Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 112 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sutrisno
"ABSTRAK
Pengerasan permukaan baja karbon rendah St41 telah dilakukan melalui proses boronisasi padat dengan tekanan mekanik. Sampel baja St41 dimasukkan kedalam wadah, ditimbun dengan serbuk boronisasi dalam bentuk campuran 5% boron karbida (B4C), 90% silicon karbida (SiC), 5% kalium borofluoride (KBF4), dan diberi tekanan 10 kN. Sampel yang telah dimasukkan dalam wadah, dipanaskan pada temperature 600, 700, 800, 900,dan 10000C selama 2, 4, 6, dan 8 jam pada masing-masing temperature. Pendinginan sampel dilakukan secara alamiah pada suhu kamar. Setelah dipanaskan, sampel dikarakterisasi dengan mikroskop optic, uji kekerasan mikro, X-RD, dan ketahanan aus. Morfologi dan ketebalan lapisan boride yang terjadi diamati dan diukur pada potongan melintang sampel. Untuk menentukan fase yang terjadi dilakukan pencocokan kurva dengan software Match berdasarkan data kristalografi. Untuk menganalisis fase secara kuantitatif digunakan software GSAS untuk menentukan ukuran kristalit rata-rata, dan parameter kisi, pada masing-masing fase yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menambahkan tekanan mekanik untuk mencegah terjadinya oksidasi pada proses boronisasi padat dapat membentuk larutan padat intertisi lapisan besi boride pada permukaan baja St41. Dari hasil pengujian diperoleh kekerasan mikro pada permukaan lapisan besi boride sebesar 1703 HV dengan ketebalan 309 μm, dan ketahanan aus 36 kali ketahanan aus sampel semula. Harga kekerasan mikro dan ketebalan tersebut lebih besar jika dibandingkan dengan hasil-hasil penelitian terdahulu dan meningkat menjadi lebih dari 10 kali lipat harga kekerasan sampel semula. Dari hasil perhitungan diperoleh persamaan difusi D = D0 exp (-168,25 kJ/RT) dengan energi aktivasi sebesar 168,25 kJ.

ABSTRACT
Surface hardening of low carbon steel St41 has been done through the pack boronizing combining with mechanical pressure. The sample of St41 steel was inserted into the container, containing boronizing powder with a mixture of 5% in the form of boron carbide (B4C), 90% silicon carbide (SiC), 5% potassium borofluoride (KBF4), and given the mechanical pressure of 10 kN. Samples were heated at temperatures of 600, 700, 800, 900, and 10000C for 2, 4, 6, and 8 hours at each temperature. After heating, the samples were characterized by optical microscop, micro-hardness, X-RD, and wear resistance. Morphology and boride layer thicknes is observed and measured on a cross section of the sample. Quantitative phase analysis software GSAS used to determine phase, the average crystallite size, and lattice parameters of each phase formed. It is also obtained the surface layer hardness of iron boride was 1703 HV with a thickness of 309 μm, and wear resistance about 36 times than the wear resistance of the untreated sample. The hardness and the thickness is greater when compared with the results of previous studies 10 times to the hardness of untreated sample. Energy activation and diffusion equation have value 168,255 kJ and D = D0 exp (-168.25 kJ/RT).
"
2014
D1921
UI - Disertasi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sutrisno
"ABSTRAK
Program rehabilitasi jantung fase 1 merupakan salah satu upaya mencapai tingkat fungsional yang memungkinkan pasien melakukan sendiri aktifitas awal dalam rangka persiapan melaksanakan kegiatan sehari-hari di rumah dan sebagai pencegahan efek yang kurang menguntungkan dari tirah baring yang lama.
Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi pengaruh rehabilitasi jantung fase I terhadap peningkatan toleransi aktifitas pada pasien PJK. Desain penelitian ini menggunakan desain quasi experiment with post test-only non equivalent control group. Jumlah sampel sebanyak 24 responden.
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam kemampuan melakukan ADL (p value=0.004), dimana kelompok intervensi lebih tinggi dari pada kelompok kontrol, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan VO2 maksimal (p value=0.220) dimana nilai VO2 maksimal kelompok intervensi menunjukan nilai yang lebih baik dari kelompok kontrol. Nilai tekanan darah sistolik, tekanan darah diastolik, SpO2 dan frekuensi nadi pada kedua kelompok menunjukkan nilai yang hampir sama dan dalam batas toleransi normal. Kesimpulan menunjukkan rehabilitasi jantung fase I berpengaruh terhadap toleransi aktivitas pasien PJK. Oleh karena itu perawat sebagai bagian dari tim program rehabilitasi jantung diharapkan memfasilitasi pasien untuk meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap toleransi aktivitas.

ABSTRACT
Phase 1 cardiac rehabilitation program is one of the efforts to achieve a functional level that allows the patient to perform early activity in preparation to carry out daily activities at home and to prevent unfavorable effects of prolonged bed rest.
The purpose of this study was to identify the effect of phase I cardiac rehabilitation toward activity tolerance in patients with Coronary Heart Disease (CHD). This research design was a quasi experimental research design with post test only non-equivalent control group. The total sample was 24 respondents.
The result shows a significant difference between the ability to perform ADL (p value=0.004), in which the intervention group was higher than the control group, but there is no significant difference on VO2 maximum (p value = 0.220), that the intervention group has a better value than the control group. The value of systolic blood pressure, diastolic blood pressure, SpO2 and pulse rate in both groups show similar values and in the tolerance limit of normal. It can be concluded that phase I cardiac rehabilitation exercise has an effect on the activity tolerance in patients with CHD. Therefore, nurses as part of a cardiac rehabilitation program team are expected to assist patients in improving their adaptability on activity tolerance.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2014
T42780
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sutrisno
Kementerian Dalam Negeri Ri,
351 JBP 7:1 (2015)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Sutrisno
Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2016
363.2 SUT s
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Sutrisno
"Hipertensi merupakan masalah kesehatan utama bagi lansia baik secara nasional maupun global. Dampak dari hipertensi penyumbang peringkat pertama terbesar kerugian kesehatan. Hal ini perlunya menjadi perhatian, sehingga dikembangkan Inovasi Liga Tensi untuk mengontrol tekanan darah dan stres lansia di Kelurahan Curug, Kota Depok. Tujuan inovasi ini yaitu memberi gambaran tentang pengaruh Intervensi Keperawatan Liga Tensi terhadap penurunan tekanan darah dan stres pada lansia. Metode yang digunakan adalah studi kasus keluarga dan agregat dengan pendekatan asuhan keperawatan keluarga dengan melibatkan 10 keluarga dan 38 lansia yang ada di Kelurahan Curug menggunakan convenience sampling. isometric handgrip exercise (latihan IHG) dan latihan autogenik, terdiri atas 6 sesi selama 12 kali pertemuan. Data sebelum dan setelah intervensi diukur menggunakan sphygmomanometer digital, instrumen perilaku (pengetahuan sikap dan keterampilan) keluarga dan lansia dalam mengelola hipertensi dimodifikasi oleh penulis, pengukuran nilai stres menggunakan DASS 21 dan pengukuran tingkat kemandirian keluarga. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, sikap, keterampilan lansia (p<0,05) dan penurunan nilai stres secara bermakna (p<0,05), penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik (p<0,05) serta peningkatan kemandirian keluarga. Simpulan terjadi penurunan tekanan darah, penurunan stres dan peningkatan perilaku serta tingkat kemandirian keluarga setelah implementasi Liga Tensi. Diharapkan hasil studi ini dapat diaplikasikan oleh perawat dalam penatalaksanaan dan pengendalian hipertensi lansia di komunitas.

Hypertension is a major health problem for the older people, both nationally and globally. The impact of hypertension is the first largest contributor to health losses. This needs to be a concern, so that the Tension League Innovation was developed to control blood pressure and stress in the older people in Curug Village, Depok City. The purpose of this innovation is to provide an overview of the effect of the Nursing Intervention Liga Tensi on reducing blood pressure and stress in the older people. The method used is a family case study and aggregated with a family care approach involving 10 families and 38 older people in Curug Village using convenience sampling. The Liga Tensi innovation is an integration of Isometric Handgrip Exercise and Autogenic Training, consisting of 6 sessions for 12 meetings. Data before and after the intervention were measured using a digital sphygmomanometer and an instruments for measuring behaviours (knowledge, attitudes and skills) of families and the older people in managing hypertension were modified by the author, an instrument for measuring stress values ​​using DASS 21 and measuring family independence. The results showed an increase in knowledge, attitudes, skills of the older people (p<0.05) and a significant decrease in stress values ​​(p<0.05), a decrease in systolic and diastolic blood pressure (p<0.05) and an increase in family independence. The conclusion is that there is a decrease in blood pressure, a decrease in stress and an increase in behaviour and family independence after the implementation of the Liga Tensi. It is hoped that the results of this study can be applied by nurses in the treatment and control of hypertension in the older people in the community."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sutrisno
"Tujuan: Mengetahui pengaruh mutasi patogenik BRCA1/2 tumor terhadap kesintasan pasien advanced stage-high grade serous epithelial ovarian cancer di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RSUP Persahabatan, dan RS MRCCC Siloam Jakarta.
Metode: Sejumlah 68 sampel dari 144 pasien diagnosis high-grade serous epithelial ovarian cancer (HGSOC) stadium FIGO IIB-IV, periode 1 Januari 2015 sampai 31 Maret 2021, di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RSUP Persahabatan, dan RS MRCCC Siloam Jakarta, menjalani pemeriksaan NGS mutasi patogenik BRCA1/2 tumor, dilibatkan dalam penelitian kohort historikal ini. Kami membandingkan karakteristik klinikopatologis pasien, dan hasil luaran kesintasan, setelah pasien menjalani tatalaksana primer, berdasarkan status mutasi patogenik BRCA1/2 tumor. Faktor terkait tatalaksana, yang diperkirakan berpengaruh terhadap hasil luaran kesintasan pasien, juga turut dianalisis dalam penelitian ini.
Hasil: Angka kejadian mutasi patogenik BRCA1/2 tumor diketahui sebesar 27,94% (19/68). Antara kelompok mutasi patogenik BRCA1/2 tumor, dengan kelompok tanpa mutasi patogenik, tidak terdapat perbedaan statistik signifikan berdasarkan usia, paritas, indeks massa tubuh (kg/m2), riwayat kanker payudara, stadium FIGO 2014, kadar CA125 serum pre operatif (U/mL), volume cairan ascites intra operatif (mL), lesi residual pasca laparotomi debulking, pemberian neoadjuvant chemotherapy (NACT), pemberian kemoterapi adjuvant. Riwayat kanker keluarga terkait HBOC, merupakan variabel paling berpengaruh terhadap mutasi patogenik BRCA1/2 tumor. Kelompok dengan riwayat kanker keluarga terkait HBOC, berisiko 5,212 kali lebih besar mengalami mutasi patogenik BRCA1/2 tumor, dibandingkan dengan kelompok tanpa riwayat kanker tersebut (RR adjusted 5,212; 95%CI 1,495-18,167; nilai p=0,010).
Pada kelompok mutasi patogenik BRCA1/2 tumor, kemungkinan meninggal 86% lebih rendah (RR adjusted 0,149; 95%CI 0,046-0,475; nilai p=0,001), dan median survival yang lebih baik (median 46 bulan; 95%CI 34,009-57,991; nilai p=0,001), apabila dibandingkan dengan kelompok tanpa mutasi patogenik (median 23 bulan; 95%CI 15,657-30,343; nilai p=0,001). Analisis multivariat menunjukkan mutasi patogenik BRCA1/2 tumor merupakan faktor prognostik independen yang baik terhadap hasil luaran kesintasan (RR adjusted 0,149; 95%CI 0,046-0,475; nilai p=0,001).
Kesimpulan: Pasien advanced stage-high grade serous epithelial ovarian cancer, dengan mutasi patogenik BRCA1/2 tumor, memiliki kesintasan lebih baik, dibandingkan pasien tanpa mutasi patogenik BRCA1/2 tumor.

Objective: To evaluate the impact of pathogenic BRCA1/2 tumor mutational status on advanced stage- high grade serous epithelial ovarian cancer survival outcome at RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RSUP Persahabatan, and RS MRCCC Siloam Jakarta.
Methods: A total 68 of 144 patients diagnosed with FIGO 2014 stage IIB-IV high grade serous epithelial ovarian cancer (HGSOC) between January 1st, 2015 until March 31st, 2021, at RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, RSUP Persahabatan, and RS MRCCC Siloam Jakarta, underwent NGS tumor BRCA1/2 gene testing, and were included in this cohort hystorical study. We compared patients clinicopathological characteristics, and survival outcomes after primary treatment, according to pathogenic BRCA1/2 tumor mutational status. Treatment-related factors that might affect patients’ survival outcome were also investigated.
Results: The BRCA1/2 pathogenic tumor mutations prevalence was observed in this study 27.94% (19/68). There were no significant statistical differences in age, parity, body mass index (kg/m2), previous breast cancer history, FIGO 2014 staging, pre-operative serum CA 125 level (U/mL), intra operative ascites volume (mL), post cytoreductive surgery residual lesion, neoadjuvant chemotherapy (NACT), and adjuvant chemotherapy administration, between the pathogenic tumor BRCA1/2 mutation, and no pathogenic tumor BRCA1/2 mutation groups. The hereditary breast ovarian cancer family history (HBOC) variable has the strongest correlation with pathogenic tumor BRCA1/2 mutation. The group with a family history of HBOC-related cancer had a 5.212 times greater risk of developing pathogenic BRCA1/2 tumor mutations, compared with the group without a history of those cancer (RR adjusted 5.212; 95%CI 1.495-18.167; p value=0.010).
The pathogenic BRCA1/2 tumor mutation group displayed better survival outcome. In the pathogenic BRCA1/2 tumor mutation group, the likelihood of dying was 86% lower (RR adjusted 0.149; 95%CI 0.046-0.475; p-value=0.001), and the median survival was better (median 46 months; 95%CI 34.009- 57.991; p value=0.001), than without pathogenic BRCA1/2 tumor mutations group (median 23 months; 95%CI 15.657-30.343; p value=0.001). The multivariate analyses identified pathogenic BRCA1/2 tumor mutation as an independent favorable prognostic factor for survival outcome (RR adjusted 0.149; 95%CI 0.046-0.475; p-value=0.001).
Conclusions: In advanced stage-HGSOC, patients with pathogenic BRCA1/2 tumor mutations have a better prognosis with longer survival outcome than those without pathogenic BRCA1/2 tumor mutations.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sutrisno
"Tulisan ini menganalisis bagaimana prinsip keberlakuan asas keadaan diam (stay) dalam pemberesan harta pailit, khususnya dalam pelaksanaan eksekusi hak tanggungan oleh kreditor separatis atas jaminan debitor pailit. Tulisan ini disusun dengan menggunakan metode penelitian doktrinal. Asas keadaan diam adalah sebuah konsep dalam hukum kepailitan yang menetapkan bahwa meskipun kreditor separatis (seperti pemegang gadai, jaminan fidusia, hak tanggungan, hipotek, atau hak agunan kebendaan lainnya) memiliki hak untuk mengeksekusi jaminan atas utangnya, pelaksanaan hak tersebut ditangguhkan untuk jangka waktu tertentu. Selama periode penangguhan ini, kreditor separatis tidak diperbolehkan oleh undang-undang untuk menjalankan hak eksekusinya dan ia baru diperkenankan untuk mengeksekusi jaminan utangnya setelah periode ini berakhir. Meskipun periode penangguhan atau periode keadaan diam (stay) tersebut telah ditetapkan oleh undang-undang, namun pada prakteknya, masih terdapat perselisihan dan perbedaan pendapat di antara pihak-pihak yang berkepentingan mengenai pelaksanaan asas keadaan diam tersebut dalam perkara pada Putusan Nomor 7/Pdt.Sus-Gugatan Lain-Lain/2024/PN.Niaga Smg Jo. Putusan No. 30/Pdt.Sus-PKPU/2023/PN.Niaga Smg, yakni mengenai kapan dimulai dan berakhirnya periode penangguhan atau periode keadaan diam (stay) yang berpengaruh pada kapan sebenarnya waktu yang tepat di mata hukum untuk kreditor separatis mengeksekusi hak tanggungannya. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa Majelis Hakim keliru dalam memberikan pertimbangan hukumnya yang disebabkan karena kesalahan penerapan ketentuan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang serta peraturan terkait lainnya.

This paper analyzes how the stay principle applies in the resolution of bankruptcy assets, specifically in the execution of mortgage by secured creditors on the collateral of bankrupt debtors. This paper is prepared using doctrinal research methods. The stay principle is a concept in bankruptcy law that stipulates that although a secured creditor (such as a holder of a pledge, fiduciary guarantee, mortgage, hypothec, or other form of collateral) has the right to execute the collateral for its debt, the exercise of that right is suspended for a certain period. During this suspension period, the secured creditor is not allowed by law to exercise its execution rights, and it is only allowed to execute its debt collateral after this period has ended. Although the suspension period or stay period has been defined by law, in practice, there are still disputes and differences of opinion among interested parties regarding the implementation of the stay principle in the case of Decision No. 7/Pdt.Sus-Other Suit/2024/PN.Niaga Smg Jo. Decision No. 30/Pdt.Sus-PKPU/2023/PN.Niaga Smg, namely regarding when the suspension period or the stay period begins and ends, which affects when the the legally appropriate time for the secured creditor to execute its mortgage rights. In this study, it was found that the Judges made an error in providing legal considerations due to the misapplication of the provisions of Law Number 37 of 2004 concerning Bankruptcy and Suspension of Debt Payment Obligations and other related regulations."
Jakarta: Fakultas Hukum Universitas Indonesia, 2025
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sutrisno
"Hipertensi sebagai masalah kesehatan utama pada lansia secara global, mendorong upaya pengembangan intervensi non-farmakologi diantaranya dengan Isometric Handgrip Exercise (IHG). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh latihan IHG terhadap tekanan darah pada lansia dengan hipertensi di Palembang. Desain penelitian ini adalah quasy experiment dengan pendekatan pre and post test with group Control. Enam Puluh Enam lansia dengan hipertensi dibagi menjadi dua kelompok menggunakan teknik concecutive sampling terbagi menjadi 33 responden kelompok intervensi dan 33 responden kelompok non intervensi. Penelitian ini dilakukan selama 2 minggu sebanyak 10 sesi. Analisis t-test menunjukan ada pengaruh yang signifikan latihan IHG terhadap tekanan darah sistolik (p value < 0,001) dan tekanan darah diastolik (p value < 0,001). Kesimpulannya, intervensi latihan IHG ini dapat digunakan sebagai salah satu intervensi non-farmakologi pilihan dalam rencana asuhan keperawatan untuk mengendalikan lansia dengan hipertensi dan mengurangi risiko komplikasi akibat tekanan darah tinggi. Intervensi ini disarankan untuk aplikasikasikan pada lansia dengan hipertensi sesuai dengan prosedur dan dilakukan secara rutin guna untuk mendapatkan pengaruh yang maksimal.

Hypertension is a significant health problem in older people globally encourages efforts to develop non-pharmacological interventions, including Isometric Handgrip Exercise (IHG). This study aimed to determine the effect of Isometric Handgrip Exercise on blood pressure in residents with hypertension in institutionalized older people Palembang. The design of this research is a quasi-experiment with a pre-test and post-test approach with a control group. Sixty-six older people with hypertension were divided into two groups using a consecutive sampling technique, divided into 33 participants in the intervention group and 33 respondents in the non-intervention group. The study conducted for two weeks with ten sessions. T-test analysis showed that there was a significant effect of IHG exercise on systolic blood pressure (p-value < 0.001) and diastolic blood pressure (p-value < 0.001). In conclusion, this Isometric Handgrip exercise intervention can be used as one of the non-pharmacological interventions of choice in nursing care plans to control the older adult with hypertension and reduce the risk of complications due to high blood pressure. IHG is recommended to be applied to the elderly with hypertension according to the procedure and routinely carried out to get the maximum effect."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
F.X. Andy Sutrisno
Jakarta: Badan Perencanaan PembangunaN Nasional (BAPPENAS), 2018
330 JPP 2:3 (2018)
Artikel Jurnal  Universitas Indonesia Library
cover
Manik, Risman Sutrisno
"Adanya isu kesenjangan pembangunan di segala bidang, menyebabkan penelitian ini dilakukan dengan maksud untuk memperoleh gambaran apakah ada perbedaan persentase jumlah peserta bimbingan teknis produktivitas antar Kawasan Barat Indonesia dengan Kawasan Timur Indonesia, apakah ada perbedaan persentase jumlah peserta bimbingan teknis antara pulau, apakah ada perbedaan persentase jumlah peserta antar propinsi, apakah ada perbedaan persentase jumlah peserta bimbingan teknis produktivitas antar jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan usia.
Penelitian deskriptif dengan sumber data dokumentasi, interview, dan diskusi serta pengalaman penulis selama ini dan tabulasi silang sebagai alat analisis, maka pertanyaan penelitian tersebut di atas dapat terjawab, yaitu terdapat perbedaan yang signifikan kesempatan bimbingan teknis produktivitas antara Kawasan Barat Indonesia sebesar 69,8%, sedangkan Kawasan Timur Indonesia hanya sebesar 26,8%, dan sisanya di peroleh Pusat sebesar 3,4%. Sedangkan berdasarkan pulau maka pulau Jawa & Bali sebesar 37% merupakan tertinggi, dan Sumatera sebesar 34%, Kalimantan 12%, Sulawesi 10%, dan Gabungan (Irian+Maluku+NTB+NTT) hanya 7%.
Penyebab perbedaan persentase kesempatan antar kawasan, antar pulau maupun antar propinsi adalah keterbatasan anggaran, dimana peserta dari Kawasan Timur Indonesia membutuhkan biaya transportasi yang lebih besar. Sehingga, untuk mencapai pemerataan kesempatan jumlah peserta perlu penambahan anggaran, atau pemusatan tempat pelaksanaan bimbingan teknis produktivitas menurut masing-masing kawasan. Misalnya, bimbingan teknis produktivitas untuk kawasan Timur Indonesia dilaksanakan di propinsi yang letaknya relatif dekat dengan propinsi lainnya.
Berdasarkan tingkat pendidikan, persentase tertinggi adalah Sarjana (SI) sebesar 78%, kemudian SLTA sebesar 8%, dan Magister (S2) sebesar 7% adalah tertinggi ketiga. Hal ini karena pada umumnya instruktur produktivitas berpendidikan sarjana. Sedangkan peserta yang berpendidikan SLTA, pada umumnya berasal dari perusahaan dan Aparat Desa.
Peserta yang berpendidikan Magister yang secara akademis lebih potensial justru kecil adalah karena jumlah instruktur produktivitas yang berpendidikan Magister masih relatif sedikit. Itu sebabnya, program Magister bagi instruktur masih perlu dilanjutkan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas para instruktur.
Berdasarkan Jenis kelamin terdapat perbedaan yang signifikan, yaitu pria lebih dominan sebesar 87% dan wanita 13%. Perbedaan ini disebabkan karena instruktur wanita cenderung enggan untuk mengikuti latihan dengan alasan keluarga, hamil, atau durasi bimbingan terlalu lama. Juga kerena jumlah instruktur wanita relatif masih Iebih sedikit dibandingkan instruktur pria.
Sedangkan berdasarkan usia, maka peserta kebanyakan berada pada kelompok usia 40-44 tahun sebesar 29% dan kelompok usia 33-39 tahun sebesar 23%, ini berarti instruktur produktivitas rata-rata potensial, energik, serta bermotivasi tinggi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya."
2001
T4407
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>