Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 112 dokumen yang sesuai dengan query
cover
"Naskah ini merupakan alih aksara dari sebuah naskah milik Ir. Moens. Alih aksara dilakukan di Yogyakarta pada tahun 1938 oleh petugas Panti Boedaja. Naskah berisi teks (166 pupuh) perpaduan dua cerita, yaitu cerita Bratayuda dan Anglingdarma. Dengan demikian, teks ini menghubungkan antara dua 'babak' besar dalam dunia pewayangan, yaitu menyambung dari wayang purwa ke wayang madya (h.12) Batas antara dua siklus wayang tersebut jelas nampak pada pemerintahan raja Parikesit di negeri Astina yang telah beristerikan Dewi Lesmanawati yang kemudian disambung pemerintahan Prabu Yudayana, Gendrayana, dan seterusnya (keturunan raja Parikesit tersebut). Salinan lain naskah ketikan ini ada pada FSUI/CP. 13a dan PNRI/G. 152."
[Place of publication not identified]: [Publisher not identified], [Date of publication not identified]
CP.13-G 152a
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah ini merupakan tembusan karbon FSUI/CP.13a. Naskah tidak dimikrofilm."
[Place of publication not identified]: [Publisher not identified], [Date of publication not identified]
CP.13a-G 152b
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah ini berisi ringkasan FSUI/CP.Da yang disusun oleh Mandrasastra pada bulan Januari 1939. Lihat deskripsi naskah tersebut untuk keterangan selanjutnya. Di dalam naskah ini terdapat halaman tambahan (h.2-5), memuat keterangan tentang perbedaan antara Serat Bratayuda versi Yogyakarta dan Surakarta (menurut apa yang diingat oleh peringkas)."
[Place of publication not identified]: [Publisher not identified], [Date of publication not identified]
CP.14-L 12.19
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah ini berisi catatan tentang teks Bratayuda Wekasan yang termuat pada naskah KBG 1005. Catatan meliputi cuplikan awal dan akhir teks, daftar pupuh (sebanyak 86 pupuh), catatan umum, serta ringkasan alur cerita pupuh per pupuh. Catatan dibuat oleh R.Ng. Poerbatjaraka (atau stafnya) di Batavia. Naskah diterima oleh Pigeaud pada bulan Desember 1931. Lihat dokumen PNRI/R-071, untuk sebuah eksemplar lain dari naskah ketikan ini."
[Place of publication not identified]: [Publisher not identified], [Date of publication not identified]
CP.19-L 6.23
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Lontar ini berisi teks Kakawin Sutasoma, yaitu kisah upaya Sang Sutasoma sebagai titisan Sang Hyang Buddha untuk menegakkan dharma. Sutasoma, putra Prabu Mahaketu dari kerajaan Astina, lebih menyukai memperdalam ajaran Buddha Mahayana daripada harus menggantikan ayahandanya menjadi raja. Sutasoma pergi ke hutan untuk melakukan semadi di sebuah candi dan mendapat anugerah. Kemudian beliau pergi ke gunung Himalaya bersama beberapa pendeta. Di sebuah pertapaan, beliau mendengar cerita tentang raja raksasa bernama Prabu Purusada yang gemar makan daging manusia. Para pendeta dan Batari Pretiwi membujuk Sutasoma agar membunuh Prabu Purusada. Sutasoma menolak bujukan tersebut karena ingin melanjutkan perjalanan. Beliau bertemu dengan raksasa berkepala gajah pemakan manusia dan ular naga. Keduanya takluk dan bersedia menjadi muridnya untuk mempelajari agama Budha. Sutasoma juga bertemu dengan harimau betina yang akan memakan anaknya sendiri. Dalam perkelahian ini Sutasoma mati tetapi dihidupkan kembali oleh Batara Indra. Tersebutlah sepupu Sutasoma bernama Prabu Dasabahu, berperang dengan anak buah Prabu Kalmasapada (Purusada). Anak buah Prabu Kalmasapada kalah dan minta perlindungan Sutasoma. Prabu Dasabahu yang terus mengejar, akhirnya tahu bahwa Sutasoma itu sepupunya, lalu diajak ke negerinya dan dijadikan ipar. Setelah kembali ke Astina, Sutasoma dinobatkan sebagai raja bergelar Prabu Sutasoma. Cerita dilanjutkan dengan kisah Prabu Purusada dalam membayar kaul kepada Batara Kala. Prabu Sutasoma bersedia menjadi santapan Batara Kala, sebagai ganti atas ke-100 orang raja sitaan Purusada. Mendengar permintaan raja Astina tersebut, Prabu Purusada menjadi sadar akan perbuatannya dan berjanji tidak makan daing manusia lagi. Judul luar teks yang berbunyi Sri Bajra Jnana (tulisan latin), rupanya keliru, karena sesungguhnya merupakan baris pertama dari bait pertama, yang dituangkan ke dalam pupuh Sragdhara (pupuh I). Naskah ini dikarang oleh Mpu Tantular pada jaman Majapahit (h.l47a baris ke-4). Nampak beberapa teks telah diperbaiki dengan tulisan pensil. Keterangan penulisan atau penyalinan teks ini tidak diketahui secara jelas, hanya disebutkan tempat penyalinan wesma Sri Gandi, oleh sangapatra: awirbhuja putraka siwa sudda (?). Informasi tentang daftar pupuh dari Kakawin Sutasoma ini, lihat Kakawin Sutasoma suntingan I G. B. Sugriwa, yang diterbitkan oleh toko buku Bali Mas Denpasar Bali, dan dalam Kalangwan karya P.J. Zoetmulder. Informasi mengenai teks Sutasoma ini dapat dilihat pada Pigeaud 1970: 402; MSB/L.449; Kirtya/114, 974, 910, 2352, 1148, 2290; Brandes. III: 147-157; PNRI/000 L 557; Juynboll I: 140-143."
[Place of publication not identified]: [Publisher not identified], [Date of publication not identified]
CP.27a-LT 236
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Lontar ini berisi teks Kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular. Lihat Zoetmulder 1983 untuk keterangan seperlunya. Teks ini menguraikan kesaktian atau kehebatan Betara Sutasoma dan Betara Kala dalam usaha penumpasan segala ulah manusia yang berbuat jahat atau senantiasa mengganggu ketentraman dunia lewat perubahan wujudnya seperti desti, leyak, dan makhluk lain yang serba menyeramkan. Segala ulah manusia jahat tersebut dapat ditundukkan oleh Betara Sutasoma bersama Betara Kala lewat mantra-mantra sakti beliau. Dengan mantra-mantra sakti tersebut Betara Sutasoma dapat menggoncangkan jagat raya lewat wujud-wujud seremnya di hadapan manusia yang berulah jahat, sehingga dengan mudah dapat tertundukkan. Betara Kala pun tidak tinggal diam. Beliau menampakkan segala wujud seram dan kehebatannya sehingga berpengaruh besar terhadap dunia. Semua ulah manusia jahat seperti mahluk-mahluk di atas dapat ditundukkan oleh Betara Kala secara mudah. Para Dewa yang menyaksikan kesaktian Betara Sutasoma dan kehebatan Betara Kala tercengang keheranan. Teks berakhir dengan mantra Regina Sastra Bahu yang berfungsi menetralisir kembali dunia beserta isinya, yang memakai sarana tertentu, di antaranya Sata Panca Warna, Sgawu, Tepung Tawar dan lain-lain yang diantar dengan puja-puja dan dipendam secara terpisah di keempat penjuru arah mata angin (nyatur) dalam suatu tempat atau pekarangan. Untuk naskah lain dengan judul Sutasoma, lihat Kirtya 974, yang berbeda bentuknya dengan CP.27b ini. Informasi penulisan teks maupun penyalinan naskah ini tidak disebutkan secara jelas."
[Place of publication not identified]: [Publisher not identified], [Date of publication not identified]
CP.27b-LT 233a
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Lontar ini berisi teks Uttarakanda yang berbentuk palawakya (prosa liris), merupakan saduran prosa dalam bahasa Jawa Kuna dari buku ketujuh Rdmdyana. Pada bagian awalnya tersebut nama Prabhu Dharmawangsa Teguh. Naskah ini merupakan petikan cerita Ramayana Walmiki bagian terakhir, yang di dalamnya terdapat banyak cerita, di antaranya uraian tentang para Danawa, para leluhur Rahwana, lahirnya Dasamuka, cerita Arjunasastrabahu dan uraian ttg Dewi Sita. Teks lebih banyak menguraikan tentang Dewi Sita saat kembali ke Ayodya setelah Rahwana dikalahkan oleh Rama. Kembalinya Sita dari Alengka mendapat kecurigaan dan kritikan dari rakyat Ayodya akan kesuciannya. Sorotan ini muncul karena sangat lamanya Sita tinggal di daerah musuh. Rama akhirnya menuruti kehendak rakyat, mencerai istrinya serta mengusirnya dari Ayodya dalam keadaan hamil. Dalam pengasingannya ini Sita dipungut oleh Bhagawan Walmiki di sebuah pertapaan. Lahirlah dua putra kembar yang dinamai Kusa dan Lawa. Ketika Rama mengadakan Upacara Aswameda dalam kunjungannya ke Agastya, putra kembar Sita ini disuruh mendendangkan cerita Ramayana oleh Bhagawan Walmiki (karyanya). Para hadirin sangat kaget menyaksikan penampilan sang kembar yang wajahnya mirip sang Raja. Rama yakin bahwa pemuda kembar itu adalah putranya. Rama minta kepada Walmiki untuk membawa Sita ke hadapan para raja dan rakyat untuk menegaskan kesucian Dewi Sita. Sita minta kepada Dewi Pertiwi untuk menjadi saksi serta menelannya ke dalam bumi jika selama di Alengka tidak pernah goyah kesetiaannya kepada Rama. Dewi Pertiwi menampakkan diri dan Sita turun ke perut bumi dan tidak tampak lagi. Sejak ditinggalkan istrinya, Rama sangat duka cita. Ia memutuskan untuk mengakhiri pemerintahannya, lalu meninggalkan Ayodya dengan semua penghuni kraton menuju sungai Sarayu. Di sungai ini Rama bersembah sujud dan memperoleh anugrah untuk menjelma kembali menjadi Dewa Wisnu dan masuk Sorga. Teks ini tidak jelas siapa penulis. Penyalinan naskah juga tidak diketahui dengan jelas. Disebutkan bahwa teks selesai ditulis pada Kamis Mrakih Kasa tahun 1821 Saka (1899). Kemudian menjadi milik I Gusti Putu Jlantik (Singaraja), yang diperoleh di Semara Pura Klungkung (Bali) pada Selasa Umanis Wayang pangelong 12, Jyesta tahun 1830 Saka (1908). Ketika itu I Gusti Putu Jlantik menjabat sebagai Bupati Gianyar (Bali), sedangkan sebagai raja Klungkung adalah Cokorda Ida I Dewa Agung Putra (h. 122a)."
[Place of publication not identified]: [Publisher not identified], [Date of publication not identified]
CP.78-LT 220
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
"Naskah ini berisi teks Lokapala yang dipadu dengan sejarah pakem wayang purwa. Dari kolofonnya teks ini merupakan versi Sindusastra yang ditulis tahun 1829. Diawali dengan sejarah pangiwa dan panengen, penggambaran kerajaan Lokapala. Dilanjutkan dengan pertempuran antara raja-raja Maespati dengan Rahwana. Raja-raja Maespati banyak yang tewas menyebabkan Raja Maespati marah kemudian bertiwikrama berubah menjadi raksasa bernama Arjunasasrabahu, lalu pertempuran Arjunasasrabahu dengan Rahwana. Pada bagian akhir pertempuran Subali dengan Sugriwa yang dimenangkan oleh Subali. Pengarangnya adalah R. Ng. Sindusastra, tahun 1757. Daftar pupuh sebagai berikut: 1. Dandanggula; 2. Sinom; 3. Dandanggula; 4. Kinanti; 5. Asmaradana; 6. Pangkur; 7. Dandanggula; 8. Asmaradana; 9. Kinanti; 10. Sinom; 11. Dandanggula; 12. Durma; 13. Asmaradana; 14. Durma; 15. Pangkur; 16. Asmaradana; 17. Pangkur; 18. Sinom; 19. Asmaradana; 20. Pangkur; 21. Sinom; 22. Dandanggula; 23. Durma; 24. Pangkur; 25. Dandanggula; 26. Pangkur; 27. Durma; 28. Asmaradana; 29. Durma; 30. Sinom; 31. Pangkur; 32. Dandanggula; 33. Asmaradana; 34. Durma; 35. Pangkur; 36. Dandanggula; 37. Durma; 38. Asmaradana; 39. Pangkur; 40. Durma; 41. Dandanggula; 42. Durma; 43. Pangkur; 44. Sinom; 45. Sinom; 46. Durma; 47. Pangkur; 48. Asmaradana; 49. Durma; 50. Pangkur."
[Place of publication not identified]: [Publisher not identified], [Date of publication not identified]
CP.8-KS 91
Naskah  Universitas Indonesia Library
cover
R.Ng. [Raden Ngabehi] Yasadipura I
"Buku Menak Kuristam ini adalah salah satu bagian dari rangkaian Serat Menak gubahan Yasadipura I, terbitan Bale Pustaka tahun 1934. Adapun ringkasan isinya: 1.) (Hlm. 3) Raden Kobat Sarehas diangkat sebagai raja; 2.) (Hlm. 8) Wong Agung menyerang Kuristam; 3.) (Hlm. 13) Raja Bahman menyaksikan kedatangan pasukan Wong Agung; 4.) (Hlm. 18) Keberangkatan pasukan Wong Agung; 5.) (Hlm. 23) Wong Agung memberikan surat tantangan kepada Raja Brahman; 6.) (Hlm. 27) Raja Brahman perang dengan Lamdahur; 7.) (Hlm. 34) Raja Brahman perang dengan Prabu Umarmadi; 8.) (Hlm. 35) Raja Brahman menyombongkan diri pada Wong Agung; 9.) (Hlm. 36) Wong Agung berperang melawan Raja Brahman; 10.) (Hlm. 37) Raja Brahman tunduk pada wong Agung; 11.) (Hlm. 39) Raja Ngabesi disuruh menumpas Wong Agung; 12.) (Hlm. 45) Raja Sadat Kabul Ngumar mengepung kota Mekah; 13.) (Hlm. 50) Raja Sadat Kabul Ngumar takluk pada Wong Agung; 14.) (Hlm. 52) Wong Agung hendak menaklukkan negara Kuparman; 15.) (Hlm. 55) Wong agung berangkat ke Kuparman; 16.) (Hlm. 57) Negara Kuparman jatuh oleh serangan Wong Agung; 17.) (Hlm. 61) Raja Indi bernama Kaladaran disambut oleh Lamdahur; 18.) (Hlm. 63) Wong Agung perang dengan Raja Kaladaran; 19.) (Hlm. 67) Raja Kaladaran tewas dibunuh Wong Agung; 20.) (Hlm. 70) Raja Kikail dan Raja Gulangge; 21.) (Hlm. 73) Raja Kikail tewas dibunuh Wong Agung; 22.) (Hlm. 76) Wong agung hendak menyerang Prabu Aspandriyadi negara Biraji."
Betawi Sentrem: Bale Pustaka, 1934
BKL.0623-CP 19
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
cover
Susuhunan Pakubuwana IV
"Buku Panji Sekar ini adalah salinan dari buku terbitan Jonas Portir, Surakarta 1877. Buku Panji Sekar ini adalah gubahan Sunan Pakubuwana IV di Surakarta. Adapun ringkasan isinya adalah: 1. Prabu di Kedhiri kedatangan utusan dari Makasar; 2. Dewi Candrakirana mengambil buah ketos; 3. Sang Panji berperang dengan pasukan Makasar; 4. Sang Panji unggul dalam peperangan; 5. Patih Gunasaranta pulang ke Makasar; 6. Bang Panji pergi ke Taman Cungkup kembang; 7. Patih Gunasaranta memberitahu ke Prabu; 8. Prabu Brama Kumara hendak datang ke Kediri; 9. Dewi Sekartaji sudah merasa; 10. Sang Panji pulang dari Taman Cungkup Kembang; 11. Patih Gunasaranta perang melawan Rd. Wirun dan Rd. Andaga; 12. Prabu Bramakumara memasuki istana; 13. Prabu Bramakumara bertemu dengan Dewi Sekartaji; 14. Sang Panji berpulang lawan Prabu Bramakumara; 15. Sang Panji berpulang mengadu kepandaian memanah; 16. Prabu Bramakumara kalah dari Panji; 17. Patih Gunasaranta perang melawan Brajanata; 18. Patih Gunasaranta dipergoki bancak-doyok; 19. Brajanata mencari Panji; 20. Dyah Sekartaji mengambil buah Ketos; 21. Para raja menyusul Prabu Bramakumara."
Betawi Sentrem: Bale Pustaka, 1933
BKL.0074-CP 7
Buku Klasik  Universitas Indonesia Library
<<   6 7 8 9 10 11 12   >>