat di ruang Perinatologi pada masa pandemi COVID-19. Desain kualitatif fenomenologi digunakan pada penelitian ini untuk melihat makna dari pengalaman sebelas ibu sebagai partisipan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan proses perekaman yang dilanjutkan dengan membuat verbatim. Verbatim diolah menggunakan protokol Moustakas hingga dihasilkan tiga tema. Tiga tema tersebut meliputi: (1) Pandemi membuat saya sulit bertemu bayi, (2) Menyusui itu tidak mudah, dan (3) Saya pemerah ASI. Pengalaman menyusui ibu yang memiliki bayi prematur dan harus dirawat di Perinatologi pada masa pandemi penuh dengan tantangan dan keterbatasan dukungan. Hasil penelitian ini merekomendasikan untuk dilakukan telaah ulang terhadap peraturan yang saat ini berlaku kemudian para staf diberikan pendidikan laktasi berkelanjutan agar mampu menyampaikan informasi kepada ibu dengan bayi prematur. Edukasi berbasis teknologi juga disarankan untuk mendukung ketercapaian informasi kepada para ibu.

Mother's Milk is the main source of nutrition for newborns up to six months of age. Breastfeeding in early life can improve the growth, psychology, and immunity of babies. The World Health Organization states that all infants, including premature infants, should be breastfed. The physiological condition of premature babies, the environment, and the COVID-19 pandemic can causes difficulties in breastfeeding. The pandemic caused BFHI to be disrupted and regulatory changes took place as a precaution and protection premature babies. The process of motherhood is influenced by this. It is important for the mother to feel valued and recognized as the primary caregiver in her baby's life. This study was conducted to explore the meaning of mothers’ experience in breastfeeding premature babies while being treated in the Perinatology room during the COVID-19 pandemic. The qualitative phenomenological design used in this study was described the meaning of eleven mothers’ experiences as participants. In-depth interviews were recorded and transcribed verbatim. Verbatim was processed using the Moustakas protocol and three themes were identified. The three themes include: (1) The pandemic has made it difficult for me to meet babies, (2) Breastfeeding is not easy, and (3) I am a milk expressions’ mother The breastfeeding experience of having a premature baby and having to be cared for in a Perinatology during a pandemic is full of challenges and limited support. The results of this study recommend that a review of the current regulations be carried out and then the staff should be given continuing lactation education in order to convey information to mothers with premature babies. Technology-based education is also recommended to support the achievement of information to mothers"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dian Annisa
"Dampak penyebaran COVID-19 di Indonesia telah memasuki berbagai kelompok masyarakat, bagi pengusaha dari berbagai sektor dan pelaku usaha baik Mikro, Kecil, Menengah yang mengakibatkan melemahnya perekonomian masyarakat. Untuk mengatasi kesulitan tersebut Pemerintah melalui OJK memberikan kebijakan relaksasi restrukturisasi pembiayaan kepada nasabah debitur yang terdampak langsung dari pandemi COVID-19 melalui POJK No. 11/POJK.03/2020 yang kemudian diperpanjang melalui POJK Nomor 48 /POJK.03/2020. Kemudian OJK memperpanjang kebijakan relaksasi restrukturisasi pembiayaan sampai dengan 31 Maret 2023 melalui POJK No. 17/POJK.03/2021. Penelitian ini dilakukan dengan metode yuridis normatif, yaitu dengan mengkaji bahan pustaka atau data sekunder, termasuk bahan hukum primer dan sekunder. Selain itu penulis menggunakan alat pengumpulan data melalui studi pustaka dan wawancara dengan narasumber dari PT. Bank ABC Tbk., (Bank ABC) serta bentuk dari hasil penelitian ini adalah bersifat deskriptif-analitis. Hasil penelitian ini adalah penerapan kebijakan relaksasi restrukturisasi pembiayaan murabahah pada Bank ABC sudah dijalankan dengan baik dan sesuai dengan POJK No. 17/POJK.03/2021 dan POJK No.2/POJK.03/2022 serta Fatwa Dewan Syariah Nasional. Dalam hal penerapan kebijakan relaksasi restrukturisasi pembiayaan murabahah di Bank ABC dapat dilakukan restrukturisasi berupa perubahan jadwal angsuran (grace period), tambahan jangka waktu perpanjangan, dan untuk pembiayaan murabahah tidak diperbolehkan untuk menambah jumlah hutang (total pokok dan margin) yang kemudian perubahan tersebut akan dituangkan ke dalam addendum akad, serta penerapan skema refinancing melalui akad al bai dalam rangka musyarakah mutanaqishah pada opsi konversi akad. Sehingga dengan adanya penerapan kebijakan relaksasi restrukturisasi pembiayaan di Bank ABC dapat mendukung upaya pemerintah dalam program pemulihan ekonomi nasional untuk mengantisipasi naiknya NPF pada bank syariah.

The COVID-19 pandemic has impacted various community groups in Indonesia, including business actors from various sectors, which resulted in the weakening of the community's economy. To overcome the difficulty, the Government through the Financial Services Authority (OJK) provides a restructuring relaxation policy to debtors who are directly affected by the pandemic with the Financial Services Authority Regulation (POJK) No.11/POJK.03/2020 which was later extended by POJK No.48/POJK.03/2020. Then as an anticipatory step and a follow-up to optimize banking performance in maintaining the financial system stability, OJK extended the policy through POJK No.17/POJK.03/2021. This study is conducted through a normative-legal research method with descriptive-analytical approach. The data used were obtained by reviewing secondary data and conducting interviews with PT. Bank ABC Tbk. (Bank ABC). The results showed that the implementation of the restructuring relaxation policy on murabahah financing has been carried out properly by Bank ABC and in accordance with the POJK and the Fatwa of the National Sharia Council. At Bank ABC, restructuring can be carried out in the form of changing the grace period, additional period of extension, and for murabahah financing, it is not allowed to increase the amount of debt (total principal and margin), which these will then be included in the addendum of the contract. There can also be refinancing scheme through al bai contract as a context of musyarakah mutanaqishah on contract conversion options. Therefore, by implementating this policy, Bank ABC can support the Government’s national economic recovery program by anticipating the increase of non-performing financing in sharia bank. "
Depok: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Abi Akbar Fajrama
"Pada tahun 2020, perekonomian global mengalami masa resesi terparah sejak Perang Dunia II. Wabah Covid-19 adalah penyebab utama kejatuhan ekonomi dunia, karena penyakit menular ini bertanggung jawab atas kematian jutaan orang di seluruh dunia. Selain itu, pandemi Covid-19 menyebabkan penguncian besar-besaran, yang menyebabkan banyak bisnis tutup dan kurangnya mobilitas. Pemerintah Australia mencoba menerapkan kebijakan fiskal dan moneter untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di masa sulit. Tujuan dari karya ini adalah melakukan evalusasi seberapa efektif mengunakan kebijakan tersebut dalam mendorong ekonomi di masa pandemi. Metode saya adalah membandingkan bagaimana pertumbuhan ekonomi ,tingkat pengganguran dan pertukaran uang di Australia saat keadaan norman dengan zaman pandemi. Data saya dapatkan dari website Reserve Bank of Australia untuk melakukan penelitian saya. Setelah saya melakukan penelitian, saya membuat satu kesimpulan yaitu kebijakan ekonomi seperti kebijakan fiskal dan moneter hanya dapat efektif dalam keadaan normal atau pra-pandemi jika semua kegiatan ekonomi di suatu negara beroperasi secara penuh.

In 2020, the global economy experienced its worst recession since World War II. The Covid-19 outbreak is a major cause of the world's economic downturn, as this infectious disease is responsible for the deaths of millions of people worldwide. In addition, the Covid-19 pandemic led to massive lockdowns, leading to many businesses closing and a lack of mobility. The Australian government tries to implement fiscal and monetary policies to boost economic growth in difficult times. The purpose of this work is to evaluate how effective these policies during a pandemic. My method is to compare how Austalia's the economic growth, unemployment rate and money exchange were during normal times compare to pandemic. I got my data mostly from reliable website like Reserve Bank of Australia to do my research. After I did my research, I came to a conclusion that economic policies such as fiscal and monetary policies can only be effective in normal or pre-pandemic conditions if all economic activities in a country are fully operational.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2022
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Veren Putri
"Latar belakang: Pandemi COVID-19 menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Pencegahan dan pengontrolan COVID-19 menjadi sangat serius. Mahasiswa perlu berperan di komunitasnya untuk membantu mengatasi wabah. Dalam melakukan perannya, mahasiswa perlu memiliki pengetahuan dan perilaku terhadap COVID-19 yang baik. Mengingat banyak faktor yang mempengaruhi perilaku, hubungannya dengan pengetahuan pun perlu diteliti. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara pengetahuan dan perilaku mahasiswa tingkat I Universitas Indonesia tahun ajaran 2020/2021 terhadap COVID-19.
Metode: Penelitian potong-lintang ini mengambil sampel dari mahasiswa tingkat I Universitas Indonesia tahun ajaran 2020/2021 dari bulan April-Agustus 2021. Pengetahuan dan perilaku dinilai dengan Kuesioner Pengetahuan dan Perilaku Mahasiswa terhadap COVID-19. Analisis hubungan antar variabel diuji dengan uji chi-square. Seluruh analisis data dilakukan dengan Statistical Package for Social Sciences (SPSS versi 20).
Hasil: Subjek berjumlah 309 orang. Gambaran pengetahuan subjek yaitu mayoritas cukup baik (71,5%), diikuti sangat baik (26,9%), dan kurang baik (1,6%). Gambaran perilaku subjek yaitu mayoritas cukup baik (78%), diikuti sangat baik (7,1%), dan kurang baik (14,9%). Hubungan pengetahuan dan perilaku didapati tidak bermakna (p>0,05). Pengetahuan secara bermakna berhubungan dengan jenis kelamin dan riwayat akselerasi, sedangkan perilaku dengan jenis kelamin dan rumpun fakultas.
Kesimpulan: Mayoritas mahasiswa memiliki pengetahuan dan perilaku terhadap COVID-19 yang cukup baik. Namun, hubungan antara keduanya tidak bermakna. Dengan demikian, mahasiswa dan universitas perlu mengevaluasi usaha pemberdayaan mahasiswa selama ini dalam mengambil perannya di masyarakat untuk pencegahan COVID-19. Penelitian lanjutan untuk meneliti faktor lain yang berpengaruh terhadap perilaku COVID-19 masih diperlukan.

Introduction: COVID-19 pandemic has become a global health issue, including in Indonesia. Hence, prevention and management of COVID-19 is very important. College students need to play a role in their community to help managing this pandemic. Therefore, they need to have good knowledge and behaviour towards COVID-19. Since there are many factors influencing one's behaviour, its relationship with knowledge needs to be assessed. This research aims to know the relationship between knowledge and behaviour of first-year students of Universitas Indonesia 2020/2021 towards COVID-19.
Method: Samples for this cross-sectional study come from first-year students of Universitas Indonesia 2020/2021 and were collected in April-August 2021. Knowledge and behaviour were assessed by Kuesioner Pengetahuan dan Perilaku Mahasiswa terhadap COVID-19. Relationship between two variables was analyzed using chi-square test. All analyses were performed with Statistical Package for Social Sciences (SPSS version 20).
Result: Subjects are 309 students. Majority of them have moderate knowledge (71,5%), with 26,9% and 1,6% of them have very good and poor knowledge respectively. Majority of them also have moderate behaviour (78%), with 7,1% and 14,9% of them have very good and poor behaviour respectively. The relationship between knowledge and behaviour towards COVID-19 is shown to be insignificant (p>0,05). Knowledge is found to be related significantly with gender and acceleration history, whereas behaviour is found to be related significantly with gender and cluster of faculty.
Conclusion: The majority of the students have moderate knowledge and behaviour towards COVID-19. The relation between two variables is insignificant. Therefore, students and university need to evaluate the efforts made to involve university students in COVID 19 prevention in society. Further research about other factors that could influence one's behaviour towards COVID-19 is still needed.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Marthania Ayu Astari
"Skripsi ini mengkaji dialektika masyarakat tentang bagaimana pandangan yang dibentuk oleh mereka terhadap situasi pandemi Covid-19. Dengan menggunakan metode kualitatif melalui partisipan observasi dalam menelusuri pandangan masyarakat, tulisan ini mengkaji dialog yang terjadi antara masyarakat yang percaya dan tidak percaya dengan virus Covid-19. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dialektika yang terjadi pada masyarakat dalam menghadapi Covid-19 menghasilkan metafor-metafor sebagai ideologi bagi mereka dan menghadirkan stimulus atas tindakan-tindakan yang mereka lakukan.

This thesis examines the dialectic of society regarding the views formed by them towards the Covid-19 pandemic situation. By using qualitative methods through participatory observation in exploring people's views, this paper examines the dialogue that occurs between people who believe and do not believe in the Covid-19 virus. The results of this study indicate that the dialectic that occurs in society in dealing with Covid-19 produces metaphors as an ideology for them and presents a stimulus for the actions they take.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azzahra Prashanti Devi
"In the midst of the pandemic, e-commerce companies are rapidly growing as Indonesian citizens are having a change in lifestyle since the implementation of Work From Home. The rapid growth that the e-commerce companies experienced made an opportunity for job creation in Indonesia. Although e-commerce companies are hiring more and more people, because of the pandemic they have to implement Work From Home which comes with many shortcomings. Since the employees are working from their own home, their working environment cannot be supervised and comes with many distractions. The company cannot ensure the quality of work life nor the psychological empowerment due to this. This creates an ineffective working environment. Therefore, an analysis of the influence of Quality of Work Life and Psychological Empowerment on Productivity is conducted using the Structural Equation Modeling (SEM) method. The study was specifically directed to e-commerce employees and gained a total of 278 respondents. The result shows that Psychological Empowerment does have an effect on Productivity while Quality of Work Life had no effect on productivity but does have an effect on Psychological Empowerment. The strategy was then formulated through a literature study and using the Why How Laddering method.

Di tengah pandemi, perusahaan e-commerce berkembang pesat seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat Indonesia sejak diterapkannya Work From Home. Pesatnya pertumbuhan yang dialami oleh perusahaan-perusahaan e-commerce membuka peluang penciptaan lapangan kerja di Indonesia. Meskipun perusahaan e-commerce mempekerjakan lebih banyak orang, karena pandemi mereka harus menerapkan Work From Home yang datang dengan banyak kekurangan. Karena karyawan bekerja dari rumah mereka sendiri, lingkungan kerja mereka tidak dapat diawasi dan memiliki banyak gangguan. Perusahaan tidak dapat menjamin Quality of Work Life maupun Psychological Empowerment karena hal ini. Ini menciptakan lingkungan kerja yang tidak efektif. Oleh karena itu, analisis pengaruh Quality of Work Life dan maupun Psychological Empowerment terhadap Produktivitas dilakukan dengan menggunakan metode Structural Equation Modeling (SEM). Penelitian secara khusus ditujukan kepada karyawan e-commerce dan diperoleh total 278 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Psychological Empowerment berpengaruh terhadap Produktivitas sedangkan Quality of Work Life tidak berpengaruh terhadap produktivitas tetapi berpengaruh terhadap Psychological Empowerment. Strategi tersebut kemudian dirumuskan melalui studi literatur dan menggunakan metode Why How Laddering."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azzura Intan Wahyudi
"COVID-19 merupakan salah satu penyakit pernapasan yang ditularkan melalui udara dengan media droplet. WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi yang melanda seluruh dunia. Seluruh sektor kehidupan masyarakat mengalami perubahan akibat COVID-19 seperti sektor pendidikan, perekonomian, perkantoran dan sektor lainnya. Hingga saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan COVID-19, namun WHO dan pemerintah Indonesia sudah membuat pedoman perilaku yang dapat dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19 yaitu melalui 3M (menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak). Perilaku pencegahan diterapkan oleh seluruh lapisan masyarakat salah satunya sektor perkantoran. Sektor perkantoran merupakan salah satu salah satu klaster penularan COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan COVID-19 karyawan PT XYZ (Head Office) di Jakarta tahun 2021. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dan dilakukan analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Data yang digunakan adalah data primer yang diisi oleh 221 responden dengan metode pengisian kuesioner secara luring. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki perilaku pencegahan COVID-19 yang baik. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan COVID-19 pada karyawan PT XYZ antara lain pengetahuan, persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, self-efficacy, dan isyarat untuk bertindak. Perilaku pencegahan COVID-19 harus terus ditingkatkan khususnya bagi karyawan PT XYZ untuk menghindari penularan dan terbentuknya klaster penularan COVID-19. Edukasi baik secara langsung maupun tidak langsung sangat penting untuk dilakukan di lingkungan kerja. Memaksimalkan fasilitas penunjang seperti penambahan tempat cuci tangan, penyediaan hand sanitizer, penyediaan masker, dan kegiatan sterilisasi ruang kerja juga dapat dilakukan untuk menurunkan risiko penularan COVID-19.

COVID-19 is one of the respiratory diseases transmitted by air with droplets. WHO has designated COVID-19 as a worldwide pandemic. All sectors of people's lives are experiencing changes due to COVID-19, such as the education sector, economy, offices, and other sectors. Until now, there is no cure for COVID-19, but WHO and the Indonesian government have made guidelines to prevent the transmission of COVID-19 through 3M (using masks, washing hands, and social distancing). Preventive behavior is applied by all levels of society, one of which is the office sector. The office sector is one of the clusters of COVID-19 transmission. This research aims to determine the factors related to the preventive behavior of COVID-19 employees of PT XYZ (Head Office)in Jakarta in 2021. This research used the quantitative method with cross-sectional study design, and univariate and bivariate analysis uses the chi-square test. The data used was primary data filled out by 221 respondents to fill out questionnaires offline. The results showed that most of the respondents had good COVID-19 prevention behavior. Factors related to COVID-19 preventive behavior in PT XYZemployees include knowledge, perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefit, self-efficacy, and cues to action. COVID-19 prevention behavior must continue to be improved, especially for PT XYZ employees, to avoid transmission and the formation of COVID-19 transmission clusters. Education, either directly or indirectly, is essential to do in the work environment. Maximizing supporting facilities such as the addition of handwashing facilities, the provision of hand sanitizer and masks, and sterilization activities of the workspace can also be conducted to reduce the risk of COVID-19 transmission."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Benedicta Cindy Delphinia
"Pandemi COVID-19 merupakan masa-masa stress bagi masyarakat, kecemasan dan rasa takut akan adanya penyakit baru menimbulkan stigma sosial. Stigma sosial dapat berdampak buruk bagi penanganan dan pengendalian wabah. Mahasiswa memiliki peran sebagai pembawa dan pelaku perubahan serta contoh nyata. Salah satu bentuk nyata dapat diwujudkan melalui upaya pencegahan dan mengatasi stigma sosial COVID-19 di masyarakat.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stigma sosial COVID-19 di kalangan mahasiswa Universitas Indonesia dan faktor yang berpotensi menyebabkan stigma sosial COVID-19 tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi potong lintang. Populasi penelitian ini merupakan seluruh mahasiswa jenjang studi strata 1 (S1) dengan sampel sebanyak 373 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang diisi mandiri oleh responden. Analisis yang dilakukan meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 31,1% responden masih memiliki stigma sosial. Analisis bivariat yang dilakukan menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara variabel jenis kelamin, pengetahuan dan keterpaparan informasi dengan stigma sosial COVID-19. Meskipun secara statistik tidak terdapat hubungan yang signifikan namun ditemukan kecenderungan pada variabel asal fakultas non-kesehatan, sikap, peran tokoh masyarakat, dan peran petugas kesehatan.

The COVID-19 pandemic is a stressful time for the community, anxiety and fear of a new disease causing social stigma. Social stigma can have a negative impact on the handling and control of the outbreaks. Students have a role as agents of change as well as the real examples in society. One of the real action of this role can be realized through the efforts to prevent and overcome the social stigma of COVID-19 in society.This study aims to determine the social stigma of COVID-19 among University of Indonesia students and the factors that potentially causing the social stigma of COVID-19. The method used in this research is descriptive analysis with a cross-sectional study design. The population of this study were all undergraduate students (S1) and minimum sample of 373 respondents was obtained. Data were collected through online questionnaires and filled out independently by respondents. The analysis carried out includes univariate and bivariate analysis using the chi square test.The results showed that 31.1% of respondents still had COVID-19 social stigma. The bivariate analysis conducted showed that there was no statistically significant relationship between the variables of gender, knowledge and information exposure with the social stigma of COVID-19. Although there is no statistically significant relationship, a trend was found in the non-health faculty origin variables, attitudes, the role of community leaders, and the role of health workers."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ranazizah Aurora Sepryzan
"Latar Belakang: Selama pandemi COVID-19 dokter gigi merupakan salah satu tenaga medis yang memiliki risiko tinggi tertular akibat pekerjaannya. Selain itu, tekanan yang cukup besar selama pandemi ini berdampak pada masalah kesehatan mental dokter gigi salah satunya psychological distress. Tujuan: Untuk memperoleh informasi mengenai psychological distress dokter gigi serta mengetahui perbedaan psychological distress berdasarkan berbagai karakteristik. Metode: Studi cross-sectional berupa kuesioner daring kepada dokter gigi di wilayah DKI Jakarta pada bulan Oktober hingga Desember 2021. Dilakukan uji bivariat dengan uji Fisher’s Exact Test dan Continuity Correction. Hasil: 14,7% dokter gigi mengalami psychological distress selama pandemi COVID-19. Mayoritas dokter gigi menunjukkan ketakutan terpapar COVID-19 selama berpraktik, memiliki cukup pengetahuan mengenai COVID-19, efikasi diri yang rendah, serta subjective overload yang rendah. Terdapat perbedaan proporsi yang bermakna (p<0,05) psychological distress berdasarkan usia, status pernikahan, kecukupan pengetahuan mengenai COVID-19, dan subjective overload. Kesimpulan: Terdapat dokter gigi di DKI Jakarta yang mengalami psychological distress selama masa pandemi COVID-19.

Background: During the COVID-19 pandemic, dentists are one of the medical personnel with a high risk of contracting the disease due to their work. In addition, the considerable pressure during this pandemic impact the dentist’s mental health problem one of them is psychological distress. Objective: To obtain information about the dentists’ psychological distress and to determine the differences in psychological distress based on various characteristic Methods: A cross-sectional study was conducted using an online questionnaire to dentists in DKI Jakarta from October to December 2021. A bivariate test was performed using the Fisher's Exact Test and Continuity Correction. Results: 14.7% of dentists experienced psychological stress during the COVID-19 pandemic. Most dentist showed fear of being exposed to COVID-19 during dental practice, had sufficient knowledge about COVID-19, low self-efficacy, and subjective overload. There is a significant difference in the proportion (p-value <0.05) of psychological distress based on age, marital status, knowledge about COVID-19, and subjective overload. Conclusion: There are dentists in DKI Jakarta who experience psychological distress during the COVID-19 pandemic.
"
Depok: Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia, 2021
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wiraga Dimas Tama
"Dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di wilayah hukum Polres Blora, secara faktual telah tercapai sesuai target dan timeline yang telah dirumuskan oleh satgas vaksinasi Kabupaten Blora. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mendeskripsikan dan menganalisis secara objektif kondisi pandemi Covid-19 yang terjadi di wilayah hukum Polres Blora; 2) Mendeskripsikan dan menganalisis hambatan pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Wilayah Hukum Polres Blora; 3) Mendeskripsikan dan menganalisis peran Polri untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di wilayah hukum Polres Blora.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti memilih pendekatan kualitatif karena pendekatan ini dapat menggambarkan secara komprehensif peran polri dalam meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa peran Polri untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan vaksinasi Covid- 19 di wilayah hukum Polres Blora diantaranya; Pertama, memfasilitasi masyarakat untuk terlibat langsung dalam proses perencanaan pelaksanaan vaksinasi di berbagai level, dengan memberikan ruang sebesar-besarnya bagi masyarakat dalam memberikan masukan dan gagasan terkait pelaksanaan vaksinasi. Kedua, pada tahap pelaksanaan vaksinasi perwakilan masyarakat dilibatkan ikut serta menjadi panitia vaksinasi di lokasi yang telah disepakati berdasarkan hasil musyawarah. Masyarakat juga secara sukarela ikut membantu mensosialisasikan informasi pelaksanaan vaksinasi bahkan hingga memberikan bantuan konsumsi secara sukarela saat pelaksanaan vaksinasi yang diinisiasi oleh Polri. Ketiga, Polri melakukan terobosan program inovatif dengan “menyambangi” door to door masyarakat dan mengupayakan kemudahan akses vaksin melalui mobil gerai vaksin.

The research discusses about the roles of Blora Police Resort in handling the pandemic of Covid-19 in Blora Regency. More specifically, the research aims to (1) describe and analyse objectively the condition of Covid-19 pandemic that occurs in the jurisdiction of Blora Police Resort; (2) describe the role of Indonesian National Police in increasing the public participation to make the Covid-19 vaccination successful in the jurisdiction of Blora Police Resort; and (3) describe and analyse the obstacles in the implementation of Covid-19 vaccination in the jurisdiction of Blora Police Resort. The research employs the qualitative approach. The researcher chooses the qualitative approach because it can comprehensively describe the police strategy in increasing the community participation in Covid-19 vaccination programs. The results of the research reveal that the roles of the National Police to encourage the community participation in the implementation of the Covid-19 vaccination programs in the jurisdiction of Blora Police Resort are: first, facilitating the community to be directly involved in the planning process for the implementation of vaccination at various levels by providing as much space as possible for the community to provide inputs and ideas regarding the implementation of vaccination; second, involving community representatives as part of the vaccination succession committees at certain locations, especially in voluntarily helping disseminate information on the implementation of vaccinations as well as providing consumption assistance during the implementation of vaccinations initiated by the police; and third, creating innovative programs by visiting the communities door to door and seeking easy access to vaccines through vaccine booth cars."
Depok: Sekolah Kajian Stratejik Dan Global Universitas Indonesia, 2022
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   3 4 5 6 7 8 9 10 11 12   >>