Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 1121 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rufidi Chandra
"Dari hasil pemetaan di lapangan terdapat empat (4) lokasi yang berpotensi untuk terjadinya bahaya gerakan tanah atau batuan. Potensi bahaya tersebut harus dikendalikan secara tepat untuk mengurangi atau menghindari bahaya yang berdampak pada aktivitas produksi, properti, lingkungan serta manusia.
Lokasi yang berpotensi terhadap gerakan tanah atau batuan tersebut adalah :
1. Kuari "A" bagian timur tingkat kendati risikonya tinggi terjadi gerakan tanah.
2. Kuari "B" bagian selatan tingkat kendali risikonya tinggi terjadi gerakan batuan.
3. Gunung Slindis tingkat kendali risikonya tinggi terjadi gerakan batuan.
4. Kuari "A" bagian barat tingkat kendali risikonya ketat terjadi gerakan batuan.
Hasil analisa potential loss pada setiap lokasi penelitian, sebagai berikut :
1. Berdasarkan analisa risiko ketidakstabilan lereng, gerakan tanah di lokasi Kuari "A" bagian timur, dapat mengakibatkan kerugian pada properti, proses, lingkungan maupun manusia (total) sebesar dari US $ 112.660 (most likely) sampai US $ 1.062.450 (Worst case).
2. Berdasarkan analisa risiko ketidakstabilan lereng, runtuhan batuan di lokasi Kuari "B" bagian selatan, dapat mengakibatkan kerugian pada properti, proses, lingkungan maupun manusia (total) sebesar dari US $ 109.960 (most lokely) sampai US $ 1.056.450 (Worst case).
3. Berdasarkan analisa risiko ketidakstabilan lereng, runtuhan bantuan di lokasi Gunung Blindis, dapat mengakibatkan kerugian pada properti, proses, lingkungan maupun manusia (total) sebesar dari US $ 11.930 (most likely) sampai US $ 478.450 (Worst case).
4. Berdasarkan analisa risiko ketidakstabilan lereng, runtuhan batuan di lokasi Kuari "A" bagian barat, dapat mengakibatkan kerugian pada properti, proses, lingkungan maupun manusia (total) sebesar dari US $ 108.860 (most likely) sampai US $ 1.254.000 (Worst case).
Analisa risiko lereng tambang dengan menggunakan metode analisa slope instability yang digabungkan dengan Workplace Risk Assessment and Control (WRAC), merupakan metode yang efektif dan efisien untuk memberikan hasil penelitian secara cepat dan tepat.
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam rangka mengontrol potensi bahaya gerakan tanah di lokasi penelitian yaitu 1). Pendekatan rekayasa teknik dan 2).
Pendekatan rekayasa non teknik tentang resiko bahaya gerakan tanah dan batuan, serta cara pencegahannya.
Pendekatan ini biasanya merekayasa dua faktor penyebab gerakan tanah atau batuan yaitu dengan memperbesar faktor F (shear strength) dari batuan dan memperkecil N (shear stress) pada batuan. Rekayasa teknik umumnya relatif mahal dan penulis menyarankan di lakukan pada dua lokasi, yaitu : Kuari "A" bagian timur dan Kuari "A" bagian barat, karena pelaksanaannya lebih efektif dan biayanya lebih efisien.
Rekayasa teknik sangat sulit diterapkan pada lokasi Kuari "B" bagian selatan dan Gunung Blindis karena kondisi geologinya menyulitkan untuk dilakukan counter weight, mengurangi tekanan pori air, maupun memasang penyangga mekanik. Pada kedua lokasi tersebut, lebih tepat pengendalian risikonya memakai pendekatan rekayasa non teknik.
Pendekatan rekayasa non teknik adalah upaya peningkatan peran masyarakat, instansi terkait, serta seluruh karyawan dalam rangka mengurangi resiko bahaya gerakan tanah atau runtuhan bantuan.
Daftar Bacaan : 27 (1954 - 2003)

Risk Analysis on Mine Slope in the Cirebon Plant Site, PT. Indocement Tunggal Prakarsa West JavaFrom mapping result in the field there are four (4) locations which have a potential to occurring a dangerous land movement or rock movement . The potential dangerous must be controlled as quickly as to reduce or avoid dangerous which will affect to the activity of production, property, environment and also to the human it self.
The locations, which have potential against land or rock movement, are:
1. Quarry "A" at East Side the risk of control level is high to be a land movement
2. Quarry "B" at South Side the risk of control level is high to be a rock movement.
3. Mt. Blindis the risk of control level is high to be a rock movement.
4. Quarry "A" West Side the risk of control level is tight to be a rock movement.
Result of potential loss analysis on every research location is as follow :
1. Based on the risk analysis of slope instability, land movement at the location Quarry "A" East side, could caused a damage on property, process, environment, even human being (total) as much US $ 112.60 (most likely) up to US $ 1.062.450 (Worst case).
2. Based on the risk analysis of slope instability, rock fall at the location Quarry "B" South side, could caused a damage on property, process, environment, even human being (total) as much US $ 109.960 (most likely) up to US $ 1.056.450 (Worst case).
3. Based on the risk analysis of slope instability, rock fall at the location Mt. Blindis, could caused a damage on property, process, environment, even human being (total) as much from US $ 11.930 (most likely) up to US $ 478.450 (Worst case).
4. Based on the risk analysis of slope instability, rock fall at the location Quarry "A" West side, could caused a damage on property, process, environment even human being (total) as much from US 108.860 (most likely) up to US $ 1.254.000 (Worst case).
Risk analysis of mine slope by used the analysis method of slope instability which mixed with Workplace Risk Assessment and Control (WRAC), is an effective and efficient method to provide observation result as suit and quickly.
Some improvements in the frame to control the potential of dangerous of land movement in the research location are 1). Process of Technical Approach and 2). Process of Non Technical Approach about the dangerous of land and rock movement, and also the method to avoid.
Process of Technical Approach :
This approach usually process in two factor of the cause of land or rock movement which are to enlarge F Factor (shear strength) from the rock and to decrease N Factor (shear stress) on the rock. Generally technical process is relatively expensive and author suggest to do on two location, which are : Quarry "A" East side and Quarry "A" West side, because the implementation have more effective and the cost have more efficient.
Process of Non Technical Approach :
Technical process are very difficult to be applied at the location Quarry "B" South side and Mt. Blindis because their geology condition are difficult against their counter weigh, reducing their water pore, even to settle mechanic stager. For both locations, the controlling risk is more suites to use the process of Non Technical Approach.
Process of non-technical approach is the effort to increase the role of society, connected institution, and all staff in the frame to reduce the dangerous risk of land movement or rock fall.
References : 26 (1954 - 2003)
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T12707
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hamzah
"Kegiatan pengusahaan minyak dan gas bumi, adalah suatu kegiatan yang mempunyai tingkat risiko yang sangat tinggi, risiko bahaya bagi pelaksanaan operasi, instalasi dan peralatan serta lingkungan dari proses kegiatan. Disamping itu juga mempunyai dampak lingkungan dan sosial yang besar. Dalam rangka mewujudkan kegiatan pengelolaan minyak dan gas bumi yang aman, andal, efisien dan berwawasan lingkungan, maka diterapkan LK3 untuk menilai sejauh mana kinerja SMK3 kontraktor maka dibuat suatu ukuran kinerja yang terpilih dan terkait langsung dengan sasaran perusahaan sebagai salah satu alat untuk mengukur keberhasilan organisasi. Ukuran kinerja ini dapat mencerminkan hasil upaya pengelolaan lingkungan, kesehatan dan keselamatan kerja.
Tingginya angka kecelakaan pada kontraktor merupakan alasan melakukan penelitian berupa studi evaluatif untuk melihat perbedaan risiko kecelakaan karyawan dan perbedaan risiko pada lingkungan sebelum dan sesudah penerapan SMK3 Kontraktor berdasarkan data sekunder Accident report year 1998-1999 (sebelum) dan Accident report year 2002-2003 (sesudah) dengan mengambil sampel sebanyak 40 perusahaan kontraktor PT. CNOOC.
Penelitian ini menggunakan pendekatan desain Studi evaluatif untuk melihat perbedaan yang signifikan resiko kecelakaan terhadap karyawan dan resiko atau dampak terhadap lingkungan berdasarkan data sekunder berupa Accident Record Year 1998-1999 (sebelum penerapan SMK3 Kontraktor) dan Accident Record Year 2002-2003 (sesudah penerapan SMK3 Kontraktor) Berta RPL?RKL 2001 dengan sampel sebanyak 40 perusahaan kontraktor PT. CNOOC.
Analisa bivariat dengan menggunakan uji t dependen didapatkan mean rata-rata risiko pada karyawan sebelum adalah 2,48 dan mean rata-rata sesudah penerapan SMK3 Kontraktor adalah 2,13 dengan nilai p = 0,011.
Hasil analisis untuk lingkungan, didapatkan mean rata-rata risiko pada lingkungan sebelum adalah 1,50 dan sesudah penerapan SMK3 Kontraktor adalah 1,23 dengan nilai p = 0,032.
Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan mean rata-rata risiko pada karyawan dan lingkungan sebelum dan sesudah penerapan SMK3 Kontraktor di PT. CNOOC.
Daftar bacaan :18 (1995 - 2003)

Evaluation Study of Risc Occupational Health and Safety Relationship with Contractor Safety Management System at PT. Cnooc In 2003The activity effort of oil and gas is an activity that has a very high risk level, a hazard risk to the operation, installation and equipment and to the environment of processing activities. In other hand it also has an impact on social and environment In order to create a safe, reliable, efficient and environmental oriented of oil and gas activities, therefore it was implemented the Occupational Safety, Health and Environment to evaluate the Contractor Safety Management System performance, and refer to that matter a suitable performance measurement of company goals has made as an indicator of company's success. This performance measurement reflects an achievement of occupational safety, health and environment treatment.
The high rate of accident in contractor is a reason to do a research by doing an evaluative study research to observe a difference of employee accident rise and a difference risc in environment before and after the implementation of Contractor Safety Management System according to secondary data of Accident Report Year 1998-1999 (before) and Accident Report Year 2002-2003 (after) by taking 40 contractors of CNOOC. Ltd.
Design of this research is evaluative study approach to view a significance difference of accident risk on the employee and environment with a secondary data which is Accident Record Year 1998-1999 (before the implementation Contractor Safety Management System) and Accident Record Year 2002-2003 (after the implementation of Contractor Safety Management System ) and RPI JRKL 2001 by taking 40 contractors of CNOOC Ltd as samples .
Bivariate analysis with dependent t test for employee obtained rise mean before contractor safety management system implementation is 2.48 and after implementation is 2.13 and p value is 0.011.
Bivariate analysis with dependent t test for environment obtained rise mean before contractor safety management system implementation is 1.50 and after implementation is 1.23 and p value is 0.032.
Therefore, it concludes that from the above result there are significance difference risc mean on employee and environment before and after contractor safety management system is implemented in CNOOC Ltd.
References : 18 (1995 -- 2003)
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2003
T12743
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Istianah
"Latar belakang: Terdapat hubungan antara pertambahan umur dengan gangguan status fungsional. Pengukuran status fungsional pada penghuni panti wredha diperlukan guna mengetahui kualitas hidup mereka.
Tujuan: Mengetahui prevalensi dan faktor risiko gangguan status fungsional penghuni panti wredha di Jakarta.
Metode: Cross sectional, responden adalah penghuni empat panti wredha di Jakarta. Pengukuran status fungsional menggunakan Barthel ADL Indeks.
Hasil: Terdapat 52% penghuni panti wredha yang mengalami gangguan status fungsional (Skor BAI: 0-19). Responden dengan gangguan status emosional pada kelompok umur kurang dari 70 tahun berisiko mendapat gangguan status fungsional 6,64 kali dibandingkan responden tanpa gangguan status emosional (OR: 6,64; 95% CI: 1,74-25,35), sedangkan pads kelompok umur 70 tahun keatas risiko meningkat sebesar 26,36 kali ( OR: 26,36; 95% CI: 2,8-248,59). Hasil tersebut didapat setelah dikendalikan oleh faktor risiko lainnya yakni keluhan penyakit, pendidikan, partisipasi kegiatan di panti serta status gizi.
Kesimpulan: Hasil penelitian ini memperlihatkan tingginya prevalensi gangguan status fungsional. Faktor sosio demografi, status kesehatan, dukungan sosial dan status gizi berpengaruh pada kejadian gangguan status fungsional.
Referensi: 55 (1990-2003)

Risk Factors of Functional Decline of Dwellers of Residential Homes in JakartaBackground: There is relation of age accretion with the functional decline. Functional status assessment at dwellers of residential homes needed to examine their quality of life.
Objective: To examine the prevalence and risk factors of functional decline of dwellers of residential homes in Jakarta.
Method: Cross sectional, subjects are 250 dwellers in four of residential homes in Jakarta Functional status assessment has been measured by the Barthel ADL Index.
Results: There are 52% dwellers of residential homes had functional decline (Score BAI: 0-19). Subjects with the emotional status trouble at age group < 70 years old have risk the functional decline 6,64 times ( OR: 6,64; 95% Cl: 1,74-25,35), while age group ? 70 years old have risk 26,36 times ( OR: 26,36; 95% CI: 2,8-248,59). The result obtained by after controlled by another variables in model that is the existence of disease sigh, education, participate activity in residential home and nutritional status .
Conclusion: This result shows that the prevalence of functional decline is high enough. Factors of socio demography, social support, nutritional status, emotional status and health status have an in with the functional decline occurrence in four of residential homes in Jakarta.
"
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T12929
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Saragi, Mulak T.
"Seperti diketahui, indikator utama dan kekuatan penggerak suatu sistem pasar bebas, adalah harga, di setiap titik kunci dalam mata rantai tata niaga suatu produk. Dalam upaya menciptakan keseimbangan suatu lingkungan yang goyah, yang ditandai oleh sinyal-sinyal harga, maka risiko harga telah berkembang menjadi suatu isu yang besar sejak beberapa kurun waktu yang lalu. Kondisi ini selanjutnya memberi nilai premium terhadap tersedianya informasi yang tepat waktu dan akurat. Hal ini terjadi karena para pelaku pasar yang bermula berasal dari suatu sistem perekonomian yang direncanakan secara terpusat, telah bergeser kepada sistem berbasis pasar, dan organisasi terkait hams belajar menyiasati kondisi lingkungan harga yang tidak stabil.
Faktor-faktor tersebut diatas akan meningkatkan pentingnya praktek-praktek manajemen risiko bagi perusahaan yang beroperasi dalam ekonomi pasar, sebagai suatu jalan untuk mengelola pergerakan harga yang sangat tajam dan yang telah mengakar dalam bisnis mereka.
Suatu terobosan teknologi yang menawarkan informasi global around-the-clock access atas kontrak-kontrak dunia yang paling aktip di dalam menjembatani masa sekarang dengan masa yang akan datang, serta mengembangkan perdagangan berjangka ke arah dan yang melampaui wawasan perdagangan komoditi pertanian menuju ke perdagangan keuangan dunia melalui pasar uang dunia, terasa sangat dibutuhkan.
Indonesia sebagai negara penghasil produk pertanian yang sangat dominan, masih sedikit sekali menggunakan manajemen risiko harga melalui futures contracts di dalam perdagangan hasil pertaniannya. Hal ini terjadi karena masih terbatasnya prasarana dan saran yang ada, selain dari pada minat yang belum kuat yang dimiliki oleh para pedagang produkproduk pertanian. Atas dasar pertimbangan bahwa perdagangan berjangka di Indonesia, kelak akan memainkan peran yang cukup besar dan menentukan dalam era perdagangan babas sejalan dengan penerapan strategi globalisasi perekonomian dan perdagangan dunia, kiranya perlu dikaji secara lebih rinci, penerapan konsep manajemen risiko dan manfaat yang dapat diperoleh dari implementasi perdagangan berjangka komoditi pertanian khususnya, di Indonesia.
Penelitian ini disusun dalam rangka melihat kebutuhan aktivitas manajemen risiko di sektor tata niaga kopi, coklat, kelapa sawit, dan karet alam di Indonesia. Seperti halnya dengan beberapa komoditi lainnya, kopi, coklat, karet, kelapa sawit, gula pasir dan kapas, selain diperdagangkan dalam pasar fisik/tunai, juga di bursa berjangka. Mata-rantai tata-niaga setiap komoditi memiliki sumber risiko harga, dan survei ini dilakukan berdasarkan berbagai instrumen manajemen risiko yang ada serta kemungkinan pemanfaatannya di Indonesia. Berhubung karena saat ini belum ada kegiatan bursa berjangka yang legal di Indonesia maka penelitian ini masih bersifat eksploratoris serta berusaha mengungkapkan berbagai indikasi bagaimana cara-cara pendekatan pengoperasian hedging (lindung nilai) terhadap risiko harga yang ada, fluktuasi laju bunga pijaman dan risiko nilai tukar uang.
Kesimpulan sementara yang diperoleh dari studi eksploratif yang bersifat kualitatif ini antara lain adalah sebagai berikut:
1. Manajemen risiko merupakan suatu tindakan penyelamatan atas risiko yang mungkin timbul akibat adanya perubahan harga untuk sesuatu komoditi, disepanjang mata-rantai produksi hingga ke tahap tataniaganya. Perubahan harga tersebut diperoleh dari kegiatan menciptakan nilai-tambah didalam setiap segmen, namun yang tidak dapat diperkirakan secara pasti sebelumnya, terlebih lagi bila menyangkut hasil pertanian yang sifat produksinya musiman. Seberapa besar tingkat manfaat yang dapat diberikan oleh suatu kebijakan dalam futures trading terhadap perdagangan komoditi pertanian khususnya, bergantung kepada integrated systems network dari mulai fasilitas distribution point, peraturan mengenai standar mutu barang, informasi yang transparan, cepat dan mudah diperoleh, peraturan dan mekanisme di lantai bursa yang transparan bagi semua pelaku pasar, mekanisme dan efisiensi jasa pelayanan dari lembaga clearing house, fasilitas pendidikan dan pelatihan yang meluas serta intensif bagi masyarakat pengguna bursa berjangka, sistem pengawasan yang efektif terhadap pelaksanaan transaksi perdagangan berjangka yang konsisten, mutu sumber daya manusia yang terlibat mulai dari para pialang, penasihat pengelolaan risiko dana perdagangan berjangka, pelaksana bursa berjangka, pelaksana clearing house, custodian bank, perangkat hukum dan peraturan yang melindungi investor / speculator/ hedger.
2. Bursa Berjangka sebagai suatu risk management device memiliki berbagai fungsi yang membantu para hedger dan speculator/investor dalam rangka melaksanakan futures contract secara efisien, serta menjaga keseimbangan kepentingan kedua kelompok tersebut demi terpeliharanya market viability serta sekaligus mempertahankan likuiditas pasar. Hingga seberapa jauh lembaga ini dapat melindungi kepentingan para investor/speculator menjalankan investasinya, masih diperlukan suatu studi yang lebih rinci, karena data yang dibutuhkan harus diambil dari fakta penyelenggaraan bursa berjangka yang sesungguhnya di tahun mendatang setelah berdirinya bursa berjangka komoditi di Indonesia."
Depok: Universitas Indonesia, 1998
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sofyan Yusuf
"Jaringan pipanisasi adalah salah satu sarana transportasi Bahan Bakar Minyak yang banyak mempunyai keuntungan bila dibandingkan sarana transportasi minyak lainnya. Beberapa keuntungan dari sarana ini adalah dapat menyalurkan Bahan Bakar Minyak secara tepat waktu, tepat mutu, dan tepat jumlah, terutama untuk daerah-daerah yang mempunyai tingkat populasi penduduk dan kepadatan lalu lintas yang padat.
Pada saat suatu jalur pipanisasi dioperasikan, biasanya perusahaan mengalami kesulitan untuk memprediksi seluruh kemungkinan kegagalan operasi, untuk itu digunakan teknik pengkajian resiko untuk menentukan faktor-faktor penting yang akan memberi kontribusi permasalahan dimasa mendatang.
Manajemen resiko adalah seluruh proses logika yang akan memberi pengertian kepada perusahaan, seluruh resiko pada waktu beroperasinya suatu fasilitas dan menentukan tindakan apakah yang perlu dilakukan untuk memperkecil atau menerima tingkat resiko yang dapat diterima.
Dengan penggunaan teknik pengkajian resiko yang bersifat subjektif, para ahli dapat mengevaluasi secara lengkap bagaimana perubahan dalam setiap variabel mempengaruhi secara relatif gambaran resiko yang akan terjadi dengan variabel-variabel lainnya. Bila tersedia, data statistik dapat digunakan tetapi diluar sistem analisa resiko.
Hasil yang akan didapat dari pengkajian manajemen resiko dari jalur pipanisasi adalah nilai relatif resiko dari beberapa seksi jalur pipa, perbandingan dan bagaimana kondisi tiap-tiap seksi jalur pipa bila dibandingkan dengan rencana pemeliharaan yang ingin dicapai, serta analisa resiko secara menyeluruh.

Oil pipeline is one of the transportation devices which gives advantages more. Some of them are able to distribute oil punctually, qualitatively and quantitatively, especially for regions having rapid population growth and traffic density.
While Liquid petroleum pipe line operating companies will never be able to accurately predict all pipe line failures, risk assessment techniques can be used to determine the most important factors that may contribute to future problems.
Risk management is the overall logical process by which a company understands the risk associated with operation of its facilities and determines whether and how to take action to reduce or accept risks.
Subjective risk assessment can be used when statistical information is incomplete but expert opinion, experience, intuition and other non-quantifiable resources are available.
Risk assessment doesn't have to be a calculation-intensive exercise. For the most part, such calculations are based on probability data for rare-occurrence events. A false precision often is assigned to numbers that are the result of detailed calculations. In reality, the margin of uncertainty is high because of the large number of required assumptions. Past data can be used as an accurate predictor of future events only if no conditions change within the system.
By using subjective risk assessment techniques, experts can more completely evaluate how changes in one variable impact the risk picture relative to other variables. When available, statistical data is used, but out side the risk analysis system.
Examination Pipeline Risk Assessment of results produces the following; Relative score for each line section, Comparison of how each section compares with maintenance planned requirements, and Complete analysis."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1998
T10421
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Deddy Gusnadi
"Secara umum proyek konstruksi mempunyai kegiatan yang kompleks dan memiliki unsur ketidakpastian sehingga mengandung resiko. Tdak terkecuali juga dengan proyek jalan tol. Dimana resiko-resiko yang diterima proyek selama masa konstruksi berpotensi mempengaruhi kinerja proyek, termasuk kinerja biaya pelaksanaan proyek.
Untuk mengetahui resiko apa yang berpotensi memberikan pengaruh terhadap kinerja biaya pelaksanaan diperlukan manajemen resiko sebagai pendekatan untuk mengelola resiko. Identifikasi resiko selama masa pelaksanaan diperlukan untuk mengetahui resiko apa yang berpotensi mempengaruhi kinerja biaya pelaksanaan. Dengan demikian akan diperoleh tingkat prioritas masing-masing resiko, sehingga dapat dievaluasi dan diperoleh tindakan penanganan yang tepat (alokasi resiko).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan penanganan yang dilakukan oleh pihak kontraktor terhadap resiko cenderung berbeda. Ini menunjukkan bahwa belum diterapkannya prosedur yang baku terhadap pengelolaan resiko. Untuk itu diharapkan kontraktor jalan tol untuk menerapkan prosedur pengelolaan resiko yang baku.

In general the project of construction have complex activity and have uncertainty element so that contain risk. Do not aside from also with project of turnpike. Where accepted risks the projects of during a period of construction have potency to influence performance of is project of, including performance is expense of execution of project.
To know risk what have potency to give influence to performance is expense of execution needed by risk management as approach to manage risk Identify risk during a period of execution needed to know risk what have potency to influence performance of is expense of execution. Thereby will be obtained by priority level of is each risk, so that can evaluate and obtained by handling action which is accept risk allocation.
Handling action conducted by contractor party to risk tend to differ. This indicates that not yet applied of standard procedure to management of risk. Is for that expected by turnpike contractor to apply procedure management of standard risk.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2004
T14787
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Inne Dwiastuti
"Masalah kesehatan dan keselamatan kerja di Total E&P Indonesia merupakan suatu masalah signifikan yang harus ditangani dengan serius oleh segenap karyawan, baik karyawan permanen maupun kontraktor.
Studi ini terdiri dari dua bagian. Studi pertama bertujuan untuk mengetahui berbagai faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan dan keselamatan kerja, menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Dari studi diperoleh faktor yang tingkat pengaruhnya tinggi terhadap masalah kesehatan dan keselamatan kerja, meliputi peledakan atau kebocoran minyak, peledakan atau kebocoran tangki, kerusakan mesin-mesin, serta kecelakaan.
Studi kedua menggunakan metode AHP, untuk mengetahui Risk Priority Level dari 10 unit major risk di unit produksi CPA(Central Processing Area), salah satu site Total E&P Indonesie, yang biaya treatment dan biaya kerugiannya tersedia. Dan hasil AHP diperoleh 6 unit major risk CPA yang level resikonya tinggi. Setelah itu dilakukan simulasi Monte Carlo dan Optquest atas high risk di CPA untuk mengetahui dinamika alokasi biaya dan total advantage yang diperoleh dari treatment yang dilakukan. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa semakin besar budget yang disediakan akan semakin besar total advantage yang diperoleh dan semakin besar pula treatment yang diberikan atas semua unit. Namun setelah budget mencapai $600.000, peningkatan total advantage yang diperoleh tidak sebanding dengan budget yang dikeluarkan.

Health and safety is a major concern that has to be considered seriously by all Total E&P Indonesia employees whether its permanent staff or contractor.
This study consists of two parts. The first part analyzes factors that affect health & safety by using Analytical Hierarchy Process (AHP). The results of this study show that factors which have high level risk are explosion or leaking of oil refinery, explosion or leaking of tank, broken machines and accident.
Using AHP, the second part analyzes risk priority level of 10 Major Risk at CPA (Central Processing Area), one of total E&P Indonesia's site that treatment cost and risk cost is provided. Moreover, this study focus to 6 units that have high level risk by using Monte Carlo simulation and Optquest by Cristal Ball, to analyze the dynamic of cost allocation and total advantage. The results of the study show that the more available budget is spent, the bigger total advantage is get, and the most treatment of units could be given. But after budget reach $600.000, the increasing of total advantage is not as many as the increasing of budget spent in treatment.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2003
T14713
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Bayu Pamungkas
"Worldwide Interoperablility for Microwave Access (WiMax) adalah salah satu sistem telekomunikasi baru dalam Broadband Access Wireless (BWA). WiMax merupakan teknologi akses BWA yang sudah dikembangkan dan distandarisasi. Pengembangan dan standarisasi dilakukan oleh WiMax forum.
Menurut WiMax forum spektrum frekuensi untuk kawasan Asia Pasifik adalah pada 2,3, 2,5, 3,3, 3,5, dan 5,8 GHz. Namun pengimplementasian WiMax di Indonesia dipastikan menghadapi kendala. Hal ini dikarenakan kondisi yang ada pada frekuensi tersebut telah digunakan oleh teknologi lain seperti microwave link, satelit, dan teknologi BWA lainnya. Hal ini mengakibatkan apabila WiMax diimplementasikan akan menghadapi berbagai risiko yang besar.
Untuk meminimasi risiko dalam pengimplementasian WiMax pada spektrum frekuensi tertentu maka penelitian diarahkan pada analisa alokasi frekuensi WiMax yang berbasis manajemen risiko. Adapun yang dilakukan adalah diawali dengan inventarisasi potensi risiko untuk mengidentifikasi risiko. Setelah mengidentifikasi risiko didapatkan beberapa aspek untuk dievaluasi. Aspek-aspek tersebut meliputi aspek teknologi, ketersediaan bandwidth, regulasi, BHP, dan utilitas yang akan dihadapi pada spektrum frekuensi WiMax, berikutnya dilanjutkan dengan evaluasi risiko dengan mencari dampak yang akan terjadi apabila risiko itu telah ditentukan, dan diakhiri dengan pengendalian risiko yaitu pemilihan keputusan untuk menangani risiko, sehingga setelah ketiga langkah tersebut dilakukan sesuai dengan data yang ada, diharapkan alokasi WiMax dapat diimplementasikan dengan pertimbangan risiko yang paling kecil yaitu pada frekuensi 2,3 dan 3,3 GHz. Sebagian besar penanganan risiko pada pita frekuensi 2,3 dan 3,3 GHz dilakukan dengan cara minimasi dikarenakan sebagian besar risiko bersifat fisik. Sementara penanganan untuk risiko yang bersifat finansial dilakukan dengan cara retensi.

Worldwide lnteroperability for Microwave Access (WiMax) is one of the newest telecommunication systems in Broadband Access Wireless (BWA). WiMax is already developed and standardized. WiMax forum is responsible in performing WiMax's development and standardization.
Based on WiMax forum, WiMax's Asia Pacific frequency are 2, 3, 2.5, 3.3, 3, 5, and 5,8 GHz. Implementation of WiMax in Indonesia will have risk because In Indonesia WiMax's frequencies have been used for other communication technology such as microwave link, satellite, and other BWA technologies.
In order to find minimum risk of WiMax's implementation, this research is using risk management approach, First, identify any possible risk. After risk identification, there are few aspects that need to be evaluated. These aspects are technology aspect, bandwidth availableness aspect, regulation aspect, BHP aspect, and utility that WiMax's frequency will face. Next, risk evaluation needs to perform. Risk evaluation is finding possible risk in implementing each WiMax's frequency, Last is making decision on solving possible outcome risk. After performing these three steps, a decision on the right frequency to use can be done. The right WiMax's frequency to be used is the frequency that has minimum risk therefore the right frequencies to be used in Indonesia is 2.3 and 3.3 GHz, Risk control on 2.3 and 3.3 GHz frequencies is minimizing and retention. Most of risk control on 2.3 and 3.3 GHz frequencies is minimizing due to the fact that most risk is physical risk while retention control is use to solve financial risk.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2006
T16858
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Teuku Antoni Reza
"Penjaminan kredit merupakan salah satu layanan jasa yang diberikan oleh PT. Askrindo sebagai lembaga keuangan yang memfasilitasi Usaha Kecil dan Menengah (UM guna mendapatkan kemudahan memperoleh kredit dari bank atau lembaga pembiayaan keuangan lainnya. Pada umumnya penjaminan kredit dikenal dengan perjanjian penanggungan hutang, karena kedudukannya sebagai borgtoht yang muncul ketika terjamin atau debitur wanprestasi.
Manfaat yang dapat dinikmati pengguna jasa penjamianan kredit yaitu; membantu usaha kecil dan menengah dalam rangka pemenuhan kekurangan persyaratan atas penyerahan barang jaminan yang ditetapkan oleh Lembaga Pembiayaan Keuangan balk bank maupun non bank dan membantu lembaga keuangan bank, non bank untuk mengalihkan sebagian risiko financial atas kegagalan kewajiban debitur kepada pihak penjamin kredit yaitu PT. Askrindo.
Perjanjian penjaminan kredit dimanfaatkan bank dalam rangka mangamankan risiko kerugian bank akibat debitur wanprestasi dan bank sebagai pemberi jaminan dapat mengajtikan klaim kepada penjamin.
Dalam praktek pemberian jaminan kredit tersebut, bank sebagai pemberi jaminan membuat perjanjian penjaminan kredit dengan penjamin, dimana masing-masing pihak mempunyai hak kewajibannya; pihak penerima jaminan dapat menutut klaim dari pihak Penjamin setelah membayar premi penjaminannya, sedangkan pihak penjamin menerima premi. dari bank dan menyelesaikan klaim ganti rugi akibat debitur atau terjamin wanprestasi.
Terdapat beberapa pokok permasalahan yakni; bagaimanakah timbulnya kredit macet, apakah disebabkan wanprestasi terjamin atau penerima jaminan kurang hatihati menyalurkan kreditnya, bagaimana upayanya dalam meminimalisir risiko kerugian akibat terjamin wanprestasi, bagaimana peran dan fungsi PT. Askrindo sebagai penjamin kerugian pemeberi jaminan dibandingkan dengan.bank garansi, bagaimana perhitungan ganti rugi oleh PT. Askrindo terhadap klaim bank dan bagaimana pula pengembalian dana (subrogasi) dalam bentuk recoveries kepada PT. Askrindo setelah bank menerima pembayaran klaim. Pengembalian dana subrogasi tersebut berasal dari angsuran kredit atau Penjualan barang jaminan yang dilakukan bank memalui Pengadilan Negeri atau melalui BUPLN yang pelaksanaannya dilakukan oleh KP3N dimasing-masing daerah. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam tests ini adalah penelitian preskriptif dan problem finding, sehingga dari hasil penelitian tersebut dapat dicarikan penyelesaiannya dengan ketentuan hukum yang berlaku (KUHPerdata dan KURD)."
Depok: Universitas Indonesia, 2005
T14490
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Kurnia Santi Widiyana
"Permasalahan yang dihadapi P.T. Bank X adalah belum digunakannya pengukuran capital charge yang lebih akurat alas risiko transaksi valas yang diakibatkan oleh fluktuasi volatilitas return sharf. Digunakannya Metode Standar dengan tarif 8% dari Posisi Devisa Neto yang dimiliki, mengakibatkan besarnya penyediaan modal (capital charge) lebih besar jika dibandingkan dengan kebutuhannya sehingga dapat merugikan bank.
Metodologi penelitian ini adalah: mengumpulkan data kurs tengah harian dan Posisi Devisa Neto P.T. Bank X pada mata uang USD, SGD, EUR dan SAR. Periode penelitian selama 335 hail, confidence level VaR 95% dan holding period 1 had (spot). Menghitung return harian masing-masing kurs, melakukan uji stasionaritas, bila tidak stasioner di- derencing. Bila data stasioner dilakukan uji normalitas dan uji heteroskedastik. Aka data heteroskedastik forecasting volatilitas menggunakan EWMA dan LARCH. Dui model yang lebih valid dilakukan perhitungan VaR untuk menentukan capital charge. Kemudian dibandingkan dengan Metode Standar yang digunakan dalam pengukuran capital charge P.T. Bank X dan diuji validitasnya dengan backtesting Kupiec Test.
Untuk pengukuran capital charge risiko shad, balk Model Standar maupun Model GARCH keduanya dapat digunakan karena berdasarkan perhitungan validasi dengan backtesting keduanya menunjukkan basil yang valid, tetapi capital charge Model GARCH lebih efisien. Untuk tujuan efisiensi dan efektivitas usaha, Model GARCH perlu diterapkan di P.T. Bank X.

The problem which is faced by P.T. Bank X is has not been used of measuring capital charge which is more accurate to the risk of valas transaction which is caused by the return sharf volatility fluctuation. The used of Standard Method with a value 8% from the owning of Net Open Posistion, cause the amount of capital charge is bigger if it is compared with the needs, so that it causes bank. loss.
The research methodology are collecting daily exchange rate data and Net Open Position of P.T. Bank X for some currencies USD, SGD, EUR and SAR. The research period run in 335 days, confidence level VaR 95% and holding period I day (spot). Count the daily return in each exchange rate, doing stationary testing, if it cannot be stationer, it can be dif3:'erencing. If the stationer data is done such normality testing and heteroscedastic testing. If the data is heteroscedastic so forecasting for volatility use EWMA and LARCH from model which is more valid is done of counting VaR to determine the capital charge. Then it is compared with Standardized Method which is used in measuring capital charge P. T. Bank X and the validity is tested by backtesting Kupiec Test.
For the measuring of capital charge for risk foreign exchange, either Standardized Model or LARCH, both of them can be used because based on the counting validation with backtesting, they show the valid result, but the capital charge with LARCH is more efficient. For the aim of efficiency and effectiveness of a bussiness, LARCH Model can be applied in P.T. bank X."
Depok: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2006
T 17935
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>